TRINITAS
A. PENGERTIAN TRINITAS
Trinitas adalah ajaran utama dalam kekristenan yang menyatakan bahwa:
- Allah itu ESA dalam hakikat/Natur Ilahi,
- tetapi menyatakan diri dalam tiga Pribadi:
- Bapa
- Anak (Yesus Kristus)
- Roh Kudus
Ketiganya:
- bukan tiga Allah,
- bukan satu Pribadi yang berganti-ganti peran,
- melainkan tiga Pribadi yang berbeda namun satu dalam esensi Ilahi.
Dasar Utama: Allah itu Esa
Perjanjian Lama sangat menegaskan keesaan Allah.
Ulangan 6:4
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”
Yesaya 45:5
“Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.”
Jadi Trinitas bukan berarti tiga Allah.
Tiga Pribadi dalam Alkitab
1. BAPA adalah Allah
Yohanes 6:27
“Bapa, yaitu Allah, telah memeteraikan Dia.”
Yohanes 6:27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."
1 Korintus 8:6
“Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa”
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
• Bapa adalah sumber dan asal segala sesuatu.
2. YESUS (ANAK) adalah Allah
Ini inti penting iman Kristen.
Yohanes 1:1
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Yohanes 1:14
“Firman itu telah menjadi manusia”
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Firman itu adalah Yesus.
Yohanes 20:28-29
Tomas berkata kepada Yesus: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
Yesus tidak menolak penyembahan itu.
Kolose 2:9
“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”
Artinya kepenuhan Natur Ilahi ada dalam Kristus.
3. ROH KUDUS adalah Allah
Kisah Para Rasul 5:3–4
Petrus berkata kepada Ananias:
“Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus…”
Lalu:
“Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”
Roh Kudus dipersamakan dengan Allah.
Ketiga-Nya tampil bersama
• Baptisan Yesus
Matius 3:16–17
“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: ‘Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.’”
Di sini terlihat:
- Yesus dibaptis,
- Roh Kudus turun,
- Bapa berbicara dari surga.
Tiga Pribadi hadir bersamaan.
Rumusan Trinitas
Bukan:
- 3 Allah ❌
- 1 pribadi dengan 3 topeng/peran ❌
Tetapi:
- 1 Allah
- 3 Pribadi Ilahi
Secara sederhana:
| Pribadi | Disebut Allah | Berbeda satu sama lain |
|---|---|---|
| Bapa | Ya | Ya |
| Anak | Ya | Ya |
| Roh Kudus | Ya | Ya |
Namun:
- hakikat Ilahi-Nya satu,
- kehendak Ilahi satu,
- kemuliaan satu,
- kekekalan satu.
Hubungan Bapa dan Anak
Dalam Injil Yohanes ada penekanan khusus bahwa:
“Hidup” ada di dalam Anak
Yohanes 5:26
“Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.”
Ayat ini sangat penting.
Artinya:
- Bapa adalah sumber hidup,
- Anak menerima hidup itu dari Bapa,
- lalu Anak menjadi pemberi hidup kepada manusia.
Yesus sebagai “Hidup”
Yohanes 14:6
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”
Yohanes 11:25
“Akulah kebangkitan dan hidup.”
Karena itu Perjanjian Baru menekankan:
- hidup kekal ada di dalam Kristus,
- manusia menerima hidup Allah melalui persatuan dengan Kristus.
Peran Roh Kudus
Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang:
- tinggal di dalam orang percaya,
- menghidupkan,
- menguduskan,
- membawa manusia kepada keserupaan dengan Kristus.
Roma 8:2
“Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu…”
Roma 8:11
“Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati…”
Mengapa Trinitas penting?
Karena seluruh karya keselamatan melibatkan ketiga Pribadi:
| Pribadi | Peran |
|---|---|
| Bapa | Merancang keselamatan |
| Anak | Menjadi manusia dan menebus |
| Roh Kudus | Menghidupkan dan mempersatukan manusia dengan Kristus |
Analogi (terbatas)
Tidak ada analogi yang sempurna, tetapi kadang dipakai:
Matahari
- Matahari → sumber
- Cahaya → keluar dari matahari
- Panas → bekerja dan dirasakan
Tetapi:
- ketiganya tidak terpisah.
Namun semua analogi pasti terbatas dan tidak sepenuhnya menggambarkan Allah.
Pandangan Gereja Awal
Ajaran Trinitas dirumuskan lebih jelas dalam:
- Konsili Nicea
- Konsili Konstantinopel
Untuk menegaskan:
- Yesus sungguh Allah,
- Roh Kudus sungguh Allah,
- namun Allah tetap esa.
Ringkasan Inti
Trinitas berarti:
- Satu Allah,
- dalam tiga Pribadi Ilahi:
- Bapa,
- Anak,
- Roh Kudus.
Anak adalah pusat pewahyuan hidup Allah:
- hidup ada dalam Anak,
- Anak membagikan hidup itu kepada manusia,
- Roh Kudus menyalurkan hidup Kristus ke dalam manusia,
- sehingga manusia dipersatukan dengan Allah.
1 Yohanes 5:11–12
Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.
B. ALLAH MENGENALKAN PRIBADINYA SANGAT PENTING
Sang Firman (Anak) yang Menjadi Manusia
Ayat-ayat lengkap tentang inkarnasi dan pengutusan Anak
1. Firman yang menjadi manusia adalah Sang Anak
Yohanes 1:1–3
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Yohanes 1:14
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”
Ayat ini sangat penting:
Firman adalah Allah,Firman menjadi manusia,
Firman itu adalah Anak Tunggal Bapa.
2. Yang diutus adalah Anak
Yohanes 3:16–17
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
Galatia 4:4–5
“Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”
3. Anak datang dari Bapa
Yohanes 16:28
“Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”
Yohanes 8:42
“Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.’”
4. Anak sudah ada sebelum dunia dijadikan
Yohanes 17:5
“Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”
Yohanes 17:24
Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
5. Kepenuhan Allah ada dalam Kristus
Kolose 2:9
“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”
Artinya:
ketika Anak menjadi manusia,kepenuhan Allah hadir dalam Dia.
6. Anak adalah gambar Allah
Kolose 1:15–17
Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”
Ibrani 1:1–3
“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.”
7. Anak mengambil rupa manusia
Filipi 2:6–8
“Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Ayat ini menjelaskan:
Anak sudah dalam rupa Allah,lalu mengambil rupa manusia.
8. Roh Kudus bekerja dalam inkarnasi
Lukas 1:35
“Jawab malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.’”
Jadi:
Roh Kudus bekerja,tetapi yang lahir adalah Anak.
9. Anak menyatakan Bapa
Yohanes 1:18
“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
Yohanes 14:9–10
“Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.’”
10. Tujuan pengutusan Anak: memberi hidup
Yohanes 10:10
“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Yohanes 6:57
“Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, ia akan hidup oleh Aku.”
Ringkasan Alkitabiah
| Kebenaran | Ayat |
|---|---|
| Firman adalah Allah | Yohanes 1:1 |
| Firman menjadi manusia | Yohanes 1:14 |
| Anak diutus Bapa | Yohanes 3:17 |
| Anak datang dari Bapa | Yohanes 16:28 |
| Anak sudah ada sebelum dunia | Yohanes 17:5 |
Kepenuhan Allah ada dalam Kristus |
Kolose 2:9 |
| Anak mengambil rupa manusia | Filipi 2:6–8 |
Roh Kudus bekerja dalam inkarnasi |
Lukas 1:35 |
| Anak menyatakan Bapa | Yohanes 1:18 |
| Anak memberi hidup | Yohanes 10:10 |
Kesimpulan
Menurut iman Kristen:
• Allah tetap ESA,• Namun Pribadi Sang Firman / Anak mengambil natur manusia, supaya Allah dinyatakan kepada manusia, dan manusia menerima hidup Allah melalui Kristus.
C. BAPA & ANAK ADALAH NAMA RELASIONAL YANG KEKAL
Dalam teologi Trinitas klasik, pernyataan itu pada dasarnya benar, meskipun perlu dirumuskan dengan hati-hati.
Nama "Bapa" dan "Anak" bukan sekadar gelar, tetapi mengungkapkan relasi kekal di dalam kehidupan Allah sendiri.
Bapa dan Anak adalah nama relasional
Dalam Alkitab:
- Bapa adalah Bapa karena memiliki Anak.
- Anak adalah Anak karena berasal dari Bapa.
Jika tidak ada Anak, maka tidak ada Bapa. Jika tidak ada Bapa, maka tidak ada Anak.
Jadi nama-nama ini mengungkapkan relasi pribadi yang kekal, bukan peran sementara dalam sejarah.
Yesus berdoa:
"Ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada." (Yoh 17:5)
Sebelum dunia diciptakan sudah ada:
- Bapa
- Anak
- Kemuliaan bersama
Relasi kasih sudah ada sebelum penciptaan
Yesus berkata:
"Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan." (Yoh 17:24)
Ini sangat penting.
Sebelum:
- malaikat ada,
- manusia ada,
- alam semesta ada,
Bapa sudah mengasihi Anak.
Artinya kasih bukan sesuatu yang baru muncul setelah Allah mencipta.
Kasih adalah kehidupan Allah sendiri.
Peran Roh Kudus dalam persekutuan kasih
Alkitab juga menunjukkan Roh Kudus terlibat dalam relasi Bapa dan Anak.
Misalnya:
"Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus." (Rm 5:5)
Karena Roh Kudus adalah Roh Allah dan Roh Kristus, tradisi Kristen sering melihat Roh Kudus sebagai Pribadi yang menghadirkan dan mengkomunikasikan kasih ilahi.
Dalam tradisi Barat (misalnya Agustinus dari Hippo), Roh Kudus sering dijelaskan sebagai "ikatan kasih" antara Bapa dan Anak.
Tradisi Timur biasanya lebih berhati-hati dengan ungkapan itu, tetapi tetap mengakui bahwa Roh Kudus mengambil bagian dalam persekutuan kasih kekal Bapa dan Anak.
Hubungan dengan tujuan penciptaan
Kalau Allah sejak kekal adalah:
- Bapa yang mengasihi Anak,
- Anak yang mengasihi Bapa,
- dalam persekutuan Roh Kudus,
maka penciptaan bukan karena Allah kesepian atau membutuhkan sesuatu.
Sebaliknya:
Allah menciptakan karena kelimpahan kasih-Nya.
Melalui Kristus dan dalam Roh Kudus, manusia diundang masuk ke dalam persekutuan yang sudah ada sejak kekal.
Itulah sebabnya Yesus berdoa:
"Supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka." (Yoh 17:26)
Rumusan teologis yang cukup tepat
Kamu bisa merumuskannya seperti ini:
Nama "Bapa" dan "Anak" menyatakan relasi pribadi yang kekal di dalam Allah. Relasi itu adalah persekutuan kasih yang sudah ada sebelum dunia dijadikan, dan Roh Kudus mengambil bagian dalam serta menghadirkan persekutuan kasih intra-Trinitas tersebut kepada ciptaan.
Karena itu, ketika Yesus menyebut Allah sebagai Bapa, Ia tidak sedang memperkenalkan gelar baru, melainkan membuka kepada manusia kehidupan kasih yang telah berlangsung dalam Allah sejak kekekalan.
D. BAPA & ANAK ADALAH NAMA RELASIONAL ONTOLOGIS
Dalam teologi Trinitas sering dibedakan antara:
-
Relasi ontologis (imanen/intra-Trinitas)
→ siapa Allah dalam diri-Nya sendiri sejak kekekalan. -
Relasi ekonomis (ekonomi keselamatan)
→ bagaimana Allah menyatakan diri dan berkarya dalam sejarah keselamatan.
Prinsip pentingnya:
Relasi ekonomis menyatakan relasi ontologis.
Bapa mengutus Anak dalam sejarah karena Anak memang berasal dari Bapa dalam relasi kekal. Bukan sebaliknya.
I. RELASI ONTOLOGIS (KEKAL)
1. Anak berada bersama Bapa sebelum dunia ada
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1)Firman (Anak) sudah berada dalam relasi dengan Allah (Bapa) sebelum penciptaan.
2. Anak memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia ada
"Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."
(Yohanes 17:5)
Sebelum dunia ada sudah terdapat:
- Bapa
- Anak
- Kemuliaan bersama
Ini relasi ontologis, bukan sejarah.
3. Bapa mengasihi Anak sejak kekekalan
"Ya Bapa, Aku mau supaya di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan."
(Yohanes 17:24)
Kasih Bapa kepada Anak mendahului penciptaan.
Jadi relasi Bapa–Anak pada dasarnya adalah relasi kasih kekal.
4. Anak adalah gambar sempurna Bapa
"Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan."
(Kolose 1:15)
Anak adalah penyataan sempurna Bapa.
II. RELASI EKONOMIS (DALAM SEJARAH KESELAMATAN)
Relasi ontologis kemudian dinyatakan dalam karya keselamatan.
1. Bapa mengutus Anak ke dunia
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal..."
(Yohanes 3:16)
"Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku."
(Yohanes 6:38)
Yang mengutus adalah Bapa. Yang diutus adalah Anak.
Pengutusan dalam sejarah mencerminkan relasi kekal.
2. Anak menyatakan Bapa
"Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya."
(Yohanes 1:18)
Anak membawa kepada dunia apa yang secara kekal Ia lihat dan terima dari Bapa.
3. Anak taat kepada Bapa
"Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."
(Yohanes 4:34)
"Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya."
(Yohanes 8:29)
Ketaatan historis Yesus mencerminkan relasi kasih dan penerimaan kekal dari Bapa.
4. Bapa memuliakan Anak dan Anak memuliakan Bapa
"Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya."
(Yohanes 17:4)
"Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau."
(Yohanes 17:1)
Persekutuan kasih intra-Trinitas dinyatakan dalam sejarah keselamatan.
III. PUNCAK RELASI EKONOMIS: MEMBAWA MANUSIA MASUK KE DALAM RELASI ONTOLOGIS
Tujuan akhir karya Kristus bukan sekadar pengampunan dosa.
Yesus berdoa:
"Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau..."
(Yohanes 17:21)
Dan:
"Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."
(Yohanes 17:26)
Tujuan ekonomi keselamatan adalah agar manusia mengambil bagian dalam persekutuan kasih yang telah ada antara Bapa dan Anak.
Ringkasan
Relasi Ontologis (Siapa Allah sejak kekal)
- Bapa mengasihi Anak (Yoh 17:24)
- Anak bersama Bapa sebelum dunia ada (Yoh 1:1)
- Anak memiliki kemuliaan bersama Bapa (Yoh 17:5)
Relasi Ekonomis (Bagaimana Allah berkarya dalam sejarah)
- Bapa mengutus Anak (Yoh 3:16)
- Anak menaati Bapa (Yoh 6:38)
- Anak menyatakan Bapa (Yoh 1:18)
- Anak memuliakan Bapa dan Bapa memuliakan Anak (Yoh 17:1,4)
Sehingga dapat dirumuskan:
Relasi Bapa dan Anak dalam ekonomi keselamatan adalah manifestasi historis dari relasi ontologis yang telah ada sejak kekekalan dalam persekutuan kasih Allah Tritunggal.
E. ANAK ALLAH ADALAH NAMA KEKAL DLM RELASI TRINITAS
Dalam teologi Yohanes dan keseluruhan Perjanjian Baru, jawabannya dapat dijelaskan dalam dua sisi:
Pribadi-Nya sudah ada dari kekalSebutan “Anak” juga bukan sekadar gelar sementara, melainkan menunjuk relasi kekal dengan Bapa
Namun, Alkitab juga menunjukkan bahwa gelar “Anak Allah” menjadi dinyatakan secara penuh dalam inkarnasi dan kebangkitan.
1. Sang Anak sudah ada sebelum dunia dijadikan
Yohanes dengan sangat jelas mengajarkan bahwa Yesus Kristus sudah ada bersama Bapa sebelum penciptaan.
Yohanes 17:5
“Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”
Di sini Yesus berbicara tentang:
keberadaan-Nya sebelum dunia,kemuliaan-Nya bersama Bapa,
dan relasi pribadi dengan Bapa sejak kekekalan.
Yohanes 17:24
“Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”
Ayat ini sangat penting.
Sebelum dunia ada:
Bapa sudah mengasihi Anak.Berarti relasi Bapa–Anak bukan sesuatu yang baru muncul saat inkarnasi.
Kasih membutuhkan relasi pribadi. Jadi Yohanes melihat “Anak” sebagai relasi kekal.
2. Yohanes menyebut Dia “Anak Tunggal” yang ada di pangkuan Bapa
Yohanes 1:18
“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
Perhatikan:
tetapi “yang ada di pangkuan Bapa”.
Ini bahasa relasi yang terus-menerus dan intim.
“Pangkuan Bapa” menunjuk:
- kedekatan,
- persekutuan,
- kesatuan hidup,
- relasi kasih kekal.
Karena itu banyak teolog memahami bahwa “Anak” bukan hanya peran setelah lahir di Betlehem, melainkan identitas relasional kekal.
3. “Firman” dan “Anak” menunjuk Pribadi yang sama
Yohanes 1:1–2
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.”
Kemudian:
Yohanes 1:14
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”
Artinya:
yang dari kekal adalah Firman,tetapi Firman itu juga memiliki kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa.
Jadi Yohanes tidak memisahkan:
- Firman kekal dan
- Anak kekal.
Itu Pribadi yang sama.
4. Sang Anak adalah pelaku penciptaan
Kolose 1:15–17
Tentang Yesus Kristus:
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”
Paulus menggambarkan Anak sudah ada sebelum segala ciptaan.
5. Ibrani juga menyatakan Allah menciptakan dunia melalui Anak
Ibrani 1:1–3
“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”
Perhatikan:
Allah menjadikan alam semesta “oleh Anak”.Jadi Anak sudah ada sebelum penciptaan.
6. Tetapi ada sisi historis: Anak dinyatakan dalam inkarnasi
Alkitab juga berbicara bahwa Sang Firman “menjadi manusia”.
Lukas 1:35
“Jawab malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.’”
Di sini:
melalui kelahiran sebagai manusia.
Jadi ada dua dimensi:
- relasi Anak secara kekal,
- dan penyataan Anak dalam sejarah.
7. Mengapa Yohanes lebih suka istilah “Anak”?
Karena tujuan Yohanes bukan hanya menjelaskan metafisika Kristus, tetapi:
memperlihatkan relasi kasih kekal antara Bapa dan Anak, lalu mengundang manusia masuk ke dalam hidup itu.1 Yohanes 1:1–3
“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup, itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”
Tujuan akhirnya:
Karena itu, dalam pemikiran Yohanes:
• “Anak” bukan sekadar gelar jabatan,• melainkan relasi kekal yang menjadi sumber hidup dan keselamatan.
F. ALLAH MENGUTUS ANAKNYA BUKAN DISEBUT "FIRMANNYA"
Ya, itulah salah satu argumen utama mengapa banyak teolog Kristen memahami bahwa:
Sang Firman sudah adalah Anak sebelum inkarnasi,
bukan baru menjadi Anak setelah lahir di dunia.
Karena Alkitab berkali-kali berkata:
Bapa mengutus Anak-Nya.
Bukan:
• Allah mengutus Firman-Nya supaya menjadi Anak.
1. Ayat-ayatnya memang memakai “Anak”
Yohanes 3:16–17
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
Perhatikan urutannya:
Anak sudah disebut Anak,lalu Anak itu diutus.
Galatia 4:4
Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
Urutannya:
- Anak sudah ada,
- lalu diutus,
- lalu lahir dari perempuan.
Ini sangat penting.
2. Maka logika Anda memang dipakai dalam teologi klasik
Kalau:
sebelum inkarnasi hanya ada “Firman”,dan belum ada “Anak,”
maka secara bahasa:
Allah seharusnya “mengutus Firman-Nya,” bukan: “mengutus Anak-Nya.”Karena itu banyak teolog menyimpulkan:
Identitas Anak sudah ada sebelum pengutusan historis.
3. Yohanes jg menghubungkan Firman dan Anak
Yohanes 1:1
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Yohanes 1:14
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa…”
Artinya:
4. Kasih Bapa kepada Anak juga sudah ada sebelum dunia
Yohanes 17:24
Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
Ini menunjukkan:
• sebelum penciptaan,relasi Bapa-Anak sudah ada.
5. Maka mayoritas teologi Kristen berkata:
Firman kekal = Anak kekal
Bukan:
Firman dulu, lalu berubah menjadi Anak.Tetapi:
Sang Firman itu memang Sang Anak.
6. Namun istilah “Anak” menjadi nyata dalam inkarnasi
Walaupun relasi Anak sudah kekal, memang benar:
inkarnasi membuat relasi itu terlihat dalam sejarah.Karena:
- Anak lahir sebagai manusia,
- taat kepada Bapa,
- diutus,
- mati,
- bangkit.
Jadi:
relasi kekal dinyatakan secara historis.7. Ini juga menjaga identitas “Bapa”
Kalau tidak ada Anak kekal, maka:
dalam arti apa Allah adalah Bapa sebelum penciptaan?Karena “Bapa” adalah istilah relasional.
Maka gereja klasik berkata:
Allah adalah Bapa secara kekal karena Anak juga kekal.
8. Maka pola Yohanes menjadi sangat konsisten
Sebelum dunia
Firman bersama Allah,Anak dikasihi Bapa.
Dalam sejarah
Anak diutus,Firman menjadi manusia.
9. Jadi pemikiran Anda sejalan dengan logika Yohanes klasik
Bahwa:
kalau yang diutus disebut “Anak,”maka identitas Anak mendahului pengutusan historis.
Ringkasan
| Kalau Anak belum ada sebelum inkarnasi | Maka seharusnya |
|---|---|
| Yang kekal hanya Firman | Allah mengutus Firman |
| Tetapi Alkitab berkata | Allah mengutus Anak |
| Maka teologi klasik menyimpulkan | Anak sudah ada secara kekal |
1 Yohanes 4:9
“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.”
Ayat ini juga menunjukkan:
- Anak sudah adalah Anak,
- lalu diutus ke dunia,
- supaya manusia menerima hidup.
G. NAMA "ANAK ALLAH" BUKAN HANYA RELASI EKONOMIS
Kalau seseorang mengatakan:
“Anak” hanya relasi ekonomis
(yaitu hanya dalam sejarah inkarnasi dan keselamatan),
maka memang muncul pertanyaan yang sangat penting seperti yang Anda tanyakan:
Sebelum penciptaan, bagaimana relasi antara Bapa dan Sang Firman?Apakah Bapa sudah memanggil-Nya “Anak”?
Inilah salah satu alasan mengapa mayoritas teologi Kristen akhirnya memahami bahwa:
relasi Anak tidak hanya ekonomis,
tetapi juga memiliki dimensi kekal.
1. Karena sebelum dunia ada sudah ada relasi pribadi
Yohanes 17:5
“Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”
Ayat ini menunjukkan:
sudah ada “Aku” dan “Engkau,”
sudah ada relasi pribadi.
Yohanes 17:24
“Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”
Sebelum dunia:
- Bapa sudah mengasihi Sang Firman.
- Kasih adalah relasi pribadi.
2. Yohanes memakai istilah Anak bahkan sebelum inkarnasi selesai dibahas
Yohanes 1:14
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”
Yohanes menghubungkan:
dengan identitas Anak.
Yohanes 1:18
“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
Perhatikan:
tetapi “Anak Tunggal” yang ada di pangkuan Bapa.
Ini terdengar sebagai relasi yang sudah ada.
3. Kalau “Anak” hanya ekonomis, muncul kesulitan
Misalnya:
Sebelum inkarnasi:
apakah Allah belum Bapa?apakah belum ada relasi Anak?
apakah kasih Bapa-Anak belum ada?
Padahal Yohanes berkata:
Yohanes 17:24
“Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”
Maka banyak teolog menyimpulkan:
• relasi Bapa-Anak sudah kekal.
4. Tetapi memang ada teolog yang mencoba membedakan:
Mereka berkata:
Sang Firman kekal,tetapi istilah “Anak” baru dinyatakan penuh dalam inkarnasi.
Artinya:
relasi itu sudah ada,tetapi bahasa “Anak” menjadi nyata dalam sejarah.
Pandangan ini mencoba menjaga:
bahasa Alkitab,tanpa terlalu metafisik.
5. Namun mayoritas tradisi Kristen berkata:
Kalau Firman:
bersama Allah,dikasihi sebelum dunia,
memiliki kemuliaan kekal bersama Bapa,
maka:
• relasi Anak tidak mungkin hanya historis.
6. “Bapa” juga menjadi sulit dipahami kalau tidak ada Anak kekal
Karena:
istilah “Bapa” bersifat relasional.Kalau tidak ada Anak sebelum penciptaan, maka:
dalam arti apa Allah disebut Bapa secara kekal?Itulah sebabnya banyak teolog berkata:
Bapa selalu Bapa karena Anak selalu Anak.
7. Ini bukan berarti anak biologis
Sangat penting.
“Anak” di sini:
- bukan lahir biologis,
- bukan diciptakan,
- bukan muncul dalam waktu.
Tetapi:
relasi kekal kasih dan asal pribadi.
8. Yohanes tampaknya memang melihat relasi kekal
Yohanes 1:1
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
“Bersama-sama dengan Allah”
menunjukkan relasi pribadi.
Yohanes 17:24
“Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”
Kasih menunjukkan:
tetapi relasi personal.
9. Maka teologi klasik menyimpulkan
Sang Firman:
kekal,bersama Bapa,
dikasihi Bapa,
memiliki kemuliaan bersama Bapa.
Karena itu:
Sang Firman adalah Anak secara kekal,
bukan baru menjadi Anak saat inkarnasi.
Ringkasan
| Jika Anak hanya ekonomis | Timbul pertanyaan |
|---|---|
| Sebelum dunia belum ada Anak | Lalu mengapa Allah disebut Bapa? |
| Kasih sebelum dunia | Kasih kepada siapa? |
| Kemuliaan bersama sebelum dunia | Relasi dengan siapa? |
Karena itu mayoritas teologi Kristen memahami:
relasi Anak sudah kekal,lalu dinyatakan dalam sejarah melalui inkarnasi.
Yohanes 17:1
“Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: ‘Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.’”
Dalam Injil Yohanes:
relasi Bapa-Anak bukan sekadar fungsi sementara,tetapi bagian terdalam dari pewahyuan Allah sendiri.
H. ANAK ONTOLOGIS DAN ANAK EKONOMIS
Dalam teologi Kristen klasik, dibedakan:
| Istilah | Makna |
|---|---|
| Anak ontologis / imanen | Relasi Sang Anak dengan Bapa dalam kekekalan |
| Anak ekonomis | Sang Anak yang diutus dan bekerja dalam sejarah keselamatan |
Tetapi:
• bukan dua Anak, melainkan satu Pribadi yang sama.1. Anak Ontologis (kekal bersama Bapa)
Yohanes 1:1–3
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Ayat ini menunjukkan:
- Firman sudah ada sebelum dunia,
- bersama Allah,
- dan adalah Allah.
Ini dasar relasi kekal.
Yohanes 17:5
“Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”
Ayat ini menunjukkan:
Anak memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum penciptaan.Yohanes 17:24
“Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”
Ayat ini menunjukkan:
Yohanes 1:18
“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
“Yang ada di pangkuan Bapa” menunjukkan relasi yang terus-menerus dan intim.
2. Anak Ekonomis (diutus dalam sejarah)
Yohanes 3:16–17
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
Ayat ini berbicara tentang:
- pengutusan Anak ke dunia,
- karya keselamatan dalam sejarah.
Galatia 4:4–5
“Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”
Ini berbicara tentang:
- inkarnasi,
- kelahiran Yesus,
- misi penyelamatan.
Yohanes 16:28
“Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”
Ayat ini menunjukkan:
- Anak datang ke dunia,
- lalu kembali kepada Bapa.
Filipi 2:6–8
“Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Ayat ini menjelaskan:
- Anak sudah dalam rupa Allah,
- lalu mengambil natur manusia.
3. Ontologis dan ekonomis bertemu dalam inkarnasi
Yohanes 1:14
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”
Ayat ini menghubungkan:
4. Anak tetap satu dengan Bapa
Yohanes 10:30
“Aku dan Bapa adalah satu.”
Yohanes 14:9–10
“Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.’”
5. Anak diutus tetapi tetap memiliki kepenuhan Allah
Kolose 2:9
“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”
Artinya:
kepenuhan Allah tetap hadir dalam Dia.
Ringkasan
| Anak Ontologis | Anak Ekonomis |
|---|---|
Bersama Bapa sebelum dunia |
Diutus ke dunia |
| Firman kekal | Firman menjadi manusia |
| Memiliki kemuliaan kekal | Mengambil rupa hamba |
Dikasihi sebelum dunia ada |
Mati dan bangkit bagi manusia |
Kesimpulan
Menurut teologi Kristen klasik:
Sang Anak sudah ada secara kekal bersama Bapa, lalu Sang Anak itu diutus ke dunia,mengambil natur manusia, untuk menyatakan Allah dan membawa hidup kepada manusia.
Yohanes 20:31
“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”
I. "BAPA" DAN "ANAK" ADALAH BAHASA MANUSIA
“BAPA” DAN “ANAK” ADALAH BAHASA ANALOGIS
Alkitab memakai bahasa manusia untuk menyatakan realitas Allah yang melampaui pengertian manusia.
Karena manusia:
- terbatas,
- hidup dalam ruang-waktu,
- berpikir lewat relasi dan analogi.
Maka Allah menyatakan diri dengan istilah yang dapat dimengerti manusia:
- Bapa,
- Anak,
- Firman,
- Roh,
- Raja,
- Gembala,
- Terang,
- Jalan, dan sebagainya.
- Pokok anggur
- Roti dari surga
1. Allah melampaui bahasa manusia
Allah tidak memiliki:
tubuh biologis,proses reproduksi,
keluarga biologis seperti manusia.
Karena itu:
“Bapa” dan “Anak” bukan istilah biologis literal.
Yohanes 4:24
“Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
2. Maka “Bapa” dan “Anak” adalah bahasa analogis
Artinya:
bahasa manusia dipakai untuk menunjuk realitas ilahi, tetapi tidak identik secara harfiah.Misalnya:
“Bapa”
menunjukkan:
- sumber,
- relasi kasih,
- asal pribadi,
- otoritas,
- pemberi hidup.
“Anak”
menunjukkan:
- berasal dari Bapa,
- kesatuan natur,
- pewahyuan sempurna,
- relasi kasih.
3. Jadi apakah “nama” itu sudah ada sebelum manusia?
Di sini perlu dibedakan:
| Hal | Penjelasan |
|---|---|
| Realitas relasi | Ada kekal |
| Bahasa manusia “Bapa-Anak” | Dipakai dalam pewahyuan kepada manusia |
Jadi teologi klasik biasanya berkata:
relasi itu kekal
tetapi istilah manusiawinya adalah cara Allah menyatakannya kepada manusia.
4. Contohnya: Allah juga disebut “Raja”
Tetapi:
sebelum ada dunia,belum ada kerajaan manusia.
Namun Allah tetap disebut Raja karena:
manusia memakai istilah itu untuk memahami otoritas Allah.Demikian juga:
“Bapa” dan “Anak” adalah bahasa pewahyuan.5. Yohanes memakai bahasa relasional
Yohanes 17:24
“Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”
Sebelum manusia ada:
- kasih sudah ada,
- relasi sudah ada.
Lalu ketika manusia diciptakan, Allah memakai bahasa:
Bapa dan Anak
untuk menyatakan relasi itu.
6. Maka yang kekal bukan “bunyi kata”-nya
Ini penting.
Yang kekal bukan:
huruf B-A-P-A,atau kata “Anak.”
Tetapi:
realitas relasi ilahi yang dinyatakan melalui bahasa itu.
7. Dalam Alkitab sendiri ada perkembangan pewahyuan
Di Perjanjian Lama:
Allah jarang disebut Bapa secara pribadi terhadap Mesias.Tetapi dalam Perjanjian Baru:
Yesus sangat menekankan relasi Bapa-Anak.Artinya:
pewahyuan menjadi lebih terbuka.8. Maka ada dua pendekatan
Pendekatan klasik
Relasi Bapa-Anak memang kekal, sedangkan bahasa manusia dipakai untuk menyatakannya.
Pendekatan lebih ekonomis
“Bapa” dan “Anak” terutama bahasa pewahyuan dalam sejarah keselamatan.
Tetapi tetap mengakui:
Firman sudah bersama Allah sejak kekal.9. Yohanes tampaknya melihat relasi itu nyata sebelum manusia ada
Karena:
- sebelum dunia,
- sudah ada kasih,
- kemuliaan,
- persekutuan.
Yohanes 17:5
“Permuliakanlah Aku… dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”
Yohanes 17:24
“Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”
Maka Yohanes melihat:
lalu dinyatakan kepada manusia dengan bahasa Bapa-Anak.
10. Jadi inti jawabannya
Ya:
“Bapa” dan “Anak” adalah bahasa manusia.
Tetapi menurut teologi Kristen:
bahasa itu menunjuk realitas relasional yang sungguh ada dalam Allah,bukan sekadar metafora kosong.
Ringkasan
| Pertanyaan | Jawaban |
|---|---|
| Apakah Allah punya anak biologis? | Tidak |
| Apakah “Bapa-Anak” bahasa manusia? | Ya |
| Apakah relasinya sungguh ada? | Ya, menurut teologi klasik |
| Apakah nama literalnya sudah ada sebelum manusia? | Bahasa manusia belum ada |
| Apakah realitas relasinya sudah ada? | Ya |
Yohanes 1:18
“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
Ayat ini menunjukkan:
relasi ilahi itu nyata,
tetapi dinyatakan kepada manusia melalui bahasa yang bisa dipahami manusia.
J. MANUSIA BOLEH JADI ANAK ALLAH KARENA MENYATU DENGAN ANAK TUNGGAL
“BAPA” DAN “ANAK”
Ya, dalam teologi Perjanjian Baru, manusia disebut:
“anak-anak Allah”
bukan karena manusia memiliki natur ilahi yang sama secara asal seperti Kristus, melainkan karena:
dipersatukan dengan Kristus,menerima hidup dari Kristus,
dan mengambil bagian dalam relasi Anak dengan Bapa.
Dengan kata lain:
manusia menjadi anak Allah di dalam Sang Anak.
1. Yesus adalah Anak dalam arti unik
Alkitab membedakan:
Yesus sebagai Anak Tunggal,manusia sebagai anak-anak Allah karena anugerah/adopsi.
Yohanes 1:18
“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
Yohanes 3:16
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…”
Yesus:
Anak Tunggal,memiliki relasi unik dengan Bapa.
2. Manusia menjadi anak melalui Kristus
Yohanes 1:12–13
“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”
Perhatikan:
manusia “menjadi” anak-anak Allah,melalui menerima Kristus.
3. Karena dipersatukan dengan Anak
Roma 8:14–17
“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’ Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”
Artinya:
manusia masuk dalam relasi Kristus dengan Bapa.4. Dasarnya adalah partisipasi dalam Kristus
Galatia 3:26
“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”
Efesus 1:5
“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya…”
Jadi:
“oleh Yesus Kristus.”
5. Yesus adalah Anak “menurut natur,” manusia “menurut anugerah”
Ini pembedaan penting dalam teologi klasik.
| Yesus | Manusia percaya |
|---|---|
| Anak secara unik dan kekal | Anak karena anugerah |
| Anak Tunggal | Anak-anak angkat |
| Memiliki hidup dalam diri-Nya | Menerima hidup |
| Satu natur ilahi | Mengambil bagian |
6. Manusia menjadi serupa dengan Anak
Roma 8:29
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Yesus:
manusia dijadikan serupa dengan Dia.
7. Roh Kudus mempersatukan manusia dengan Kristus
Galatia 4:6
“Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”
Menarik:
Artinya:
Roh Kudus membawa manusia masuk ke relasi Anak dengan Bapa.8. Maka manusia disebut anak karena ikut dalam Anak
Ini inti pemikiran Yohanes dan Paulus.
1 Yohanes 3:1–2
“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”
9. Jadi manusia bukan anak secara independen
Bukan:
manusia otomatis anak Allah dalam arti yang sama dengan Kristus.Tetapi:
manusia menjadi anak di dalam Kristus.
10. Dalam bahasa teologi Timur:
Teosis / partisipasi
Manusia:
mengambil bagian dalam hidup ilahi,dipersatukan dengan Kristus,
menjadi anak-anak Allah oleh partisipasi.
Ringkasan
| Pertanyaan | Jawaban |
|---|---|
| Mengapa manusia disebut anak Allah? | Karena dipersatukan dengan Kristus |
| Apakah sama seperti Yesus? | Tidak |
| Yesus Anak bagaimana? | Anak Tunggal dan unik |
| Manusia anak bagaimana? | Anak karena anugerah/adopsi |
| Dasarnya apa? | Persatuan dengan Kristus |
| Roh Kudus berperan apa? | Membawa manusia masuk relasi Anak dengan Bapa |
Yohanes 20:17
“Kata Yesus kepadanya: ‘Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.’”
Ayat ini indah karena:
tetapi melalui Yesus, murid-murid juga masuk dalam relasi itu.
J. ALASAN SANG FIRMAN DISEBUT ANAK ALLAH
Ya, poin-poin yang Anda sebut memang sangat kuat secara alkitabiah untuk menjelaskan makna:
“Anak Allah”
terutama dalam Injil Yohanes dan surat-surat rasuli.
Artinya:
istilah “Anak” bukan dipahami secara biologis,melainkan menunjuk kepada:
- pewahyuan Allah,
- kesatuan natur,
- manifestasi kemuliaan,
- dan penyataan sempurna Allah.
Dan memang banyak ayat mendukung arah pemahaman itu.
1. Anak sebagai gambar Allah
Kolose 1:15
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”
Maknanya:
Allah yang tidak kelihatan dinyatakan melalui Kristus.2 Korintus 4:4
“Yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.”
Kristus adalah:
gambaran Allah.
2. Anak sebagai penyataan Allah
Yohanes 1:18
“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
Anak:
membuat Allah dikenal manusia.
Yohanes 14:9
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
Ini sangat kuat:
3. Anak sebagai cahaya/terang kemuliaan Allah
Ibrani 1:3
“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan…”
Ayat ini sangat dekat dengan yang Anda katakan:
cahaya kemuliaan Allah,
gambar wujud Allah.
4. Anak sebagai Firman Allah
Yohanes 1:1
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Firman:
kehendak,
dan hati Allah.
Yohanes 1:14
“Firman itu telah menjadi manusia…”
Jadi Kristus:
penyataan Allah dalam bentuk manusia.
5. Anak menyatakan karakter Allah
Kolose 2:9
“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”
Artinya:
sifat,
hidup,
dan kepenuhan Allah dinyatakan dalam Kristus.
6. Anak sebagai kemuliaan Allah yang terlihat
Yohanes 1:14
“Kita telah melihat kemuliaan-Nya…”
2 Korintus 4:6
“Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’ Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”
Kemuliaan Allah terlihat dalam Kristus.
7. Jadi makna “Anak” memang sangat berkaitan dengan pewahyuan
Dalam Alkitab:
“anak” sering berarti:memiliki natur,mencerminkan karakter,
membawa sifat asalnya.
Misalnya:
“anak-anak terang,”“anak-anak Kerajaan,”
“anak-anak Iblis.”
Bukan biologis, tetapi:
menunjukkan keserupaan natur/karakter.
8. Maka “Anak Allah” berarti:
Kristus adalah:
gambar sempurna Allah,penyataan sempurna Allah,
kemuliaan Allah yang terlihat,
Firman Allah,
karakter Allah yang dinyatakan,
hidup Allah yang dinyatakan dalam manusia.
9. Tetapi teologi klasik tetap menambahkan:
relasi kekal dengan Bapa
Karena ayat-ayat Yohanes juga berbicara tentang:
kasih sebelum dunia,kemuliaan sebelum dunia,
hidup dari Bapa.
Jadi teologi klasik biasanya menggabungkan:
| Makna Anak | Penjelasan |
|---|---|
| Pewahyuan Allah | Ya |
| Gambar Allah. | Ya |
| Cahaya kemuliaan | Ya |
| Penyataan karakter Allah | Ya |
| Relasi kekal dengan Bapa | Juga ya |
10. Pemikiran Anda sangat dekat dengan bahasa Ibrani
Dalam pemikiran Ibrani: “anak” sering berarti:
yang memiliki sifat dan karakter yang sama.
Maka:
Anak Allah = penyataan sempurna Allah.Ringkasan Ayat
| Makna | Ayat |
|---|---|
| Gambar Allah | Kol 1:15 |
| Penyataan Allah (teofani & inkarnasi) | Yoh 1:18 |
| Melihat Anak = melihat Bapa | Yoh 14:9 |
| Cahaya kemuliaan Allah | Ibrani 1:3 |
| Firman Allah | Yoh 1:1 |
| Kepenuhan Allah | Kol 2:9 |
| Manifestasi sempurna Allah Kemuliaan Allah terlihat |
2 Kor 4:6 |
Ibrani 1:1–3
“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan…”
K. ALASAN SANG FIRMAN DISEBUT ANAK ALLAH
Ya, poin-poin yang
Ya, pemikiran itu memiliki dasar yang kuat dalam teologi Kristen, terutama jika dipahami bahwa manusia sejak awal memang dicipta dengan orientasi kepada Yesus Kristus sebagai gambar Allah yang sempurna.
1. Firman adalah gambar Allah yang sempurna
Alkitab menyatakan bahwa Kristus adalah gambar Allah.
Kolose 1:15
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”
Ibrani 1:3
Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
Berarti:
Sang Firman adalah ekspresi sempurna Allah.Segala sesuatu dicipta melalui Dia dan menuju kepada Dia.
2. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah
Kejadian 1:26
“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.”
Dalam terang Perjanjian Baru, banyak teolog memahami bahwa:
“gambar Allah” itu mencapai kepenuhannya dalam Kristus.Maka manusia pada dasarnya dicipta dengan pola yang mengarah kepada Kristus.
Jadi bisa dipahami:
Kristus = pola sempurna manusia sejati.Adam = bayangan awal.
Yesus = penggenapan tujuan penciptaan manusia.
3. Karena itu Firman bisa mengambil natur manusia
Inkarnasi bukan sesuatu yang asing bagi rancangan Allah, sebab natur manusia memang sejak awal dibentuk menurut pola Sang Firman.
Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Bukan berarti Firman berubah menjadi makhluk ciptaan, tetapi:
Sang Firman mengambil natur manusia sejati.Natur itu cocok dengan-Nya karena manusia memang dicipta menurut pola ilahi yang terpenuhi dalam Kristus.
Secara teologis dapat dipahami:
manusia dicipta “menurut Kristus,” sehingga Kristus dapat mengenakan kemanusiaan tanpa kehilangan keilahian-Nya.
4. Adam pertama dan Kristus
Adam disebut “tipe” atau gambaran dari Kristus.
Roma 5:14
Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.
Artinya:
Kristus adalah pola utama.
Adam hanyalah bayangan awal dari manusia sempurna yang akan dinyatakan dalam Kristus.
Karena itu:
tujuan penciptaan manusia baru terlihat penuh dalam Yesus.Yesus menunjukkan seperti apa manusia menurut kehendak Allah yang sempurna.
5. Maka inkarnasi juga menyatakan tujuan manusia
Ketika Firman menjadi manusia:
Allah bukan hanya menyelamatkan manusia,tetapi juga menyatakan bentuk manusia sejati menurut kehendak Allah.
Roma 8:29
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
Jadi garis besarnya:
Sang Firman adalah gambar Allah sempurna.
Manusia dicipta menurut gambar Allah.
Karena itu manusia memiliki pola yang selaras dengan Sang Firman.
Maka Firman dapat mengambil natur manusia.
Dan melalui Kristus manusia dipulihkan menjadi serupa dengan gambar Anak.
L. ALASAN MANUSIA DICIPTA MENURUT POLA YESUS KRISTUS (GAMBAR ALLAH)
Dalam teologi Kristen, gagasan itu memang dipahami sebagai bagian dari rencana kekal Allah: bahwa manusia dicipta dengan orientasi kepada Yesus Kristus, sehingga inkarnasi bukan “rencana darurat,” melainkan sudah ada dalam maksud Allah sejak semula.
Namun perlu dijaga keseimbangannya:
- manusia tidak dicipta hanya supaya Firman bisa berinkarnasi,
- tetapi manusia dicipta untuk kemuliaan dan persekutuan dengan Allah,
- dan dalam rencana kekal itu, Kristus menjadi pusatnya.
1. Kristus sudah menjadi pusat sejak kekekalan
Efesus 1:4-5
Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.
Kolose 1:16
karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Ayat-ayat ini menunjukkan:
- penciptaan berpusat pada Kristus,
- tujuan akhir manusia adalah keserupaan dengan Kristus,
- dan karya Kristus bukan sekadar reaksi atas dosa.
2. Manusia dicipta menurut pola Kristus
Karena Kristus adalah gambar Allah sempurna:
Kolose 1:15-16
Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
maka banyak teolog memahami bahwa:
- manusia dicipta menurut “pola” yang nanti dinyatakan sempurna dalam Kristus.
- Adam hanyalah bayangan awal manusia sejati.
Karena itu inkarnasi bukan sesuatu yang asing terhadap natur manusia.
3. Inkarnasi adalah penggenapan rancangan kekal
Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Sang Firman mengambil natur manusia:
- bukan karena manusia ilahi,
- tetapi karena natur manusia sejak awal memang dirancang untuk dapat dipersatukan dengan Allah di dalam Kristus.
Dalam pengertian ini:
kemanusiaan sejak awal memiliki kapasitas untuk menjadi alat penyataan Allah.
4. Tujuan akhirnya: manusia menjadi serupa dengan Anak
Roma 8:29
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
Jadi alurnya:
- Kristus adalah gambar Allah kekal.
- Manusia dicipta menurut gambar itu.
- Firman masuk ke dalam kemanusiaan melalui inkarnasi.
- Melalui Kristus, manusia dipulihkan dan dimuliakan.
- Akhirnya manusia mengambil bagian dalam hidup Allah.
5. Tetapi tetap ada perbedaan antara Kristus dan manusia
Walaupun manusia dicipta menurut pola Sang Firman:
- Kristus tetap Anak Tunggal yang kekal.
- Manusia tidak menjadi Allah dalam esensi.
Manusia:
- menerima hidup Allah,
- mengambil bagian dalam kodrat ilahi,
- dan menjadi anak karena anugerah serta persatuan dengan Kristus.
2 Petrus 1:4
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
M. RELASI ONTOLOGIS DAN EKONOMIS TRINITAS
Bisa dirumuskan seperti ini:
Relasi ontologis (imanen) adalah kehidupan kasih, kemuliaan, dan persekutuan yang kekal di dalam Allah sendiri.Relasi ekonomis adalah bagaimana Allah membuka, menyatakan, dan mengikutsertakan ciptaan ke dalam kehidupan kasih itu.
Dengan kata lain:
Trinitas ekonomis adalah perluasan (bukan penambahan) persekutuan kasih ilahi kepada ciptaan.
Dasar Alkitabnya
Yohanes 17:20–23
"Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku."
Perhatikan urutannya:
- Bapa di dalam Anak.
- Anak di dalam Bapa.
- Orang percaya masuk "di dalam Kita".
- Kasih yang ada antara Bapa dan Anak dibagikan kepada manusia.
Ini hampir merupakan definisi alkitabiah dari partisipasi dalam persekutuan Trinitas.
Yohanes 17:24
"Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan."
Sebelum dunia:
- sudah ada kasih,
- sudah ada kemuliaan,
- sudah ada persekutuan.
Keselamatan bukan menciptakan kasih itu.
Keselamatan:
• memasukkan manusia ke dalam kasih itu.
Efesus 1:4–5
"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya."
Tujuannya:
menjadi anak-anak Allah, ikut dalam relasi yang dimiliki Anak dengan Bapa.Galatia 4:6
Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'
"Roh ciptaan"
tetapi:
Artinya manusia ikut masuk ke dalam relasi Anak dengan Bapa.
Dalam bahasa yang Anda gunakan
Relasi ontologis:
- Bapa mengasihi Anak.
- Anak mengasihi Bapa.
- Roh Kudus adalah persekutuan dan kehidupan ilahi.
- Kemuliaan dibagikan dalam kehidupan Allah sendiri.
Relasi ekonomis:
- Anak diutus.
- Firman menjadi manusia.
- Salib dan kebangkitan terjadi.
- Roh Kudus dicurahkan.
Mengapa?
Supaya:
Yohanes 17:21
"agar mereka juga di dalam Kita"
2 Petrus 1:4
"Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia."
Ayat ini tidak berarti manusia menjadi Allah dalam esensi.
Tetapi:
manusia mengambil bagian dalam kehidupan Allah.
Rumusan yang sangat dekat dengan pemikiran Anda
Relasi Ontologis (Imanen)
→ Perjamuan kasih, kemuliaan, hidup, dan persekutuan yang kekal antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Relasi Ekonomis (Historis)
→ Cara Allah menyatakan, membuka, dan membagikan perjamuan kasih Trinitas itu kepada ciptaan melalui inkarnasi Anak dan pencurahan Roh Kudus.
Atau lebih singkat:
Trinitas ontologis adalah kehidupan kasih Allah dalam diri-Nya sendiri.Trinitas ekonomis adalah Allah mengundang manusia masuk ke dalam kehidupan kasih itu.
Ini sangat dekat dengan doa Yesus:
Yohanes 17:26
"Dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."
Tujuan akhir ekonomi keselamatan bukan sekadar pengampunan dosa, melainkan:
