YESUS ANAK ALLAH

 



YESUS ANAK ALLAH









Identitas kekal Kristus, Pribadi Kedua Tritunggal, dan dasar keselamatan manusia

Untuk memahami pengakuan “Yesus adalah Anak Allah” secara utuh, kita harus melihatnya dari seluruh kesaksian Alkitab: keberadaan-Nya sebelum penciptaan, relasi-Nya dengan Bapa, keilahian-Nya, inkarnasi-Nya, karya salib dan kebangkitan-Nya, serta hubungan identitas-Nya dengan pengangkatan manusia menjadi anak-anak Allah.

Pokok utamanya adalah ini:

Yesus bukan menjadi Anak Allah karena dilahirkan di Betlehem, bukan menjadi Anak Allah karena dibaptis, dan bukan menjadi Anak Allah karena dibangkitkan. Ia adalah Sang Anak yang kekal, yang menjadi manusia untuk menggenapi rencana keselamatan Allah.

Dalam iman Kristen yang ortodoks, Sang Anak adalah Pribadi Kedua Tritunggal: berbeda dari Bapa sebagai Pribadi, tetapi satu hakikat ilahi dengan Bapa dan Roh Kudus.

Mari kita membangunnya langkah demi langkah berdasarkan ayat-ayat Alkitab.

1. APA ARTINYA YESUS ADALAH ANAK ALLAH?

Kita harus membedakan tiga pengertian: pribadi, natur, dan relasi.

• Pribadi: Siapakah Yesus? Ia adalah Sang Anak.
• Natur: Apakah Yesus? Ia adalah Allah sejati dan manusia sejati.
• Relasi: Bagaimana Yesus berhubungan dengan Bapa? Ia adalah Anak yang kekal, yang berasal dari Bapa melalui kelahiran ilahi yang kekal, bukan melalui penciptaan.

Istilah “Anak” tidak berarti bahwa Allah memiliki tubuh biologis, menikah, atau melahirkan secara jasmani. Istilah itu menyatakan relasi personal yang kekal di dalam kehidupan Allah sendiri.

A. Sang Anak sudah ada sebelum dunia diciptakan

Yohanes 17:5
Dan sekarang, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Perhatikan perkataan Yesus: Ia telah memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia ada.

Artinya, keberadaan Sang Anak tidak dimulai ketika Maria mengandung-Nya. Sebelum penciptaan, Ia sudah ada dalam kemuliaan bersama Bapa.

Yohanes 1:1–3
Ayat 1 memperlihatkan dua kebenaran sekaligus.

Pertama, Firman bersama-sama dengan Allah. Ini menunjukkan adanya pembedaan personal.

Kedua, Firman adalah Allah. Ini menegaskan keilahian-Nya.

Ayat 3 kemudian menegaskan bahwa segala sesuatu yang dijadikan diciptakan melalui Dia. Sang Firman tidak termasuk dalam golongan makhluk yang dijadikan.

Siapakah Firman ini?

Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Firman yang kekal itu menjadi manusia dan dikenal sebagai Anak Tunggal Bapa. Dengan demikian, Yesus Kristus bukan manusia biasa yang kemudian memperoleh status ilahi. Ia adalah Sang Firman yang kekal, yang mengambil natur manusia.

Inilah dasar pertama: Yesus adalah Anak Allah sebelum Ia menjadi manusia.

2. ANAK ALLAH ADALAH PRIBADI KEDUA TRITUNGGAL

Ini sangat penting: Yesus adalah Allah, tetapi Yesus bukan Pribadi Bapa. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; namun Allah bukan tiga Allah, melainkan satu Allah dalam tiga Pribadi.

A. Bapa dan Anak dibedakan, tetapi Sang Anak memiliki keilahian

Yohanes 1:18
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Ayat ini mengungkapkan dua hal.

* Sang Anak berada dalam relasi yang unik dan intim dengan Bapa.
* Sang Anak menyatakan siapa Bapa kepada manusia.

Yesus bukan Bapa yang menyamar sebagai Anak. Ia adalah Pribadi yang berbeda dari Bapa, tetapi menyatakan Bapa secara sempurna.

Yohanes 5:18
Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Dalam konteks ini, konflik muncul karena cara Yesus berbicara tentang Allah sebagai Bapa-Nya sendiri dan karena tindakan-Nya yang menyatakan otoritas ilahi.

Kita harus berhati-hati: ayat ini bukan berarti setiap orang yang menyebut Allah sebagai Bapa otomatis menyatakan dirinya setara dengan Allah. Keistimewaan Yesus terletak pada identitas dan otoritas-Nya yang unik sebagai Sang Anak.

B. Sang Anak sehakikat dengan Bapa

Ibrani 1:1–3
Perhatikan ungkapan “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”.

Sang Anak bukan sekadar utusan yang membawa informasi mengenai Allah. Ia menyatakan kemuliaan dan keberadaan Allah secara sempurna. Melalui Dia, alam semesta dijadikan dan dipelihara.

Itulah sebabnya pengakuan iman Nicea menyebut Sang Anak sebagai:

Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah sejati dari Allah sejati, diperanakkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa.

Ungkapan “diperanakkan, bukan dijadikan” bukan berarti ada waktu ketika Bapa sudah ada tetapi Anak belum ada. Dalam teologi Tritunggal klasik, kelahiran Sang Anak dari Bapa adalah relasi kekal, bukan peristiwa biologis atau kejadian di dalam waktu.

Bapa tidak pernah tanpa Anak, dan Anak tidak pernah tanpa Bapa.

C. Sang Anak bukan makhluk ciptaan pertama

Kolose 1:15–17
Ungkapan “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” tidak boleh dipisahkan dari ayat 16–17. Segala sesuatu diciptakan melalui Dia, untuk Dia, dan berada di dalam Dia. Karena itu, “sulung” di sini terutama menegaskan kedudukan, keutamaan, dan supremasi Kristus, bukan bahwa Ia merupakan makhluk pertama.

Kesimpulan bagian ini: Yesus adalah Anak Allah bukan dalam pengertian makhluk yang lebih tinggi daripada makhluk lain. Ia adalah Sang Anak yang kekal, sehakikat dengan Bapa.

3. MENGAPA YESUS DISEBUT ANAK ALLAH, BUKAN HANYA ALLAH?

Pertanyaan ini menyentuh inti doktrin Tritunggal.

Jika Yesus adalah Allah, mengapa Alkitab juga menyebut-Nya Anak Allah?

Jawabannya: kata “Allah” dapat menunjuk kepada hakikat ilahi yang satu, sedangkan “Bapa” dan “Anak” membedakan Pribadi dalam relasi kekal mereka.

Bapa adalah Allah, tetapi bukan Anak. Anak adalah Allah, tetapi bukan Bapa.

Yohanes 10:30
Aku dan Bapa adalah satu.

Dalam konteks Yohanes 10, Yesus sedang berbicara tentang pekerjaan-Nya menjaga domba-domba-Nya dan otoritas-Nya. Pernyataan ini tidak berarti Yesus adalah Pribadi yang sama dengan Bapa. Sebaliknya, Ia berbicara tentang kesatuan-Nya dengan Bapa.

Yohanes 14:9–10
Melihat Yesus bukan berarti melihat Pribadi Bapa secara identik. Maksudnya, Yesus menyatakan Bapa dengan sempurna. Sang Anak adalah penyataan Allah yang tidak kelihatan.

Dalam bahasa teologi, kita membedakan:

* Kesatuan hakikat: Bapa dan Anak adalah satu Allah.
* Pembedaan Pribadi: Bapa bukan Anak, dan Anak bukan Bapa.
* Kesatuan karya ilahi: Penciptaan, pemeliharaan, dan keselamatan merupakan karya Allah Tritunggal, dengan peran personal yang dibedakan dalam penyataan-Nya.

Jadi, gelar “Anak Allah” bukan mengurangi keilahian Yesus. Justru dalam Injil Yohanes, identitas Sang Anak menyatakan siapa Dia dalam relasi-Nya dengan Bapa.

4. YESUS MENJADI MANUSIA, TETAPI TIDAK BARU MENJADI ANAK ALLAH

Di sini kita harus membedakan kelahiran kekal Sang Anak dari kelahiran manusiawi Yesus dari Maria.

A. Inkarnasi adalah Sang Anak menjadi manusia

Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Ayat ini tidak mengatakan bahwa seorang manusia berubah menjadi Allah. Firman yang sudah ada sejak semula menjadi manusia.

Dalam rumusan Kristologi klasik, Yesus Kristus adalah satu Pribadi dengan dua natur:

* Natur ilahi: Ia adalah Allah sejati.

* Natur manusiawi: Ia adalah manusia sejati.

Kedua natur itu bersatu dalam satu Pribadi tanpa bercampur, tanpa berubah, tanpa terbagi, dan tanpa terpisah.

Dengan demikian, ketika Yesus lapar, menderita, dan mati, Ia sungguh mengalami semua itu menurut natur manusiawi-Nya. Namun, Pribadi yang mengalami semua itu tetaplah Sang Anak yang ilahi.

B. Kelahiran dari Maria bukan permulaan keberadaan Sang Anak

Galatia 4:4–5
Perhatikan urutan yang sangat penting:
Allah mengutus Anak-Nya.

* Anak itu lahir dari seorang perempuan.
* Ia menjalani kehidupan manusia di bawah hukum Taurat.
* Ia menebus manusia supaya kita diterima menjadi anak-anak Allah.

Paulus tidak mengatakan bahwa Allah menciptakan seorang manusia bernama Yesus, lalu mengangkat-Nya menjadi Anak Allah. Ia mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya, yang kemudian lahir dari seorang perempuan.

Itulah sebabnya inkarnasi bukan perubahan natur ilahi menjadi natur manusia. Sang Anak mengambil natur manusia tanpa kehilangan natur ilahi-Nya.

5. MENGAPA PADA SAAT BAPTISAN BAPA BERKATA, “INILAH ANAK-KU”?

Matius 3:16–17
Apakah Yesus baru menjadi Anak Allah pada saat baptisan?

Tidak. Dalam terang Yohanes 1 dan Yohanes 17, Sang Anak sudah ada sebelum dunia diciptakan.

Peristiwa baptisan adalah penyataan identitas-Nya dan permulaan pelayanan publik-Nya, bukan penciptaan identitas-Nya.

Bapa menyatakan Sang Anak, Roh Kudus turun, dan Yesus hadir sebagai manusia yang menjalankan misi keselamatan. Peristiwa ini memperlihatkan pembedaan ketiga Pribadi Tritunggal.

Hal yang sama berlaku ketika Bapa menyebut Yesus Anak-Nya pada peristiwa transfigurasi. Pernyataan itu meneguhkan identitas dan otoritas Yesus, bukan mengubah-Nya menjadi Anak Allah.

6. APA HUBUNGAN GELAR ANAK ALLAH DENGAN GELAR-GELAR YESUS YANG LAIN?

Jika Anak Allah adalah identitas personal-Nya, gelar-gelar lain mengungkapkan berbagai dimensi dari Pribadi dan karya yang sama.

Gelar           Makna utama                                                                    
• Anak Allah  ==>Identitas personal dan relasi kekal-Nya dengan Bapa                            
• Sang Firman  ==>Sang Anak sebagai Firman kekal yang menyatakan Allah                
• Mesias ==>Yang diurapi, Raja dan Juruselamat yang dijanjikan                            • Anak Manusia ==>Identitas-Nya sebagai manusia sejati dan figur kerajaan yang dinubuatkan       
• Anak Domba Allah ==>Pengorbanan-Nya untuk menghapus dosa                                  
• Imam Besar ==> Karya-Nya sebagai Pengantara dan Imam yang sempurna             
• Raja ==>  Pemerintahan-Nya yang kekal      
• Tuhan ==> Otoritas dan kemuliaan-Nya sebagai Tuhan                                       
• Anak Sulung ==>Keutamaan Kristus dan kedudukan-Nya sebagai yang sulung dari antara orang mati 

Perhatikan bahwa gelar-gelar tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri. Semuanya merujuk kepada satu Pribadi, yaitu Yesus Kristus.

Namun, kita juga tidak boleh menyederhanakan seluruh gelar itu seolah-olah maknanya identik. “Anak Domba” terutama menyatakan karya pengorbanan-Nya, sedangkan “Imam Besar” menyoroti pelayanan-Nya sebagai Pengantara. “Anak Allah” menyatakan identitas-Nya yang mendasar.

Kita dapat merumuskannya demikian:

Sang Anak adalah siapa Yesus; gelar-gelar lainnya menyingkapkan berbagai dimensi dari siapa Dia dan apa yang dikerjakan-Nya.

7. MENGAPA PENGAKUAN “YESUS ADALAH ANAK ALLAH” SANGAT MENENTUKAN KESELAMATAN?

Ini salah satu bagian terpenting dalam Injil Yohanes dan sangat berkaitan dengan pertanyaan Anda tentang identitas Kristus.

A. Tujuan Injil adalah supaya manusia percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah

Yohanes 20:30–31
Yohanes menghubungkan tiga hal:

* Yesus adalah Mesias.
* Yesus adalah Anak Allah.
* Melalui iman kepada-Nya, manusia memperoleh hidup.

Artinya, iman Kristen bukan sekadar kepercayaan bahwa Allah ada, bahwa Yesus adalah seorang nabi, atau bahwa Yesus mengajarkan moralitas yang baik.

Iman Kristen berpusat pada pengenalan dan penerimaan terhadap Yesus Kristus sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya.

Namun, pengakuan ini tidak boleh dipahami sebagai sekadar mengucapkan kalimat “Yesus adalah Anak Allah”. Iman yang menyelamatkan melibatkan kepercayaan kepada Kristus, penerimaan terhadap karya-Nya, dan kehidupan dalam relasi dengan-Nya.

B. Mengapa kita harus mengenal Sang Anak untuk mengenal Bapa?

Yohanes 14:6–7Mengapa Yesus mengatakan bahwa tidak seorang pun datang kepada Bapa kecuali melalui Dia?

Karena Sang Anak adalah penyataan Bapa yang sempurna dan Pengantara keselamatan manusia.

Kita tidak dapat memisahkan pengenalan akan Bapa dari pengenalan akan Sang Anak. Kita tidak mengenal Bapa secara menyelamatkan dengan menolak Pribadi yang diutus-Nya dan yang menyatakan-Nya kepada dunia.

Hal ini tidak berarti bahwa Bapa dan Anak adalah Pribadi yang sama. Justru relasi mereka menjadi dasar bagi karya penyataan dan keselamatan.

C. Sang Anak memberikan hidup kekal

Yohanes 5:21–23
Ayat 23 sangat penting: manusia harus menghormati Anak sebagaimana menghormati Bapa.

Mengapa? Karena Sang Anak bukan makhluk biasa yang hanya menyampaikan pesan Allah. Ia memiliki otoritas ilahi untuk menghidupkan dan menghakimi.

Menolak Sang Anak bukan sekadar menolak seorang utusan. Itu berarti menolak penyataan Allah yang datang melalui Dia.

8. MENGAPA SANG ANAK HARUS MATI DAN BANGKIT?

Jika Yesus adalah Anak Allah yang kekal, mengapa Ia harus mengalami penderitaan dan kematian?

Jawabannya bukan karena Ia kehilangan keilahian-Nya atau karena Bapa berhenti menjadi Bapa. Sang Anak menjadi manusia untuk melaksanakan misi keselamatan.

Markus 10:45
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Ayat ini menyatakan tujuan kedatangan Yesus: memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan.

Ibrani 2:14–17
Sang Anak mengambil natur manusia supaya Ia dapat mewakili manusia dan menjalankan karya penebusan sebagai manusia sejati.

Melalui kematian-Nya, Ia mengalahkan kuasa maut. Melalui kebangkitan-Nya, Ia membuka jalan menuju kehidupan baru.

Tetapi kematian bukan akhir dari identitas-Nya. Ia tetap Sang Anak, bahkan ketika Ia mati menurut natur manusiawi-Nya.

Di sinilah kita melihat kesatuan identitas dan karya Kristus: Sang Anak yang kekal adalah Pribadi yang menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia.

9. APA ARTI YESUS DISEBUT ANAK ALLAH DALAM KEBANGKITAN-NYA?

Ada ayat yang sering disalahpahami seolah-olah Yesus baru menjadi Anak Allah setelah kebangkitan.

Roma 1:3–4
Perhatikan kata “dinyatakan”.
Paulus tidak mengatakan bahwa kebangkitan menciptakan identitas Yesus sebagai Anak Allah. Kebangkitan menyatakan Dia sebagai Anak Allah yang berkuasa.

Sebelum kebangkitan, Yesus sudah disebut Anak Allah. Dalam kebangkitan, identitas dan kuasa-Nya dinyatakan secara nyata melalui kemenangan-Nya atas maut.

Jadi, kita harus membedakan:

* Identitas kekal: Yesus adalah Anak Allah sebelum dunia ada.
* Inkarnasi: Sang Anak mengambil natur manusia.
* Karya penebusan: Sang Anak mati dan bangkit bagi keselamatan manusia.
* Penyataan dalam kuasa: Kebangkitan meneguhkan kemenangan dan kemuliaan-Nya.

Urutan ini mencegah kita menyamakan identitas kekal Kristus dengan tahapan-tahapan misi-Nya dalam sejarah.

10. SANG ANAK ADALAH DASAR PENGANGKATAN KITA MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

Sekarang kita sampai pada hubungan yang sangat mendalam: mengapa identitas Yesus sebagai Anak Allah menjadi dasar identitas baru manusia yang percaya?

Galatia 4:4–7
Perhatikan bahwa Paulus tidak membalik urutannya. Kita tidak terlebih dahulu menjadi anak Allah dengan natur yang sama seperti Kristus, lalu Kristus datang untuk mengesahkannya.

Sebaliknya:

* Bapa mengutus Anak-Nya yang kekal.
* Sang Anak menjadi manusia.
* Sang Anak menebus manusia.
* Manusia menerima pengangkatan sebagai anak-anak Allah.
* Roh Anak bekerja dalam hati kita sehingga kita berseru kepada Bapa.

Ada perbedaan mendasar antara Kristus dan kita.

Yesus Kristus           Manusia yang percaya                                
• Anak Allah secara kekal 🔘 Anak Allah melalui anugerah pengangkatan            
• Memiliki natur ilahi  🔘Tetap makhluk ciptaan yang diperbarui oleh anugerah 
• Anak yang unik dan kekal 🔘Anak-anak yang diterima melalui Kristus             
• Menjadi Pengantara keselamatan 🔘Menerima keselamatan melalui Dia                    

Karena itu, pengangkatan kita menjadi anak-anak Allah tidak membuat kita menjadi Pribadi ilahi atau memiliki hakikat Allah. Kita menerima relasi sebagai anak, warisan, dan partisipasi dalam kehidupan Kristus melalui anugerah.

Hubungannya dengan persatuan dengan Kristus

Galatia 3:26–27
Kita menjadi anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.

Dalam perspektif ini, keselamatan tidak berhenti pada pengampunan secara hukum. Allah juga memulihkan relasi manusia dengan diri-Nya dan memperbarui manusia supaya semakin serupa dengan Kristus.

Inilah yang dalam tradisi Kristen Timur sering dibahas melalui konsep theosis: manusia mengambil bagian dalam kehidupan dan kebaikan Allah melalui anugerah, bukan berubah menjadi Allah menurut hakikat.

11. APAKAH PERCAYA YESUS SEBAGAI TUHAN SUDAH CUKUP JIKA TIDAK MENGAKUI-NYA SEBAGAI ANAK ALLAH?

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan hati-hati.

Roma 10:9
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Ayat ini menekankan pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan iman kepada kebangkitan-Nya.

Sementara itu, Yohanes 20:31 secara khusus menekankan iman bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah.

Keduanya tidak bertentangan. Keduanya memberikan kesaksian yang saling melengkapi tentang Yesus yang sama.

Mengakui Yesus sebagai Tuhan tetapi secara sadar menolak identitas-Nya sebagai Anak Allah bukanlah pengakuan yang utuh menurut kesaksian Perjanjian Baru. Namun, kita juga tidak boleh menghakimi keselamatan setiap orang hanya berdasarkan kemampuan mereka memahami istilah teologis. Ada perbedaan antara seseorang yang belum memahami doktrin secara lengkap dan seseorang yang secara sadar menolak kesaksian tentang Kristus.

Yang harus menjadi pusat iman adalah Yesus Kristus sebagaimana Ia dinyatakan dalam Kitab Suci.

12. KESALAHPAHAMAN YANG HARUS DIHINDARI

Ada beberapa kesalahan yang perlu kita hindari ketika membahas “Yesus Anak Allah”.

Pertama, menganggap Yesus baru menjadi Anak Allah ketika lahir dari Maria. Ini bertentangan dengan Yohanes 1:1–3 dan Yohanes 17:5.

Kedua, menganggap Sang Anak adalah makhluk ciptaan yang paling tinggi. Ini bertentangan dengan Yohanes 1:3, Ibrani 1:2–3, dan Kolose 1:16–17.

Ketiga, menganggap Yesus dan Bapa adalah satu Pribadi. Ini mengabaikan relasi Bapa dan Anak yang dinyatakan dalam Yohanes 17:5 dan Yohanes 14:16–17.

Keempat, menganggap Yesus hanya manusia yang diberi kuasa Allah. Ini tidak memadai untuk menjelaskan Yohanes 1:1, Ibrani 1:3, dan Yohanes 5:21–23.

Kelima, menganggap gelar-gelar Yesus saling menggantikan sepenuhnya. Anak Allah, Mesias, Anak Manusia, Anak Domba Allah, dan Imam Besar memiliki makna yang saling melengkapi, bukan identik.

KESIMPULAN: YESUS ANAK ALLAH ADALAH PUSAT SELURUH PENYATAAN ALLAH

Kita dapat merangkum seluruh pembahasan ini dalam tujuh pernyataan.

1. Yesus adalah Anak Allah yang kekal. Keberadaan-Nya tidak dimulai di Betlehem, sebab Ia telah memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia ada.

2. Yesus adalah Pribadi Kedua Tritunggal. Ia berbeda dari Bapa dan Roh Kudus sebagai Pribadi, tetapi satu hakikat ilahi dengan keduanya.

3. Yesus adalah Sang Firman yang menjadi manusia. Ia adalah Allah sejati dan manusia sejati dalam satu Pribadi.

4. Seluruh gelar Yesus merujuk kepada Pribadi yang sama. Mesias, Anak Manusia, Anak Domba Allah, Tuhan, Imam Besar, Raja, dan Anak Sulung menyatakan identitas, kedudukan, serta karya-Nya dari sudut yang berbeda.

5. Sang Anak datang untuk menyelamatkan manusia. Ia menjalani kehidupan manusia, menyerahkan diri-Nya di salib, dan bangkit dari antara orang mati.

6. Identitas Sang Anak menjadi dasar pengangkatan kita. Kita bukan anak Allah secara kekal seperti Kristus, melainkan diterima menjadi anak-anak Allah melalui anugerah di dalam Dia.

7. Tujuan keselamatan adalah pemulihan relasi dengan Bapa dan pembaruan hidup di dalam Kristus. Kita menerima pengampunan, kehidupan baru, dan partisipasi dalam kehidupan Allah melalui Roh Kudus.

Rumusan teologis akhirnya adalah:

Yesus Kristus adalah Anak Allah yang kekal, Pribadi Kedua Tritunggal, Allah sejati dan manusia sejati. Sebagai Sang Firman yang berinkarnasi, Ia menyatakan Bapa, menggenapi karya penebusan, mengalahkan maut, dan menjadi Pengantara melalui siapa manusia diperdamaikan dengan Allah serta diangkat menjadi anak-anak-Nya.

Dengan demikian, mengenal Yesus sebagai Anak Allah bukan sekadar mengetahui salah satu gelar-Nya. Itu berarti mengenal identitas Sang Pribadi yang menjadi pusat penyataan Allah dan pusat karya keselamatan-Nya bagi manusia.

Mesias








berdampingan


Mesias








berdampingan


Mesias








berdampingan

Mesias








berdampingan

Mesias








berdampingan


Mesias








berdampingan


Mesias








berdampingan
Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post