SEKSUALITAS

 



A. TUJUAN SEKS DIADAKAN

Mesias



Mesias



berdampingan

Pertanyaan ini penting karena sering kali orang hanya melihat satu tujuan seks (reproduksi), padahal Alkitab menunjukkan bahwa seks memiliki beberapa tujuan yang saling melengkapi.

1. Tujuan Prokreasi (Beranak Cucu)

Tujuan yang paling jelas adalah menghasilkan keturunan.

Kejadian 1:27-28
"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: 'Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu...'"

Perhatikan:

  • Perintah ini diberikan sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa.
  • Jadi reproduksi bukan akibat dosa.
  • Seks adalah sarana yang Allah tetapkan untuk meneruskan kehidupan manusia.

Namun reproduksi bukan satu-satunya tujuan seks.


2. Tujuan Persatuan ("Satu Daging")

Seks diciptakan untuk mempersatukan suami dan istri secara unik.

Kejadian 2:24
"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."

"Satu daging" lebih dari sekadar hubungan fisik.

Ini mencakup:

  • kesatuan tubuh,
  • kesatuan emosi,
  • kesatuan hidup,
  • kesatuan dalam perjanjian pernikahan.

Karena itu seks dalam Alkitab bukan sekadar aktivitas biologis, melainkan ekspresi kesatuan yang telah dibangun dalam pernikahan.


3. Tujuan Kasih dan Keintiman

Allah menciptakan seks sebagai bahasa kasih dalam pernikahan.

Amsal 5:18-19
"Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan istri masa mudamu:

rusa yang manis, kijang yang elok. Biarlah buah dadanya memuaskan engkau setiap waktu, mabuklah selalu dalam cintanya."

Ayat ini menunjukkan bahwa:

  • Allah tidak menentang kenikmatan seksual dalam pernikahan.
  • Kenikmatan itu merupakan bagian dari karunia-Nya.

4. Tujuan Pemeliharaan dan Penghiburan Pasangan

Rasul Paulus mengajarkan bahwa suami dan istri saling memperhatikan kebutuhan satu sama lain.

1 Korintus 7:3-5
"Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya.

Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya; demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya.

Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu..."

Paulus melihat hubungan seksual sebagai bagian normal dan sehat dari kehidupan pernikahan.


5. Tujuan Perjanjian (Covenant)

Dalam Alkitab, seks tidak pernah dipisahkan dari komitmen.

Karena itu hubungan seksual bukan hanya:

  • tindakan biologis,
  • atau pengalaman emosional,

tetapi terkait dengan ikatan perjanjian antara suami dan istri.

Itulah sebabnya Alkitab memandang perzinaan dan percabulan begitu serius.


6. Tujuan Mencerminkan Relasi Kristus dan Gereja

Ini adalah tujuan yang paling dalam secara teologis.

Efesus 5:31-32
"'Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging.'

Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat."

Paulus mengajarkan bahwa pernikahan dan kesatuan suami-istri merupakan gambaran dari hubungan antara:

  • Yesus Kristus dan Gereja.

Artinya seks bukan tujuan akhir. Ia menunjuk kepada realitas rohani yang lebih besar.


Apa yang Bukan Tujuan Utama Seks?

Alkitab tidak menggambarkan seks sebagai:

1. Sekadar pelepasan biologis

Seks lebih dari sekadar membuang sperma atau memuaskan hormon.

Jika itu tujuannya, maka kesetiaan, kasih, dan pernikahan menjadi tidak penting.


2. Sekadar mencari kenikmatan

Kenikmatan adalah bagian dari rancangan Allah.

Tetapi kenikmatan bukan tujuan tertinggi.

Jika kenikmatan dijadikan tujuan tertinggi, orang mudah jatuh ke:

  • pornografi,
  • perselingkuhan,
  • eksploitasi seksual.

3. Sekadar alat memperoleh anak

Kalau tujuan seks hanya anak, maka pasangan yang mandul atau lanjut usia tidak lagi memiliki alasan untuk berhubungan suami-istri.

Namun Alkitab tetap mengakui nilai hubungan seksual dalam pernikahan bahkan ketika keturunan tidak mungkin diperoleh.


Ringkasan

Menurut Alkitab, Allah menciptakan seks untuk:

  1. Prokreasi — menghasilkan keturunan (Kejadian 1:28).
  2. Persatuan — menjadikan suami dan istri "satu daging" (Kejadian 2:24).
  3. Kasih dan keintiman — mempererat hubungan suami-istri (Amsal 5:18-19).
  4. Pemeliharaan pasangan — saling memberi diri dalam kasih (1 Korintus 7:3-5).
  5. Perjanjian — mengekspresikan komitmen pernikahan.
  6. Simbol rohani — mencerminkan hubungan Kristus dan Gereja (Efesus 5:31-32).

Jadi, kenikmatan seksual memang bagian dari rancangan Allah, tetapi tujuan seks dalam Alkitab jauh lebih besar daripada sekadar reproduksi atau kesenangan. Seks adalah karunia yang menyatukan, mengasihi, memelihara, dan pada akhirnya menunjuk kepada kasih perjanjian Allah sendiri.


Secara biologis, tubuh pria memiliki beberapa cara alami untuk menangani sperma yang sudah diproduksi, sehingga tidak ada keharusan medis untuk mengeluarkannya melalui hubungan seksual atau onani.

1. Reabsorpsi oleh tubuh

Sebagian besar sperma yang tidak digunakan akan:

  • menua,
  • mati,
  • dipecah kembali oleh tubuh,

lalu komponennya diserap dan didaur ulang. Ini proses normal yang terjadi terus-menerus.

Tubuh manusia selalu mendaur ulang sel-sel yang sudah tua, termasuk sperma.

2. Mimpi basah (emisi nokturnal)

Pada sebagian pria, terutama jika lama tidak mengalami ejakulasi, dapat terjadi:

  • mimpi erotis atau tidak erotis,
  • keluarnya air mani saat tidur.

Ini adalah mekanisme alami tubuh dan terjadi tanpa tindakan sadar.

3. Tidak semua pria mengalami mimpi basah secara rutin

Ada pria yang:

  • sering mengalami mimpi basah,
  • jarang mengalaminya,
  • hampir tidak pernah mengalaminya.

Semuanya masih bisa berada dalam rentang normal.

Dari sudut pandang Kristen

Karena tubuh memiliki mekanisme alami tersebut, banyak teolog Kristen berpendapat bahwa seseorang tidak "harus" melakukan aktivitas seksual hanya untuk membuang sperma.

Itulah sebabnya dalam sejarah gereja ada orang-orang yang hidup selibat selama puluhan tahun. Mereka tetap memiliki sistem reproduksi yang berfungsi, tetapi tubuh mengelola produksi sperma secara alami melalui reabsorpsi dan kadang-kadang emisi nokturnal.

Jadi secara medis:

  • sperma yang matang tidak akan terus menumpuk tanpa batas,
  • tidak berbahaya jika tidak dikeluarkan melalui hubungan seksual,
  • tubuh memiliki mekanisme alami untuk mengatasinya.

Karena itu, tidak ada kebutuhan biologis yang mengharuskan seseorang melakukan hubungan seksual atau onani hanya agar sperma keluar dari tubuh.


Apakah mimpi basah itu dosa?

Secara umum, mimpi basah (emisi nokturnal) bukan dosa. Mimpi basah adalah proses biologis yang dapat terjadi tanpa kehendak sadar seseorang, terutama pada pria.

Dalam Alkitab, ada pembahasan mengenai keluarnya air mani dalam hukum Taurat:

Imamat 15:16
"Apabila seorang laki-laki mengeluarkan lelehan mani, maka ia harus membasuh seluruh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam."

Dalam konteks Taurat, "najis" di sini adalah najis ritual, bukan berarti orang itu telah melakukan dosa moral. Banyak hal lain juga menyebabkan kenajisan ritual tanpa menjadi dosa, misalnya menyentuh mayat atau kondisi tubuh tertentu.

Karena itu, jika mimpi basah terjadi tanpa sengaja dan tanpa tindakan sadar untuk memelihara fantasi seksual, mayoritas tradisi Kristen tidak menganggapnya sebagai dosa.

Bagaimana dengan imam atau romo yang tidak menikah?

Dalam tradisi Gereja Katolik, banyak imam (romo) menjalani hidup selibat, yaitu tidak menikah demi pengabdian khusus kepada Tuhan dan pelayanan gereja.

Yesus Kristus dan Rasul Paulus juga hidup tidak menikah menurut pemahaman tradisional Kristen.

Mengenai kebutuhan biologis, ada beberapa hal yang perlu dipahami:

  1. Dorongan seksual tidak hilang otomatis.

    Menjadi imam tidak berarti tubuh berhenti memiliki hormon atau ketertarikan seksual.

  2. Pengendalian diri dipandang sebagai bagian dari panggilan.

    Mereka berusaha mengarahkan energi, perhatian, dan kasih kepada pelayanan, doa, komunitas, pekerjaan pastoral, dan kehidupan rohani.

  3. Tubuh tetap bekerja secara alami.

    Mimpi basah dapat terjadi pada pria yang hidup selibat maupun yang menikah. Itu adalah fungsi biologis normal tubuh dan bukan pelanggaran kaul selibat.

  4. Ada pergumulan nyata.

    Gereja tidak mengajarkan bahwa hidup selibat itu mudah. Justru karena itu diperlukan disiplin rohani, komunitas, doa, dan pembinaan yang berkelanjutan.

Apakah setiap orang dipanggil hidup selibat?

Tidak.

Paulus mengajarkan bahwa sebagian orang memiliki karunia untuk hidup tidak menikah, sementara banyak orang dipanggil untuk menikah.

1 Korintus 7:7
"Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu."

Jadi dalam pandangan Kristen, seksualitas itu sendiri bukan dosa. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana seksualitas itu dijalani. Mimpi basah sebagai proses biologis yang tidak disengaja umumnya tidak dipandang sebagai dosa, sedangkan hidup selibat adalah panggilan khusus yang dijalani melalui pengendalian diri dan anugerah Tuhan, bukan karena kebutuhan biologis seseorang lenyap.


Jawabannya bergantung pada alasan, cara, dan konteks yang dimaksud dengan "kebiri".

Jika yang dimaksud adalah mengebiri diri sendiri untuk alasan rohani

Mayoritas tradisi Kristen menganggap mengebiri diri sendiri bukan kehendak Allah.

Yesus berkata:

Matius 19:12
"Ada orang yang tidak dapat kawin karena memang ia lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

Sebagian orang pada masa awal gereja menafsirkan ayat ini secara harfiah, tetapi gereja kemudian secara luas memahami bahwa Yesus sedang berbicara tentang hidup selibat, bukan mutilasi fisik.

Tubuh dipandang sebagai karunia Allah:

1 Korintus 6:19
"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu..."

Karena itu, memotong atau merusak organ tubuh demi mengatasi godaan seksual umumnya tidak dianggap sebagai solusi yang Alkitabiah.

Jika kebiri dilakukan karena alasan medis

Misalnya:

  • kanker testis,
  • kanker prostat tertentu,
  • cedera berat,
  • kondisi medis lain yang memerlukan tindakan tersebut,

maka biasanya tidak dianggap dosa. Tujuannya bukan merusak tubuh, melainkan mengobati penyakit.

Apakah kebiri menghilangkan dosa?

Tidak.

Alkitab mengajarkan bahwa akar dosa berada di hati manusia.

Yesus berkata:

Markus 7:21-23
"Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat..."

Karena itu, seseorang bisa kehilangan kemampuan reproduksi tetapi masih:

  • sombong,
  • marah,
  • iri hati,
  • penuh hawa nafsu dalam pikiran.

Menghilangkan fungsi biologis tidak otomatis mengubah hati.

Dalam konteks pergumulan seksual

Jika seseorang berpikir:

"Kalau saya dikebiri, saya akan suci."

Kekristenan umumnya menjawab:

"Yang perlu diubah terutama adalah hati dan budi, bukan hanya organ tubuh."

Itulah sebabnya Roma 12:2 berbicara tentang pembaruan budi, dan Mazmur 51 tentang hati yang tahir. Solusi utama yang diajarkan Alkitab terhadap dosa adalah karya anugerah Allah yang mengubah manusia dari dalam, bukan sekadar perubahan fisik pada tubuh.

Jadi, secara umum:

  • Kebiri karena alasan medis tidak dipandang sebagai dosa.
  • Kebiri diri sendiri demi mengatasi dosa atau demi alasan rohani umumnya tidak dipandang sebagai jalan yang diajarkan Alkitab.
  • Kebiri tidak menyelesaikan akar dosa, karena akar dosa berada di hati manusia, bukan hanya pada organ reproduksi.




B. POLIGAMI BUKAN BAGIAN DARI RANCANGAN TUJUAN PENCIPTAAN




Jika pertanyaannya adalah:

"Apakah poligami sesuai dengan tujuan penciptaan Allah atau merupakan penyimpangan dari tujuan penciptaan?"

Maka berdasarkan keseluruhan kesaksian Alkitab, jawabannya adalah:

Poligami bukan bagian dari rancangan penciptaan Allah yang semula.

Poligami muncul dalam sejarah manusia setelah kejatuhan ke dalam dosa dan merupakan penyimpangan dari pola penciptaan, meskipun Allah tetap bekerja dan menunjukkan anugerah-Nya kepada orang-orang yang hidup dalam praktik tersebut.

Mari kita lihat dasar Alkitabnya.


1. Rancangan Penciptaan: Satu Laki-laki dan Satu Perempuan

Kejadian 2:18

"TUHAN Allah berfirman: 'Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.'"

Allah tidak menciptakan beberapa perempuan untuk Adam.

Kemudian Allah menciptakan satu perempuan.

Kejadian 2:21-22

"Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk daripadanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu."

Bukan dua perempuan. Bukan sepuluh perempuan.

Satu laki-laki dan satu perempuan.

Kejadian 2:24

"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."

Perhatikan kata:

  • seorang laki-laki
  • istrinya
  • keduanya menjadi satu daging

Bukan:

  • seorang laki-laki dan banyak istri menjadi satu daging.

Inilah pola penciptaan yang diberikan sebelum dosa masuk ke dunia.


2. Poligami Pertama Muncul dalam Garis Keturunan yang Memberontak

Tokoh pertama yang tercatat berpoligami bukan Abraham.

Melainkan:

Lamekh

Lamekh

Kejadian 4:19

"Lamekh mengambil isteri dua orang; yang satu namanya Ada, yang lain Zila."

Perhatikan bahwa poligami pertama muncul bukan dalam konteks penciptaan yang sempurna, tetapi dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa, dan dilakukan oleh keturunan Kain yang sedang digambarkan semakin jauh dari Allah.


3. Setiap Kisah Poligami Menunjukkan Kerusakan

Abraham, Sara, dan Hagar

Kejadian 16:4-5

"Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Setelah Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka memandang rendah ia akan nyonyanya itu.

Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: 'Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu...'"

Hasilnya:

  • kecemburuan,
  • konflik,
  • perpecahan.

Yakub, Lea, dan Rahel

Kejadian 29:30-31

"Yakub menghampiri Rahel juga, dan ia lebih mencintai Rahel dari pada Lea.

Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak disayangi, dibuka-Nyalah kandungannya..."

Hasilnya:

  • persaingan,
  • iri hati,
  • luka batin.

Salomo

1 Raja-raja 11:3-4

"Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menyesatkan hatinya.

Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain."

Hasilnya:

  • kemurtadan.

4. Tuhan Sudah Memberi Peringatan Sebelum Itu

Ulangan 17:17

Tentang raja Israel:

"Janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; juga janganlah ia mengumpulkan terlalu banyak perak dan emas."

Allah sudah memperingatkan bahwa banyak istri akan membawa bahaya rohani.


5. Yesus Mengembalikan ke Rancangan Awal

Ketika ditanya soal perceraian, Yesus tidak menunjuk kepada Abraham, Yakub, Daud, atau Salomo.

Ia kembali ke penciptaan.

Matius 19:4-6

"Jawab Yesus:

'Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?

Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.'"

Perhatikan:

  • laki-laki dan perempuan
  • keduanya
  • satu daging

Yesus mengembalikan pernikahan kepada pola Kejadian.


6. Standar Kepemimpinan Gereja

1 Timotius 3:2

Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,

Titus 1:5-6

Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu, yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.

Gereja mula-mula memahami pola monogami sebagai standar kehidupan Kristen.


Kesimpulan Teologis

Jika pertanyaannya:

"Apakah poligami sesuai tujuan penciptaan?"

Jawabannya:

Tidak.

Tujuan penciptaan yang dinyatakan dalam Kejadian adalah:

  • satu laki-laki,
  • satu perempuan,
  • keduanya menjadi satu daging.

Poligami muncul setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa.

Allah memang mengizinkan dan tetap bekerja melalui orang-orang yang berpoligami, sama seperti Ia tetap bekerja melalui orang-orang yang memiliki berbagai kelemahan dan dosa. Namun pencatatan Alkitab terhadap poligami bukanlah persetujuan moral terhadap poligami.

Karena itu banyak teolog Kristen menyimpulkan:

Poligami bukanlah rancangan penciptaan Allah yang ideal, melainkan penyimpangan dari pola monogami yang ditetapkan sejak penciptaan, dan kisah-kisah Alkitab hampir selalu menunjukkan konsekuensi negatif yang menyertainya.




C. KONSEKUENSI PRAKTEK POLIGAMI TOKOH  PL






Pertanyaan yang baik. Kita perlu membedakan antara:

  1. Konsekuensi yang secara langsung Alkitab kaitkan dengan poligami, dan
  2. Masalah yang terjadi dalam keluarga poligami, tanpa selalu berarti setiap masalah itu hukuman langsung dari Allah.

Alkitab tidak selalu berkata, "Ini terjadi karena poligami." Namun pola yang berulang sangat jelas: keluarga poligami hampir selalu diwarnai kecemburuan, persaingan, konflik warisan, dan perpecahan.


1. Lamekh: Awal Poligami dan Budaya Kekerasan

Tokoh poligami pertama dalam Alkitab adalah Lamekh.

Kejadian 4:19

"Lamekh mengambil isteri dua orang; yang satu namanya Ada, yang lain Zila."

Kemudian Lamekh berkata:

Kejadian 4:23-24

"Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku; hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telinga kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak.

Sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat."

Alkitab menempatkan poligami pertama dalam konteks budaya yang semakin jauh dari Allah dan semakin keras hati.


2. Abraham, Sara, dan Hagar

Allah menjanjikan keturunan melalui Sara.

Namun Abraham mengambil Hagar atas usulan Sara.

Kejadian 16:4

"Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Setelah Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka memandang rendah ia akan nyonyanya itu."

Akibat langsung:

Kejadian 16:5

"Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: 'Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu...'"

Konsekuensi:

  • kecemburuan,
  • konflik antar perempuan,
  • ketegangan rumah tangga.

Kemudian:

Kejadian 21:9-10

"Pada suatu hari Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu, bagi Abraham, sedang bermain-main dengan Ishak, anaknya.

Berkatalah Sara kepada Abraham: 'Usirlah hamba ini beserta anaknya...'"

Konsekuensi:

  • perpecahan keluarga,
  • pengusiran Hagar dan Ismael,
  • konflik mengenai keturunan.

3. Yakub, Lea, dan Rahel

Yakub mengasihi Rahel tetapi akhirnya memiliki Lea dan Rahel.

Kejadian 29:30

"Yakub lebih mencintai Rahel dari pada Lea."

Akibatnya:

Kejadian 30:1

"Ketika Rahel melihat, bahwa ia tidak memberi anak kepada Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu..."

Konsekuensi:

  • kecemburuan antar istri,
  • persaingan untuk memperoleh kasih suami,
  • penggunaan budak perempuan sebagai alat memperoleh anak,
  • konflik keluarga yang berkepanjangan.

Bahkan persaingan antar ibu turut memengaruhi hubungan antar anak-anak mereka.


4. Elkana, Hana, dan Penina

Elkana mempunyai dua istri.

1 Samuel 1:6

"Dan madunya itu dengan sangat menyakiti hati Hana untuk menimbulkan sakit hati padanya..."

Konsekuensi:

  • penderitaan emosional,
  • persaingan antar istri,
  • tekanan psikologis dalam keluarga.

5. Daud

Daud memiliki beberapa istri.

Alkitab tidak selalu menghubungkan semua tragedi Daud secara langsung dengan poligami. Namun keluarga Daud menjadi sangat rumit.

Di antara anak-anak dari ibu yang berbeda terjadi:

  • pemerkosaan Tamar oleh Amnon,
  • pembunuhan Amnon oleh Absalom,
  • pemberontakan Absalom terhadap Daud,
  • perebutan takhta.

2 Samuel 13:28-29

"Maka hamba-hamba Absalom melakukan kepada Amnon seperti yang diperintahkan Absalom..."

2 Samuel 15:13-14

"Datanglah seorang kepada Daud, mengatakan: 'Hati orang Israel telah condong kepada Absalom.'"

Konsekuensi:

  • konflik antar saudara tiri,
  • kekerasan keluarga,
  • perang saudara.

6. Salomo

Kasus paling jelas.

1 Raja-raja 11:3

"Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik..."

Akibatnya:

1 Raja-raja 11:4

"Isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain..."

Kemudian:

1 Raja-raja 11:9

"Sebab itu TUHAN murka kepada Salomo..."

Konsekuensi:

  • penyembahan berhala,
  • kemerosotan rohani,
  • murka Allah.

Lalu Allah mengumumkan:

1 Raja-raja 11:11

"Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu..."

Setelah Salomo mati, kerajaan Israel terpecah menjadi dua.

Ini adalah konsekuensi yang paling eksplisit dan paling berat yang dikaitkan dengan praktik banyak istri.


Pola yang Muncul Berulang

Jika kita melihat seluruh Perjanjian Lama, keluarga poligami hampir selalu menghasilkan:

1. Kecemburuan

  • Sara vs Hagar
  • Lea vs Rahel
  • Hana vs Penina

2. Persaingan

  • Persaingan mendapatkan kasih suami.
  • Persaingan memperoleh keturunan.

3. Konflik Anak-anak

  • Ismael dan Ishak.
  • Anak-anak Lea dan Rahel.
  • Anak-anak Daud.

4. Ketidakstabilan Keluarga

  • Perpecahan.
  • Perebutan hak waris.
  • Intrik keluarga.

5. Penyimpangan Rohani

Puncaknya pada Salomo.


Kesimpulan

Alkitab tidak pernah secara eksplisit berkata:

"Semua poligami adalah hukuman Allah."

Namun yang sangat mencolok adalah bahwa tidak ada satu pun keluarga poligami dalam Alkitab yang digambarkan sebagai model ideal tanpa masalah.

Sebaliknya, pola yang berulang adalah:

  • kecemburuan,
  • favoritisme,
  • persaingan,
  • konflik keluarga,
  • perebutan keturunan,
  • bahkan kemurtadan.

Karena itu banyak teolog melihat kisah-kisah tersebut sebagai bukti naratif bahwa poligami bukanlah rancangan penciptaan Allah yang ideal sebagaimana dinyatakan dalam Kejadian 2:24:

"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."

Pola "satu laki-laki dan satu perempuan" adalah rancangan awal; sedangkan kisah-kisah poligami dalam Perjanjian Lama sering berfungsi sebagai peringatan tentang konsekuensi yang muncul ketika manusia menyimpang dari pola tersebut.



D. POLIGAMI ADALAH SALAH SATU MANIFESTASI DUNIA YG TELAH JATUH DALAM DOSA






Pernyataan bahwa "poligami adalah salah satu manifestasi dunia yang telah jatuh dalam dosa" perlu dijelaskan secara hati-hati. Maksudnya bukan bahwa setiap orang yang berpoligami lebih berdosa daripada semua orang lain, atau bahwa Allah tidak dapat bekerja melalui mereka. Maksudnya adalah bahwa poligami muncul dan berkembang dalam konteks dunia yang sudah rusak oleh dosa, dan tidak sesuai dengan pola penciptaan yang mula-mula.

Mari kita mulai dari awal Alkitab.

1. Sebelum Dosa Masuk, Polanya Monogami

Ketika Allah menciptakan manusia, Ia tidak menciptakan satu laki-laki dan banyak perempuan.

Kejadian 2:18

"TUHAN Allah berfirman: 'Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.'"

Kejadian 2:21-22

"Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk daripadanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu."

Perhatikan:

  • satu Adam,
  • satu Hawa.

Kemudian Allah menetapkan prinsip pernikahan:

Kejadian 2:24

"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."

Perhatikan kata:

  • seorang laki-laki,
  • istrinya,
  • keduanya.

Bukan:

  • seorang laki-laki,
  • istri-istri,
  • banyak menjadi satu daging.

Jadi pola penciptaan yang asli adalah monogami.


2. Dosa Merusak Semua Relasi

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, bukan hanya hubungan manusia dengan Allah yang rusak.

Hubungan:

  • manusia dengan Allah,
  • manusia dengan sesama,
  • suami dengan istri,
  • manusia dengan dirinya sendiri,

semuanya terkena dampaknya.

Kejadian 3:16

"Firman-Nya kepada perempuan itu:

'Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.'"

Sejak kejatuhan, relasi laki-laki dan perempuan mulai mengalami ketegangan dan dominasi.


3. Poligami Pertama Muncul Setelah Dunia Jatuh

Orang pertama yang dicatat berpoligami bukan Adam.

Melainkan:

Lamekh

Kejadian 4:19

"Lamekh mengambil isteri dua orang; yang satu namanya Ada, yang lain Zila."

Mengapa ini penting?

Karena Alkitab sengaja menempatkan kemunculan poligami pertama di dalam garis keturunan Kain, yaitu garis yang sedang digambarkan semakin menjauh dari Allah.

Kemudian Lamekh berkata:

Kejadian 4:23-24

"Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku; hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telinga kepada perkataanku ini:

Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak.

Sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat."

Lamekh bukan digambarkan sebagai teladan moral.

Poligami muncul dalam konteks:

  • kesombongan,
  • kekerasan,
  • pembalasan yang berlebihan.

4. Poligami Lahir Dari Kerusakan Hati Manusia

Salah satu akibat dosa adalah manusia tidak lagi puas dengan batas yang ditetapkan Allah.

Keinginan yang semula baik menjadi tidak teratur.

Yakobus menjelaskan:

Yakobus 1:14-15

"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."

Keinginan seksual diciptakan Allah sebagai sesuatu yang baik.

Tetapi setelah kejatuhan, keinginan itu sering menjadi:

  • tidak terkendali,
  • egois,
  • haus kepemilikan,
  • haus dominasi.

Poligami sering menjadi salah satu ekspresi dari kerusakan tersebut.


5. Kisah-Kisah Poligami Selalu Dipenuhi Konflik

Abraham, Sara, dan Hagar

Kejadian 16:4-5

"Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Setelah Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka memandang rendah ia akan nyonyanya itu.

Lalu berkatalah Sarai kepada Abram:

'Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu.'"

Muncul:

  • kecemburuan,
  • penghinaan,
  • konflik.

Yakub, Lea, dan Rahel

Kejadian 29:30-31

"Yakub menghampiri Rahel juga, dan ia lebih mencintai Rahel dari pada Lea.

Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak disayangi, dibuka-Nyalah kandungannya..."

Kejadian 30:1

"Ketika Rahel melihat, bahwa ia tidak memberi anak kepada Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu..."

Muncul:

  • favoritisme,
  • kecemburuan,
  • persaingan.

Elkana, Hana, dan Penina

1 Samuel 1:6

"Dan madunya itu dengan sangat menyakiti hati Hana untuk menimbulkan sakit hati padanya..."

Muncul:

  • luka emosional,
  • persaingan antar istri.

Salomo

1 Raja-raja 11:3-4

"Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menyesatkan hatinya.

Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya..."

Poligami mencapai puncaknya dan menghasilkan:

  • kompromi rohani,
  • penyembahan berhala,
  • kemerosotan iman.

6. Yesus Mengembalikan Manusia Kepada Desain Awal

Ketika Yesus berbicara tentang pernikahan, Ia tidak menunjuk kepada praktik para raja.

Ia kembali kepada penciptaan.

Matius 19:4-6

"Jawab Yesus:

'Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?

Dan firman-Nya:

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.

Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.'"

Perhatikan:

  • satu laki-laki,
  • satu perempuan,
  • dua menjadi satu.

Yesus kembali kepada rancangan sebelum dunia jatuh.


Kesimpulan Besar

Mengapa banyak teolog mengatakan bahwa poligami adalah manifestasi dunia yang telah jatuh dalam dosa?

Karena:

  1. Poligami tidak muncul dalam penciptaan yang sempurna.
  2. Poligami pertama muncul setelah kejatuhan manusia.
  3. Poligami pertama muncul dalam garis keturunan yang sedang menjauh dari Allah.
  4. Hampir semua kisah poligami di Alkitab menghasilkan kecemburuan, persaingan, dan perpecahan.
  5. Allah menoleransi praktik itu dalam sejarah penebusan, tetapi tidak pernah menjadikannya pola penciptaan.
  6. Yesus mengembalikan standar kepada Kejadian 2:24, yaitu satu laki-laki dan satu perempuan menjadi satu daging.

Jadi dalam perspektif teologi Kristen klasik, poligami bukan bagian dari tujuan penciptaan Allah yang semula, melainkan salah satu contoh bagaimana relasi manusia mengalami distorsi setelah kejatuhan ke dalam dosa. Allah tetap dapat memakai dan memberkati orang-orang yang hidup dalam situasi itu, tetapi Alkitab secara keseluruhan mengarahkan kita kembali kepada pola penciptaan yang mula-mula: satu suami dan satu istri dalam kesatuan perjanjian yang eksklusif.

Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post