KEHENDAK ALLAH

 



KEHENDAK ALLAH

Tentu. Dalam Alkitab, “kehendak Allah” bukan hanya berarti “apa yang Allah ingin kita lakukan”, tetapi mencakup rencana, maksud, keputusan, karakter, dan kehendak moral Allah yang dinyatakan dalam relasi-Nya dengan ciptaan.

1. Apa yang dimaksud dengan kehendak Allah?

Secara sederhana:

Kehendak Allah adalah apa yang Allah tetapkan, inginkan, kerjakan, dan perintahkan sesuai dengan natur-Nya yang kudus, adil, benar, dan penuh kasih.

Ada dua penggunaan besar:

A. Kehendak Allah sebagai keputusan/rencana-Nya

Ini berbicara tentang apa yang Allah tetapkan dalam kedaulatan-Nya.

Efesus 1:11
“Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan—kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.”

Artinya, sejarah keselamatan bukan kecelakaan. Allah mempunyai maksud dan rencana.

B. Kehendak Allah sebagai sesuatu yang Allah kehendaki dari manusia

Ini berbicara tentang apa yang harus manusia lakukan.

1 Tesalonika 4:3
“Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan.”

Jadi ketika Alkitab berkata:

“Inilah kehendak Allah”

kadang yang dimaksud adalah rencana Allah, dan kadang perintah Allah bagi kehidupan manusia.


2. Kehendak Allah berasal dari siapa?

Kehendak Allah tidak berasal dari luar Allah.

Allah tidak menerima hukum dari sesuatu yang lebih tinggi daripada diri-Nya.

Roma 11:34
“Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?”

Allah adalah sumber kehendak-Nya sendiri.

Namun di dalam Tritunggal, kita harus berhati-hati.

Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukan tiga kehendak yang saling bersaing.

Allah adalah satu dalam hakikat ilahi, sehingga kehendak ilahi adalah satu.

Karena itu Yesus berkata:

Yohanes 10:30
“Aku dan Bapa adalah satu.”

Dan dalam karya keselamatan, Bapa, Anak, dan Roh Kudus bekerja dalam kesatuan.


3. Apakah kehendak Bapa, Anak, dan Roh Kudus sama?

Ya, dalam kehendak ilahi.

Tetapi ada perbedaan pribadi dan peran dalam ekonomi keselamatan.

Misalnya:

Bapa mengutus Anak.

Yohanes 3:16
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Anak datang melakukan kehendak Bapa.

Yohanes 6:38
“Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.”

Roh Kudus melaksanakan karya Allah dalam umat manusia.

Yohanes 14:26
“Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Jadi:

satu kehendak ilahi → tiga Pribadi bekerja secara berbeda dalam ekonomi keselamatan.


4. Lalu bagaimana dengan doa Yesus di Getsemani?

Ini sangat penting.

Yesus berdoa:

Matius 26:39
“Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’”

Apakah ini berarti kehendak Yesus berbeda dari kehendak Bapa secara ilahi?

Tidak.

Di sini kita melihat dua natur Kristus.

Yesus adalah:

satu Pribadi → natur ilahi + natur manusia.

Sebagai Allah, Anak memiliki kehendak ilahi yang sama dengan Bapa.

Tetapi sebagai manusia sejati, Yesus mempunyai kehendak manusiawi yang sungguh-sungguh.

Natur manusia dapat secara alami menghendaki terhindarnya penderitaan dan kematian.

Namun kehendak manusia Yesus tidak pernah memberontak terhadap Allah.

Karena itu Yesus melanjutkan:

“Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Ini justru menunjukkan ketaatan manusia Kristus yang sempurna kepada kehendak Allah.


5. Kehendak Allah tidak sama dengan keinginan manusia

Ini salah satu hal paling penting.

Manusia bisa menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Yesaya 55:8–9
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Karena itu:

“Saya ingin” ≠ “Allah menghendaki.”

Kehendak manusia harus dibentuk oleh kehendak Allah.


6. Bagaimana manusia mengetahui kehendak Allah?

Pertama-tama melalui Firman Allah.

2 Timotius 3:16–17
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Jadi kita tidak perlu selalu mencari tanda-tanda mistis untuk mengetahui kehendak Allah.

Allah sudah menyatakan kehendak-Nya secara jelas mengenai banyak hal:

  • mengasihi Allah,
  • mengasihi sesama,
  • hidup kudus,
  • mengampuni,
  • berkata benar,
  • tidak mencuri,
  • tidak membenci,
  • tidak melakukan percabulan,
  • menolong orang yang membutuhkan,
  • memberitakan Injil.

7. Kehendak Allah terutama menghasilkan kasih

Ini sangat berhubungan dengan pembahasan kita sebelumnya tentang kasih Allah.

Yesus mengatakan:

Matius 22:37–40
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Jadi kehendak moral Allah dapat diringkas dalam:

kasih kepada Allah → kasih kepada manusia.

Bukan sekadar menjalankan aturan secara mekanis.


8. Mengapa manusia sulit melakukan kehendak Allah?

Karena masalah manusia bukan hanya kurang informasi, tetapi hati dan kehendak manusia telah jatuh ke dalam dosa.

Paulus menjelaskan:

Roma 7:18–19
“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”

Manusia bisa mengetahui yang baik, tetapi tidak selalu mampu melakukannya secara sempurna.


9. Karena itu manusia membutuhkan Roh Kudus

Ini sangat penting dengan pembahasan kita tentang:

Roh Kudus → kelahiran baru.

Allah bukan hanya memberikan perintah:

“Lakukan kehendak-Ku.”

Allah juga memberikan Roh Kudus supaya manusia mengalami perubahan dari dalam.

Yehezkiel 36:26–27
“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”

Perhatikan:

hati baru → Roh Allah → kemampuan untuk hidup menurut kehendak Allah.


10. Kehendak Allah bukan sekadar “mencari pekerjaan apa”

Sering kali ketika orang berkata:

“Apa kehendak Tuhan bagi hidup saya?”

yang dibayangkan adalah:

“Saya harus memilih pekerjaan A atau B?”

Padahal Alkitab terlebih dahulu berbicara tentang kehendak Allah yang sudah jelas.

Misalnya:

1 Tesalonika 5:16–18
“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Jadi sebelum mengetahui keputusan khusus, kita sudah mengetahui banyak hal tentang karakter hidup yang dikehendaki Allah.


11. Kehendak Allah dan kebebasan manusia

Ini juga penting.

Kedaulatan Allah tidak berarti manusia adalah robot.

Alkitab terus-menerus memanggil manusia untuk:

  • percaya,
  • bertobat,
  • memilih,
  • mengasihi,
  • menaati,
  • berdoa,
  • melakukan kebaikan.

Misalnya:

Yosua 24:15
“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah…”

Manusia bertanggung jawab terhadap responsnya kepada Allah.

Karena itu kita tidak boleh menggunakan:

“Kalau Tuhan sudah menentukan semuanya, saya tidak perlu melakukan apa-apa.”

Alkitab justru mengajarkan:

Allah bekerja → manusia juga bertindak.


12. Contoh yang sangat jelas: Filipi 2

Filipi 2:12–13
“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir. Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

Ini sangat dalam.

Perhatikan urutannya:

Allah bekerja di dalam manusia → manusia mempunyai kemauan → manusia melakukan pekerjaan.

Jadi kehendak manusia yang diperbarui bukan dihapus.

Sebaliknya, kehendak manusia dipulihkan supaya menghendaki dan melakukan yang baik.


13. Tujuan akhir kehendak Allah adalah Kristus

Seluruh kehendak Allah dalam sejarah keselamatan berpusat pada Kristus.

Efesus 1:9–10
“Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.”

Ini luar biasa.

Kehendak Allah bukan hanya:

“manusia menjadi orang baik.”

Lebih dalam:

segala sesuatu dipersatukan di dalam Kristus.


14. Kehendak Allah dan Union with Christ

Ini sangat dekat dengan pembahasan kita sebelumnya.

Allah tidak hanya mengampuni manusia dari jauh.

Allah membawa manusia ke dalam persekutuan dengan Kristus.

1 Korintus 1:30
“Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”

Dan:

Yohanes 15:4
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Jadi kehendak Allah bukan hanya:

“Manusia melakukan sesuatu untuk Allah.”

Tetapi:

manusia dipersatukan dengan Kristus → menerima hidup dari Kristus → menghasilkan buah yang sesuai dengan kehendak Allah.


15. Kehendak Allah dan pengudusan

Paulus mengatakan dengan sangat eksplisit:

1 Tesalonika 4:3
“Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu…”

Jadi kalau kita ingin mengetahui apakah kehidupan kita sedang bergerak sesuai kehendak Allah, salah satu pertanyaan fundamental adalah:

Apakah kehidupan saya semakin dikuduskan dan semakin menyerupai Kristus?

Bukan berarti manusia tidak pernah jatuh.

Tetapi arah hidupnya berubah.


16. Kehendak Allah dan penderitaan

Alkitab juga mengajarkan bahwa kadang-kadang melakukan kehendak Allah tidak berarti hidup bebas dari penderitaan.

1 Petrus 3:17
“Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”

Yesus sendiri adalah contoh tertinggi.

Ia melakukan kehendak Bapa, tetapi jalan-Nya melewati:

penolakan → penghinaan → penderitaan → salib → kebangkitan.

Karena itu:

kesulitan ≠ otomatis berarti kita keluar dari kehendak Allah.


17. Kehendak Allah dan doa

Yesus mengajarkan:

Matius 6:10
“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

Ini menunjukkan bahwa doa Kristen bukan hanya:

“Tuhan, lakukan apa yang saya mau.”

Tetapi:

“Tuhan, jadikan kehendak-Mu terjadi dalam hidup saya.”

Ini merupakan perubahan orientasi:

kehendak saya → kehendak Allah.


18. Apakah kehendak Allah selalu mudah?

Tidak.

Bahkan Yesus berkata:

Yohanes 4:34
“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Jadi bagi Yesus, melakukan kehendak Bapa adalah makanan—sesuatu yang menjadi tujuan hidup-Nya.

Demikian juga orang percaya dipanggil untuk menemukan sukacita dalam kehendak Allah.


19. Ringkasan besar

Kita dapat melihatnya seperti ini:

ALLAH

Kehendak Allah

Rencana Allah dalam Kristus

Penciptaan & penebusan

Kristus datang sebagai manusia

Salib & kebangkitan

Roh Kudus diberikan

Manusia lahir baru

Union with Christ

Hidup Kristus menghasilkan buah dalam manusia

Pengudusan

Kasih kepada Allah & sesama

Manusia hidup melakukan kehendak Allah

Segala sesuatu dipersatukan di dalam Kristus.

Dan ada satu kalimat yang menurut saya sangat merangkum semuanya:

Kehendak Allah bukan sekadar Allah menentukan apa yang terjadi; kehendak Allah juga adalah Allah menghendaki manusia, melalui Kristus dan oleh Roh Kudus, menjadi manusia yang mengasihi, kudus, benar, dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya.

Dengan demikian, kehendak Allah → kasih → Kristus → Roh Kudus → manusia baru → kehidupan yang sesuai kehendak Allah merupakan satu rangkaian yang sangat erat.


Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post