SEKOLAH KEHIDUPAN

 


A. MENGAMPUNI BUKAN BERARTI MEMBENARKAN

Bahkan mengampuni dan tetap mengasihi orang yang merendahkan kita adalah salah satu bentuk kasih yang paling dalam, karena kasih itu tidak bergantung pada apakah orang tersebut sudah berubah.

1. Bedakan MENGAMPUNI dengan MEMBENARKAN

Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa penghinaan itu benar.

Ketika seseorang merendahkan kita, kita boleh mengakui:

“Yang dia lakukan memang salah, tetapi saya tidak mau membiarkan kesalahan itu menguasai hati saya.”

Yesus sendiri tidak membenarkan kejahatan, tetapi Ia tetap mengasihi orang yang berbuat jahat kepada-Nya.

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
— Lukas 23:34

Perhatikan: Yesus tidak mengatakan, “Apa yang mereka lakukan tidak salah.”
Ia meminta pengampunan bagi mereka.


2. Mengampuni berarti MELEPASKAN HAK UNTUK MEMBALAS

Ini inti pengampunan.

Kita menyerahkan penghakiman kepada Allah.

“Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: ‘Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan,’ firman Tuhan.”
— Roma 12:19

Jadi ketika dihina, kita tidak harus berpura-pura tidak terluka.

Kita boleh berkata dalam hati:

“Tuhan, saya terluka. Apa yang dia lakukan salah. Tetapi saya tidak mau membalas. Penghakiman saya serahkan kepada-Mu.”

Itulah awal kebebasan hati.


3. Mengasihi TIDAK SAMA dengan MEMBIARKAN DIRI TERUS DISAKITI

Ini penting.

Yesus berkata:

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
— Matius 5:44

Mengasihi orang yang menghina kita berarti kita tidak menginginkan kehancurannya.

Kita masih dapat mendoakan:

“Tuhan, bukalah matanya. Ubahlah hatinya. Berkatilah dia dan tuntunlah dia kepada kebenaran.”

Tetapi kalau orang tersebut terus melakukan penghinaan, kita boleh membuat batas yang sehat.

Mengampuni ≠ harus dekat kembali.
Mengampuni ≠ harus mempercayai kembali.
Mengampuni ≠ harus membiarkan penghinaan terus berlangsung.

Pengampunan menyangkut hati; batas menyangkut perilaku.


4. Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan

Inilah bagian yang sangat sulit.

“Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!”
— Roma 12:17

Dan:

“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”
— Roma 12:21

Perhatikan kata “kalahkan.”

Artinya, ketika orang menghina kita lalu kita membalas dengan penghinaan, sebenarnya kita membiarkan kejahatan menentukan siapa diri kita.

Tetapi ketika kita tetap benar, tetap tenang, tetap mengasihi, kita tidak membiarkan karakter orang lain menentukan karakter kita.


5. Lihat orang tersebut bukan hanya dari PERBUATANNYA, tetapi sebagai manusia yang juga membutuhkan kasih Allah

Ini bukan berarti mengabaikan kesalahannya.

Tetapi kita belajar melihat:

“Dia memang melakukan sesuatu yang salah, tetapi dia tetap manusia yang membutuhkan Allah.”

Karena itu Yesus berkata:

“Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu dan berdoalah bagi mereka yang mencaci kamu.”
— Lukas 6:27–28

Ini sangat tinggi.

Kita tidak hanya berhenti pada:

“Saya tidak membalas.”

Tetapi naik kepada:

“Saya menghendaki kebaikan bagi dia.”

Itulah kasih Kristiani.


6. Jangan menunggu PERASAAN HILANG baru mengampuni

Kadang orang berkata:

“Saya sudah mengampuni, tetapi saya masih sakit hati.”

Itu bisa terjadi.

Pengampunan bukan terutama perasaan; pengampunan adalah keputusan kehendak.

Hari ini kita mengampuni.
Besok mungkin luka itu terasa lagi.
Kita kembali menyerahkannya kepada Tuhan.

Jadi jangan mengukur pengampunan dengan:

“Apakah saya sudah tidak sakit hati?”

Lebih baik ukur dengan:

“Apakah saya masih ingin membalas?”

Kalau hati masih ingin membalas, bawalah lagi kepada Tuhan.


7. Kasih yang paling matang adalah ketika kita dapat MENGASIHI TANPA HARUS DITERIMA

Ini sangat dekat dengan kasih Kristus.

Yesus dikasihi? Tidak selalu.

Yesus dihormati? Tidak selalu.

Yesus bahkan dihina dan disalibkan.

Namun kasih-Nya tidak bergantung pada respons manusia.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
— Roma 5:8

Jadi sumber kemampuan kita mengasihi bukan:

“Karena dia baik kepada saya, maka saya baik kepadanya.”

Tetapi:

“Karena Kristus telah mengasihi saya, maka saya belajar mengasihi dia.”


8. Ada proses rohani yang sangat indah

Ketika seseorang merendahkan kita, kita dapat menjalani urutan ini:

TERLUKA → BERDOA → MENGAMPUNI → MENYERAHKAN PENGHAKIMAN KEPADA ALLAH → MENGASIHI → MENETAPKAN BATAS → TETAP BERBUAT BENAR

Dan akhirnya kita sampai pada keadaan:

“Saya tidak lagi membutuhkan dia berubah supaya hati saya damai.”

Mengapa?

Karena damai kita tidak lagi bergantung kepada perlakuan manusia, tetapi kepada Kristus.


Doa sederhana ketika dihina

“Tuhan Yesus, Engkau tahu bahwa saya terluka oleh perkataan dan perlakuannya. Saya tidak menyangkal luka itu. Tetapi saya tidak mau menyimpan kebencian. Saya mengampuni dia dan menyerahkan penghakiman kepada-Mu. Tolong saya supaya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Berikan saya kasih untuk mendoakan dia, tetapi juga hikmat untuk menjaga batas yang benar. Sembuhkan hati saya dan ubahlah hati dia. Biarlah karakter saya tidak ditentukan oleh perlakuannya kepada saya, tetapi oleh kasih-Mu kepada saya. Amin.”

Intinya:
Mengampuni adalah melepaskan dendam. Mengasihi adalah menghendaki kebaikan orang itu. Menetapkan batas adalah menjaga kebenaran. Dan semuanya dapat dilakukan sekaligus.

Bahkan kita dapat berkata:

“Saya mengampuni kamu, saya tetap mengasihi kamu, tetapi saya tidak akan membiarkan kamu terus merendahkan saya.”

Itu bukan kebencian. Itu kasih yang disertai kebenaran.


Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post