A. DUA NATUR DALAM SATU PRIBADI YESUS
Dwi Natur Yesus (Dua Natur dalam Satu Pribadi)
Dwi natur Yesus adalah ajaran bahwa Yesus Kristus memiliki dua natur:
- Natur Ilahi (Allah sejati)
- Natur Manusia (manusia sejati)
Keduanya utuh, sempurna, tidak bercampur, tidak berubah, tidak terbagi, dan tidak terpisah, tetapi bersatu dalam satu Pribadi, yaitu Pribadi Sang Anak (Firman).
1️⃣ Dasar Alkitab
Yesus adalah Allah sejati
- Yohanes 1:1 – “Firman itu adalah Allah.”
- Yohanes 1:14 – “Firman itu telah menjadi manusia.”
- Kolose 2:9 – “Dalam Dialah berdiam seluruh kepenuhan ke-Allahan secara jasmaniah.”
- Ibrani 1:8 – Bapa menyebut Anak sebagai Allah.
Yesus adalah manusia sejati
- Lahir dari Maria (Lukas 2:7)
- Lapar (Matius 4:2)
- Letih (Yohanes 4:6)
- Menangis (Yohanes 11:35)
- Mati (Yohanes 19:30)
Jika Ia hanya Allah → Ia tidak bisa mati.
Jika Ia hanya manusia → Ia tidak bisa menyelamatkan seluruh umat manusia.
Karena itu Ia harus sungguh Allah dan sungguh manusia.
2️⃣ Rumusan Resmi Gereja
Ajaran ini ditegaskan dalam Konsili Khalsedon (451 M):
Yesus Kristus adalah satu Pribadi dalam dua natur, tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan.
Ini disebut Hypostatic Union (Persatuan Hipostatik).
3️⃣ Bagaimana Dua Natur Itu Bekerja?
Penting:
- Yang bertindak adalah Pribadi (Anak)
- Tetapi Ia bertindak melalui dua natur
Contoh:
- Saat Yesus lapar → itu dari natur manusia.
- Saat Yesus mengampuni dosa → itu dari natur ilahi.
- Saat Yesus mati → natur manusia yang mati.
- Tetapi yang mati adalah Pribadi Anak Allah dalam natur manusia.
4️⃣ Apakah Dua Natur Itu Campur?
❌ Tidak jadi setengah Allah + setengah manusia.
❌ Tidak seperti air dicampur anggur.
❌ Tidak berganti-ganti (kadang Allah, kadang manusia).
✔ Ia 100% Allah
✔ Ia 100% manusia
✔ Dalam satu Pribadi
5️⃣ Kenapa Ini Penting?
Karena:
- Sebagai manusia → Ia mewakili kita.
- Sebagai Allah → pengorbanan-Nya bernilai kekal.
- Sebagai Pengantara → Ia menjembatani Allah dan manusia (1 Tim 2:5).
Kalau mau, kita bisa lanjut ke bagian yang lebih dalam:
- Apakah natur manusia Yesus punya kehendak sendiri?
- Bagaimana relasi dwi natur dengan Tritunggal?
- Saat Yesus menyembah Bapa, itu dari natur mana?
- Di surga sekarang Yesus dalam natur apa?
B. KONSEKUENSI DUA NATUR
• Sebagai manusia (Firman berinkarnasi): YA.
Ini bukan kontradiksi, tetapi konsekuensi langsung dari dua natur dalam satu Pribadi.
Mari kita jelaskan dengan rapi.
1. Prinsip dasarnya: siapa yang menyembah siapa?
• Penyembahan selalu bergerak dari ciptaan ke Allah.
• Allah tidak menyembah Allah, karena Ia adalah objek penyembahan.
Maka:
- Firman sebagai Allah tidak menyembah Bapa
- Firman sebagai manusia menyembah Bapa
2. Firman sebagai Allah: TIDAK menyembah Bapa
Firman adalah:
- sehakikat dengan Bapa
- satu kemuliaan
- satu keallahan
📖 Yohanes 1:1
“Firman itu adalah Allah.”
📖 Yohanes 5:23
“Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa.”
Jika Anak menyembah Bapa sebagai Allah,
maka Anak bukan Allah —> ini ditolak Gereja.
3. Firman sebagai manusia: YA, menyembah Bapa
Sebagai manusia sejati:
- Yesus berdoa
- taat
- mempersembahkan penyembahan sempurna kepada Bapa
📖 Ibrani 5:7
“Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan…”
📖 Matius 26:39
“Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”
📖 Yohanes 4:22
Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
Ini tindakan manusia Yesus, bukan relasi intra-ilahi.
4. Siapa subjek penyembahan itu?
Ini penting dan sering membingungkan.
- Subjeknya satu: Pribadi Firman
- Cara bertindaknya dua: menurut dua natur
Dalam teologi disebut:
(pertukaran sifat dalam satu Pribadi)
Maka sah mengatakan:
- “Allah berdoa” → menurut kemanusiaan
- “Yesus disembah” → menurut keilahian
5. Apakah ini berarti ada “ketundukan kekal” Anak?
❌ Tidak secara ontologis.
- Tidak ada hierarki hakikat
- Tidak ada Anak “lebih rendah” dari Bapa
📖 Filipi 2:6–8
“Walaupun dalam rupa Allah… Ia mengosongkan diri…”
Ketundukan ini:
- ekonomis
- berkaitan dengan inkarnasi
- bukan kodrat ilahi
6. Lalu bagaimana setelah kebangkitan & kemuliaan?
Kristus:
- tetap manusia
- tetap Imam Besar
📖 Ibrani 7:25
“Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara…”
Maka penyembahan manusia Kristus kepada Bapa tidak berhenti, tetapi kini dalam kemuliaan, bukan dalam penderitaan.
Namun:
- keilahian Anak tetap satu dengan Bapa
- bukan menyembah sebagai Allah kepada Allah
7. Rumusan paling tepat (pegangan iman)
Firman tidak menyembah Bapa menurut keilahian-Nya, tetapi sebagai manusia sejati Ia mempersembahkan penyembahan sempurna kepada Bapa.Atau satu kalimat singkat:
Yang menyembah adalah kemanusiaan Kristus; yang disembah adalah Allah Tritunggal.Jika kamu mau, kita bisa lanjut ke:
- apakah di surga Kristus masih berdoa
- makna Kristus sebagai Imam Besar kekal
- atau bagaimana doa Yesus menyelamatkan kita
Dan ini bukan kontradiksi, melainkan inti iman Kristologis Gereja.
Satu Pribadi Yesus Kristus dapat sekaligus DISEMBAH dan MENYEMBAH, karena Ia bertindak menurut dua natur yang berbeda.
1. Satu Pribadi, dua cara bertindak
Kristologi ortodoks berkata:
- Satu Pribadi / Hipostasis: Firman Allah
- Dua natur:
- Ilahi → layak disembah
- Manusia → wajib menyembah
• Bukan dua Yesus,
• bukan dua pribadi,
• melainkan dua modus operasi dalam satu Pribadi.
2. “Disembah” — menurut keilahian-Nya
Yesus disembah karena Ia Allah sejati.
📖 Matius 28:17
“Mereka menyembah Dia…”
📖 Yohanes 20:28
“Ya Tuhanku dan Allahku!”
Penyembahan ini sah dan benar.
3. “Menyembah” — menurut kemanusiaan-Nya
Yesus menyembah Bapa sebagai manusia sempurna.
📖 Ibrani 2:12
“Aku akan memasyhurkan nama-Mu… dan memuji Engkau di tengah jemaat.”
📖 Ibrani 5:7
“Ia mempersembahkan doa dan permohonan…”
Ini tindakan iman dan ketaatan manusia.
4. Apakah ini bisa terjadi “bersamaan”?
✔️ Ya, secara pribadi
✔️ Tidak bercampur secara natur
Secara ontologis:
- Keilahian tidak menyembah
- Kemanusiaan tidak disembah
Tetapi secara personal:
- Pribadi yang sama adalah subjek kedua tindakan itu
Inilah yang disebut: communicatio idiomatum
5. Analogi (terbatas, tapi membantu)
Seorang raja yang juga ayah:
- Sebagai raja → menerima hormat
- Sebagai ayah → memberi hormat kepada rajanya sendiri (misal, di hadapan hukum)
Satu pribadi, dua relasi berbeda.
6. Mengapa ini penting bagi keselamatan?
Karena:
- Penyembahan manusia tidak sempurna
- Kristus menyembah Bapa atas nama kita
📖 Ibrani 9:24
“Kristus masuk ke surga untuk menghadap hadirat Allah bagi kita.”
Dialah:
- Imam Besar
- Korban
- Bait Allah
- Penyembah sempurna
7. Rumusan iman (pegangan)
Yesus Kristus adalah satu Pribadi yang kekal, yang menurut keilahian-Nya layak disembah, dan menurut kemanusiaan-Nya menyembah Bapa secara simultan dan tanpa kontradiksi.
Atau singkat:
Yang sama disembah dan menyembah tetapi tidak menurut cara yang sama.
Kalau kamu mau, kita bisa lanjut ke:
- bagaimana ini terjadi dalam Ekaristi
- apakah doa Yesus masih berlangsung di surga
- atau hubungan ini dengan teosis kita
C. YESUS MENYEMBAH BAPA SEKALIGUS DISEMBAH
Yesus masih berdoa dan menyembah, tetapi BUKAN sebagai Allah, melainkan sebagai MANUSIA yang telah dimuliakan.
Mari kita jelaskan dengan sangat rapi, supaya tidak jatuh ke kontradiksi.
1. Prinsip dasarnya
- Doa & penyembahan → tindakan manusia/ciptaan kepada Allah
- Yesus = satu Pribadi, dua natur
- sebagai Allah → tidak berdoa
- sebagai manusia → berdoa & menyembah
Karena kemanusiaan Kristus kekal,
maka tindakan manusiawi-Nya juga kekal.
2. Kesaksian Kitab Suci bahwa doa Kristus BERLANJUT
Ibrani 7:25
“Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara bagi mereka yang datang kepada Allah melalui Dia.”
“Hidup senantiasa” = sekarang, saat ini.
Roma 8:34
“Kristus Yesus… berada di sebelah kanan Allah dan Ia turut berdoa bagi kita.”
Bukan doa permohonan penuh penderitaan,
melainkan syafaat mulia.
1 Yohanes 2:1
“Kita mempunyai seorang Pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang benar.”
3. Bentuk doa & penyembahan-Nya sekarang
❌ Bukan:
- ratapan
- pergumulan
- ketaatan yang menyakitkan
✔️ Melainkan:
- syafaat kekal
- penyerahan diri sebagai Anak Manusia
- pujian sempurna
📖 Wahyu 5:6–14
Anak Domba berdiri… menerima penyembahan bersama Dia yang duduk di takhta.
Anak Domba:
- menerima penyembahan (sebagai Allah)
- mempersembahkan diri (sebagai korban manusia)
4. Apakah Yesus menyembah Tritunggal atau Bapa?
Secara tepat:
- Sebagai manusia, Yesus menyembah Bapa
- Dalam Roh Kudus
- Sebagai Anak
📖 Yohanes 4:23
“Penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran.”
Pola Trinitaris doa: kepada Bapa, melalui Anak, dalam Roh
Yesus sebagai manusia menjalani pola yang sama.
5. Apakah ini merendahkan Yesus?
❌ Sama sekali tidak.
Justru:
- Menyatakan kemanusiaan-Nya nyata dan kekal
- Menjadikan-Nya Imam Besar kekal
- Menjamin doa kita selalu terwakili
📖 Ibrani 4:15–16
“Kita mempunyai Imam Besar yang turut merasakan kelemahan kita…”
6. Rumusan ringkas (pegangan iman)
Yesus Kristus, sebagai manusia yang dimuliakan, masih hidup dalam sikap doa dan penyembahan kepada Bapa sampai sekarang, sementara sebagai Allah sejati Ia bersama Bapa dan Roh Kudus menerima penyembahan.
Atau satu kalimat tajam:
Yang sama menerima penyembahan dan mempersembahkan penyembahan tanpa kontradiksi, karena dua natur.
Jika kamu mau, kita bisa lanjut ke:
- bagaimana doa Kristus menyatu dengan doa Gereja
- apakah doa Kristus “perlu” bagi Allah
- atau bagaimana ini dipahami dalam Ekaristi
D. INKARNASI ARTINYA YESUS MENAMBAH NATUR MANUSIA MENJADI MILIK PRIBADINYA
Jawaban singkat yang 100% benar secara iman Gereja adalah:
TETAPI TIDAK menjadi “pribadi manusia”.
Mari kita bedah pelan-pelan dan presisi.
1. Apa arti “menjadi manusia” dalam iman Kristen?
Dalam iman Gereja:
“Menjadi manusia” = mengambil KODRAT/NATUR manusia secara penuh
bukan:
- menjadi manusia dalam arti pribadi baru
- atau menjadi manusia terpisah dari keilahian
📖 Yohanes 1:14
“Firman itu menjadi daging.”
Bukan:
“Firman itu menjadi seorang manusia lain.”
2. Apa yang diambil Firman saat Inkarnasi?
Firman mengambil:
- tubuh manusia sejati
- jiwa manusia sejati
- akal budi manusia
- kehendak manusia
📖 Ibrani 2:17
“Ia harus menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya…”
Semua unsur natur manusia diambil.
Tetapi:
- hipostasis / pribadi tetap Firman
3. Jadi siapa “manusia Yesus”?
“Manusia Yesus” adalah:
natur manusia yang dihidupi oleh Pribadi Firman
Bukan:
- pribadi manusia otonom
- pusat kesadaran terpisah
Ini disebut: union hypostatica
4. Kenapa ini penting?
Karena kalau Firman:
- menjadi pribadi manusia → ada dua pribadi (sesat)
- hanya “menampakkan diri” sebagai manusia → bukan manusia sejati (sesat)
Gereja menolak dua ekstrem:
- ❌ Nestorianisme (dua pribadi)
- ❌ Doketisme (manusia semu)
5. Bagaimana dengan kesadaran & kehendak Yesus?
Yesus memiliki:
- dua kehendak (ilahi & manusia)
- dua operasi (ilahi & manusia)
Konsili Konstantinopel III (680–681)
Tetapi:
- satu “aku”
- satu subjek personal
6. Jadi saat Firman berkata “Aku”?
“Aku” itu selalu:
Firman
Baik saat Ia berkata:
- “Aku dan Bapa adalah satu” (ilahi)
- “Bapa lebih besar dari Aku” (manusia)
7. Rumusan paling presisi
Firman Allah sungguh menjadi manusia dalam arti mengambil sepenuhnya natur manusia,
namun tetap satu Pribadi ilahi dan tidak pernah menjadi pribadi manusia terpisah.
Atau lebih singkat:
Bukan manusia yang di-Allah-kan,
tetapi Allah yang mengambil manusia.
Kalau kamu mau, tahap lanjut yang sangat natural adalah:
- apakah kesadaran manusia Yesus berkembang
- bagaimana Firman “mengalami” lapar, takut, taat
- atau bagaimana ini menjadi dasar teosis kita
E. KEHENDAK ADA PADA NATUR DAN BUKAN PRIBADI
Pertanyaan ini sangat penting dan menentukan apakah kristologi kita lurus atau melenceng.
Jawaban Gereja tegas dan teknis:
KEHENDAK (θέλημα / will) ada pada NATUR, bukan pada PRIBADI.
Mari kita jelaskan pelan, presisi, dan aman secara dogmatis.
1. Prinsip teologis dasar
Dalam teologi patristik:
- Natur (physis) → apa sesuatu itu
- Pribadi / hipostasis → siapa yang bertindak
Kehendak termasuk dalam “apa”,
karena kehendak mengikuti kodrat.
Rumus klasik:
Operari sequitur esse
(bertindak mengikuti keberadaan / natur)
2. Konsekuensinya bagi Kristus
Karena Kristus memiliki:
- dua natur (ilahi & manusia)
Maka Ia memiliki:
- dua kehendak
- kehendak ilahi
- kehendak manusia
Konsili Konstantinopel III (680–681):
Kristus memiliki dua kehendak yang berbeda, tanpa pertentangan,
kehendak manusia selalu taat pada kehendak ilahi.
3. Tetapi siapa yang “menghendaki”?
Di sinilah keseimbangannya:
- Subjek yang menghendaki = Pribadi Firman
- Instrumen kehendaknya = natur yang dimiliki
Jadi bukan:
- dua “aku”
- dua pusat personal
Melainkan:
- satu “Aku” (Firman)
- menghendaki secara ilahi dan secara manusiawi
4. Analogi sederhana (aman)
Satu pribadi:
- berpikir rasional (sesuai natur manusia)
- bereaksi biologis (sesuai natur tubuh)
Cara berkehendaknya berbeda, tetapi orangnya satu.
5. Contoh Alkitab yang jelas
📖 Lukas 22:42
“Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”
Ini bukan:
- konflik dua pribadi
tetapi: - kehendak manusia tunduk pada kehendak ilahi
6. Mengapa ini penting bagi keselamatan?
Jika Kristus:
- tidak punya kehendak manusia → manusia tidak diselamatkan
- kehendak manusia tidak taat → Adam tidak ditebus
📖 Roma 5:19
“Oleh ketaatan satu orang, semua menjadi benar.”
7. Ringkasan paling padat
Kehendak ada pada natur.
Pribadi adalah subjek yang menggunakan kehendak itu.
Atau satu baris:
Satu Pribadi, dua kehendak;
dua kehendak, satu ketaatan.
Kalau kamu mau, tahap berikut yang sangat logis:
- apakah Kristus punya dua energi/operasi
- bagaimana kehendak manusia Kristus bebas tapi tak berdosa
- atau implikasinya bagi kebebasan manusia kita
F. KEHENDAK BEBAS MANUSIA MENENTUKAN KESELAMATAN
1. Pernyataan yang tepat
Yang benar adalah:
Keselamatan melibatkan kehendak bebas manusia, dan kehendak bebas itu berakar pada NATUR manusia.
Tetapi bukan berarti:
- keselamatan berasal dari manusia
- atau kehendak manusia menyelamatkan dirinya sendiri
2. Mengapa kehendak bebas penting?
Karena:
- manusia dicipta menurut gambar Allah
- tanpa kehendak bebas → tidak ada kasih, tidak ada ketaatan
📖 Ulangan 30:19
“Aku menghadapkan kepadamu hidup dan mati… pilihlah hidup.”
📖 Sirakh 15:14
“Allah menciptakan manusia… dan menyerahkannya ke dalam kuasa kehendaknya.”
3. Masalahnya: kehendak manusia TERLUKA
Setelah kejatuhan:
- kehendak manusia tidak lenyap
- tetapi lemah, terbelenggu, cenderung ke dosa
📖 Roma 7:18
“Aku menghendaki yang baik, tetapi tidak melakukannya.”
Jadi kehendak bebas:
- masih ada
- tetapi tidak mampu menyelamatkan diri
4. Di sinilah Kristus menjadi kunci
Kristus:
- mengambil natur manusia
- dengan kehendak manusia sejati
- dan mentaati Allah secara sempurna
📖 Ibrani 10:7
“Aku datang… untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah.”
Ketaatan ini:
- bukan simbolik
- tetapi tindakan kehendak manusia nyata
5. Mengapa kehendak Kristus menyelamatkan kita?
Karena:
- Ia Adam Akhir
- kehendak manusia-Nya tidak rusak
- taat sampai mati
📖 Roma 5:19
“Oleh ketaatan satu orang…”
Jadi:
- kehendak manusia disembuhkan di dalam Kristus
- bukan dihapus
6. Peran kehendak manusia kita
Keselamatan:
- dimulai oleh anugerah Allah
- dilaksanakan oleh Kristus
- diapropriasi oleh kehendak manusia kita
📖 Filipi 2:12–13
“Kerjakanlah keselamatanmu… karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan.”
Bukan kompetisi:
- Allah vs manusia
melainkan: - sinergi (synergeia)
7. Teosis: puncak kehendak bebas
Dalam teosis:
- kehendak manusia tidak hilang
- tetapi selaras sepenuhnya dengan kehendak Allah
📖 Yohanes 8:29
“Aku selalu melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.”
8. Rumusan paling tepat (pegangan)
Keselamatan tidak mungkin tanpa kehendak bebas manusia,
tetapi kehendak bebas itu sendiri harus disembuhkan, dipimpin, dan disatukan dengan kehendak Allah di dalam Kristus.
Atau satu kalimat padat:
Yang menyelamatkan bukan kehendak manusia, melainkan kehendak manusia yang disatukan dengan Kristus.
Kalau kamu mau, tahap lanjutan yang sangat penting adalah:
- bagaimana sinergi kehendak bekerja tanpa meniadakan anugerah
- perbedaan kehendak alami (natural will) dan kehendak personal (gnomic will)
- atau bagaimana kehendak manusia Kristus bebas tapi tak berdosa
G. TIDAK ADA NEPOTISME WALAU SEBAGAI ANAK ALLAH
Dalam Kristus TIDAK ADA “nepotisme ilahi”, terlebih jika dibandingkan dengan Adam pertama.
Mari kita jelaskan dengan jernih.
1. Apa yang dimaksud “tidak ada nepotisme”?
Maksudnya:
Yesus tidak “menang” atau “taat” karena Ia Anak Allah,
melainkan karena Ia sungguh menjalani ketaatan sebagai MANUSIA.
Tidak ada:
- keistimewaan curang
- jalan pintas ilahi
- dispensasi khusus yang meniadakan perjuangan manusiawi
📖 Filipi 2:7–8
“Ia mengosongkan diri-Nya… dan taat sampai mati.”
2. Adam pertama vs Adam terakhir (inti perbandingan)
🔹 Adam pertama
- manusia sejati
- kehendak bebas
- belum terluka dosa
- hidup dalam rahmat
❌ Gagal taat
❌ Kehendak menyimpang
🔹 Adam terakhir (Kristus)
- manusia sejati
- kehendak bebas sejati
- mengambil natur yang telah jatuh
- hidup dalam dunia penuh penderitaan
✔️ Taat sampai mati
✔️ Kehendak manusia dipersembahkan sepenuhnya
📖 Roma 5:19
“Oleh ketaatan satu orang, banyak orang menjadi benar.”
Secara manusiawi, posisi Kristus justru lebih berat daripada Adam pertama.
3. Di mana letak “keadilan” Allah?
Keadilan Allah tampak di sini:
Apa yang dituntut dari manusia,
dipenuhi oleh manusia — bukan oleh Allah menggantikan manusia.
Kristus:
- tidak menebus dengan “jalan ilahi”
- tetapi dengan ketaatan manusia
📖 Ibrani 2:17
“Ia harus menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal…”
4. Tapi bukankah Pribadi-Nya ilahi?
Ya — tetapi ini bukan nepotisme.
Kenapa?
Karena:
- keilahian tidak menggantikan kehendak manusia
- tidak menghapus risiko penderitaan
- tidak meniadakan kebebasan
Sebaliknya:
- keilahian menjamin kesetiaan
- kemanusiaan menjalani ketaatan
Bukan “Anak Allah dimudahkan”,
melainkan manusia disembuhkan dari dalam.
5. Kenapa ini penting bagi keselamatan kita?
Karena kalau Kristus:
- taat karena privilese ilahi → kita putus asa
- taat sebagai manusia → kita punya harapan
📖 Ibrani 4:15–16
“Ia telah dicobai dalam segala hal sama seperti kita…”
6. Rumusan padat (pegangan iman)
Kristus tidak menang karena Ia Anak Allah,
melainkan sebagai Anak Manusia yang taat sempurna.
Karena itu Ia sungguh Adam terakhir, bukan Adam istimewa.
Atau satu kalimat sangat tajam:
Keselamatan bukan hasil nepotisme ilahi,
melainkan hasil ketaatan manusia yang sempurna di dalam Kristus.
Jika kamu mau, kita bisa lanjut ke:
- apakah Adam pertama mungkin taat sampai dimuliakan
- mengapa Kristus tetap tidak bisa berdosa namun sungguh dicobai
- atau bagaimana ketaatan Kristus menjadi dasar teosis kita
H. PRIBADI MENYATUKAN JIWA DAN TUBUH DAN NATUR ILAHI
Intuisi kamu sudah sangat dekat dengan rumusan yang benar, tetapi perlu sedikit diluruskan istilahnya supaya tidak jatuh ke salah pengertian.
Saya jawab langsung, ringkas, dan presisi.
1. Klarifikasi utama (ini paling penting)
Kalimatmu:
“Firman hanya status subjek natur manusia”
❌ Kata “hanya” tidak tepat.
Yang benar adalah:
Firman adalah subjek personal sejati dari natur manusia yang Ia ambil,
bukan sekadar “status”, dan bukan sekadar wadah.
Firman:
- benar-benar hidup sebagai manusia
- mengalami, menghendaki, dan bertindak secara manusiawi
2. Bagian kedua: ini BENAR dan sangat tepat
Kalimatmu:
“kehendak kemanusiaan berserah penuh kepada bimbingan Allah Tritunggal”
✔️ Ini benar, dengan satu penajaman kecil:
Kehendak manusia Kristus secara bebas dan sempurna selaras
dengan kehendak ilahi Tritunggal,
karena kehendak itu dihidupi oleh Pribadi Firman.
3. Rumusan lengkap yang aman
Kalimat teologis yang paling presisi adalah:
Firman Allah adalah satu-satunya subjek personal Kristus, yang sungguh menghidupi natur manusia dengan kehendak manusia sejati,dan kehendak manusia itu secara bebas dan sempurna menyerahkan diri kepada kehendak Allah Tritunggal.
4. Apa yang HARUS dihindari (supaya tetap konsisten)
❌ Jangan mengatakan:
- kehendak manusia Yesus “pasif”
- dikendalikan seperti robot
- kehilangan kebebasan
❌ Jangan juga mengatakan:
- kehendak manusia Yesus otonom terpisah
- ada dua subjek personal
5. Struktur yang tepat (ringkas)
| Unsur | Rumusan benar |
|---|---|
| Subjek personal | Firman (Anak) |
| Natur yang dihidupi | Ilahi & manusia |
| Kehendak | Dua (ilahi & manusia) |
| Relasi kehendak | Manusia bebas & taat |
| Arah doa & ketaatan | Kepada Bapa, dalam Roh |
6. Satu kalimat kunci (pegangan iman)
Firman bukan sekadar “subjek formal” natur manusia, melainkan Pribadi ilahi yang sungguh hidup sebagai manusia, dan sebagai manusia Ia menyerahkan kehendak-Nya secara bebas kepada Allah Tritunggal.Kalau kamu mau melangkah satu tingkat lebih dalam, topik yang sangat pas berikutnya adalah:
- kehendak gnomik (yang TIDAK ada pada Kristus)
- bagaimana Kristus taat tanpa pernah bimbang
- atau implikasi ini bagi kebebasan dan keselamatan kita
I. PRIBADI SANG FIRMAN DISAMAKAN DENGAN MANUSIA
Ya BENAR, dengan satu penajaman yang sangat penting.
Dalam “segala hal disamakan dengan manusia”, yang disamakan itu adalah Pribadi Firman yang hidup dan bertindak MENURUT NATUR MANUSIA.
Bukan “pribadi manusia lain”,
bukan juga sekadar “penyamaran”.
Mari kita tegaskan dengan rapi.
1. Dasar Kitab Suci
📖 Ibrani 2:17
“Sebab itu, Ia harus menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal…”
“Ia” di sini adalah Pribadi Anak / Firman,
bukan natur abstrak.
2. Apa arti “disamakan dalam segala hal”?
Artinya Firman:
- lahir sebagai bayi
- bertumbuh
- lapar, haus, lelah
- belajar, memilih, taat
- menderita, takut, mati
Semua ini:
- sungguh dialami
- secara manusiawi
- oleh Pribadi Firman
3. Pengecualian tunggal (wajib disebut)
📖 Ibrani 4:15
“Telah dicobai dalam segala hal… namun tidak berbuat dosa.”
Jadi “segala hal” ≠ dosa
tetapi termasuk:
- kemungkinan dicobai
- kebebasan kehendak
- penderitaan nyata
4. Bukan kesamaan semu
Ini bukan:
- peran teater
- pengalaman palsu
- keilahian yang menutup rasa manusia
📖 Filipi 2:7
“Ia mengosongkan diri…”
5. Kenapa yang disamakan itu Pribadi Firman?
Karena:
- hanya ada satu Pribadi dalam Kristus
- semua pengalaman manusia dimiliki oleh Firman
📖 Kisah 20:28
“Jemaat Allah yang Ia peroleh dengan darah-Nya sendiri.”
(Darah = manusia, subjek = Allah)
6. Rumusan presisi (pegangan iman)
Firman Allah sendiri, bukan pribadi manusia lain yang menjadi sama dengan kita dalam segala hal menurut kemanusiaan-Nya, kecuali dosa.Atau satu kalimat pendek:
Yang lapar, taat, menderita, dan mati adalah Firman secara manusiawi.
7. Implikasi soteriologis
Karena:
- Firman sungguh menjalani hidup manusia
- tidak ada “jarak” antara Allah dan manusia
Maka:
- ketaatan-Nya sah mewakili kita
- penderitaan-Nya menyembuhkan kita
- kemuliaan-Nya terbuka bagi kita
Jika kamu mau, langkah lanjutan yang sangat tepat adalah:
- apakah Firman memiliki pengalaman psikologis manusia
- bagaimana kesadaran Yesus bekerja
- atau bagaimana ini menjamin keadilan keselamatan
J. CARA BERTINDAK PRIBADI DITENTUKAN OLEH NATUR
Mari kita luruskan secara presisi.
1. Apa yang BENAR dari pernyataanmu
✔️ Satu Pribadi dapat bertindak menurut natur yang berbeda
✔️ Ekspresi, kemampuan, dan pengalaman mengikuti natur
✔️ Tidak ada dua subjek personal
Contoh pada Kristus:
- menurut natur ilahi → mencipta, mengampuni dosa
- menurut natur manusia → lapar, berdoa, taat, menderita
2. Apa yang perlu DIHINDARI dari istilah “menyesuaikan diri”
❌ Jangan dipahami sebagai:
- Pribadi “berganti mode eksistensi”
- Pribadi berubah menjadi sesuatu yang lain
- Pribadi fleksibel seperti aktor
Karena:
- Pribadi Firman tetap satu dan sama
- keilahian tidak berubah
- kemanusiaan tidak ilusi
3. Rumusan teknis yang aman
Dalam bahasa teologi:
sementara natur menentukan cara bertindak (modus operandi).
Atau formula klasik:
bagaimana ia bertindak ditentukan oleh natur.
4. Analogi terbatas (aman)
Satu pribadi:
- berbicara → menggunakan akal
- berjalan → menggunakan tubuh
Orangnya satu,
cara bertindaknya berbeda.
5. Kenapa ini penting?
Karena:
- menghindari Nestorianisme (dua pribadi)
- menghindari Monofisitisme (natur campur)
- menjaga keadilan keselamatan
6. Rumusan paling ringkas (pegangan iman)
Pribadi tidak berubah-ubah,tetapi satu Pribadi yang sama bertindak sepenuhnya menurut natur yang dimilikinya.
Atau satu kalimat kunci:
• natur adalah “bagaimana”.
Kalau kamu mau, kita bisa lanjut ke:
- dua energi/operasi Kristus
- bagaimana pengalaman manusiawi Yesus sungguh nyata
- atau implikasinya bagi hidup rohani kita
K. PRIBADI YESUS BERBICARA LEWAT NATUR ILAHI
1. Mengklaim KEKEKALAN, ciri eksklusif Allah
“Sebelum Abraham jadi, AKU ADALAH (ἐγώ εἰμι).”
• Yesus tidak berkata “Aku ada” tapi “AKU ADALAH” —> menunjuk langsung ke Nama Ilahi YHWH (Kel 3:14).
• Ini pernyataan keberadaan kekal, mustahil bagi natur manusia terbatas.
2. Menyatakan PRA-EKSISTENSI KEKAL
Yohanes 17:5“Permuliakanlah Aku dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”
• Yesus sadar diri-Nya memiliki kemuliaan pra-ciptaan, sesuatu yang hanya mungkin bila Ia memiliki natur Ilahi.
3. Mengklaim KESATUAN ESENSI dengan Bapa
“Aku dan Bapa adalah satu.”
• Kata Yunani hen = satu dalam esensi, bukan satu dalam tujuan saja.
• Pendengar Yahudi mengerti maknanya:
“Engkau, sekalipun hanya seorang manusia, menyamakan diri-Mu dengan Allah.”
• Mereka menangkap bahwa Pribadi Yesus berbicara sebagai Allah.
4. Mengklaim KEKUASAAN ILAHI Menghakimi
Yohanes 5:22-23“Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan SEGALA penghakiman kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa.”
• Menuntut penyembahan setara dengan Allah → ini hanya sah jika Anak memiliki natur Ilahi.
5. Mengklaim KUASA MEMBERI HIDUP
Yohanes 5:26“Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya kepada Anak untuk mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.”
• “Hidup dalam diri sendiri” = aseitas → atribut mutlak Allah.
• Bukan kuasa nabi —> tapi hakikat kehidupan ilahi.
6. Mengampuni Dosa atas OTORITAS DIRI SENDIRI
Markus 2:5–7“Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”
“Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?”
• Yesus tidak berkata: “Allah mengampuni”
• Tapi: “Aku mengampuni.”
• Inilah tindakan ilahi langsung oleh Pribadi Yesus.
7. Menyatakan DIRI sebagai TERANG KEKAL
“Akulah terang dunia.”
• Dalam Perjanjian Lama:
“TUHAN adalah terangku.”
• Yesus mengambil gelar eksklusif YHWH untuk diri-Nya.
8. Menerima PENYEMBAHAN
Matius 14:33“Mereka menyembah Dia, katanya: Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
• Yesus tidak menolak penyembahan → berbeda dengan malaikat (Why 22:9).
• Penyembahan hanya sah bagi Allah → bukti Ia sadar diri sebagai Sang Ilahi.
9. Mengklaim KEALLAHAN TERBUKA
Yohanes 14:9“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
• Bukan berkata sekadar “Aku mewakili Bapa”
• Tapi: Aku adalah pernyataan ontologis Allah yang kelihatan.
10. Mengklaim KEKUASAAN SEGALA SESUATU
“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”
Otoritas kosmik total → mustahil bagi satu ciptaan.
🧭 RANGKUMAN KRISTOLOGIS
| Pernyataan Yesus | Yang Diungkap |
|---|---|
| “AKU ADALAH” (Yoh 8:58) | Eksistensi kekal |
| “Aku satu dengan Bapa” (Yoh 10:30) | Kesatuan esensi |
| “Aku memberi hidup” (Yoh 5:26) | Aseitas ilahi |
| “Dosamu diampuni” (Mrk 2) | Otoritas Allah |
| Diterima penyembahan (Mat 14) | Layak disembah → Allah sejati |
| “Siapa melihat Aku, melihat Bapa” (Yoh 14:9) | Penyataan sempurna Allah |
| “Segala kuasa pada-Ku” (Mat 28:18) | Kemahakuasaan kosmik |
Semua ini menunjukkan:
PRIBADI YESUS berbicara bukan hanya lewat natur manusia, tetapi secara penuh lewat NATUR ILAHI-Nya SENDIRI.✅ FORMULA KHALSEDON DITERAPKAN
Satu Pribadi — Dua Natur — Satu Subjek Bicara
• Yesus tidak terbagi dua pribadi• Satu Pribadi berbicara
• Kadang bicara melalui:
1. Natur manusia → lapar, mati, belajar2. Natur ilahi → mengampuni dosa, kekal, menerima penyembahan
RINGKASAN AKHIR
Semua ayat di atas adalah bukti bahwa:
✅ tetapi Pribadi Yesus inkarnasi itu sendiri
✅ berbicara dan bertindak sebagai ALLAH SEJATI
Jika Anda mau, saya bisa lanjutkan dengan:
✅ Tabel lengkap ayat: Natur mana yang berbicara pada tiap perkataan Yesus
Pribadi — Natur — Energeia — Will
✅ Bantahan ayat-demi-ayat terhadap Arianisme & Unitarianisme
L. PRIBADI YESUS BERBICARA LEWAT NATUR MANUSIANYA
Berikut adalah ayat-ayat ucapan Yesus sendiri yang secara jelas menunjukkan natur manusia-Nya (kemanusiaan sejati-Nya):
1️⃣ Yesus Mengalami Keterbatasan Manusia
• Lapar
Matius 4:2
“Sesudah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya lapar.”
Lapar adalah pengalaman biologis manusia.
• Haus
Yohanes 19:28
“Aku haus.”
Ucapan ini keluar dari salib. Allah tidak membutuhkan air, tetapi manusia membutuhkan.
• Letih
Yohanes 4:6
“Yesus letih oleh perjalanan-Nya.”
Kelelahan menunjukkan natur manusia.
2️⃣ Yesus Memiliki Jiwa Manusia
• Jiwa-Nya terharu
Yohanes 12:27
“Sekarang jiwa-Ku terharu.”
Allah tidak terguncang secara emosional, tetapi manusia bisa mengalami kegelisahan batin.
• Sedih sampai mati
Matius 26:38
“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.”
Ucapan ini menunjukkan kedalaman emosi manusiawi.
3️⃣ Yesus Memiliki Kehendak Manusia
• Doa di Getsemani
Lukas 22:42
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Di sini terlihat:
- Ada kehendak manusia
- Namun tunduk pada kehendak ilahi
Ini penting dalam teologi dwi natur.
4️⃣ Yesus Mengaku Tidak Tahu Sesuatu
• Tentang hari kiamat
Markus 13:32
“Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu… Anak pun tidak.”
Sebagai Allah Ia Mahatahu,
tetapi sebagai manusia Ia mengalami keterbatasan pengetahuan.
5️⃣ Yesus Menyebut Diri “Anak Manusia”
Istilah ini sering Ia pakai untuk diri-Nya sendiri, misalnya:
Markus 10:45
“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani…”
Istilah ini menekankan identitas-Nya sebagai manusia sejati.
6️⃣ Yesus Bisa Mati
Lukas 23:46
“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”
Kematian adalah pengalaman natur manusia.
Kesimpulan Teologis
Semua ucapan ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus benar-benar memiliki:
- Tubuh manusia
- Jiwa manusia
- Emosi manusia
- Kehendak manusia
- Keterbatasan manusia
- Pengalaman penderitaan dan kematian
Namun ini tidak meniadakan keilahian-Nya, karena kedua natur itu bersatu dalam satu Pribadi (persatuan hipostatik).
Kalau mau, kita bisa lanjut lebih dalam ke pertanyaan penting:
- Apakah “Anak tidak tahu” berarti Ia berhenti menjadi Allah?
- Apakah kehendak manusia Yesus berbeda dengan kehendak ilahi?
- Bagaimana dua kehendak ini bekerja tanpa konflik?
Yesus menyembah dan berdoa kepada bapa
Berikut adalah ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus berdoa dan menyembah Bapa (Allah Bapa). Ini menjadi dasar penting untuk memahami natur manusia-Nya dan relasi-Nya sebagai Anak:
1️⃣ Yesus Berdoa kepada Bapa
🔹 Markus 1:35
“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke tempat yang sunyi, lalu berdoa di sana.”
Yesus secara rutin berdoa —> tindakan penyembahan dan persekutuan dengan Bapa.
🔹 Lukas 6:12
“Pada waktu itu pergilah Ia ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.”
Doa sepanjang malam menunjukkan ketergantungan manusiawi.
🔹 Yohanes 17 (Doa Imam Besar)
Sepanjang pasal ini Yesus berbicara langsung kepada Bapa:
“Ya Bapa, permuliakanlah Anak-Mu…”
Ini adalah ekspresi relasi Anak kepada Bapa.
2️⃣ Yesus Bersujud/Tersungkur
🔹 Matius 26:39
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Dalam konteks Getsemani, Ia bersujud dalam doa kepada Bapa.
3️⃣ Yesus Berseru dari Salib
🔹 Matius 27:46
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Kutipan dari Mazmur 22 — bentuk seruan dan penyembahan dalam penderitaan.
🔹 Lukas 23:46
“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”
Tindakan iman dan penyerahan diri kepada Bapa.
4️⃣ Yesus Menyebut Bapa sebagai “Allah-Ku”
🔹 Yohanes 20:17
“Aku naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”
Sesudah kebangkitan pun Ia menyebut Bapa sebagai “Allah-Ku.”
Penjelasan Teologis
Dalam dwi natur:
- Sebagai Allah → Ia setara dengan Bapa.
- Sebagai manusia → Ia menyembah, taat, dan bergantung pada Bapa.
Jadi ketika Yesus berdoa atau menyembah, itu adalah tindakan-Nya menurut natur manusia-Nya, tanpa meniadakan keilahian-Nya.
M. PRIBADI YESUS BERBICARA MELALUI KEDUA NATURNYA SECARA BERSAMAAN
• Sisi NATUR MANUSIA dan
• Sisi NATUR ILAHI
Ini level paling tajam dari Kristologi.
Dan jawabannya:
✅ ADA –> beberapa ayat yang benar-benar memenuhi kriteria ini.
COMMUNICATIO IDIOMATUM
1. Yohanes 3:13 —> AYAT TERKUAT
Tidak ada seorang pun yang TELAH NAIK ke sorga, selain dari pada Dia yang TELAH TURUN dari sorga, yaitu ANAK MANUSIA yang ADA DI SORGA.
Ini sempurna memuat dua natur dalam satu kalimat Yesus:
| Bagian Ucapan | Natur |
|---|---|
| “Anak Manusia” | Natur MANUSIA |
| “yang ada di sorga” | Natur ILAHI |
• Saat berbicara di bumi sebagai Anak Manusia,
• Ia sekaligus berkata IA ADA DI SORGA —> atribut kehadiran ilahi yang melampaui ruang waktu.
Ini bukan mungkin bagi satu natur saja.
2. Yohanes 8:23
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.
| Ucapan | Natur |
|---|---|
| Berbicara secara jasmani hadir di dunia | Natur MANUSIA |
Klaim asal “dari atas/bukan dari dunia ini” | Natur ILAHI |
• Yesus satu Pribadi di bumi, namun mengklaim asal surgawi ilahi
“Bagaimana jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?”
| Ucapan | Natur |
|---|---|
| “Anak Manusia” | MANUSIA |
| “sebelumnya berada” di sorga | ILAHI (pra-eksistensi) |
• Pribadi yang sama mengaku pra-eksistensi surgawi
4. Yohanes 8:58
“Sebelum Abraham jadi, AKU ADALAH.”
Dua natur implisit dalam satu ayat
| Sisi Manusia | Sisi Ilahi |
|---|---|
| Ia berbicara dalam tubuh 30-an tahun | “AKUADALAH” Nama YHWH |
• Manusia kelahiran Betlehem mengklaim eksistensi kekal
5. Wahyu 1:17–18
• Aku telah mati, dan lihatlah Aku hidup selama-lamanya.
Ini sangat terkuat:
| Frasa | Natur |
|---|---|
| Yang Awal dan Yang Akhir | ILAHI |
| Aku telah mati | MANUSIA |
• Dalam SATU pernyataan:
- mengklaim ke-Allahan kekal
- mengaku kematian jasmani
• Mustahil disatukan kecuali 1 Pribadi dengan 2 natur.
AYAT TOP PALING EKSPLISIT
Kalau dipilih yang paling telanjang dua natur dalam satu ayat ucapan langsung Yesus, maka:
🥇 Yohanes 3:13
🥈 Wahyu 1:17–18
🥉 Yohanes 6:62
✅ FORMULA TEPAT MENJAWAB PERTANYAAN ANDA
Yesus berbicara sebagai SATU PRIBADI, tetapi perkataan-Nya pada saat yang sama mengungkapkan🔹 atribut ilahi
dalam satu kalimat, satu ayat, satu pernyataan.
✝️ KESIMPULAN TEOLOGIS
Ayat-ayat ini adalah bukti biblis bahwa:
❌ Tidak mungkin Yesus hanya manusia
❌ Tidak mungkin hanya Allah tanpa tubuh✅ Hanya mungkin: satu Pribadi dengan dua Natur
Jika Anda mau, kita bisa lanjutkan ke:
✅ Diagram super-tegas: “SATU UCAPAN – DUA NATUR” (mega visual)
✅ Ayat paralel: Satunya lidah Yesus tapi dua operasi natur-nya
✅ Bantahan ayat demi ayat terhadap doktrin Unitarian / Arian langsung dari ucapan Yesus sendiri
• AYAT-AYAT EKSPLISIT DWI NATUR KRISTUS
Berikut adalah ayat-ayat yang dalam satu pernyataan sekaligus “mengenakan” dua natur (ilahi dan manusia) dari Yesus Kristus. Ini contoh klasik communicatio idiomatum:
1️⃣ Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
- Firman → menunjuk natur ilahi (Yoh 1:1: Firman itu adalah Allah)
- Menjadi manusia → menunjuk natur manusia
Dalam satu kalimat: Pribadi yang ilahi mengambil natur manusia.
2️⃣ Yohanes 3:13
Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
“Anak Manusia yang ada di surga.”
- Anak Manusia → istilah kemanusiaan
- Ada di surga → atribut ilahi (mahahadir)
Secara manusia Ia berbicara di bumi,
namun Pribadi-Nya tetap memiliki keberadaan ilahi.
3️⃣ Yohanes 8:58
- Abraham → sejarah manusia
- “Aku ada” (ego eimi) → keberadaan kekal (ilahi)
Yang berbicara adalah manusia di hadapan orang Yahudi,
namun Ia menyatakan eksistensi ilahi-Nya.
4️⃣ Kisah Para Rasul 20:28
Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.
“Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri.”
- Allah → natur ilahi
- Darah → hanya mungkin dalam natur manusia
Keilahian tidak punya darah,
tetapi Pribadi yang adalah Allah memiliki darah melalui natur manusia.
5️⃣ 1 Korintus 2:8
Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.“Tuhan yang mulia disalibkan.”
- Tuhan kemuliaan → gelar ilahi
- Disalibkan → pengalaman manusia
Salib dikenakan pada Pribadi ilahi dalam natur manusia.
6️⃣ Roma 9:5
Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
Dalam konteks silsilah manusia Israel,
Paulus menyebut Dia sebagai Allah.
7️⃣ Wahyu 5:6
“Anak Domba seperti telah disembelih…”
- Anak Domba yang mati → natur manusia
- Disembah di takhta surgawi → natur ilahi
Pola yang Terlihat
Dalam ayat-ayat ini:
- Sifat manusia dinyatakan tentang Pribadi yang adalah Allah.
- Sifat ilahi dinyatakan tentang Pribadi yang disebut manusia.
Namun:
- Natur tidak bercampur.
- Keilahian tidak berubah jadi manusia.
- Kemanusiaan tidak berubah jadi ilahi.
Yang terjadi adalah atribusi kepada satu Pribadi.
Kalau mau, kita bisa lanjut ke level lebih dalam:
- Apakah “Anak Manusia ada di surga” berarti natur manusia mahahadir?
- Apakah kematian itu dialami oleh Allah?
- Bagaimana ini dijaga agar tidak jatuh ke Nestorianisme atau Eutychianisme?
N. MAKNA COMMUNICATIO IDIOMATUM (Pertukaran Sifat)
COMMUNICATIO IDIOMATUM adalah istilah teologi Latin yang berarti “komunikasi/pertukaran sifat-sifat.”
Ini menjelaskan bagaimana sifat-sifat dari dua natur (ilahi & manusia) dapat diatribusikan kepada satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.
Dasarnya: karena ada persatuan hipostatik (dua natur dalam satu Pribadi), maka apa yang benar tentang salah satu natur bisa dinyatakan tentang Pribadi-Nya.
1️⃣ Prinsip Dasar
Yang memiliki dua natur adalah Pribadi Anak, bukan natur itu sendiri.
- Natur ilahi tetap ilahi.
- Natur manusia tetap manusia.
- Tidak bercampur.
- Tidak berubah.
Tetapi karena keduanya bersatu dalam satu Pribadi, maka kita bisa berkata:
- “Allah mati.”
- “Anak Manusia turun dari surga.”
- “Tuhan kemuliaan disalibkan.”
Bukan karena keilahian bisa mati,
tetapi karena Pribadi yang adalah Allah mengalami kematian dalam natur manusia.
2️⃣ Contoh Alkitab
Allah mati?
- Kisah Para Rasul 20:28 → “darah Allah”
- 1 Korintus 2:8 → “Tuhan yang mulia disalibkan”
Keilahian tidak berdarah.
Namun yang berdarah adalah Pribadi yang adalah Allah, dalam natur manusia.
Anak Manusia di surga?
• Yohanes 3:13 → “Anak Manusia yang ada di surga”Secara manusia, Yesus sedang di bumi.
Namun Pribadi-Nya sebagai Allah tetap mahahadir.
Maria disebut Bunda Allah?
• Karena yang ia lahirkan adalah Pribadi yang adalah Allah.
• Bukan berarti ia melahirkan keilahian,
• tetapi melahirkan Pribadi ilahi dalam natur manusia.
3️⃣ Apa yang TIDAK Terjadi
Communicatio idiomatum bukan berarti:
❌ Natur ilahi menjadi bisa menderita
❌ Natur manusia menjadi mahakuasa
❌ Sifat ilahi dipindahkan ke manusia
❌ Terjadi campuran menjadi natur ketiga
Yang terjadi adalah atribusi pada Pribadi, bukan transfer antar natur.
4️⃣ Tiga Jenis Communicatio (Penjelasan Klasik)
1. Genus Idiomaticum
Sifat masing-masing natur dapat dinyatakan tentang Pribadi. Contoh:
- “Allah menderita.”
- “Manusia itu menciptakan dunia.”
2. Genus Apotelesmaticum
Setiap tindakan Kristus adalah tindakan satu Pribadi, meski dilakukan melalui salah satu natur.
Contoh: Yesus menyembuhkan orang buta:
- Kuasa → natur ilahi
- Sentuhan fisik → natur manusia Tapi yang bertindak adalah satu Pribadi.
3. Genus Maiestaticum (dalam tradisi Lutheran)
Natur manusia Kristus menerima partisipasi dalam kemuliaan ilahi (misalnya kehadiran sakramental).
Tradisi Reformed tidak menerima bentuk ini secara penuh.
5️⃣ Mengapa Ini Penting?
Tanpa communicatio idiomatum:
- Kita tidak bisa berkata “Allah mati bagi kita.”
- Salib kehilangan nilai ilahi.
- Inkarnasi menjadi terpisah.
Karena itu ajaran ini ditegaskan dalam Konsili Khalsedon.
6️⃣ Hubungan Dengan Penyembahan
Ketika kita menyembah Yesus:
- Kita menyembah satu Pribadi.
- Bukan menyembah natur.
- Bukan menyembah sebagian.
Kita menyembah Pribadi Anak yang adalah Allah-manusia.
7️⃣ Misteri yang Harus Dijaga
Communicatio idiomatum menjaga dua hal sekaligus:
✔ Keilahian tetap utuh
✔ Kemanusiaan tetap utuh
✔ Satu Pribadi
Tanpa jatuh ke:
- Nestorianisme (memisahkan)
- Eutychianisme (mencampur)
Kalau mau, kita bisa masuk lebih dalam ke pertanyaan yang biasanya membingungkan:
- Apakah Allah bisa menderita?
- Apakah natur manusia Yesus mahahadir?
- Saat Yesus berkata “Bapa lebih besar dari Aku”, itu bagaimana communicatio idiomatum menjelaskannya?
- Di surga sekarang, apakah natur manusia ikut serta dalam kemuliaan ilahi?
O. PENJELASAN AYAT-AYAT EKSPLISIT COMMUNICATIO IDIOMATUM (DWI NATUR)
- 🥇 Yohanes 3:13
- 🥈 Wahyu 1:17–18
- 🥈 Wahyu 2:8
- 🥉 Yohanes 6:62
- 🥇 Kisah 20:28
- 🥈 1 Korintus 2:8
1. Yohanes 3:13 dan Communicatio Idiomatum
Mari kita lihat perlahan:
Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia yang ada di sorga.
1️⃣ “Telah turun dari sorga”
Natur yang terutama dinyatakan: Ilahi
Apa artinya?
- Yesus berasal dari surga
- Eksis sebelum inkarnasi
- Datang dari hadirat Bapa
Ini menunjuk pada:
- Pra-eksistensi
- Keilahian
- Keberadaan kekal Sang Firman
Bandingkan:
- Yohanes 6:38 → “Aku telah turun dari sorga.”
- Yohanes 1:1 → “Firman itu bersama-sama dengan Allah.”
Manusia biasa tidak “turun dari surga.”
2️⃣ “Anak Manusia”
Natur yang terutama dinyatakan: Manusia
Istilah ini menekankan:
- Inkarnasi
- Identitas manusia sejati
Namun menariknya:
- Gelar “Anak Manusia” juga berasal dari Daniel 7:13–14, figur surgawi mesianik yang menerima kuasa kekal.
Jadi istilah ini:
✔ manusia
✔ sekaligus mesianik-ilahi
3️⃣ “Yang ada di sorga”
Ini bagian paling mengejutkan.
Saat Yesus mengucapkannya:
- Secara fisik Ia sedang di bumi
- Berbicara kepada Nikodemus
Tetapi Ia berkata:
“Anak Manusia yang ada di sorga.”
4️⃣ Bagaimana mungkin?
Yang berbicara adalah SATU PRIBADI.
Pribadi Anak:
- benar-benar manusia di bumi
- benar-benar Allah yang tidak terbatas
Karena itu:
- Sebutan manusia (“Anak Manusia”)
- dikenakan atribut ilahi (“ada di sorga”)
5️⃣ Apakah Natur Manusia Jadi Mahahadir?
❌ Tidak.
Ini penting.
Ayat ini TIDAK berarti:
- tubuh manusia Yesus ada di mana-mana
- natur manusia menjadi ilahi
Dalam teologi klasik:
- Natur manusia tetap terbatas
- Natur ilahi tetap mahahadir
Tetapi:
Pribadi yang memiliki natur manusia itu juga memiliki natur ilahi.
Jadi atribut surgawi dapat dinyatakan tentang Pribadi yang disebut “Anak Manusia.”
6️⃣ Struktur Communicatio Idiomatum di Ayat Ini
| Frasa | Natur dominan |
|---|---|
| Turun dari sorga | Ilahi |
| Anak Manusia | Manusia |
| Ada di sorga | Ilahi |
satu Pribadi yang sama.
7️⃣ Kenapa Ini Sangat Penting?
Ayat ini menghancurkan dua kesalahan besar:
❌ Nestorianisme
(seolah Yesus dua pribadi terpisah)
Karena:
- “Anak Manusia” menerima atribut surgawi.
Artinya bukan dua subjek berbeda.
❌ Eutychianisme
(campur natur)
Karena:
- kemanusiaan tidak berubah jadi ilahi.
Natur tetap dibedakan.
8️⃣ Misteri Inkarnasi yang Dalam
Ayat ini menunjukkan:
Yang berjalan di bumi
tetap adalah Dia yang hidup dalam kemuliaan surgawi.
Bukan dua Yesus.
Bukan Allah kadang jadi manusia.
Tetapi:
satu Pribadi ilahi hadir sebagai manusia tanpa kehilangan keilahian-Nya.
9️⃣ Analogi Teologis (Terbatas)
Seperti matahari:
- sinarnya hadir di bumi
- tetapi matahari tetap di langit
Namun pada Kristus jauh lebih dalam: karena bukan sekadar pengaruh, melainkan Pribadi ilahi sungguh menjadi manusia.
Kesimpulan Besar
Yohanes 3:13 adalah contoh klasik communicatio idiomatum karena:
✔ istilah manusia → “Anak Manusia”
✔ dikenai atribut ilahi → “ada di sorga”
✔ dalam satu Pribadi
✔ tanpa mencampur natur
Jadi ayat ini menyatakan:
Yesus benar-benar manusia di bumi
dan tetap Allah yang tidak terbatas.
Yohanes 3:13 merupakan salah satu ayat yang sangat kuat untuk menunjukkan Communicatio Idiomatum (komunikasi sifat-sifat), yaitu bahwa sifat-sifat dari kedua natur Kristus (ilahi dan manusia) dapat dipredikasikan kepada satu Pribadi yang sama, yaitu Pribadi Putra Allah.
Ayat Utama : Yohanes 3:13"Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia."
"Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia, yang ada di sorga."
Mengapa ini Communicatio Idiomatum?
Perhatikan istilah yang dipakai:
"Anak Manusia"
Gelar ini menunjuk kepada Kristus sebagai manusia, Mesias yang menjadi manusia sejati.
Tetapi kepada "Anak Manusia" dikatakan:
- Turun dari sorga.
- Berasal dari sorga.
- Ada di sorga.
Padahal menurut natur manusia:
- Tubuh manusia Yesus lahir di Betlehem.
- Bertumbuh di Nazaret.
- Berbicara dengan Nikodemus di bumi.
- Kemanusiaan-Nya secara fisik tidak turun dari sorga.
Mengapa?
Karena yang dimaksud bukan natur manusia yang turun dari sorga, melainkan Pribadi yang adalah Anak Manusia itu, yaitu Putra Allah yang kekal.
Inilah Communicatio Idiomatum:
Sifat atau tindakan yang berasal dari satu natur dapat dipredikasikan kepada Pribadi yang juga memiliki natur lainnya.
Natur Ilahi yang Berbicara Melalui Gelar Manusia
Turun dari sorga adalah sifat ilahi
Yohanes 6:38
"Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku."
"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
Anak Manusia Ada di Sorga dan di Bumi Sekaligus
Jika menggunakan pembacaan yang lebih panjang:
"...Anak Manusia, yang ada di sorga."
Namun Ia juga disebut "ada di sorga."
Bagaimana mungkin?
Karena:
Putra tetap memenuhi sorga dan bumi.
"Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN."
"Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku."
Paralel dengan Ayat-Ayat Communicatio Idiomatum Lainnya
Kisah Para Rasul 20:28
"Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri."
Tetapi darah Kristus disebut darah Allah karena Pribadi yang menumpahkan darah itu adalah Allah Putra.
1 Korintus 2:8
"Andaikata mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia."
Namun yang disalibkan adalah Kristus menurut kemanusiaan.
Yohanes 8:58
"Kata Yesus kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.'"
Penjelasan Kristologis
Gereja sejak awal mengajarkan bahwa Kristus adalah:
Satu Pribadi dengan dua natur.
Bukan:
Allah dan manusia yang terpisah.
Melainkan:
Satu Pribadi ilahi.
Memiliki natur ilahi sepenuhnya.
Memiliki natur manusia sepenuhnya.
Rumusan Communicatio Idiomatum dalam Yohanes 3:13
Ayat ini secara implisit mengandung pernyataan berikut:
- Anak Manusia → istilah kemanusiaan.
- Turun dari sorga → sifat keilahian.
- Ada di sorga → sifat keilahian dan kemahahadiran.
Gelar manusia + atribut ilahi
Karena itu Yohanes 3:13 termasuk salah satu ayat Communicatio Idiomatum yang paling eksplisit dalam Injil Yohanes, sebab sifat-sifat yang hanya dimiliki Allah dilekatkan kepada Pribadi yang disebut dengan gelar kemanusiaan, yaitu Anak Manusia.
Singkatnya:
"Anak Manusia turun dari sorga" adalah bahasa Communicatio Idiomatum, karena yang turun dari sorga adalah Putra Allah menurut natur ilahi, tetapi predikat itu diberikan kepada Pribadi yang sama yang kini disebut Anak Manusia menurut natur manusia.
2. Wahyu 1:17–18 dan Communicatio Idiomatum
Di sini, dalam SATU ucapan, Yesus Kristus menyatakan:
- atribut yang hanya dimiliki Allah,
- pengalaman yang hanya mungkin bagi manusia,
- dan keduanya dikenakan pada satu Pribadi yang sama.
1️⃣ Teksnya
Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.
2️⃣ Apa itu Communicatio Idiomatum?
Artinya:
“komunikasi / pertukaran sifat-sifat.”
Maksudnya:
- sifat dari natur ilahi
- dan sifat dari natur manusia
dapat dinyatakan tentang satu Pribadi Kristus karena:
Ia memiliki dua natur dalam satu Pribadi.
3️⃣ Prinsip Paling Penting
Natur tidak bercampur
- Keilahian tidak berubah jadi manusia
- Kemanusiaan tidak berubah jadi ilahi
Tetapi Pribadi-Nya satu
Yang berbicara selalu:
satu Pribadi Anak Allah.
Karena itu:
- atribut ilahi
- dan pengalaman manusia
bisa muncul dalam satu ucapan.
4️⃣ Bedah Kalimat Demi Kalimat
“Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir”
Natur yang dinyatakan:
Bandingkan:
“Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian.”
Maknanya:
- kekal
- tidak terbatas waktu
- sumber dan tujuan sejarah
Ini mustahil untuk manusia biasa.
“Dan Yang Hidup”
➜ Ilahi
Dalam Alkitab:
“Yang Hidup” adalah gelar Allah.
Artinya:
- hidup dari diri sendiri
- tidak bergantung pada siapa pun
- sumber segala hidup
“Aku telah mati”
➜ Manusia
Ini bagian yang sangat mengejutkan.
Allah dalam natur ilahi:
- tidak bisa mati
- tidak bisa binasa
Tetapi:
Pribadi yang adalah Allah sungguh mengambil natur manusia.
Karena itu:
- Ia bisa mengalami kematian dalam kemanusiaan-Nya.
Inilah inti communicatio idiomatum
• Bukan karena: keilahian mati,
• tetapi karena: Pribadi yang adalah Allah mengalami kematian dalam natur manusia.
“Namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya”
Menyentuh kedua natur sekaligus
Dari sisi manusia:
- tubuh yang mati kini bangkit.
Dari sisi ilahi:
- hidup-Nya kekal dan tak terbatas.
Jadi kalimat ini memadukan:
| Unsur | Natur |
|---|---|
| Bangkit dari kematian | Manusia |
| Hidup kekal selamanya | Ilahi |
“Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut”
Natur:
➜ Ilahi
Maknanya:
- berkuasa atas maut
- berdaulat atas dunia orang mati
- hakim kosmik
Ini otoritas Allah.
5️⃣ Kenapa Ayat Ini Sangat Penting?
Karena ayat ini menyatukan dua hal yang tampaknya mustahil:
| Pernyataan | Masalah logika biasa |
|---|---|
| Yang Kekal | tidak bisa mati |
| Aku telah mati | hanya manusia bisa mati |
Bagaimana keduanya bisa benar?
Jawabannya:
karena satu Pribadi memiliki dua natur.
6️⃣ Bukan Dua Pribadi
Ayat ini juga menghancurkan pandangan bahwa:
- “Yesus manusia” terpisah dari
- “Firman Allah”
Tidak.
Yang berkata:
“Aku telah mati”
adalah Pribadi yang sama yang berkata:
“Aku Yang Awal dan Yang Akhir.”
7️⃣ Apa yang Tidak Boleh Disalahpahami?
❌ Bukan berarti natur ilahi mati
Keilahian tetap:
- kekal
- tidak berubah
- tidak dapat binasa
❌ Bukan berarti natur manusia menjadi mahakuasa
Tubuh manusia Kristus tetap tubuh manusia sejati.
❌ Bukan campuran natur
Bukan:
- setengah Allah
- setengah manusia
Tetapi:
100% Allah
100% manusia
dalam satu Pribadi.
8️⃣ Keindahan Kristologi Ayat Ini
Perhatikan paradoks ilahi ini:
• Yang Kekal berkata: “Aku telah mati.”
• Yang Hidup berkata: “Aku mati.”
• Yang memegang kunci maut pernah masuk ke dalam maut.
Inilah pusat Injil:
- Allah sungguh masuk ke dalam kondisi manusia
- tanpa berhenti menjadi Allah.
9️⃣ Struktur Communicatio Idiomatum dalam Ayat Ini
| Kalimat | Natur dominan |
|---|---|
• Yang Awal dan Yang Akhir |
• Ilahi |
| • Yang Hidup | • Ilahi |
| • Aku telah mati | • Manusia |
| • Aku hidup sampai selama-lamanya | • Keduanya |
| Memegang kunci maut | • Ilahi |
Tetapi semuanya diucapkan oleh:
• Satu Pribadi Kristus.
🔟 Kesimpulan Besar
Wahyu 1:17–18 adalah contoh sempurna communicatio idiomatum karena:
✔ atribut ilahi dan pengalaman manusia
✔ muncul dalam satu ucapan
✔ tanpa memisahkan Kristus menjadi dua pribadi
✔ tanpa mencampur dua natur
Ayat ini menunjukkan:
Yesus adalah Allah sejati yang sungguh menjadi manusia, mati sebagai manusia, dan bangkit dalam kuasa ilahi-Nya.
Wahyu 1:17–18 adalah salah satu ayat Communicatio Idiomatum yang sangat kuat karena dalam satu rangkaian kalimat, Kristus menyatakan atribut yang hanya dimiliki Allah yang kekal sekaligus pengalaman yang hanya mungkin dialami oleh manusia, yaitu kematian.
Ayatnya
Wahyu 1:17–18
"Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: 'Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.'"
Mengapa ini Communicatio Idiomatum?
Dalam ayat ini terdapat dua kelompok pernyataan:
Atribut Ilahi
"Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir"
Pengalaman Manusia
"Aku telah mati"
Kedua pernyataan ini diucapkan oleh satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.
"Yang Awal dan Yang Akhir" adalah Gelar Keallahan
Dalam Perjanjian Lama, gelar ini adalah milik Allah sendiri.
Yesaya 44:6
"Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku."
Yesaya 48:12
"Dengarkanlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil; Akulah Dia, Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang terkemudian."
Gelar ini menunjuk pada:
Kekekalan Allah.Keberadaan yang tidak berawal.
Keberadaan yang tidak berakhir.
Kedaulatan mutlak atas sejarah.
Hanya Allah yang dapat berkata demikian.
Tetapi Pribadi yang Sama Berkata: "Aku Telah Mati"
Lalu Kristus berkata:
"Aku telah mati"
Ini menunjuk kepada peristiwa salib.
Lukas 23:46
"Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: 'Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.' Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya."
Kematian adalah pengalaman natur manusia.
Allah menurut natur ilahi tidak dapat mati.
1 Timotius 6:16
"Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut dan bersemayam dalam terang yang tak terhampiri."
Keilahian tidak bisa mati.
Namun Yesus benar-benar mati menurut kemanusiaan-Nya.
Di Sini Terjadi Communicatio Idiomatum
Perhatikan struktur ayat:
"Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir ... Aku telah mati."
Subjeknya hanya satu:
"Aku"
Bukan:
Allah yang kekal berkata satu hal.Manusia Yesus berkata hal lain.
Melainkan satu Pribadi yang sama.
Karena itu:
Yang Awal dan Yang Akhir → berasal dari natur ilahi.Telah mati → berasal dari natur manusia.
Tetapi keduanya dipredikasikan kepada satu Pribadi yang sama.
Inilah hakikat Communicatio Idiomatum.
Bukan Berarti Keilahian Mati
Gereja selalu membedakan:
Kristus mati:
Menurut natur manusia.Bukan menurut natur ilahi.
Jika keilahian dapat mati, maka Allah berhenti menjadi Allah.
Hal itu mustahil.
Mazmur 90:2
"Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah."
Karena itu yang mati adalah kemanusiaan Kristus.
Namun karena kemanusiaan itu milik Pribadi Putra Allah sendiri, maka Pribadi itu dapat berkata:
"Aku telah mati."
Hubungan dengan Kisah Para Rasul 20:28
Kisah Para Rasul 20:28
"Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri."
Namun darah Kristus disebut darah Allah.
Mengapa? Karena darah itu adalah darah dari Pribadi yang adalah Allah Putra.
Prinsip yang sama muncul dalam Wahyu 1:17–18.
Hubungan dengan 1 Korintus 2:8
1 Korintus 2:8
"Sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia."
"Tuhan yang mulia" adalah gelar ilahi.
Namun yang disalibkan adalah Kristus menurut kemanusiaan.
Ini sama dengan:
"Yang Awal dan Yang Akhir" telah mati.
Hubungan dengan Yohanes 3:13
Yohanes 3:13
"Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia."
Di sana:
Sifat ilahi → turun dari sorga.
Di Wahyu 1:17–18:
Gelar ilahi → Yang Awal dan Yang Akhir.Pengalaman manusia → telah mati.
Keduanya adalah bentuk Communicatio Idiomatum.
Makna Teologis yang Sangat Dalam
Ayat ini menyatakan bahwa yang mati di salib bukan sekadar seorang manusia biasa.
Pribadi yang mati itu adalah Pribadi yang sama yang:
Kekal.Pencipta segala sesuatu.
Yang Awal dan Yang Akhir.
Tuhan atas hidup dan mati.
Karena itu nilai penebusan-Nya tidak terbatas.
Ibrani 9:14
"Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup."
Ringkasan
Wahyu 1:17–18 adalah Communicatio Idiomatum yang eksplisit karena satu Pribadi yang sama berkata:
"Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir" (atribut ilahi)
dan
"Aku telah mati" (pengalaman manusia).
Keilahian tidak mati, tetapi Pribadi yang adalah Allah Putra sungguh mengalami kematian melalui natur manusia yang diambil-Nya.
Karena itu ayat ini menjadi salah satu bukti paling jelas dari doktrin klasik Kristologi:
Satu Pribadi, dua natur.Apa yang berasal dari natur ilahi dan apa yang berasal dari natur manusia dapat dipredikasikan kepada Pribadi Yesus Kristus yang satu dan sama, tanpa mencampuradukkan atau memisahkan kedua natur tersebut.
3. Wahyu 2:8 dan Communicatio Idiomatum
Wahyu 2:8
"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali:"
Mengapa Ini Communicatio Idiomatum Eksplisit?
Ini adalah atribut ilahi.
Bandingkan dengan:
Yesaya 44:6
Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.
Maknanya:
- Kekal
- Tidak berawal
- Tidak berakhir
- Allah sejati
"Yang telah mati"
Ini menunjuk pada natur manusia.
Karena:
- Allah menurut natur ilahi tidak dapat mati.
- Kematian dialami Kristus dalam natur manusia-Nya.
"Dan hidup kembali"
Ini menunjuk pada kebangkitan.
Sebagai manusia:
- Ia benar-benar mati dan bangkit.
Sebagai Allah:
- Ia memiliki kuasa atas hidup dan maut.
Struktur Communicatio Idiomatum
| Frasa | Natur yang Ditonjolkan |
|---|---|
| Yang Awal dan Yang Akhir | Ilahi |
| Yang telah mati | Manusia |
| Hidup kembali | Keduanya |
Mengapa Disebut Eksplisit?
Karena dua realitas yang tampaknya bertentangan ditempelkan langsung pada satu subjek yang sama:
• Yang Awal dan Yang Akhir
yang telah mati
Secara logika biasa:
- Yang Awal dan Yang Akhir → tidak dapat mati.
- Yang mati → makhluk yang dapat mengalami kematian.
Tetapi dalam Kristus keduanya benar karena:
Satu Pribadi memiliki dua natur:
- natur ilahi yang kekal,
- natur manusia yang dapat mati.
Mirip dengan Wahyu 1:17–18
Wahyu 1:17–18
"Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: 'Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.'"
Di sini bahkan lebih jelas:
| Frasa | Natur |
|---|---|
| Yang Awal dan Yang Akhir | Ilahi |
| Yang Hidup | Ilahi |
| Aku telah mati | Manusia |
| Aku hidup sampai selama-lamanya | Keduanya |
| Aku memegang kunci maut dan kerajaan maut | Ilahi |
Kesimpulan
Wahyu 2:8 adalah salah satu ayat communicatio idiomatum yang eksplisit dan kuat, karena dalam satu kalimat Yesus disebut:
"Yang Awal dan Yang Akhir" (atribut ilahi)
dan sekaligus
"yang telah mati dan hidup kembali" (pengalaman manusia dan kemenangan atas maut).
Ayat ini menyatakan bahwa Pribadi yang kekal itu adalah Pribadi yang sama yang mati di salib dan bangkit kembali.
4. Yohanes 6:62 dan Communicatio Idiomatum
Ayatnya
Yohanes 6:62
"Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?"
Konteks Ayat
Dalam Yohanes pasal 6, Yesus baru saja mengajarkan bahwa:
Yohanes 6:51
"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
Orang banyak tersandung karena Yesus mengaku berasal dari surga.
Kemudian Yesus menjawab dengan Yohanes 6:62:
"Bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?"
Di Mana Unsur Communicatio Idiomatum?
Perhatikan dua unsur dalam ayat tersebut:
Subjek
"Anak Manusia"
Ini adalah gelar Mesianik yang menunjuk kepada Yesus sebagai manusia sejati.
Lihat:
Matius 8:20
"Yesus berkata kepadanya: 'Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.'"
Di sini "Anak Manusia" jelas menunjuk pada kemanusiaan Kristus.
Predikat
"naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada"
Pernyataan ini menunjuk pada keberadaan Yesus sebelum inkarnasi.
Manusia biasa tidak pernah berada di surga sebelum dilahirkan.
Namun Yesus berkata bahwa Anak Manusia akan kembali ke tempat asal-Nya.
Mengapa Ini Communicatio Idiomatum?
Karena gelar manusia:
"Anak Manusia"
dihubungkan dengan keberadaan pra-inkarnasi yang hanya dimiliki oleh Putra Allah yang kekal.
Dengan kata lain:
"Anak Manusia" → menunjuk natur manusia."Sebelumnya berada di sana" → menunjuk natur ilahi.
Keduanya dipersatukan dalam satu Pribadi.
Hubungan dengan Yohanes 3:13
Ayat yang hampir sejajar adalah:
Yohanes 3:13
"Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia."
Di sini juga:
Gelar manusia → Anak Manusia.Tindakan ilahi → turun dari surga.
Dalam Yohanes 6:62:
Gelar manusia → Anak Manusia.Tindakan ilahi → kembali ke tempat asal surgawi.
Keduanya merupakan bentuk Communicatio Idiomatum.
Hubungan dengan Yohanes 17:5
Yesus berbicara kepada Bapa:
Yohanes 17:5
"Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."
Ayat ini menegaskan bahwa Putra sudah ada bersama Bapa sebelum penciptaan.
Karena itu ketika Yohanes 6:62 berbicara tentang:
"tempat di mana Ia sebelumnya berada"
yang dimaksud adalah kemuliaan surgawi Putra yang kekal.
Apakah Ini Berarti Kemanusiaan Yesus Sudah Ada di Surga Sebelum Inkarnasi?
Tidak.
Gereja selalu membedakan:
Natur manusia
Mulai ada ketika inkarnasi.Dikandung oleh Roh Kudus.
Lahir dari Maria.
Lukas 1:35
"Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah."
Kemanusiaan Yesus tidak ada sejak kekekalan.
Natur ilahi
Putra Allah sudah ada sejak kekal.
Yohanes 1:1
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
Karena itu keberadaan di surga sebelum dunia ada berasal dari natur ilahi.
Mengapa Tetap Disebut "Anak Manusia"?
Inilah inti Communicatio Idiomatum.
Alkitab tidak berkata:
"Putra Allah akan kembali ke tempat asal-Nya."
Tetapi:
"Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada."
Artinya atribut pra-eksistensi ilahi diberikan kepada Pribadi yang sekarang dikenal sebagai Anak Manusia.
Predikat ilahi dilekatkan kepada subjek yang memakai gelar manusia.
Hubungan dengan Filipi 2:6–8
Filipi 2:6–8
"yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."
Pribadi yang sama:
Ada dalam rupa Allah.Menjadi manusia.
Kembali dimuliakan.
Yohanes 6:62 berbicara tentang gerakan yang sama: dari kemuliaan surgawi, inkarnasi, lalu kembali ke kemuliaan surgawi.
Tingkat Keeksplisitan Communicatio Idiomatum
Yohanes 6:62 dapat disebut Communicatio Idiomatum yang cukup eksplisit, meskipun tidak sejelas Wahyu 1:17–18.
Wahyu 1:17–18
"Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir ... Aku telah mati."
Atribut ilahi dan pengalaman manusia muncul berdampingan secara langsung.
Yohanes 6:62
"Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada."
Gelar manusia langsung dikaitkan dengan keberadaan surgawi sebelum inkarnasi.
Karena itu ayat ini tetap merupakan contoh kuat Communicatio Idiomatum.
Ringkasan
Yohanes 6:62
"Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?"
adalah Communicatio Idiomatum karena:
- "Anak Manusia" menunjuk kepada Kristus menurut natur manusia.
- "sebelumnya berada" di surga menunjuk kepada keberadaan kekal Putra menurut natur ilahi.
- Kedua hal itu dipredikasikan kepada satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.
Dengan demikian ayat ini mengajarkan bahwa Pribadi yang sekarang adalah Anak Manusia adalah Pribadi yang sama yang telah bersama Bapa sebelum dunia ada dan yang akan kembali ke kemuliaan surgawi-Nya. Ini adalah salah satu contoh penting Communicatio Idiomatum dalam Injil Yohanes.
Communicatio Idiomatum
Ayatnya
Kisah Para Rasul 20:28
"Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri."
Beberapa naskah Yunani bahkan berbunyi:
"Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri."
Kedua pembacaan tersebut tetap menunjuk kepada Kristus sebagai Pribadi ilahi yang menebus Gereja.
Mengapa Ini Communicatio Idiomatum?
Perhatikan subjek dan predikatnya:
Subjek
"Allah"
Ini menunjuk kepada natur ilahi.
Predikat
"darah"
Darah adalah milik natur manusia.
Allah menurut keilahian:
- Tidak memiliki tubuh.
- Tidak memiliki darah.
- Tidak dapat terluka.
Yohanes 4:24
"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Namun Paulus berkata:
"Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri."
Di sinilah Communicatio Idiomatum muncul.
Allah Tidak Memiliki Darah Menurut Keilahian
Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah Roh.
1 Timotius 1:17
"Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa."
1 Timotius 6:16
"Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut dan bersemayam dalam terang yang tak terhampiri."
Keilahian tidak memiliki:
- darah,
- daging,
- tulang,
- kematian.
Semua itu adalah sifat natur manusia.
Tetapi Putra Allah Menjadi Manusia
Yohanes 1:14
"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita."
Ibrani 2:14
"Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka."
Melalui inkarnasi:
- Putra tetap Allah sejati.
- Putra mengambil natur manusia sejati.
Akibatnya:
- Ia sungguh memiliki darah.
- Ia sungguh dapat menderita.
- Ia sungguh dapat mati.
Mengapa Paulus Berani Menyebutnya "Darah Allah"?
Karena yang memiliki darah itu bukan manusia yang terpisah dari Allah.
Yang memiliki darah itu adalah Pribadi Putra Allah sendiri.
Inilah prinsip dasar Communicatio Idiomatum:
Apa yang menjadi milik salah satu natur dapat dipredikasikan kepada Pribadi yang memiliki kedua natur tersebut.
Jadi:
- Darah berasal dari natur manusia.
- Tetapi darah itu adalah darah Pribadi yang adalah Allah Putra.
Karena itu Paulus dapat berbicara tentang:
"darah Allah"
tanpa mengajarkan bahwa keilahian memiliki darah.
Analogi Kristologis
Bayangkan kalimat:
"Presiden terluka dalam kecelakaan."
Yang terluka adalah tubuh manusia sang presiden.
Bukan jabatan kepresidenannya.
Tetapi kita tetap mengatakan:
"Presiden terluka."
Karena yang terluka adalah pribadi yang memegang jabatan itu.
Demikian pula:
Yang berdarah adalah natur manusia Kristus.
Tetapi Pribadi yang memiliki natur manusia itu adalah Allah Putra.
Maka Alkitab dapat berkata:
"darah Allah."
Hubungan dgn Wahyu 1:17–18
Wahyu 1:17–18
"Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya."
Di sana:
- Gelar ilahi → Yang Awal dan Yang Akhir.
- Pengalaman manusia → telah mati.
Di Kisah Para Rasul 20:28:
- Gelar ilahi → Allah.
- Sifat manusia → darah.
Polanya sama.
Hubungan dgn 1 Korintus 2:8
1 Korintus 2:8
"Sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia."
"Tuhan yang mulia" adalah gelar ilahi.
Namun yang disalibkan adalah Kristus menurut kemanusiaan.
Sama seperti:
Allah memiliki darah.
Bukan karena keilahian dapat berdarah, tetapi karena Pribadi yang berdarah adalah Allah Putra.
Kolose 1:19–20
"Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus."
Yang mencurahkan darah adalah Kristus sebagai manusia.
Tetapi yang bekerja melalui tindakan itu adalah Pribadi ilahi yang memiliki kepenuhan Allah.
Pentingnya Bagi Doktrin Penebusan
Mengapa ayat ini sangat penting?
Karena penebusan kita bukan dilakukan oleh manusia biasa.
Yang mati di salib adalah Pribadi yang adalah Allah Putra.
Karena itu pengorbanan-Nya memiliki nilai yang tidak terbatas.
Ibrani 9:14
"Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat..."
Nilai darah Kristus tidak terbatas karena Pribadi yang mencurahkannya adalah Putra Allah yang kekal.
Rumusan Kristologi Klasik
Gereja merumuskan:
Kristus adalah satu Pribadi dalam dua natur:
- sungguh Allah,
- sungguh manusia.
Karena kesatuan Pribadi itu:
- apa yang berasal dari kemanusiaan dapat dipredikasikan kepada Pribadi ilahi,
- dan apa yang berasal dari keilahian dapat dipredikasikan kepada Pribadi yang sama.
Tanpa mencampuradukkan kedua natur.
Kesimpulan
Kisah Para Rasul 20:28 adalah salah satu contoh Communicatio Idiomatum yang paling eksplisit dalam Alkitab.
Ayat ini menyatakan:
"Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri."
Di sini:
- Allah → menunjuk kepada Pribadi ilahi, Putra Allah.
- Darah → berasal dari natur manusia.
- Kedua hal itu dipersatukan dalam satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.
Karena itu ayat ini menunjukkan secara sangat jelas prinsip Kristologi klasik:
Yang berdarah adalah manusia Yesus;
yang memiliki darah itu adalah Allah Putra.
Maka Alkitab dapat dengan benar berkata: "darah Allah."
Inilah salah satu bentuk Communicatio Idiomatum yang paling eksplisit dan paling kuat di seluruh Perjanjian Baru.
Communicatio Idiomatum
1 Korintus 2:8 adalah salah satu ayat klasik yang digunakan Gereja untuk menjelaskan Communicatio Idiomatum (komunikasi sifat-sifat), yaitu bahwa sifat atau pengalaman yang berasal dari salah satu natur Kristus dapat dipredikasikan kepada satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.
Ayatnya
1 Korintus 2:8
"Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia."
Perhatikan ungkapan:
"menyalibkan Tuhan yang mulia."
Di sinilah letak Communicatio Idiomatum yang sangat kuat.
Apa yang Dimaksud dengan "Tuhan yang Mulia"?
Dalam bahasa Yunani:
τὸν κύριον τῆς δόξης
"Tuhan Kemuliaan" atau "Tuhan yang mulia."
Ini bukan sekadar gelar kehormatan.
Kemuliaan (δόξα) dalam Alkitab sering menunjuk pada kemuliaan ilahi yang menjadi milik Allah sendiri.
Mazmur 24:7–10
"Siapakah itu Raja Kemuliaan? TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan.
...
Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?
TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!"
Dalam Perjanjian Lama, "Raja Kemuliaan" adalah TUHAN sendiri.
Paulus sekarang menyebut Yesus:
"Tuhan yang mulia."
Ini adalah pengakuan akan keilahian Kristus.
Tetapi "Tuhan yang Mulia" Disalibkan
Ayat itu tidak hanya berkata:
"Tuhan yang mulia."
Melainkan:
"mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia."
Di sinilah muncul persoalan teologis yang penting.
Siapa yang dapat disalibkan?
Yang dapat disalibkan adalah:
- manusia,
- tubuh manusia,
- natur manusia.
Siapa yang tidak dapat disalibkan?
Allah menurut natur ilahi:
- tidak dapat menderita,
- tidak dapat mati,
- tidak dapat dipaku pada kayu salib.
1 Timotius 6:16
"Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut dan bersemayam dalam terang yang tak terhampiri."
Jadi bagaimana Paulus dapat berkata:
"Tuhan yang mulia disalibkan"?
Jawabannya: Communicatio Idiomatum
Kristus memiliki:
- natur ilahi,
- natur manusia.
Tetapi Ia adalah:
satu Pribadi.
Karena itu apa yang dialami menurut natur manusia dapat dipredikasikan kepada Pribadi yang sama yang juga adalah Tuhan yang mulia.
Maka:
- Penyaliban berasal dari natur manusia.
- Tuhan yang mulia berasal dari natur ilahi.
Namun keduanya dipersatukan dalam satu Pribadi yang sama.
Bukan Berarti Keilahian Disalibkan
Ayat ini tidak mengajarkan bahwa natur ilahi disalibkan.
Gereja selalu membedakan:
Menurut natur ilahi
Kristus:
- kekal,
- tidak berubah,
- tidak dapat mati.
Menurut natur manusia
Kristus:
- menderita,
- disalibkan,
- mati.
Tetapi yang mengalami semuanya itu adalah Pribadi yang sama.
Karena itu Paulus dapat berkata:
"Tuhan yang mulia disalibkan."
Pola yang Sama dalam Kisah Para Rasul 20:28
Kisah Para Rasul 20:28
"Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri."
Di sana:
- Allah → istilah ilahi.
- Darah → sifat manusia.
Di sini:
- Tuhan yang mulia → istilah ilahi.
- Disalibkan → pengalaman manusia.
Polanya identik.
Pola yang Sama dalam Wahyu 1:17–18
Wahyu 1:17–18
dan Yang Hidup. Aku telah mati."
Yang Awal dan Yang Akhir:
- atribut ilahi.
Telah mati:
- pengalaman manusia.
Sama seperti:
Tuhan yang mulia disalibkan.
Pola yang Sama dalam Yohanes 3:13
Yohanes 3:13
"Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia."
Di sana:
- Anak Manusia → gelar manusia.
- Turun dari surga → atribut ilahi.
Dalam 1 Korintus 2:8:
- Tuhan yang mulia → gelar ilahi.
- Disalibkan → pengalaman manusia.
Keduanya merupakan bentuk Communicatio Idiomatum.
Mengapa Paulus Memilih Ungkapan Ini?
Paulus ingin menunjukkan betapa tragisnya penolakan dunia terhadap Kristus.
Mereka tidak sekadar menyalibkan seorang nabi.
Mereka tidak sekadar menyalibkan seorang guru.
Mereka menyalibkan:
• Tuhan yang mulia.
Artinya Pribadi yang tergantung di kayu salib adalah Pribadi yang sama yang memiliki kemuliaan ilahi.
Hubungannya dengan Inkarnasi
Yohanes 1:14
"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya."
Yang menjadi manusia adalah Firman yang kekal.
Yang disalibkan adalah Firman yang telah menjadi manusia.
Karena itu Paulus dapat menyebut-Nya:
"Tuhan yang mulia."
bahkan ketika berbicara tentang penyaliban-Nya.
Nilai Penebusan yang Tidak Terbatas
Ayat ini juga menjelaskan mengapa kematian Kristus memiliki kuasa menyelamatkan seluruh dunia.
Jika yang mati hanyalah manusia biasa:
- nilainya terbatas.
Tetapi yang mati adalah Pribadi yang adalah Tuhan yang mulia.
Karena itu korban-Nya memiliki nilai yang tidak terbatas.
Ibrani 9:14
"Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat."
Kesimpulan
1 Korintus 2:8 adalah salah satu contoh Communicatio Idiomatum yang sangat eksplisit.
"mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia."
Dalam kalimat ini:
- "Tuhan yang mulia" → menunjuk kepada Kristus menurut natur ilahi.
- "disalibkan" → menunjuk kepada Kristus menurut natur manusia.
Paulus tidak mengatakan bahwa keilahian dapat disalibkan, tetapi bahwa Pribadi yang disalibkan adalah Pribadi yang sama yang adalah Tuhan yang mulia.
Karena itu ayat ini mengajarkan doktrin Kristologi klasik:
Apa yang berasal dari natur manusia (penyaliban) dan apa yang berasal dari natur ilahi (kemuliaan ilahi) dapat dipredikasikan kepada satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.Satu Pribadi, dua natur.
Inilah sebabnya 1 Korintus 2:8 bersama Kisah Para Rasul 20:28 dan Wahyu 1:17–18 sering dianggap sebagai tiga contoh paling kuat dan paling eksplisit dari Communicatio Idiomatum dalam Perjanjian Baru.
P. PENJELASAN AYAT-AYAT IMPLISIT COMMUNICATIO IDIOMATUM (DWI NATUR)
- 🥇 Yohanes 10:17–18
- 🥈 Yohanes 2:19–21
- 🥉 Yohanes 6:62
- 🥇 Yohanes 17:5
- 🥈 Filipi 2:6–11
- 🥇 Kolose 1:15–20
- 🥈 Ibrani 1:2–3
- 🥉 Galatia 4:4
- 🥇 Roma 8:3
- 🥈 Wahyu 5:6
Ayat ini sangat kaya karena dalam beberapa kalimat saja, Yesus Kristus berbicara sebagai satu Pribadi, tetapi apa yang Ia katakan kadang menonjolkan natur manusia-Nya, kadang natur ilahi-Nya, dan kadang keduanya sekaligus.
Prinsip yang harus diingat:
Bukan dua pribadi yang bergantian bicara.
Yang berbicara selalu satu Pribadi, yaitu Anak Allah.
Namun isi perkataan-Nya dapat menyatakan realitas dari natur manusia atau natur ilahi.
Keduanya (dengan penekanan relasi Pribadi Anak)
Ini bukan terutama pernyataan tentang kemanusiaan atau keilahian, melainkan relasi Anak dengan Bapa.
Dalam kekekalan:
- Bapa mengasihi Anak (Yoh 17:24).
Dalam inkarnasi:
- Bapa juga berkenan kepada Anak yang taat.
Jadi kalimat ini menyentuh:
- relasi kekal Tritunggal
- sekaligus misi inkarnasi.
2️⃣ "Oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku"
Natur yang tampak:
Manusia
Nyawa yang diserahkan adalah kehidupan manusia-Nya.
Allah dalam natur ilahi:
- tidak dapat mati.
Karena itu:
penyerahan nyawa terjadi dalam natur manusia.
3️⃣ "Untuk menerimanya kembali"
Natur yang tampak:
Keduanya
Dari sisi manusia:
- Ia benar-benar mati dan hidup kembali.
Dari sisi ilahi:
- Ia memiliki kuasa atas hidup dan maut.
Maka kebangkitan Kristus tidak hanya peristiwa manusiawi, tetapi juga manifestasi kuasa ilahi.
4️⃣ "Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku"
Natur yang tampak:
Ilahi
Orang-orang memang menyalibkan Yesus.
Namun Yesus menegaskan:
Tidak ada yang dapat merampas hidup-Ku di luar kehendak-Ku.
Ini menunjukkan kedaulatan-Nya.
Seorang manusia biasa tidak bisa berkata demikian mengenai kematiannya.
5️⃣ "Melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri"
Natur yang tampak:
Keduanya
Sebagai manusia
Ia taat secara sukarela.
Sebagai Allah
Ia memiliki otoritas penuh atas hidup-Nya.
Di sini terlihat bahwa kematian-Nya bukan kecelakaan sejarah.
Ia menyerahkan diri-Nya sendiri.
6️⃣ "Aku berkuasa memberikannya"
Natur yang tampak:
Ilahi
Kata "berkuasa" (exousia) menunjukkan otoritas ilahi.
Ia tidak berkata:
"Aku diizinkan"
melainkan:
"Aku berkuasa."
Ini menunjukkan kedaulatan pribadi-Nya.
7️⃣ "Dan berkuasa mengambilnya kembali"
Natur yang tampak:
Sangat kuat menyatakan Ilahi
Ini salah satu pernyataan keilahian yang besar dalam Injil Yohanes.
Manusia dapat mati.
Tetapi:
siapa yang dapat membangkitkan dirinya sendiri?
Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengambil kembali nyawa-Nya.
Bandingkan:
Yohanes 2:19
"Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."
8️⃣ "Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku"
Natur yang tampak:
Manusia (dalam misi Mesianik)
Sebagai Anak yang berinkarnasi:
- Ia diutus
- Ia menerima misi
- Ia taat kepada Bapa
Ini menunjuk pada relasi ekonomis (misi keselamatan), bukan inferioritas hakikat.
Ringkasan Kalimat per Kalimat
| Kalimat | Natur yang paling tampak |
|---|---|
| Bapa mengasihi Aku | Keduanya |
| Aku memberikan nyawa-Ku | Manusia |
| Untuk menerimanya kembali | Keduanya |
| Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku | Ilahi |
| Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri | Keduanya |
| Aku berkuasa memberikannya | Ilahi |
| Aku berkuasa mengambilnya kembali | Ilahi |
| Tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku | Manusia (dalam misi inkarnasi) |
Keindahan Communicatio Idiomatum dalam Ayat Ini
Perhatikan paradoksnya:
Yang menerima perintah dari Bapa adalah Pribadi yang sama yang berkuasa mengambil kembali nyawa-Nya.
Yang menyerahkan nyawa sebagai manusia adalah Pribadi yang memiliki kuasa ilahi atas hidup dan maut.
Karena itu Yohanes 10:17–18 merupakan salah satu contoh terbaik bahwa:
- Kristus sungguh manusia sehingga dapat mati.
- Kristus sungguh Allah sehingga memiliki kuasa atas kematian.
- Keduanya bersatu dalam satu Pribadi tanpa percampuran dan tanpa pemisahan.
Yohanes 2:19–21 biasanya dipahami sebagai contoh communicatio idiomatum yang implisit, karena dua natur Kristus tidak disebut berdampingan dalam satu frasa pendek, tetapi terlihat dari keseluruhan pernyataan.
Mari kita lihat teksnya:
Yohanes 2:19
"Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."
Lalu Yohanes menjelaskan:
Yohanes 2:21
"Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri."
1️⃣ "Rombak Bait Allah ini"
Natur manusia
Menurut Yohanes 2:21:
"Bait Allah" = tubuh Yesus.
Artinya:
- Tubuh-Nya akan diserahkan kepada kematian.
- Tubuh-Nya dapat dihancurkan.
Ini menunjuk kepada kemanusiaan-Nya.
2️⃣ "Dalam tiga hari"
Ini menunjuk kepada:
- kematian
- penguburan
- kebangkitan
Seluruh rangkaian itu hanya mungkin karena Yesus sungguh manusia.
3️⃣ "Aku akan mendirikannya kembali"
Di sinilah bagian yang sangat menarik.
Yesus tidak berkata:
"Bapa akan mendirikannya."
atau
"Allah akan membangkitkan Aku."
Melainkan:
"Aku akan mendirikannya kembali."
Natur ilahi
Kalimat ini menunjukkan otoritas yang luar biasa.
Dalam Injil Yohanes, Yesus bukan hanya objek kebangkitan.
Ia juga pelaku kebangkitan.
Bandingkan:
Yohanes 10:18
"Aku berkuasa mengambilnya kembali."
Jadi:
- Tubuh-Nya mati.
- Tetapi Ia memiliki kuasa untuk membangkitkan kembali tubuh itu.
4️⃣ Di Mana Communicatio Idiomatum-Nya?
Perhatikan pola berikut:
| Bagian | Natur dominan |
|---|---|
| Tubuh-Ku dihancurkan | Manusia |
| Aku membangkitkannya | Ilahi |
Namun yang berbicara tetap:
satu Pribadi Kristus.
5️⃣ Kenapa Disebut "Implisit"?
Karena ayat ini tidak mengatakan secara langsung:
"Allah mati"
atau
"Anak Manusia ada di surga"
seperti:
- Yohanes 3:13
- Kisah 20:28
- 1 Korintus 2:8
- Wahyu 1:17–18
Sebaliknya, pembaca harus menghubungkan:
- tubuh = kemanusiaan,
- membangkitkan diri sendiri = kuasa ilahi.
Dari hubungan itu kita melihat dua natur.
6️⃣ Kedalaman Kristologinya
Ayat ini mengandung paradoks yang luar biasa:
Yang tubuh-Nya dapat dihancurkan,
adalah Pribadi yang memiliki kuasa untuk membangkitkan tubuh itu kembali.
Itulah sebabnya banyak teolog melihat Yohanes 2:19 sebagai salah satu dasar kuat bagi Kristologi Yohanes.
7️⃣ Hubungan dengan Ayat Lain
Menariknya, Alkitab juga berkata:
Bapa membangkitkan Yesus
Roma 6:4
Roh Kudus membangkitkan Yesus
Roma 8:11
Yesus membangkitkan diri-Nya
Yohanes 2:19
Yohanes 10:18
Ini bukan kontradiksi.
Karena dalam karya kebangkitan:
- Bapa bekerja,
- Anak bekerja,
- Roh Kudus bekerja.
Satu karya Allah Tritunggal.
Kesimpulan
Yohanes 2:19–21 adalah communicatio idiomatum yang implisit karena:
Natur manusia
"Tubuh-Ku akan dihancurkan."
Natur ilahi
"Aku akan mendirikannya kembali."
Satu Pribadi
Yesus yang mati adalah Yesus yang membangkitkan tubuh-Nya.
Karena itu ayat ini menunjukkan bahwa:
Kristus sungguh manusia sehingga dapat mati,
dan sungguh Allah sehingga memiliki kuasa atas kematian dan kebangkitan-Nya sendiri.
3. Yohanes 6:62
Yohanes 6:62 adalah contoh yang sangat baik dari communicatio idiomatum implisit.
Yohanes 6:62
"Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?"
1️⃣ Mengapa Disebut "Implisit"?
Karena ayat ini tidak secara langsung menggabungkan atribut manusia dan ilahi dalam satu frasa pendek seperti:
Yohanes 3:13
"Anak Manusia yang ada di sorga."
atau
Kisah Para Rasul 20:28
"darah Allah."
Di Yohanes 6:62, kita harus melihat keseluruhan kalimat untuk menangkap makna Kristologisnya.
2️⃣ "Anak Manusia"
Natur yang ditonjolkan:
Manusia
"Anak Manusia" adalah gelar yang dipakai Yesus untuk diri-Nya.
Ini menegaskan:
- Inkarnasi
- Kemanusiaan sejati
- Kehadiran-Nya di dunia
Saat berbicara, Yesus berdiri sebagai manusia yang dapat dilihat dan didengar.
3️⃣ "Naik"
Menyentuh kedua natur
Secara historis ini menunjuk pada:
- kenaikan Kristus ke surga
Yang naik adalah:
- Pribadi yang berinkarnasi
- bersama natur manusia yang telah dimuliakan
4️⃣ "Ke tempat di mana Ia sebelumnya berada"
Natur yang ditonjolkan:
Ilahi
Ini bagian yang paling penting.
Yesus menyatakan bahwa sebelum inkarnasi:
Ia sudah berada di sana.
Artinya:
- Ia telah ada sebelum kelahiran-Nya dari Maria.
- Ia memiliki pra-eksistensi.
- Ia berasal dari surga.
Ini tidak mungkin diterapkan pada manusia biasa.
5️⃣ Di Mana Communicatio Idiomatum-Nya?
Perhatikan struktur ayat:
| Frasa | Natur dominan |
|---|---|
| Anak Manusia | Manusia |
| Sebelumnya berada di surga | Ilahi |
Yang menarik:
Gelar manusia ("Anak Manusia")
dikenakan kepada Pribadi yang memiliki eksistensi surgawi sebelum inkarnasi.
Inilah pola klasik communicatio idiomatum.
6️⃣ Apa yang Tidak Boleh Disimpulkan?
Ayat ini tidak mengajarkan bahwa:
❌ tubuh manusia Yesus sudah ada di surga sebelum lahir.
Natur manusia:
- mulai ada saat inkarnasi.
Yang sudah ada sebelumnya adalah:
Pribadi Anak dalam natur ilahi.
7️⃣ Mengapa Bukan Ayat Biasa Tentang Pra-Eksistensi?
Karena Yesus tidak berkata:
"Aku berada di sana sebelumnya."
Melainkan:
"Anak Manusia berada di sana sebelumnya."
Di situlah keunikannya.
Istilah yang menunjuk kepada kemanusiaan dipakai untuk Pribadi yang memiliki keberadaan surgawi sebelum inkarnasi.
8️⃣ Hubungannya dengan Yohanes 3:13
Yohanes 3:13 lebih eksplisit:
"Anak Manusia yang ada di sorga."
Yohanes 6:62 sedikit lebih tidak langsung:
"Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada."
Keduanya mengajarkan hal yang sama:
- Pribadi yang sekarang adalah manusia
- adalah Pribadi yang berasal dari surga.
Kesimpulan
Yohanes 6:62 adalah communicatio idiomatum implisit karena:
Natur manusia
"Anak Manusia"
Natur ilahi
"sebelumnya berada di surga"
Satu Pribadi
Yang berasal dari surga adalah Pribadi yang kini menjadi manusia.
Karena itu ayat ini menyatakan bahwa:
Yesus yang hadir sebagai manusia di bumi adalah Pribadi ilahi yang telah ada bersama Bapa sebelum dunia dijadikan dan yang akan kembali ke kemuliaan surgawi.
4. Yohanes 17:5
Yohanes 17:5 adalah salah satu contoh yang sangat kuat dari communicatio idiomatum implisit.
"Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."
1️⃣ Mengapa Disebut "Implisit"?
Karena ayat ini tidak secara langsung mengatakan:
- "Allah mati"
- "Anak Manusia ada di surga"
- "darah Allah"
seperti ayat-ayat communicatio idiomatum yang eksplisit.
Sebaliknya, kita melihat dua natur Kristus melalui keseluruhan isi doa-Nya.
2️⃣ "Ya Bapa"
✅ Manusia (dalam misi inkarnasi)
• Yesus sedang berdoa.
• Doa adalah tindakan yang sesuai dengan kehidupan manusia-Nya.
- Anak yang diutus
- Mesias
- Manusia sejati yang hidup dalam persekutuan sempurna dengan Bapa
Sebagai manusia:
- Ia sedang menuju salib.
- Ia akan dibangkitkan dan dimuliakan.
Sebagai Pribadi ilahi:
- Ia sedang meminta pemulihan manifestasi kemuliaan yang sebelumnya dimiliki-Nya.
4️⃣ "Dengan kemuliaan yang Kumiliki"
Natur yang terutama tampak:
Ilahi
Perhatikan:
Yesus tidak berkata:
"Kemuliaan yang akan Engkau berikan."
tetapi:
"Kemuliaan yang Kumiliki."
Ini menunjuk pada sesuatu yang sudah menjadi milik-Nya.
5️⃣ "Di hadirat-Mu sebelum dunia ada"
Natur yang sangat jelas:
Ilahi
Ini salah satu pernyataan pra-eksistensi paling kuat dalam Injil Yohanes.
Sebelum:
- penciptaan
- waktu
- dunia
Yesus sudah berada bersama Bapa.
Bandingkan:
Yohanes 1:1
"Pada mulanya adalah Firman."
6️⃣ Di Mana Communicatio Idiomatum-Nya?
Perhatikan paradoksnya.
Yang sedang berdoa adalah:
- Yesus yang berinkarnasi,
- manusia yang berjalan di Palestina,
- yang sebentar lagi akan disalibkan.
Tetapi Ia berbicara tentang:
kemuliaan yang dimiliki-Nya sebelum dunia ada.
Struktur Kristologinya
| Pernyataan | Natur dominan |
|---|---|
| Ya Bapa | Manusia (dalam misi) |
| Permuliakanlah Aku | Keduanya |
| Kemuliaan yang Kumiliki | Ilahi |
| Sebelum dunia ada | Ilahi |
7️⃣ Mengapa Ini Penting?
Seorang manusia biasa tidak dapat berkata:
"Aku memiliki kemuliaan bersama Allah sebelum dunia ada."
Pernyataan itu hanya masuk akal jika:
Pribadi yang sedang berdoa sebagai manusia
adalah Pribadi yang telah ada secara kekal bersama Bapa.
8️⃣ Apa yang Tidak Boleh Disalahpahami?
Ayat ini tidak berarti:
❌ natur manusia Yesus sudah ada sebelum penciptaan.
Teologi Kristen klasik mengajarkan:
- natur manusia mulai ada saat inkarnasi.
- yang sudah ada sejak kekal adalah Pribadi Anak menurut natur ilahi.
Karena itu:
yang memiliki kemuliaan sebelum dunia ada adalah Pribadi Anak.
Hubungan dengan Ayat-Ayat Lain
Yohanes 17:5 sejalan dengan:
Yohanes 1:1
Firman bersama Allah.
Yohanes 6:62
Anak Manusia kembali ke tempat di mana Ia sebelumnya berada.
Filipi 2:6–7
Dalam rupa Allah, lalu mengambil rupa hamba.
Kesimpulan
Yohanes 17:5 adalah communicatio idiomatum implisit karena:
Natur manusia
- Yesus berdoa kepada Bapa.
Natur ilahi
- Ia mengklaim kemuliaan yang dimiliki bersama Bapa sebelum dunia ada.
Satu Pribadi
- Yang berdoa sebagai manusia adalah Pribadi yang sama yang memiliki kemuliaan kekal bersama Bapa.
Jadi ayat ini menyatakan bahwa:
Yesus yang sedang berdoa di dunia bukan sekadar manusia yang diangkat Allah, melainkan Anak yang telah ada bersama Bapa sejak kekekalan dan kini hidup sebagai manusia demi keselamatan dunia.
5. Filipi 2:6–11
Filipi 2:6–11 adalah salah satu teks Kristologi terbesar dalam Perjanjian Baru dan merupakan contoh yang sangat kuat dari communicatio idiomatum implisit.
Berbeda dengan Yohanes 3:13 atau Kisah 20:28 yang menggabungkan atribut ilahi dan manusia dalam satu frasa, Filipi 2:6–11 menunjukkan dua natur Kristus melalui seluruh alur inkarnasi, perendahan, kematian, dan pemuliaan.
Teks Utamanya
"...yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia..."
1️⃣ "Dalam rupa Allah"
Natur yang dinyatakan:
Ilahi
Kata Yunani morphē theou ("rupa Allah") menunjuk pada keberadaan Kristus sebagai Allah.
Paulus memulai bukan dari Betlehem, tetapi dari pra-eksistensi Kristus.
Sebelum inkarnasi:
Ia sudah berada dalam kemuliaan ilahi.
2️⃣ "Kesetaraan dengan Allah"
Natur:
Ilahi
Paulus tidak berkata Yesus ingin menjadi Allah.
Ia berkata:
Kristus memiliki kesetaraan dengan Allah.
Ini menunjuk pada keilahian-Nya.
3️⃣ "Mengosongkan diri-Nya"
Menyentuh kedua natur
Penting:
Paulus tidak mengatakan:
Ia berhenti menjadi Allah.
Melainkan:
Ia mengambil kondisi seorang hamba.
Jadi "mengosongkan diri" bukan kehilangan keilahian, melainkan merendahkan diri melalui inkarnasi.
4️⃣ "Mengambil rupa seorang hamba"
Natur:
Manusia
Di sini Sang Anak:
- masuk ke dalam sejarah
- menjadi manusia sejati
- hidup dalam kerendahan
5️⃣ "Menjadi sama dengan manusia"
Natur:
Manusia
Ini salah satu pernyataan inkarnasi paling jelas.
Kristus:
- bukan tampak seperti manusia
- tetapi sungguh manusia
6️⃣ "Dalam keadaan sebagai manusia"
Natur:
Manusia
Paulus menegaskan realitas kemanusiaan-Nya.
Ia:
- lapar
- letih
- menderita
- menangis
seperti manusia sejati.
7️⃣ "Taat sampai mati"
Natur:
Manusia
Allah tidak dapat mati.
Karena itu:
kematian Kristus terjadi dalam natur manusia-Nya.
8️⃣ "Bahkan sampai mati di kayu salib"
Natur:
Manusia
Salib adalah puncak kerendahan dan penderitaan manusiawi.
9️⃣ "Allah sangat meninggikan Dia"
Menyentuh kedua natur
Yang ditinggikan adalah Kristus yang telah berinkarnasi.
Bukan berarti Ia baru menjadi Allah.
Melainkan:
kemanusiaan-Nya yang telah taat sampai mati kini dimuliakan.
🔟 "Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut..."
Natur:
Ilahi
Paulus mengutip bahasa yang berasal dari Yesaya 45:23, di mana YHWH berkata:
"Kepada-Kulah setiap lutut akan bertelut."
Paulus menerapkannya kepada Yesus.
Ini adalah pengakuan keilahian Kristus.
1️⃣1️⃣ "Yesus Kristus adalah Tuhan"
Natur:
Ilahi
"Tuhan" (Kyrios) dalam konteks ini menunjuk pada gelar ilahi yang dipakai dalam Septuaginta untuk YHWH.
Di Mana Communicatio Idiomatum-Nya?
Perhatikan alurnya:
| Bagian | Natur dominan |
|---|---|
| Dalam rupa Allah | Ilahi |
| Setara dengan Allah | Ilahi |
| Mengambil rupa hamba | Manusia |
| Menjadi manusia | Manusia |
| Taat sampai mati | Manusia |
| Ditinggikan | Keduanya |
| Disembah seluruh ciptaan | Ilahi |
Semua tindakan itu dikenakan kepada:
satu Pribadi Kristus.
Mengapa Disebut "Implisit"?
Karena Paulus tidak berkata secara langsung:
"Allah mati"
atau
"darah Allah"
Ia menjelaskan perjalanan Kristus:
- Kemuliaan ilahi
- Inkarnasi
- Ketaatan manusiawi
- Kematian
- Pemuliaan
Dari keseluruhan narasi itu kita melihat dua natur bekerja dalam satu Pribadi.
Makna Teologis yang Dalam
Filipi 2 bukan sekadar mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah dan manusia.
Paulus menunjukkan bahwa:
Pribadi yang setara dengan Allah
adalah Pribadi yang sama yang taat sampai mati di salib.
Itulah inti communicatio idiomatum dalam teks ini.
Kesimpulan
Filipi 2:6–11 adalah communicatio idiomatum implisit yang sangat kuat karena:
- Dimulai dengan kemuliaan ilahi Kristus.
- Berlanjut dengan inkarnasi dan kemanusiaan sejati.
- Mencapai puncak dalam kematian di salib.
- Berakhir dengan penyembahan universal kepada-Nya.
Seluruh rangkaian itu berbicara tentang satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus, yang:
sungguh Allah, sungguh manusia, dan karena itu dapat merendahkan diri sampai mati serta menerima penyembahan yang hanya layak diberikan kepada Allah.
6. Kolose 1:15–20
Kolose 1:15–20 dapat dipahami sebagai Communicatio Idiomatum secara implisit, karena dalam satu rangkaian perikop, Paulus berbicara tentang Pribadi Kristus yang sama dengan atribut-atribut ilahi yang mutlak dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan kemanusiaan-Nya, terutama kematian-Nya di salib.
Ayatnya
Kolose 1:15–20
"Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus."
Struktur Perikop
Perikop ini dapat dibagi menjadi dua bagian besar:
1. Kemuliaan Ilahi Kristus (ayat 15–17)
2. Karya Penebusan Kristus (ayat 18–20)
Kedua bagian ini berbicara tentang Pribadi yang sama.
Bagian Pertama: Atribut Ilahi
Kolose 1:15
"Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan"
Bandingkan:
Yohanes 14:9
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."
Kristus adalah penyataan sempurna Allah.
Kolose 1:16
"di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu"
Penciptaan adalah pekerjaan Allah.
Kejadian 1:1
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."
Namun Paulus menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan melalui Kristus.
Kolose 1:17
"Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu"
Ini berbicara tentang keberadaan sebelum segala ciptaan.
Bandingkan:
Yohanes 1:1
"Pada mulanya adalah Firman."
Kolose 1:17
"segala sesuatu ada di dalam Dia"
Kristus bukan hanya Pencipta.
Ia juga Pemelihara seluruh alam semesta.
Semua Ini Menunjuk pada Keilahian
Ayat 15–17 menggambarkan Kristus sebagai:
- gambar Allah,
- Pencipta,
- pra-eksisten,
- Penopang alam semesta.
Ini adalah atribut yang hanya layak bagi Allah.
Bagian Kedua: Penebusan Melalui Darah
Lalu Paulus beralih kepada karya penebusan.
Kolose 1:20
"sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus."
Sekarang muncul unsur yang sangat manusiawi:
- darah,
- salib,
- kematian.
Di Sini Letak Communicatio Idiomatum
Perhatikan kontrasnya.
Pribadi yang sama adalah:
Ayat 16
Pencipta segala sesuatu
Ayat 20
Menumpahkan darah di salib
Mengapa Ini Menarik?
Pencipta alam semesta:
- tidak dapat berdarah menurut keilahian.
Namun Kristus:
- memiliki darah.
- mati di salib.
Karena Ia juga manusia sejati.
Paulus Tidak Beralih ke Pribadi Lain
Paulus tidak berkata:
Allah menciptakan dunia, lalu seorang manusia mati di salib.
Sebaliknya ia terus memakai subjek yang sama:
"Ia"
dari ayat 15 sampai ayat 20.
Artinya:
- Pencipta alam semesta,
- Kepala Gereja,
- Yang darah-Nya tercurah,
adalah satu Pribadi yang sama.
Inilah pola dasar Communicatio Idiomatum.
Ayat 19 Memperkuat Hal Ini
Kolose 1:19
"Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia."
Paulus menghubungkan:
- kepenuhan Allah,
- darah salib.
dalam satu rangkaian pemikiran.
Pararel dengan Kisah Para Rasul 20:28
Kisah Para Rasul 20:28
"Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri."
Di sana:
- Allah → istilah ilahi.
- darah → sifat manusia.
Dalam Kolose 1:15–20:
- Pencipta segala sesuatu → atribut ilahi.
- darah salib → sifat manusia.
Polanya sama, tetapi lebih panjang dan tidak langsung.
Karena itu disebut implisit.
Pararel dengan 1 Korintus 2:8
1 Korintus 2:8
"mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia."
Tuhan yang mulia:
- ilahi.
Disalibkan:
- manusia.
Dalam Kolose:
Pencipta segala sesuatu
dan
darah salib.
Prinsipnya sama.
Pararel dengan Ibrani 1:2–3
Ibrani 1:2–3
"oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta."
lalu
"sesudah Ia selesai mengadakan penyucian dosa."
Pencipta alam semesta sekaligus Penebus dosa.
Ini merupakan pola Kristologis yang sama dengan Kolose 1.
Makna Teologis yang Dalam
Kolose 1:15–20 menunjukkan bahwa:
Yang tergantung di kayu salib bukan manusia biasa.
Yang mati bagi dosa dunia adalah Pribadi yang sama yang:
- menciptakan galaksi,
- menopang alam semesta,
- ada sebelum segala sesuatu.
Karena itu penebusan Kristus memiliki nilai yang tidak terbatas.
Ringkasan Communicatio Idiomatum Kolose 1:15–20
| Atribut Ilahi | Atribut Manusia |
|---|---|
| Gambar Allah yang tidak kelihatan | Darah |
| Pencipta segala sesuatu | Salib |
| Ada sebelum segala sesuatu | Kematian |
| Penopang alam semesta | Pendamaian melalui penderitaan |
Semuanya dipredikasikan kepada satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.
Kesimpulan
Kolose 1:15–20 adalah contoh kuat dari Communicatio Idiomatum secara implisit.
Paulus menggambarkan Kristus sebagai:
- Pencipta segala sesuatu,
- Penopang alam semesta,
- Kepenuhan Allah,
namun juga sebagai Pribadi yang:
menumpahkan darah-Nya di salib untuk mendamaikan dunia dengan Allah.
Atribut-atribut ilahi dan pengalaman manusia tidak dicampur menjadi satu natur baru, tetapi keduanya dipersatukan dalam satu Pribadi Yesus Kristus.
Karena itu Kolose 1:15–20 merupakan salah satu bagian Kristologi tertinggi dalam Perjanjian Baru dan salah satu contoh Communicatio Idiomatum implisit yang paling kaya dan mendalam.
7. Ibrani 1:2–3
Ibrani 1:2–3 adalah salah satu contoh Communicatio Idiomatum secara implisit. Ayat ini tidak secara langsung mengatakan "Allah mati" atau "Tuhan yang mulia disalibkan" seperti Kisah Para Rasul 20:28 dan 1 Korintus 2:8, tetapi ayat ini menggabungkan dalam satu Pribadi yang sama tindakan-tindakan yang berasal dari keilahian dan karya yang berkaitan dengan inkarnasi serta penebusan.
Ayatnya
Ibrani 1:2–3
"Maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi."
Struktur Kristologi dalam Ibrani 1:2–3
Penulis Ibrani bergerak dari:
Keilahian Kristus
menuju
Karya Penebusan Kristus
dengan tetap berbicara tentang satu Pribadi yang sama.
Bagian Pertama: Atribut Ilahi
"Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta"
Kristus digambarkan sebagai agen penciptaan.
Bandingkan:
Yohanes 1:3
"Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan."
Penciptaan adalah karya Allah.
"Ia adalah cahaya kemuliaan Allah"
Bahasa ini sangat kuat.
Kristus bukan sekadar memantulkan kemuliaan Allah.
Ia adalah pancaran kemuliaan Allah sendiri.
"Gambar wujud Allah"
Dalam bahasa Yunani:
χαρακτὴρ τῆς ὑποστάσεως αὐτοῦ
Artinya:
- representasi sempurna,
- ekspresi sempurna,
- cap sempurna dari keberadaan Allah.
"Menopang segala yang ada"
Ini bukan sekadar menciptakan.
Kristus terus memelihara seluruh ciptaan.
Kolose 1:17
"segala sesuatu ada di dalam Dia."
Menopang alam semesta adalah fungsi ilahi.
Bagian Kedua: Penyucian Dosa
Kemudian penulis berkata:
"setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa"
Ini menunjuk pada karya salib.
Penyucian dosa terjadi melalui:
- penderitaan,
- pengorbanan,
- kematian Kristus.
Ibrani 9:26
"Sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya."
Di Sini Letak Communicatio Idiomatum
Perhatikan kontrasnya:
Ayat 2–3a
Pencipta alam semesta
Cahaya kemuliaan Allah
Penopang seluruh ciptaan
Ayat 3b
Mengadakan penyucian dosa
Mengapa Ini Penting?
Pencipta alam semesta tidak dapat mati menurut keilahian.
Namun Pribadi yang sama yang menopang alam semesta juga adalah Pribadi yang menghapus dosa melalui pengorbanan-Nya.
Jadi:
- tindakan ilahi,
- tindakan penebusan melalui kemanusiaan,
bertemu dalam satu Pribadi.
Unsur yang Implisit
Ayat ini tidak mengatakan secara langsung:
"Allah menderita"
atau
"Tuhan yang mulia mati."
Karena itu sifat Communicatio Idiomatum di sini tidak eksplisit.
Tetapi implisit melalui perpindahan yang sangat cepat dari:
Pencipta alam semesta
kepada
Penebus dosa.
Subjeknya tetap satu:
"Ia"
yaitu Anak.
Hubungan dengan Ibrani 2:14
Penulis kemudian menjelaskan bagaimana Anak melakukan karya penebusan itu.
Ibrani 2:14
"Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut."
Di sini menjadi jelas:
- yang menopang alam semesta adalah Anak.
- yang mati adalah Anak yang sama.
Pararel dengan Kolose 1:15–20
Kolose 1:16
"di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu"
lalu
Kolose 1:20
"pendamaian oleh darah salib Kristus."
Pencipta → darah salib.
Persis pola yang sama dengan Ibrani 1.
Pararel dengan Yohanes 1:1–14
Yohanes 1:1
"Firman itu adalah Allah."
lalu
Yohanes 1:14
"Firman itu telah menjadi manusia."
Keilahian dan kemanusiaan bertemu dalam satu Pribadi.
Ibrani 1 mengembangkan tema yang sama.
Pararel dengan Filipi 2:6–8
Filipi 2:6–8
"yang walaupun dalam rupa Allah..."
lalu
"taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."
Keilahian → kematian.
Satu Pribadi yang sama.
Ini juga merupakan pola Communicatio Idiomatum.
Makna Teologis
Ibrani 1:2–3 menunjukkan bahwa:
Pribadi yang mati untuk dosa manusia bukanlah makhluk ciptaan.
Bukan malaikat.
Bukan nabi.
Melainkan Pribadi yang sama yang:
- menciptakan alam semesta,
- memancarkan kemuliaan Allah,
- menopang seluruh ciptaan.
Karena itu korban-Nya memiliki kuasa yang sempurna untuk menebus dosa.
Ringkasan
| Ibrani 1:2–3 | Natur yang Ditonjolkan |
|---|---|
| Menjadikan alam semesta | Ilahi |
| Cahaya kemuliaan Allah | Ilahi |
| Gambar wujud Allah | Ilahi |
| Menopang segala sesuatu | Ilahi |
| Mengadakan penyucian dosa | Melalui kemanusiaan yang berkorban |
| Duduk di sebelah kanan Allah | Kristus yang dimuliakan |
Kesimpulan
Ibrani 1:2–3 merupakan contoh kuat dari Communicatio Idiomatum secara implisit.
Ayat ini menggambarkan satu Pribadi yang sama sebagai:
Pencipta alam semesta,
Pancaran kemuliaan Allah,
Penopang segala sesuatu,
namun juga sebagai Pribadi yang:
mengadakan penyucian dosa melalui karya penebusan-Nya.
Dengan demikian, sifat-sifat ilahi dan karya yang dilakukan melalui natur manusia dipersatukan dalam satu Pribadi Yesus Kristus. Itulah sebabnya Ibrani 1:2–3 sering dianggap sebagai salah satu teks Kristologi tertinggi yang secara implisit mendukung doktrin Communicatio Idiomatum.
8. Galatia 4:4
Galatia 4:4 adalah contoh Communicatio Idiomatum secara implisit, karena ayat ini menghubungkan dalam satu Pribadi yang sama realitas pra-eksistensi ilahi Sang Anak dengan kelahiran-Nya sebagai manusia dalam sejarah.
Ayatnya
Galatia 4:4
"Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat."
Struktur Ayat
Ayat ini memiliki tiga bagian penting:
- Allah mengutus Anak-Nya
- lahir dari seorang perempuan
- takluk kepada hukum Taurat
Ketiganya berbicara tentang satu Pribadi yang sama.
"Allah Mengutus Anak-Nya"
Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata:
"Allah menciptakan Anak-Nya."
Tetapi:
"Allah mengutus Anak-Nya."
Kata "mengutus" mengandaikan bahwa Sang Anak sudah ada sebelum Ia diutus.
Bandingkan:
Yohanes 16:28
"Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa."
Yohanes 17:5
"Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."
Jadi bagian ini menunjuk kepada keberadaan pra-inkarnasi Sang Anak.
Unsur Ilahi
Dalam Galatia 4:4, Sang Anak digambarkan sebagai Pribadi yang telah ada bersama Bapa sebelum kedatangan-Nya ke dunia.
Ini sejalan dengan:
Yohanes 1:1
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
Jadi:
"Allah mengutus Anak-Nya"
mengandung aspek keilahian dan pra-eksistensi.
"Lahir dari Seorang Perempuan"
Lalu Paulus langsung berkata:
"yang lahir dari seorang perempuan"
Ini menunjuk kepada kemanusiaan sejati Kristus.
Bandingkan:
Lukas 2:7
"dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung."
Kelahiran adalah sifat manusia.
Allah menurut keilahian:
- tidak dilahirkan,
- tidak mempunyai permulaan,
- tidak berasal dari rahim seorang perempuan.
Namun Sang Anak sungguh lahir sebagai manusia.
"Takluk kepada Hukum Taurat"
Paulus menambahkan:
"takluk kepada hukum Taurat."
Ini juga menunjuk kepada kemanusiaan Kristus.
Sebagai manusia Israel sejati, Yesus hidup di bawah tuntutan Taurat.
Lukas 2:21
"Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus."
Matius 5:17
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."
Allah sebagai Allah tidak berada di bawah Taurat.
Tetapi Yesus sebagai manusia berada di bawah Taurat.
Di Mana Letak Communicatio Idiomatum?
Perhatikan subjeknya:
"Anak-Nya"
Subjeknya tetap satu.
Lalu kepada Anak yang sama dipredikasikan:
| Pernyataan | Menunjukkan |
|---|---|
| Diutus oleh Bapa | Pra-eksistensi ilahi |
| Lahir dari perempuan | Kemanusiaan |
| Takluk kepada Taurat | Kemanusiaan |
Satu Pribadi yang sama memiliki realitas yang berasal dari dua natur yang berbeda.
Inilah pola dasar Communicatio Idiomatum.
Mengapa Disebut Implisit?
Karena Paulus tidak mengatakan secara langsung:
"Allah dilahirkan"
atau
"Anak yang kekal menderita."
Ia hanya meletakkan berdampingan:
- Anak yang sudah ada sebelum diutus,
- Anak yang lahir sebagai manusia.
Pembaca harus menyimpulkan bahwa kedua hal itu berbicara tentang satu Pribadi yang sama.
Karena itu sifatnya implisit, bukan eksplisit.
Hubungan dengan Yohanes 1:14
Yohanes 1:14
"Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita."
Firman yang kekal menjadi manusia.
Galatia 4:4 mengungkapkan kebenaran yang sama dengan bahasa yang berbeda:
Anak yang diutus menjadi Anak yang lahir dari perempuan.
Hubungan dengan Filipi 2:6–7
Filipi 2:6–7
"yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba."
Rupa Allah → natur ilahi.
Rupa hamba → natur manusia.
Galatia 4:4 memiliki pola yang sama:
Anak yang diutus → lahir dari perempuan.
Hubungan dengan Ibrani 2:14
Ibrani 2:14
"Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka."
Anak yang kekal mengambil bagian dalam darah dan daging manusia.
Galatia 4:4 menjelaskan kapan hal itu terjadi:
ketika Ia lahir dari seorang perempuan.
Makna Soteriologis
Paulus tidak menulis ini hanya untuk menjelaskan siapa Kristus.
Ia menjelaskan mengapa Kristus dapat menyelamatkan.
Lanjutan ayat berikutnya:
Galatia 4:5
"Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak."
Untuk menebus manusia:
- Ia harus menjadi manusia.
- Ia harus berada di bawah Taurat.
- Ia harus menaati Taurat dengan sempurna.
Tetapi agar penebusan-Nya memiliki nilai yang universal dan sempurna, Pribadi yang melakukan itu adalah Sang Anak Allah sendiri.
Kesimpulan
Galatia 4:4 merupakan contoh Communicatio Idiomatum secara implisit.
"Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat."
Dalam ayat ini:
- "Anak-Nya" menunjuk kepada Pribadi ilahi yang telah ada sebelum inkarnasi.
- "lahir dari seorang perempuan" menunjuk kepada natur manusia.
- "takluk kepada hukum Taurat" menunjuk kepada kehidupan manusia Kristus di dalam sejarah.
Semua predikat itu dikenakan kepada satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.
Karena itu Galatia 4:4 menjadi salah satu teks yang secara implisit mendukung doktrin Communicatio Idiomatum, yaitu bahwa sifat dan tindakan yang berasal dari natur ilahi maupun natur manusia dapat dipredikasikan kepada satu Pribadi Kristus yang sama tanpa mencampuradukkan kedua natur tersebut.
9. Roma 8:3
Roma 8:3 merupakan salah satu contoh Communicatio Idiomatum secara implisit. Ayat ini tidak secara langsung menggabungkan gelar ilahi dan pengalaman manusia dalam satu frasa seperti Kisah Para Rasul 20:28 atau 1 Korintus 2:8, tetapi ayat ini memperlihatkan bahwa Pribadi yang adalah Anak Allah masuk ke dalam kondisi manusia untuk mengalahkan dosa.
Ayatnya
Roma 8:3
"Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging."
Struktur Ayat
Paulus menyatakan tiga hal:
- Allah mengutus Anak-Nya.
- Anak itu datang dalam daging.
- Anak itu menghukum dosa di dalam daging.
Semua berbicara tentang satu Pribadi yang sama.
"Mengutus Anak-Nya Sendiri"
Ungkapan ini menunjukkan bahwa Sang Anak sudah ada sebelum kedatangan-Nya ke dunia.
Bandingkan:
Yohanes 17:5
"Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."
Galatia 4:4
"Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya..."
Anak bukan mulai ada ketika lahir dari Maria; Ia sudah ada sebelumnya.
Ini menunjuk kepada pra-eksistensi dan keilahian-Nya.
"Dalam Daging"
Kemudian Paulus berkata:
"dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa"
Ini menunjuk kepada inkarnasi.
Bandingkan:
Yohanes 1:14
"Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita."
Ibrani 2:14
"Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka..."
Kristus benar-benar mengambil natur manusia.
Mengapa Paulus Berkata "Serupa dengan Daging yang Dikuasai Dosa"?
Paulus tidak mengatakan Yesus berdosa.
Ia mengatakan:
"serupa dengan daging yang dikuasai dosa"
Artinya:
- tubuh manusia sejati,
- kondisi manusia yang fana,
- dapat menderita,
- dapat mati,
tetapi tanpa dosa.
Ibrani 4:15
"Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa."
"Menghukum Dosa di Dalam Daging"
Bagian akhir ayat berbicara tentang karya salib.
Roma 8:3
"Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging."
Ini menunjuk pada:
- penderitaan Kristus,
- kematian Kristus,
- pengorbanan Kristus.
Hal-hal tersebut hanya mungkin terjadi menurut natur manusia.
Di Mana Letak Communicatio Idiomatum?
Perhatikan subjeknya:
"Anak-Nya sendiri"
Lalu kepada Anak yang sama dipredikasikan:
| Pernyataan | Natur yang Ditunjukkan |
|---|---|
| Diutus oleh Allah | Ilahi / pra-eksisten |
| Datang dalam daging | Manusia |
| Menghukum dosa melalui penderitaan dalam daging | Manusia |
| Melaksanakan karya keselamatan Allah | Pribadi ilahi yang berinkarnasi |
Satu Pribadi yang sama menjadi subjek dari semuanya.
Inilah pola Communicatio Idiomatum.
Mengapa Disebut Implisit?
Karena Paulus tidak berkata:
"Allah menderita"
atau
"Anak Allah mati."
Sebaliknya ia menghubungkan:
- Anak yang diutus dari Bapa,
- Anak yang masuk ke dalam daging manusia,
- Anak yang menanggung hukuman dosa.
Hubungan antara keilahian dan kemanusiaan ada, tetapi tidak dinyatakan secara langsung dalam satu frasa paradoksal.
Karena itu ayat ini termasuk kategori implisit.
Hubungan dengan Galatia 4:4
Galatia 4:4
"Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan."
Di sana:
- Anak yang kekal.
- Menjadi manusia melalui kelahiran.
Di Roma 8:3:
- Anak yang kekal.
- Datang dalam daging.
Keduanya menyatakan inkarnasi dari sudut yang berbeda.
Hubungan dengan Filipi 2:6–8
Filipi 2:6–8
mengambil rupa seorang hamba...
taat sampai mati."
Rupa Allah → ilahi.
Mati → manusia.
Roma 8:3 menggambarkan pola yang sama:
Anak Allah → datang dalam daging → mengalahkan dosa melalui penderitaan-Nya.
Hubungan dengan Ibrani 2:14
Ibrani 2:14
"supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut."
Anak yang kekal mengambil daging dan darah supaya dapat mati.
Roma 8:3 menjelaskan tujuan yang sama:
menghukum dosa di dalam daging.
Makna Teologis
Roma 8:3 menunjukkan bahwa keselamatan tidak dicapai oleh manusia biasa.
Pribadi yang datang dalam daging adalah:
Anak Allah sendiri.
Namun untuk menghukum dosa:
Ia harus masuk ke dalam kondisi manusia yang dapat menderita dan mati.
Dengan demikian:
- keilahian memberi nilai dan kuasa pada karya keselamatan,
- kemanusiaan menyediakan sarana untuk menderita dan mati bagi dosa.
Keduanya bersatu dalam satu Pribadi Kristus.
Kesimpulan
Roma 8:3 adalah contoh Communicatio Idiomatum secara implisit.
"Allah mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging..."
Dalam ayat ini:
- "Anak-Nya sendiri" menunjuk kepada Sang Anak yang telah ada sebelum inkarnasi.
- "dalam daging" menunjuk kepada natur manusia yang diambil-Nya.
- "menghukum dosa di dalam daging" menunjuk kepada karya penebusan yang dilakukan melalui kemanusiaan-Nya.
Semua itu dikenakan kepada satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.
Karena itu Roma 8:3 merupakan salah satu teks penting yang secara implisit mendukung doktrin Communicatio Idiomatum, yaitu kesatuan Pribadi Kristus yang memiliki natur ilahi dan natur manusia tanpa percampuran maupun pemisahan.
10. Wahyu 5:6
Wahyu 5:6 adalah salah satu contoh yang sangat indah dari Communicatio Idiomatum secara implisit. Dalam ayat ini, Kristus digambarkan sekaligus sebagai Anak Domba yang telah disembelih (menunjuk pada pengorbanan dan kematian-Nya) dan sebagai Pribadi yang memiliki kuasa ilahi yang universal (menunjuk pada kemuliaan dan keallahan-Nya).
Ayatnya
Wahyu 5:6
"Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih; bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi."
Konteks Wahyu 5
Sebelum ayat ini, Yohanes melihat sebuah gulungan kitab yang tidak seorang pun layak membukanya.
Kemudian seorang tua-tua berkata:
Wahyu 5:5
"Jangan engkau menangis! Lihatlah, Singa dari suku Yehuda, yaitu Tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya."
Yohanes mengharapkan melihat seekor singa yang perkasa.
Tetapi ketika ia melihat, ia justru melihat:
"seekor Anak Domba seperti telah disembelih."
Di sinilah paradoks Kristologis yang sangat dalam muncul.
Unsur Kemanusiaan: "Anak Domba Seperti Telah Disembelih"
Ungkapan ini menunjuk pada kematian Kristus di salib.
Bandingkan:
Yohanes 1:29
"Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia."
1 Petrus 1:18–19
"kamu telah ditebus ... dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."
"Disembelih" menunjukkan:
- penderitaan,
- pengorbanan,
- kematian.
Semua ini hanya mungkin menurut natur manusia.
Allah menurut keilahian tidak dapat mati.
Unsur Ilahi: Berdiri di Tengah Takhta Allah
Perhatikan bahwa Anak Domba itu:
"berdiri di tengah-tengah takhta"
Takhta dalam kitab Wahyu adalah lambang pemerintahan Allah atas seluruh ciptaan.
Anak Domba tidak berada jauh dari takhta.
Ia berada di pusat pemerintahan ilahi.
Ini menunjukkan kemuliaan dan otoritas yang hanya layak bagi Allah.
Unsur Ilahi: Tujuh Tanduk
Wahyu 5:6
"bertanduk tujuh"
Dalam simbolisme Alkitab:
- tanduk = kuasa.
- tujuh = kepenuhan atau kesempurnaan.
Artinya:
kuasa yang sempurna dan penuh.
Bandingkan:
Matius 28:18
"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi."
Unsur Ilahi: Tujuh Mata
Wahyu 5:6
"bermata tujuh"
Ayat itu sendiri menjelaskan:
"itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi."
Ini melambangkan:
- pengetahuan sempurna,
- penglihatan sempurna,
- kehadiran yang menjangkau seluruh bumi.
Atribut semacam ini adalah atribut ilahi.
Paradoks yang Menakjubkan
Perhatikan gambaran yang diberikan Yohanes:
| Gambaran | Makna |
|---|---|
| Anak Domba yang disembelih | Kematian dan pengorbanan |
| Berdiri hidup | Kebangkitan |
| Di tengah takhta Allah | Kemuliaan ilahi |
| Tujuh tanduk | Kuasa sempurna |
| Tujuh mata | Pengetahuan sempurna |
Semuanya berbicara tentang satu Pribadi yang sama.
Di Mana Letak Communicatio Idiomatum?
Wahyu 5:6 tidak berkata secara langsung:
"Allah mati"
atau
"Tuhan yang mulia disalibkan."
Karena itu tidak termasuk bentuk eksplisit.
Tetapi ayat ini menampilkan satu Pribadi yang sama sebagai:
- korban yang disembelih,
- penguasa yang bertakhta bersama Allah.
Dengan demikian atribut yang berasal dari kemanusiaan dan kemuliaan yang berasal dari keilahian dipersatukan dalam satu Pribadi.
Inilah bentuk implisit dari Communicatio Idiomatum.
Hubungan dengan Wahyu 5:9
Beberapa ayat kemudian para makhluk surgawi menyanyikan:
Wahyu 5:9
Karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.
Darah menunjuk pada kemanusiaan Kristus.
Tetapi Pribadi yang menerima penyembahan surgawi adalah Pribadi yang sama.
Hubungan dgn Wahyu 5:12–13
Wahyu 5:12
Anak Domba yang telah disembelih itu layak menerima kuasa dan kekayaan dan hikmat dan kekuatan dan hormat dan kemuliaan dan puji-pujian.
Wahyu 5:13
Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba itu adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!
Yang menerima penyembahan universal adalah Anak Domba yang sama.
Ini menunjukkan kesatuan Pribadi Kristus.
Hubungan dengan Filipi 2:8–11
Filipi 2:8–11
"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia..."
Pengorbanan → pemerintahan.
Pola yang sama terlihat dalam Wahyu 5.
Hubungan dengan Ibrani 1:3
Ibrani 1:3
"Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar."
Penebusan melalui penderitaan diikuti dengan kemuliaan surgawi.
Wahyu 5 memperlihatkan hasil akhir dari kemuliaan itu.
Makna Teologis
Wahyu 5:6 menunjukkan bahwa:
Pribadi yang memerintah alam semesta adalah Pribadi yang sama yang pernah disalibkan.
Yang berada di tengah takhta Allah adalah:
Anak Domba yang telah disembelih.
Dan yang telah disembelih itu adalah:
Tuhan yang layak menerima penyembahan seluruh ciptaan.
Ini hanya mungkin karena Kristus adalah satu Pribadi dengan dua natur.
Kesimpulan
Wahyu 5:6 adalah contoh kuat dari Communicatio Idiomatum secara implisit.
Dalam ayat ini:
- "Anak Domba seperti telah disembelih" menunjuk kepada karya penebusan Kristus menurut natur manusia.
- "berdiri di tengah-tengah takhta", "bertanduk tujuh", dan "bermata tujuh" menunjuk kepada kemuliaan, kuasa, dan otoritas ilahi-Nya.
Kedua aspek tersebut dikenakan kepada satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.
Karena itu Wahyu 5:6 merupakan gambaran apokaliptik yang sangat kaya tentang Communicatio Idiomatum, di mana Sang Penebus yang mati adalah sekaligus Sang Raja ilahi yang memerintah dan menerima penyembahan dari seluruh ciptaan.
Q. PRIBADI MANUSIA TIDAK DIAMBIL SANG FIRMAN
• Yang menjadi manusia adalah Pribadi Sang Anak sendiri.
• Yang menjadi manusia adalah Pribadi Sang Anak sendiri.
1. Mengapa Sang Firman tidak mengambil pribadi manusia?
Karena yang menjadi manusia adalah Pribadi Sang Anak sendiri.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Ayat ini tidak mengatakan:
- Firman bergabung dengan seorang pribadi manusia,
- atau Firman tinggal di dalam seorang manusia yang sudah merupakan pribadi tersendiri.
Tetapi:
Firman itu sendiri menjadi manusia.
Jika Firman mengambil seorang pribadi manusia yang sudah lengkap, maka hasilnya adalah:
- Pribadi ilahi Sang Anak
- Pribadi manusia yang diambil
Artinya ada dua subjek "aku".
Itulah yang ditolak oleh Konsili Efesus (431) dan Konsili Kalsedon (451).
Kristus adalah:
- satu Pribadi,
- dua natur.
Bukan:
- dua pribadi,
- dua natur.
2. Apa itu pribadi?
Secara sederhana:
- Natur menjawab: "Apa dia?"
- Pribadi menjawab: "Siapa dia?"
Contoh:
Anda adalah:
- manusia (natur)
- tetapi Anda adalah pribadi yang unik dan tidak tergantikan.
Saya bisa memiliki natur yang sama dengan Anda (sama-sama manusia), tetapi saya bukan pribadi yang sama dengan Anda.
3. Mengapa pribadi tidak bisa "diambil"?
Karena pribadi bukan benda atau komponen yang dapat dipindahkan.
Pribadi adalah pusat kesadaran dan tanggung jawab moral.
Misalnya:
- Anda dapat berbagi natur manusia dengan miliaran orang.
- Tetapi tidak seorang pun dapat memiliki atau mengambil pribadi Anda.
Pribadi Anda tetap pribadi Anda.
4. Hubungannya dengan kehendak bebas
Dalam teologi klasik:
Kehendak berasal dari natur.
Tetapi:
Pribadi menggunakan kehendak itu.
Contoh:
- Natur manusia memberi kemampuan berkehendak.
- Pribadi memutuskan bagaimana kehendak itu digunakan.
Karena itu:
- Adam mempunyai kehendak manusia.
- Anda mempunyai kehendak manusia.
- Kristus mempunyai kehendak manusia.
Tetapi masing-masing adalah subjek yang berbeda.
5. Mengapa ini penting bagi tanggung jawab moral?
Karena dosa tidak dilakukan oleh natur yang abstrak.
Dosa dilakukan oleh pribadi.
Contoh:
Ketika Adam berdosa:
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
Yang berdosa adalah Adam sebagai pribadi.
Bukan "natur manusia" yang berdosa tanpa subjek.
6. Hubungannya dengan penghakiman
Allah menghakimi pribadi-pribadi, bukan natur secara abstrak.
Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.
Perhatikan:
- "setiap orang"
- bukan "setiap natur"
Yang dihakimi adalah subjek moral yang memilih.
7. Apa yang terjadi jika pribadi manusia diambil Kristus?
Misalkan secara hipotetis Firman mengambil seorang manusia bernama "X" yang sudah merupakan pribadi manusia.
Maka akan ada:
- Pribadi Firman
- Pribadi X
Lalu siapa yang bertindak?
- Siapa yang lapar?
- Siapa yang berdoa?
- Siapa yang mati di salib?
Akan muncul dua pusat kesadaran dan dua subjek tindakan.
Karena itu Gereja menolak model tersebut.
8. Kaitan dengan kebebasan dan penghakiman manusia
Di sinilah poin yang Anda angkat menjadi menarik.
Pribadi manusia memiliki:
- identitas unik,
- tanggung jawab moral unik,
- relasi unik dengan Allah.
Karena itu Allah tidak "menggantikan" pribadi manusia.
Allah menyelamatkan manusia tanpa menghapus kepribadiannya.
Lihat undangan Kristus:
Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Keselamatan tidak menghancurkan pribadi; justru memulihkan pribadi.
9. Kesimpulan
Sang Firman tidak mengambil pribadi manusia karena:
- Kristus harus tetap satu Pribadi, yaitu Pribadi Sang Anak.
- Pribadi bukan bagian dari natur yang dapat "diambil".
- Pribadi adalah subjek yang bertanggung jawab secara moral.
- Allah menghakimi pribadi-pribadi, bukan natur secara abstrak.
- Kehendak berasal dari natur, tetapi digunakan oleh pribadi.
- Keselamatan tidak menghapus kebebasan dan identitas pribadi manusia, melainkan memulihkannya.
Karena itu dalam Kristologi klasik:
- Natur manusia diambil dan ditebus.
- Pribadi manusia tidak diambil atau digantikan.
- Setiap pribadi manusia tetap berdiri di hadapan Allah sebagai subjek yang bebas dan bertanggung jawab atas responsnya terhadap kasih karunia Allah.
R. SIAPAKAH YESUS KRISTUS DAN APAKAH YESUS KRISTUS
• Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup• Yesus adalah Putra Allah.• Yesus adalah Firman Allah.• Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia.• Yesus adalah Tuhan, yaitu Pribadi Anak Allah yang berinkarnasi.
Ini adalah pertanyaan yang sangat penting dalam Kristologi. Kuncinya adalah membedakan "siapa" (pribadi) dan "apa" (natur).
1. Pertanyaan: "Siapakah Yesus?"
Jawabannya adalah:
Yesus adalah Tuhan, yaitu Pribadi Anak Allah yang berinkarnasi.
Mengapa?
Karena kata "siapa" menanyakan pribadi (person), bukan natur (nature).
Dalam Kristologi klasik:
- Pribadi (siapa) = satu, yaitu Pribadi Anak Allah.
- Natur (apa) = dua, yaitu natur ilahi dan natur manusia.
2. Apa itu "Pribadi"?
Pribadi menjawab pertanyaan:
"Siapa yang bertindak?"
Dalam diri Yesus hanya ada satu Pribadi, yaitu Anak Allah yang kekal.
Yang:
- lahir dari Maria,
- mengajar,
- berdoa,
- mati,
- bangkit,
- naik ke surga,
semuanya dilakukan oleh Pribadi yang sama.
3. Apa itu "Natur"?
Natur menjawab pertanyaan:
"Apa Dia?"
Yesus memiliki dua natur:
Natur ilahi
- Allah sejati
- Mahakuasa
- Mahatahu
- Kekal
Natur manusia
- Tubuh manusia
- Jiwa manusia
- Kehendak manusia
- Dapat lapar, letih, menderita, dan mati
4. Mengapa Tidak Dijawab "Tuhan dan Manusia"?
Kalau pertanyaannya:
"Apa Yesus?"
Jawabannya:
Allah sejati dan manusia sejati.
Karena itu pertanyaan tentang natur.
Tetapi kalau pertanyaannya:
"Siapa Yesus?"
Jawabannya:
Pribadi Anak Allah (Tuhan).
5. Contoh Analogi
Misalnya seseorang bertanya:
"Siapa presiden Indonesia?"
Jawabannya adalah nama orangnya, bukan:
- laki-laki,
- manusia,
- warga negara.
Nama menjelaskan siapa dia.
Yesus Kristus, Anak Allah.
Allah sejati dan manusia sejati.
6. Mengapa Ini Penting?
Kalau kita menjawab:
"Siapa Yesus? Manusia."
Jawaban itu tidak lengkap, karena "manusia" adalah natur, bukan pribadi.
Kalau menjawab:
"Siapa Yesus? Tuhan."
Dalam teologi Kristen ortodoks, itu tepat, karena pribadi Yesus adalah Pribadi Anak yang adalah Allah.
Namun jika ingin lebih lengkap, bisa dijawab:
Yesus adalah Pribadi Anak Allah yang menjadi manusia.
7. Dasar Alkitab
Matius 16:15–16
Yesus bertanya, "Menurut kamu, siapakah Aku ini?"
Jawab Simon Petrus:
"Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup."
"Engkau manusia."
8. Hubungan dengan Dwi Natur
Karena satu Pribadi memiliki dua natur, maka:
- Saat Yesus lapar → Pribadi Anak mengalami lapar menurut natur manusia.
- Saat Yesus mengampuni dosa → Pribadi Anak bertindak menurut natur ilahi.
- Saat Yesus mati → Pribadi Anak mengalami kematian menurut natur manusia.
Yang bertindak selalu Pribadi yang sama.
Kesimpulan
| Pertanyaan | Jawaban |
|---|---|
| Siapa Yesus? | Pribadi Anak Allah yang berinkarnasi (Tuhan). |
| Apa Yesus? | Allah sejati dan manusia sejati (dua natur). |
Jadi, jika seseorang bertanya:
"Siapakah Yesus, Tuhan atau manusia?"
Jawaban yang paling tepat menurut Kristologi klasik adalah:
Jika yang ditanyakan "siapa", maka Yesus adalah Tuhan, yaitu Pribadi Anak Allah yang berinkarnasi. Jika yang ditanyakan "apa", maka Yesus memiliki dua natur: Allah sejati dan manusia sejati.
Dengan pembedaan ini, kita tidak mencampur pribadi dengan natur, dan tetap setia pada pengakuan iman Kristen tentang satu Pribadi dengan dua natur.
