PENGINJILAN

 


Yohanes 17 : 18-19
Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.

Penginjilan termasuk di dalam pengutusan, tetapi pengutusan dalam Yohanes 17:18 lebih luas daripada sekadar penginjilan.

1. Perhatikan pola yang Yesus buat

“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.”
— Yohanes 17:18

Ada pola:

Bapa → mengutus Anak → Anak → mengutus murid → murid → diutus ke dunia.

Jadi kata “mengutus” (πέμπω / pempō) menunjuk pada seseorang yang dikirim dengan suatu tujuan dan mandat.

Murid-murid tidak hanya disuruh berbicara tentang Yesus, tetapi membawa kehadiran, kesaksian, ajaran dan kehidupan Kristus ke tengah dunia.


2. Apa yang menjadi tujuan pengutusan mereka?

Konteks langsungnya sangat penting:

“Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.”
— Yohanes 17:14

Kemudian:

“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.”
— Yohanes 17:18

Dan:

“Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.”
— Yohanes 17:19

Jadi pengutusan mempunyai setidaknya empat unsur:

1. Diutus ke dunia
→ bukan melarikan diri dari dunia.

2. Membawa Firman
→ menyampaikan apa yang telah diterima dari Kristus.

3. Menjadi saksi tentang Kristus
→ kehidupan dan perkataan mereka memberikan kesaksian kepada dunia.

4. Dikuduskan dalam kebenaran
→ mereka harus hidup sesuai dengan kebenaran yang mereka beritakan.

Dengan demikian:

Pengutusan = mandat untuk mewakili dan menghadirkan karya serta kebenaran Kristus di tengah dunia.


3. Apakah pengutusan identik dengan penginjilan?

Tidak identik, tetapi penginjilan merupakan bagian yang sangat penting dari pengutusan.

Kita bisa menggambarkannya:

PENGUTUSAN
↓
├── Memberitakan Injil
├── Bersaksi tentang Kristus
├── Mengajarkan Firman
├── Membentuk murid
├── Melayani manusia
├── Hidup dalam kekudusan
└── Menjadi saksi Kristus di tengah dunia

Jadi kalau kita mengatakan:

“Saya diutus untuk memberitakan Injil.”

Itu benar.

Tetapi kalau kita mengatakan:

“Pengutusan hanya berarti memberitakan Injil.”

Itu terlalu sempit.


4. Penginjilan adalah pemberitaan berita tentang Kristus

Misalnya dalam Amanat Agung:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”
— Matius 28:19-20

Perhatikan bahwa ada beberapa tindakan:

Pergi → memberitakan → menjadikan murid → membaptis → mengajar → membentuk kehidupan murid.

Jadi penginjilan merupakan bagian dari misi pengutusan yang kemudian berlanjut kepada pemuridan.


5. Bahkan Yohanes 20:21 sangat jelas

Setelah kebangkitan Yesus berkata:

“Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
— Yohanes 20:21

Ini sangat dekat dengan Yohanes 17:18.

Bapa mengutus Yesus → Yesus mengutus murid.

Dan setelah itu:

“Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ‘Terimalah Roh Kudus.’”
— Yohanes 20:22

Artinya pengutusan tidak dilakukan dengan kekuatan manusia semata.

Pengutusan → Roh Kudus → kesaksian → misi kepada dunia.


6. Lalu apa hubungan pengutusan dengan “menjadi terang”?

Ini sangat cocok dengan tema apologetika yang sedang Anda bangun.

Yesus berkata:

“Kamu adalah terang dunia.”
— Matius 5:14

Perhatikan: Yesus tidak berkata hanya “kamu membawa terang”, tetapi “kamu adalah terang dunia.”

Artinya murid yang diutus bukan hanya membawa pesan, tetapi juga dipanggil menjadi kesaksian hidup terhadap pesan tersebut.

Karena itu penginjilan memiliki dua dimensi:

A. Proklamasi

“Beritakanlah Injil.”

Memberitakan:

  • siapa Yesus;
  • apa yang telah dilakukan-Nya;
  • dosa manusia;
  • kematian dan kebangkitan Kristus;
  • pengampunan;
  • keselamatan;
  • panggilan untuk percaya dan bertobat.

B. Demonstrasi

“Hiduplah sebagai saksi Kristus.”

Kebenaran Injil terlihat melalui:

  • kasih;
  • kekudusan;
  • pengampunan;
  • pelayanan;
  • keadilan;
  • kerendahan hati;
  • kehidupan yang telah diperbarui.

Jadi:

Penginjilan dengan perkataan menjelaskan Injil; kehidupan yang dikuduskan menunjukkan realitas Injil.


7. Mengapa Yohanes 17:19 mengatakan “Aku menguduskan diri-Ku”?

Ini menarik.

“Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.”

Yesus sedang berbicara dalam konteks pengutusan.

Yesus sendiri menguduskan diri-Nya untuk tugas yang diberikan Bapa, yaitu menyelesaikan karya keselamatan.

Kemudian murid-murid juga harus dikuduskan dalam kebenaran untuk menjalankan tugas pengutusan mereka.

Jadi ada hubungan:

Pengutusan → pengudusan → kesaksian → pemberitaan → pemuridan.

Bukan:

Penginjilan → lalu kehidupan kudus tidak penting.

Justru sebaliknya.


8. Maka definisi yang menurut saya paling tepat dari Yohanes 17:18 adalah:

Pengutusan adalah tindakan Kristus mengirim murid-murid-Nya ke dalam dunia sebagai representasi dan saksi-Nya, untuk membawa Firman, menyatakan kebenaran, memberitakan Injil, menjadikan murid, dan menghadirkan kehidupan Kristus melalui kehidupan yang dikuduskan.

Sedangkan:

Penginjilan adalah salah satu ekspresi utama dari pengutusan, khususnya pemberitaan kabar baik tentang Yesus Kristus dengan tujuan agar manusia percaya kepada-Nya.

Dengan kata sederhana:

Pengutusan = mandat besar.
Penginjilan = salah satu tugas utama dalam mandat tersebut.
Kesaksian hidup = cara hidup yang menopang pemberitaan tersebut.
Pemuridan = proses setelah orang menerima Injil.

Dan menurut saya ini sangat kuat untuk kerangka “Apologet bukan memaksa orang percaya, tetapi menjelaskan apa yang kita imani”: apologetika dapat menjadi salah satu bentuk kesaksian dalam pengutusan, tetapi apologetika sendiri juga bukan keseluruhan pengutusan.


Dalam Yohanes 17:19, kalimat “Aku menguduskan diri-Ku” sangat kaya maknanya. Ini bukan berarti Yesus sebelumnya tidak kudus, melainkan bahwa Yesus mengkhususkan/menyerahkan diri-Nya sepenuhnya kepada Bapa untuk menyelesaikan tugas keselamatan yang menjadi tujuan pengutusan-Nya.

Yohanes 17:19
“Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.”

1. “Menguduskan” bukan berarti menjadi lebih suci

Kata Yunani yang digunakan adalah ἁγιάζω (hagiazō), yang dapat berarti menguduskan, menyucikan, mengkhususkan, mempersembahkan untuk tujuan kudus.

Dalam kasus Yesus, maknanya bukan:

Yesus tadinya kurang kudus → kemudian menjadi lebih kudus.

Itu tidak mungkin, karena Anak adalah kudus.

Jadi lebih tepat:

Yesus mengkhususkan dan mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa bagi tugas yang telah diberikan kepada-Nya.


2. “Bagi mereka” adalah kunci

Yesus berkata:

“Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka...”

Jadi pengudusan diri Yesus mempunyai orientasi relasional dan keselamatan.

Ia menguduskan/menyerahkan diri-Nya demi murid-murid-Nya, supaya melalui karya-Nya mereka:

“dikuduskan dalam kebenaran.”

Dengan kata lain:

Yesus menyerahkan diri → murid-murid dikuduskan.

Ini menunjuk kepada karya salib yang segera akan Ia jalani.


3. Ada hubungan erat dengan Yohanes 10:17-18

Yesus berkata:

“Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri.”

Jadi “Aku menguduskan diri-Ku” bukan tindakan pasif.

Yesus secara sadar menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa.

Ia tidak sekadar menjadi korban; Ia menyerahkan diri sebagai korban.


4. Puncaknya adalah salib

Dalam Yohanes 17, Yesus sedang berada pada ambang penderitaan dan salib.

Sebelumnya Ia berdoa:

“Bapa, telah tiba saatnya: permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.”
— Yohanes 17:1

Kemudian:

“Aku telah menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan.”
— Yohanes 17:4

Lalu:

“Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka...”
— Yohanes 17:19

Dan akhirnya di salib:

“Sudah selesai.”
— Yohanes 19:30

Ada sebuah alur yang sangat kuat:

Diutus oleh Bapa
↓
Menjalankan kehendak Bapa
↓
Menguduskan/menyerahkan diri bagi murid-murid
↓
Salib
↓
Karya keselamatan selesai


5. Tetapi “menguduskan diri” tidak hanya berarti mati di salib

Ini penting.

Kata hagiazō memiliki gagasan pengkhususan bagi Allah.

Seluruh kehidupan dan pelayanan Yesus diarahkan kepada kehendak Bapa.

Yesus berkata:

“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”
— Yohanes 4:34

Dan:

“Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”
— Yohanes 5:30

Jadi “Aku menguduskan diri-Ku” merupakan penyerahan total diri Anak dalam misi yang diberikan Bapa.

Salib adalah puncaknya.


6. Ada hubungan dengan “pengutusan”

Perhatikan struktur Yohanes 17:

Ayat 18:

“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.”

Ayat 19:

“Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.”

Jadi:

Bapa mengutus Anak
→ Anak menguduskan/menyerahkan diri
→ Anak mengutus murid
→ murid dikuduskan dalam kebenaran
→ murid menjalankan misi di dunia.

Ini berarti pengudusan murid tidak terpisah dari pengutusan mereka.

Mereka harus dikuduskan supaya dapat menjalankan pengutusan.


7. “Supaya mereka pun dikuduskan” — ada hubungan sebab-akibat

Kalimatnya:

“Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.”

Di sini terdapat tujuan:

Yesus menguduskan diri-Nya → supaya mereka dikuduskan.

Bukan berarti murid menjadi kudus hanya karena meniru moralitas Yesus.

Lebih dalam dari itu.

Mereka dikuduskan dalam kebenaran yang dinyatakan dan diberikan oleh Kristus.

Yesus sudah mengatakan:

“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.”
— Yohanes 17:17

Jadi ada hubungan:

Firman Bapa = kebenaran
↓
Kristus menyampaikan Firman
↓
Kristus menyerahkan diri dalam ketaatan kepada Bapa
↓
murid dikuduskan dalam kebenaran
↓
murid diutus ke dunia.


8. Apakah “menguduskan diri” berarti Yesus memisahkan diri dari manusia?

Tidak. Justru sebaliknya.

Yesus menguduskan diri-Nya “bagi mereka.”

Ini bukan:

“Aku menjauh dari mereka supaya Aku kudus.”

Tetapi:

“Aku menyerahkan diri-Ku bagi mereka supaya mereka dapat dikuduskan.”

Ini sangat penting secara teologis.

Kekudusan Kristus bukan isolasi dari manusia, tetapi penyerahan diri-Nya bagi manusia dalam kehendak Bapa.


9. Kalau dikaitkan dengan Kristologi

Karena Anda sedang banyak membahas Pribadi dan natur Kristus, perlu dibedakan dengan sangat jelas:

Yesus tidak menguduskan natur ilahi-Nya.

Natur ilahi tidak perlu dikuduskan.

Dan Yesus juga bukan sedang memperbaiki sesuatu yang kurang kudus dalam Pribadi-Nya.

Sebaliknya, Pribadi Anak yang kudus, dalam kemanusiaan-Nya, dengan bebas menyerahkan diri kepada kehendak Bapa untuk melaksanakan karya keselamatan.

Jadi kita dapat mengatakan:

“Aku menguduskan diri-Ku” menunjuk kepada tindakan sukarela Sang Anak untuk mengkhususkan dan mempersembahkan diri-Nya dalam seluruh misi inkarnasi-Nya, yang mencapai puncaknya dalam pengorbanan salib, demi menguduskan umat-Nya dalam kebenaran.


10. Hubungannya dengan “ketaatan”

Ini juga sangat indah jika disambungkan dengan tema yang pernah kita bahas tentang kasih → ketaatan.

Yesus berkata:

“Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku...”
— Yohanes 14:31

Jadi:

Kasih kepada Bapa
↓
ketaatan kepada Bapa
↓
penyerahan diri
↓
salib
↓
keselamatan manusia

Maka “Aku menguduskan diri-Ku” dapat dipahami sebagai ungkapan kasih dan ketaatan Anak kepada Bapa dalam misi keselamatan manusia.

Ringkasnya:

“Aku menguduskan diri-Ku” bukan berarti Yesus menjadi lebih kudus, tetapi Yesus mengkhususkan, menyerahkan, dan mempersembahkan diri-Nya sepenuhnya kepada Bapa dalam misi keselamatan, bagi murid-murid-Nya, dengan puncaknya pada salib, supaya mereka dikuduskan dalam kebenaran dan kemudian diutus ke dalam dunia.

Dan ini membuat Yohanes 17:18–19 sangat kuat: orang yang diutus ke dunia harus terlebih dahulu dikuduskan dalam kebenaran, sementara dasar pengudusan itu adalah penyerahan diri Kristus bagi mereka.


Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post