RELASI

 



RELASI

A. RELASI ALLAH DAN MANUSIA

Kalau kita membahas RELASI ALLAH DAN MANUSIA, Alkitab menunjukkan bahwa relasi itu bukan sekadar hubungan antara “Pencipta” dan “makhluk”, tetapi Allah menciptakan manusia untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya, menerima hidup dari-Nya, mengasihi-Nya, mengenal-Nya, dan akhirnya mengambil bagian dalam kehidupan yang berasal dari Allah.

Ini juga penting dibedakan dari pembahasan kita sebelumnya tentang relasi intra-Trinitas. Relasi Bapa–Anak dalam kekekalan adalah relasi ontologis dan kekal di dalam Allah sendiri. Sedangkan relasi Allah–manusia adalah relasi antara Pencipta dan ciptaan, yang dikehendaki Allah untuk menjadi relasi persekutuan kasih.

1. Allah menciptakan manusia untuk berelasi dengan-Nya

Tujuan penciptaan manusia tidak berhenti pada keberadaan manusia. Manusia diciptakan menurut gambar Allah dan ditempatkan untuk hidup di hadapan Allah.

Kejadian 1:26–27

“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Menjadi gambar Allah berarti manusia mempunyai kapasitas untuk mengenal, mengasihi, menaati, dan mencerminkan Allah.

Jadi sejak awal, manusia tidak dimaksudkan hidup terlepas dari Allah.


2. Relasi Allah–manusia adalah relasi kehidupan

Allah adalah sumber kehidupan manusia.

Kejadian 2:7

“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Manusia menerima hidup dari Allah.

Karena itu relasi dengan Allah bukan hubungan tambahan yang tidak penting. Allah adalah sumber keberadaan dan kehidupan manusia.

Paulus mengatakan:

Kisah Para Rasul 17:28

“Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.”

Dengan demikian:

Allah → sumber kehidupan → manusia

Manusia tidak memiliki kehidupan secara independen dari Allah.


3. Relasi itu mengandung kasih

Allah tidak menciptakan manusia karena kekurangan sesuatu dalam diri-Nya.

Allah adalah kasih dalam diri-Nya sendiri.

1 Yohanes 4:8

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

Dalam perspektif Trinitas, Bapa, Anak dan Roh Kudus telah berada dalam persekutuan kasih yang sempurna sejak kekekalan.

Karena itu ketika Allah menciptakan manusia, manusia dipanggil untuk masuk ke dalam persekutuan kasih dengan Allah, bukan menjadi bagian dari hakikat Allah, tetapi menjadi ciptaan yang menerima kasih dan hidup dari Allah.


4. Manusia dipanggil mengasihi Allah

Relasi dengan Allah bukan hanya Allah mengasihi manusia. Manusia juga dipanggil memberikan respons kasih kepada Allah.

Ulangan 6:4–5

“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Jadi relasi idealnya adalah:

Allah mengasihi → manusia menerima kasih → manusia mengasihi Allah → manusia hidup menurut kehendak Allah.


5. Relasi itu juga merupakan relasi mengenal Allah

Dalam Alkitab, “mengenal” Allah bukan sekadar mempunyai informasi tentang Allah.

Mengenal mempunyai dimensi relasional.

Yeremia 9:23–24

“Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang demikian: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.’”

Jadi tujuan manusia bukan hanya mengetahui bahwa Allah ada, tetapi mengenal Allah.


6. Dosa merusak relasi Allah dan manusia

Inilah titik penting.

Kejatuhan manusia bukan hanya membuat manusia melanggar suatu aturan. Dosa merusak relasi manusia dengan Allah.

Setelah Adam berdosa:

Kejadian 3:8–10

“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.
Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’
Ia menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.’”

Perhatikan perubahan relasi:

Sebelum dosa: manusia hadir di hadapan Allah.

Setelah dosa: manusia takut dan bersembunyi dari Allah.

Jadi dosa menghasilkan alienasi/keterasingan relasional.

Bukan berarti Allah secara lokal berpindah tempat dan meninggalkan taman. Yang berubah terutama adalah keadaan relasi manusia terhadap Allah.


7. Kematian adalah konsekuensi rusaknya relasi dengan sumber kehidupan

Allah telah memperingatkan:

Kejadian 2:16–17

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’”

Mengapa dosa berhubungan dengan kematian?

Karena Allah adalah sumber kehidupan.

Ketika manusia memberontak terhadap Allah dan hidup terlepas dari-Nya, manusia kehilangan kondisi kehidupan yang seharusnya.

Paulus menjelaskan:

Roma 6:23

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”


8. Namun Allah tidak berhenti mengasihi manusia

Ini sangat penting.

Kerusakan relasi bukan berarti Allah berhenti mengasihi manusia.

Yohanes 3:16

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Allah mengambil inisiatif untuk memulihkan relasi yang rusak.

Jadi keselamatan bukan hanya:

“Saya tidak dihukum.”

Tetapi juga:

“Saya diperdamaikan kembali dengan Allah.”


9. Kristus adalah pusat pemulihan relasi Allah–manusia

Inilah alasan Inkarnasi sangat penting.

Firman menjadi manusia.

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Di dalam Kristus, Allah datang kepada manusia.

Dan Kristus menjadi Pengantara antara Allah dan manusia.

1 Timotius 2:5

“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”

Ini sangat berkaitan dengan pembahasan kita sebelumnya mengenai dua kodrat Kristus.

Kristus adalah:

  • sungguh Allah;
  • sungguh manusia.

Karena itu Ia dapat menjadi Pengantara antara Allah dan manusia.


10. Tujuan Kristus bukan hanya mengampuni dosa, tetapi membawa manusia kembali kepada Allah

1 Petrus 3:18

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh.”

Perhatikan kalimat:

“supaya Ia membawa kita kepada Allah.”

Ini sangat kuat secara relasional.

Kristus tidak sekadar menyelesaikan masalah hukuman dosa.

Kristus membawa manusia kembali kepada Allah.


11. Di dalam Kristus, manusia menerima kembali relasi sebagai anak

Hubungan Allah dan manusia yang dipulihkan bahkan digambarkan sebagai Bapa dan anak.

Yohanes 1:12

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Dan:

Roma 8:15

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”

Jadi keselamatan membawa manusia dari:

takut → menjadi anak

terasing → menjadi dekat

musuh → diperdamaikan

mati → hidup

jauh → dekat


12. Puncak relasi itu adalah “tinggal di dalam Kristus”

Ini sangat berkaitan dengan pembahasan kita tentang union with Christ.

Yesus berkata:

Yohanes 15:4–5

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jika kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Ini adalah gambaran relasi yang sangat dalam.

Kristus → pokok anggur

manusia percaya → ranting

hidup Kristus → mengalir kepada manusia

manusia → menghasilkan buah

Ranting tidak mempunyai kehidupan secara independen dari pokok.

Demikian juga manusia tidak dapat menghasilkan kehidupan rohani yang sejati secara terpisah dari Kristus.


13. Relasi itu bahkan disebut “persekutuan”

1 Yohanes 1:3

“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”

Perhatikan urutannya:

persekutuan dengan umat percaya

dan pada akhirnya:

persekutuan dengan Bapa dan Anak.

Inilah istilah penting:

Koinonia — κοινωνία

Artinya persekutuan, partisipasi, sharing/participation dalam kehidupan bersama.


14. Manusia bahkan dipanggil mengambil bagian dalam kehidupan Allah

Ini membawa kita kepada konsep theosis, yang pernah kita bahas.

2 Petrus 1:3–4

“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita terhadap Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

“Mengambil bagian dalam kodrat ilahi” tidak berarti manusia berubah menjadi Allah secara ontologis.

Manusia tetap ciptaan.

Tetapi manusia mengambil bagian dalam kehidupan, kasih, kekudusan dan kemuliaan Allah melalui persekutuan dengan Kristus oleh Roh Kudus.

Itulah sebabnya pendekatan theosis sangat menekankan bahwa keselamatan adalah lebih dari sekadar status hukum; keselamatan adalah partisipasi dalam kehidupan Allah.


15. Relasi itu melalui Roh Kudus

Allah tidak hanya mengampuni manusia dari luar.

Roh Kudus tinggal di dalam manusia.

1 Korintus 6:19

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”

Ini sangat penting.

Dalam Perjanjian Baru, relasi Allah–manusia mencapai kedalaman baru:

Allah Roh Kudus diam di dalam umat-Nya.


16. Relasi dengan Kristus membawa kita kepada relasi dengan Bapa

Yesus berkata:

Yohanes 14:6

“Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’”

Perhatikan:

Kristus adalah jalan → kepada Bapa.

Jadi tujuan akhir keselamatan bukan sekadar “mendapat berkat”.

Tujuan akhirnya adalah datang kepada Bapa dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya.


17. Yesus bahkan berdoa agar umat-Nya masuk dalam persekutuan yang sangat dalam

Ini salah satu ayat terpenting mengenai relasi Allah dan manusia.

Yohanes 17:20–23

“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Ini luar biasa.

Perhatikan:

“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku.”

Tetapi kita harus membedakan:

Relasi intra-Trinitas

Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa

adalah relasi ilahi dan kekal.

Relasi manusia dengan Allah

Kristus di dalam manusia dan manusia di dalam Kristus

adalah relasi anugerah dan partisipasi, bukan penyatuan hakikat.

Manusia tidak menjadi Allah menurut esensi.

Manusia tetap manusia.

Tetapi manusia berpartisipasi dalam kehidupan Allah melalui Kristus dan Roh Kudus.


18. Relasi Allah–manusia memiliki pola Trinitarian

Kalau diringkas:

BAPA
↓ mengasihi dan mengutus
ANAK
↓ menjadi manusia dan menyelamatkan
ROH KUDUS
↓ tinggal dalam manusia
MANUSIA
↓ dipersatukan dengan Kristus
kembali kepada BAPA

Efesus 2:18 mengatakan:

“karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.”

Ini sangat indah:

melalui Anak → dalam Roh → kepada Bapa.


19. Relasi Allah dan manusia akhirnya mencapai tujuan dalam “Allah diam bersama manusia”

Puncak Alkitab bukan manusia pergi mencari Allah, melainkan Allah berdiam bersama manusia dalam ciptaan yang dipulihkan.

Wahyu 21:3

“Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.’”

Perhatikan:

“Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.”

Ini adalah pemulihan penuh relasi.

Dan:

Wahyu 21:4

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”


20. Jadi, bagaimana definisi RELASI ALLAH DAN MANUSIA?

Secara teologis, kita dapat merumuskannya demikian:

Relasi Allah dan manusia adalah hubungan yang dikehendaki Allah sejak penciptaan, di mana manusia sebagai ciptaan menerima keberadaan, kehidupan, kasih, dan tujuan dari Allah, mengenal dan mengasihi Allah, serta hidup dalam persekutuan dengan-Nya; relasi ini dirusak oleh dosa, tetapi dipulihkan dan diperdalam melalui inkarnasi, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus, sehingga manusia melalui Roh Kudus dipersatukan dengan Kristus, diangkat menjadi anak-anak Allah, dan mengambil bagian dalam kehidupan ilahi tanpa kehilangan hakikatnya sebagai ciptaan.

Dengan demikian, alurnya adalah:

PENCIPTAAN
→ manusia diciptakan menurut gambar Allah

KEHIDUPAN
→ manusia menerima hidup dari Allah

PERSEKUTUAN
→ manusia dipanggil mengenal dan mengasihi Allah

KEJATUHAN
→ dosa merusak relasi

INKARNASI
→ Allah datang kepada manusia dalam Kristus

SALIB & KEBANGKITAN
→ manusia diperdamaikan dengan Allah

ROH KUDUS
→ Allah berdiam di dalam manusia

UNION WITH CHRIST
→ manusia tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam manusia

THEOSIS
→ manusia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi

PENGANGKATAN
→ manusia menjadi anak-anak Allah

KONSUMASI
→ Allah diam bersama manusia untuk selama-lamanya.

Dan ini menjelaskan mengapa relasi dalam teologi Kristen tidak boleh dipahami hanya sebagai “hubungan psikologis” atau “hubungan sosial”. Relasi dengan Allah menyangkut keberadaan, kehidupan, kasih, persekutuan, dan partisipasi.

Namun tetap ada batas yang tidak boleh dicampur: manusia tidak pernah menjadi Allah menurut esensi. Manusia menjadi serupa dengan Allah dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh anugerah, khususnya melalui persatuan dengan Kristus dalam Roh Kudus.


B. KESELAMATAN ADALAH TERCAPAINYA RELASI TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA


Ya, tepat. Bahkan bisa dirumuskan lebih kuat:

Keselamatan adalah pemulihan dan penyempurnaan relasi yang menjadi tujuan penciptaan manusia: manusia hidup dalam persekutuan dengan Allah, menerima hidup dari Allah, mengenal dan mengasihi Allah, serta mengambil bagian dalam kehidupan Allah melalui Kristus dan Roh Kudus.

Namun ada satu nuansa penting: keselamatan bukan hanya kembali kepada kondisi Adam sebelum jatuh, melainkan membawa manusia kepada tujuan akhir yang lebih penuh di dalam Kristus.

1. Tujuan penciptaan: manusia untuk Allah

Kejadian 1:26–27

“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Jadi orientasi terdalam manusia adalah Allah.


2. Dosa menggagalkan relasi tujuan itu

Manusia seharusnya hidup dari Allah dan bersama Allah, tetapi dosa membuat manusia terasing dari Allah.

Efesus 2:12

“bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.”

Jadi problem terbesar manusia bukan hanya:

“Saya bersalah sehingga harus dihukum.”

Tetapi juga:

“Saya telah kehilangan persekutuan yang seharusnya saya miliki dengan Allah.”


3. Kristus datang untuk membawa manusia kembali kepada Allah

Ini sangat jelas:

1 Petrus 3:18

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh.”

Perhatikan tujuan kematian Kristus:

“supaya Ia membawa kita kepada Allah.”

Jadi keselamatan bukan sekadar dibebaskan dari neraka, melainkan dibawa kembali kepada Allah.


4. Karena itu keselamatan adalah pemulihan relasi

Paulus berkata:

2 Korintus 5:18–19

“Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.”

Kata kuncinya:

“mendamaikan kita dengan diri-Nya.”

Ini bahasa relasional.


5. Tetapi keselamatan mencapai lebih dari sekadar “berdamai”

Allah tidak hanya berkata:

“Sekarang kamu tidak bermusuhan lagi dengan-Ku.”

Allah membawa manusia menjadi anak.

Yohanes 1:12

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Jadi:

musuh → berdamai → anak

Relasi dipulihkan dan kemudian ditingkatkan kepada relasi anak dengan Bapa.


6. Puncaknya: UNION WITH CHRIST

Keselamatan mencapai kedalaman yang sangat besar dalam persatuan dengan Kristus.

Yohanes 15:4

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jika kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Dan:

Galatia 2:20

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Jadi keselamatan bukan sekadar Allah mengubah status kita di hadapan-Nya, tetapi Allah membawa kita masuk ke dalam kehidupan Kristus.


7. Dan akhirnya: mengambil bagian dalam kehidupan ilahi

Ini membawa kita tepat kepada konsep theosis yang sering kita bahas.

2 Petrus 1:3–4

“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita terhadap Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

Jadi keselamatan mencapai tujuannya ketika manusia mengambil bagian dalam kehidupan Allah, bukan menjadi Allah secara hakikat.


Jadi rumusan Anda sangat tepat

Saya akan menyusunnya menjadi:

KESELAMATAN = pemulihan dan pencapaian tujuan relasional penciptaan manusia di dalam Kristus.

Atau lebih lengkap:

PENCIPTAAN
→ manusia diciptakan untuk hidup bersama Allah

KEJATUHAN
→ dosa merusak relasi dengan Allah

KESELAMATAN
→ Kristus memulihkan relasi itu

UNION WITH CHRIST
→ manusia dipersatukan dengan Kristus

ROH KUDUS
→ Allah berdiam di dalam manusia

ADOPSI
→ manusia menjadi anak-anak Allah

THEOSIS
→ manusia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi

KEGENAPAN
→ Allah dan manusia tinggal dalam persekutuan yang sempurna untuk selama-lamanya.

Jadi keselamatan bukan sekadar “selamat dari sesuatu”, tetapi terutama “diselamatkan untuk sesuatu”:

diselamatkan dari dosa dan kematian → untuk kembali kepada Allah → hidup dalam Kristus → menjadi anak Allah → mengambil bagian dalam kehidupan-Nya → mencapai tujuan penciptaan manusia.


C. MODUS ATAU BENTUK HADIRAT ALLAH DALAM RELASI DENGAN MANUSIA BERKAITAN DENGAN JENIS RELASI TERSEBUT

Ya, relasi dengan Allah dan hadirat Allah sangat berkaitan, tetapi tidak identik. Perbedaannya terutama terletak pada apa yang dimaksud dengan “relasi” dan “hadirat.”

1. Relasi dengan Allah

Relasi menunjuk pada hubungan antara Allah dan manusia: mengenal, mengasihi, mempercayai, menaati, menerima kasih Allah, dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya.

Contohnya:

Yohanes 17:3

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Perhatikan: “mengenal Engkau.”

Ini bukan sekadar mengetahui tentang Allah, tetapi memiliki hubungan dengan Allah.

Karena itu relasi dapat digambarkan:

Allah ↔ manusia

Ada kasih, iman, ketaatan, komunikasi, persekutuan, dan kehidupan bersama.


2. Hadirat Allah

Hadirat Allah menunjuk pada kehadiran Allah bersama atau di tengah manusia.

Dalam Perjanjian Lama misalnya:

Keluaran 33:14

“Lalu Ia berfirman: ‘Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.’”

Musa sangat menyadari bahwa yang paling penting bukan sekadar menerima berkat dari Allah, tetapi Allah sendiri menyertai mereka.

Musa kemudian berkata:

Keluaran 33:15

“Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.”

Jadi:

Hadirat = Allah hadir bersama umat-Nya.


3. Perbedaan sederhananya

Kita dapat membedakannya seperti ini:

Relasi dengan Allah Hadirat Allah
Menyangkut hubungan Menyangkut kehadiran
Allah dan manusia berelasi Allah hadir bersama manusia
Mengenal, mengasihi, percaya, menaati Menyertai, diam, hadir
Bersifat relasional Bersifat kehadiran
“Aku mengenal Allah” “Allah hadir bersamaku”

Tetapi keduanya saling berhubungan.


4. Seseorang bisa mengalami hadirat Allah tanpa memiliki relasi yang benar

Ini penting.

Alkitab menunjukkan bahwa kehadiran Allah secara objektif tidak selalu berarti manusia memiliki relasi yang benar dengan Allah.

Misalnya Adam dan Hawa berada di taman tempat Allah hadir, tetapi setelah dosa mereka bersembunyi dari Allah.

Kejadian 3:8

“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.”

Jadi ada perbedaan antara:

Allah hadir
dan
manusia hidup dalam relasi yang benar dengan Allah.


5. Sebaliknya, manusia dapat memiliki relasi dengan Allah tanpa mengalami “perasaan hadirat”

Ini juga penting.

Kadang-kadang orang berpikir:

“Kalau saya tidak merasakan hadirat Allah, berarti Allah jauh dari saya.”

Tidak demikian.

Relasi dengan Allah tidak ditentukan oleh perasaan manusia.

Yesus berkata:

Matius 28:20

“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Jadi Kristus menyertai umat-Nya senantiasa, bukan hanya ketika seseorang merasakan suasana rohani tertentu.


6. Dalam Kristus, hadirat Allah menjadi sangat dalam

Perjanjian Baru membawa konsep hadirat Allah ke tingkat yang sangat kuat.

Roh Kudus diam di dalam orang percaya.

1 Korintus 3:16

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”

Ini bukan sekadar:

“Allah berada di dekatmu.”

Tetapi:

“Roh Allah diam di dalam kamu.”

Karena itu orang percaya menjadi bait Roh Kudus.


7. Ini berkaitan langsung dengan UNION WITH CHRIST

Inilah bagian yang sangat penting dengan pembahasan kita sebelumnya.

Yesus berkata:

Yohanes 15:4

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jika kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Ini lebih dalam daripada sekadar:

“Yesus hadir di dekat saya.”

Tetapi:

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”

Jadi hadirat dan union tidak boleh disamakan.

Hadirat berbicara tentang Allah hadir.

Union with Christ berbicara tentang persatuan relasional manusia dengan Kristus.


8. Hadirat bukan berarti Allah “berpindah tempat”

Ini juga sangat penting, terutama sesuai pembahasan kita sebelumnya tentang “di pangkuan Bapa” dan “di sebelah kanan Bapa.”

Allah tidak dibatasi ruang.

1 Raja-raja 8:27

“Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya, langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.”

Jadi ketika Alkitab berbicara:

“Allah hadir”

tidak selalu berarti:

Allah sebelumnya berada di tempat A, lalu berpindah ke tempat B.

“Hadirat Allah” sering berbicara tentang kehadiran Allah yang dinyatakan dan dialami dalam hubungan-Nya dengan ciptaan.


9. Relasi adalah kategori yang lebih luas

Kalau kita susun:

RELasi dengan Allah

  • mengenal Allah
  • percaya kepada Allah
  • mengasihi Allah
  • dikasihi Allah
  • menaati Allah
  • berdamai dengan Allah
  • menjadi anak Allah
  • tinggal dalam Kristus
  • mengambil bagian dalam kehidupan Allah

Sedangkan hadirat Allah adalah salah satu aspek penting dalam relasi tersebut:

Allah hadir bersama umat-Nya.

Jadi kita jangan mengatakan:

“Relasi = hadirat.”

Lebih tepat:

Hadirat Allah memungkinkan dan memperdalam pengalaman persekutuan dengan Allah, tetapi hadirat Allah dan relasi dengan Allah bukan konsep yang sama.


10. Dalam keselamatan, keduanya akhirnya bertemu secara sempurna

Tujuan akhirnya sangat indah.

Wahyu 21:3

“Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.’”

Perhatikan dua hal:

HADIRAT:

“Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.”

RELASI:

“Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.”

Jadi di dalam keadaan akhir:

Allah hadir bersama manusia
dan
manusia hidup dalam relasi sempurna dengan Allah.

Kesimpulan paling sederhana:

HADIRAT ALLAH = Allah hadir bersama manusia.

RELASI DENGAN ALLAH = manusia hidup dalam hubungan kasih, pengenalan, kepercayaan dan persekutuan dengan Allah.

Dan dalam keselamatan yang sempurna:

Allah hadir bersama manusia + manusia hidup dalam relasi sempurna dengan Allah.

Itulah sebabnya tujuan keselamatan bukan sekadar “merasakan hadirat Allah”, melainkan mencapai persekutuan yang sempurna dengan Allah.


D. JENIS HADIRAT ALLAH DITENTUKAN OLEH JENIS RELASI ALLAH DAN MANUSIA

Secara teologis pernyataan itu sangat tepat, tetapi perlu sedikit diperhalus:

Jenis hadirat Allah yang dialami/diterima manusia berkaitan erat dengan jenis relasi Allah dengan manusia.

Bukan berarti hakikat Allah atau “tingkat kehadiran” Allah berubah-ubah. Allah tetap hadir sebagai Allah yang sama, tetapi cara kehadiran-Nya dan bagaimana manusia mengalami/berelasi dengan hadirat-Nya berbeda sesuai dengan relasinya.

1. Allah hadir secara umum kepada seluruh ciptaan

Allah hadir sebagai Pencipta dan Penopang seluruh ciptaan.

Kisah Para Rasul 17:27–28

“supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.”

Ini adalah relasi Pencipta–ciptaan.

Jadi semua manusia berada dalam ketergantungan kepada Allah, bahkan ketika mereka tidak mengenal-Nya.


2. Hadirat Allah dalam relasi perjanjian

Dalam Perjanjian Lama, Allah hadir secara khusus di tengah umat perjanjian-Nya.

Keluaran 29:45–46

“Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka. Dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka; Akulah TUHAN, Allah mereka.”

Perhatikan hubungan keduanya:

“Aku akan diam di tengah-tengah mereka”
“Aku akan menjadi Allah mereka.”

Jadi hadirat dan relasi perjanjian sangat erat.


3. Hadirat dalam relasi anak dengan Bapa

Dalam Kristus, relasi berubah menjadi jauh lebih dalam:

Roma 8:15

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”

Di sini hadirat Allah bukan sekadar:

“Allah ada di tengah umat.”

Tetapi:

“Abba, ya Bapa.”

Ada relasi anak–Bapa.


4. Hadirat melalui Roh Kudus yang diam di dalam

Ini bahkan lebih dalam lagi.

1 Korintus 6:19

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”

Di sini kita berbicara tentang hadirat Roh Kudus di dalam orang percaya.

Dan ini sangat erat dengan union with Christ.

Yesus berkata:

Yohanes 14:17–18

“Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.”

Jadi ada hubungan:

Relasi → persekutuan → hadirat


5. Tetapi jangan sampai kita mengatakan Allah “hadir lebih banyak” secara ontologis

Ini batas yang penting.

Allah tidak menjadi:

  • 20% hadir,
  • 50% hadir,
  • 100% hadir.

Karena Allah tidak terbatas oleh ruang.

Yeremia 23:23–24

“Masakan Aku ini hanya Allah dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah dari jauh? Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN.”

Jadi kehadiran ontologis Allah tidak bertambah atau berkurang.

Yang berubah adalah relasi dan modus kehadiran yang dinyatakan kepada manusia.


6. Ini sangat penting untuk memahami keselamatan

Kalau kita hubungkan dengan pembahasan sebelumnya:

Penciptaan

Relasi:
Allah → Pencipta
manusia → ciptaan

Hadirat:
Allah menopang kehidupan manusia.

Perjanjian

Relasi:
Allah → Allah umat-Nya
Israel → umat-Nya

Hadirat:
Allah tinggal di tengah umat.

Kristus

Relasi:
Allah → Bapa
manusia → anak-anak Allah

Hadirat:
Roh Kudus tinggal di dalam orang percaya.

Union with Christ

Relasi:
manusia di dalam Kristus
Kristus di dalam manusia

Hadirat:
Kristus hadir dalam kehidupan umat-Nya.

Konsumasi

Relasi:
Allah dan umat-Nya dalam persekutuan sempurna.

Hadirat:

Wahyu 21:3

“Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.’”

Ini adalah relasi + hadirat dalam keadaan sempurna.


Jadi saya setuju dengan inti pernyataan Anda:

JENIS RELASI menentukan BAGAIMANA HADIRAT ALLAH DINYATAKAN DAN DIALAMI.

Tetapi lebih tepat daripada mengatakan “jenis hadirat Allah ditentukan oleh jenis relasi”, saya akan mengatakan:

“Modus atau bentuk hadirat Allah dalam relasi dengan manusia berkaitan dengan jenis relasi tersebut.”

Sebab Allah sendiri tidak berubah dalam hakikat-Nya dan tidak pernah menjadi lebih atau kurang hadir secara ontologis.

Dan ini menjadi sangat menarik jika kita lanjutkan ke pertanyaan:

Apakah “di pangkuan Bapa”, “di sebelah kanan Bapa”, “di dalam Kristus”, dan “Kristus di dalam kita” merupakan berbagai bentuk HADIRAT yang ditentukan oleh JENIS RELASI?

Di sinilah konsep relasi ontologis, relasi ekonomis, hadirat, dan union with Christ mulai bisa disusun dalam satu kerangka yang sangat rapi.


E. PERBEDAAN HADIRAT DAN PENYATAAN ALLAH

Ya. Kalau yang dimaksud “hadirat” dan “penyataan Allah” (revelation), keduanya berbeda, walaupun sangat berkaitan dengan relasi Allah dengan manusia.

Kunci sederhananya:

HADIRAT = Allah hadir bersama.
PENYATAAN = Allah membuat diri-Nya dikenal.
RELASI = hubungan yang terbentuk antara Allah dan manusia.

1. Hadirat Allah: “Allah hadir”

Hadirat terutama berbicara mengenai kehadiran Allah.

Contohnya:

Keluaran 33:14

“Lalu Ia berfirman: ‘Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.’”

Musa tidak hanya membutuhkan pertolongan Allah; ia membutuhkan Allah sendiri yang menyertai.

Karena itu Musa berkata:

Keluaran 33:15

“Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.”

Jadi hadirat berkaitan dengan:

Allah hadir bersama umat-Nya.


2. Penyataan Allah: “Allah membuat diri-Nya dikenal”

Penyataan berarti Allah menyingkapkan atau menyatakan siapa diri-Nya, kehendak-Nya, karya-Nya, dan kebenaran-Nya kepada manusia.

Misalnya:

Keluaran 3:14

“Firman Allah kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.’”

Di sini Allah bukan hanya hadir di hadapan Musa.

Allah juga menyatakan siapa diri-Nya.

Jadi:

Hadirat:

Allah hadir.

Penyataan:

Allah menyatakan diri-Nya sehingga manusia mengenal-Nya.


3. Penyataan dapat terjadi melalui hadirat

Ini bagian penting.

Kadang Allah menyatakan diri-Nya melalui kehadiran-Nya.

Contohnya dalam semak yang menyala:

Keluaran 3:2–6

“Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu Musa melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
Musa berkata: ‘Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?’
Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu: ‘Musa, Musa!’ dan ia menjawab: ‘Ya, Allah.’
Lalu Ia berfirman: ‘Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.’ Lagi Ia berfirman: ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’ Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.”

Di sini ada tiga unsur sekaligus:

HADIRAT
→ Allah hadir di semak.

PENYATAAN
→ Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub.

RELASI
→ Allah berbicara kepada Musa dan mengutusnya.

Jadi ketiganya berhubungan tetapi tidak sama.


4. Relasi adalah tujuan yang lebih dalam

Penyataan Allah bukan sekadar supaya manusia memperoleh informasi tentang Allah.

Allah menyatakan diri supaya manusia mengenal Dia dan masuk dalam relasi dengan-Nya.

Yeremia 9:24

“tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang demikian: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

Jadi:

Penyataan → pengenalan → relasi.


5. Puncak penyataan Allah adalah Yesus Kristus

Ini sangat penting.

Yohanes 1:18

“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”

Perhatikan kata:

“Dialah yang menyatakan-Nya.”

Kristus bukan hanya membawa informasi tentang Bapa.

Kristus menyatakan Bapa.

Mengapa?

Karena Kristus memiliki relasi kekal dengan Bapa:

“yang ada di pangkuan Bapa.”

Jadi di sini kita melihat hubungan yang sangat erat:

Relasi Anak dengan Bapa → Anak menyatakan Bapa → manusia mengenal Bapa.


6. Hadirat dan penyataan berbeda dalam Yohanes 1:14

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Ada dua hal:

Hadirat

“diam di antara kita”

Firman hadir di tengah manusia.

Penyataan

“kita telah melihat kemuliaan-Nya”

Melalui kehadiran Kristus, manusia melihat dan mengenal kemuliaan Allah.

Jadi:

Hadirat menyediakan konteks kehadiran Allah; penyataan membuat siapa Allah itu dikenal.


7. Hubungannya dengan relasi

Kita bisa membuat pola:

HADIRAT

Allah hadir

PENYATAAN

Allah menyatakan diri

PENGENALAN

manusia mengenal Allah

RELASI

manusia hidup dalam persekutuan dengan Allah

UNION WITH CHRIST

manusia tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam manusia

THEOSIS

manusia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi

Ini sangat cocok dengan konsep keselamatan yang baru saja kita bahas.


8. Hadirat tanpa penyataan belum tentu menghasilkan pengenalan yang benar

Allah dapat hadir, tetapi manusia tidak memahami siapa Dia.

Misalnya seluruh ciptaan berada di hadapan Allah, tetapi tidak semua manusia mengenal Allah secara benar.

Karena itu diperlukan penyataan.

Roma 1:19–20

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.”

Ini menunjukkan penyataan umum melalui ciptaan.


9. Ada penyataan khusus

Puncaknya adalah Kristus.

Ibrani 1:1–3

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.”

Di sini Kristus adalah:

Penyataan Allah yang sempurna.


10. Maka jangan menyamakan “hadirat” dengan “penyataan”

Contohnya:

Allah hadir ≠ otomatis manusia memahami Allah.

Dan:

Allah menyatakan diri ≠ sekadar Allah hadir secara fisik.

Penyataan mengandung unsur komunikasi dan pengenalan.

Hadirat mengandung unsur kehadiran dan penyertaan.


11. Hubungan ketiganya dapat dirumuskan begini

HADIRAT

Allah bersama manusia.

PENYATAAN

Allah membuat diri-Nya dikenal manusia.

RELASI

Manusia mengenal, mengasihi, mempercayai, dan hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Dan dalam Kristus ketiganya mencapai puncaknya:

Allah hadir di antara manusia dalam Kristus → Allah menyatakan diri-Nya melalui Kristus → manusia diperdamaikan dengan Allah → manusia dipersatukan dengan Kristus → manusia menerima Roh Kudus → manusia hidup dalam persekutuan dengan Bapa.

Karena itu hadirat dan penyataan bukan tujuan akhir keselamatan.

Keduanya mengarah kepada tujuan yang lebih dalam:

PERSEKUTUAN/RELASI DENGAN ALLAH.

Dan ini sangat membantu memahami Yohanes 17:3:

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Jadi hidup kekal pada hakikatnya adalah hidup dalam relasi mengenal Allah melalui Kristus, bukan sekadar hidup tanpa akhir.


E. KAITANNYA DENGAN TERANG WAHYU ALLAH


Ya. Kalau kita memasukkan “Terang Wahyu Allah” ke dalam pembahasan, keempatnya dapat disusun sebagai satu rangkaian:

TERANG → PENYATAAN → HADIRAT → RELASI

Tetapi perlu diperjelas: Terang bukan sekadar “tambahan” di samping penyataan dan hadirat. Terang adalah cara Alkitab menggambarkan Allah yang menyatakan diri-Nya dan membuat manusia mampu melihat/mengenal kebenaran-Nya.

1. TERANG: Allah membuat diri-Nya dapat dikenal

Alkitab memakai “terang” untuk menggambarkan kebenaran, kehidupan, kekudusan, dan penyataan Allah.

Yohanes 1:4–5

“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

Perhatikan hubungan:

Hidup yang ada dalam Firman → menjadi terang bagi manusia.

Jadi terang berhubungan dengan kemampuan manusia melihat realitas Allah dengan benar.


2. PENYATAAN: Terang itu dinyatakan

Terang Allah bukan sesuatu yang manusia ciptakan.

Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya.

Yohanes 1:9

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

Kemudian Yohanes mengatakan:

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Jadi:

Terang → dinyatakan → dalam Firman yang menjadi manusia.

Kristus adalah pusat penyataan Allah.


3. HADIRAT: Terang itu hadir di tengah manusia

Ini sangat indah dalam Yohanes 1.

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita...”

Kata “diam di antara kita” menunjukkan kehadiran.

Jadi kita mempunyai:

PENYATAAN

Allah menyatakan diri.

HADIRAT

Allah hadir di tengah manusia.

TERANG

Dalam kehadiran dan penyataan itu, manusia melihat kemuliaan Allah.

Yohanes mengatakan:

“kita telah melihat kemuliaan-Nya.”


4. RELASI: Terang itu membawa manusia mengenal Allah

Tujuan akhirnya bukan hanya manusia melihat terang, tetapi masuk dalam hubungan dengan Allah yang dinyatakan oleh terang tersebut.

Yohanes 17:3

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Jadi:

Terang → melihat

Penyataan → mengenal siapa Allah

Hadirat → Allah bersama manusia

Relasi → manusia hidup bersama Allah


5. Tetapi “Terang” mempunyai fungsi yang lebih dalam

Terang bukan hanya membuat Allah terlihat secara intelektual.

Terang juga membongkar kegelapan manusia.

Yohanes 3:19–21

“Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Jadi ketika Terang Allah datang, manusia harus memberikan respons.

Ada yang:

datang kepada terang → menerima → percaya → berelasi dengan Allah

atau:

menolak terang → tetap dalam kegelapan → menolak relasi dengan Allah.


6. Karena itu Terang berhubungan langsung dengan relasi

Ini sangat penting.

Terang bukan hanya masalah pengetahuan.

Terang menuntut respons relasional.

Contohnya:

1 Yohanes 1:5–7

“Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang, sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.”

Ini ayat yang sangat penting untuk pertanyaan Anda.

Perhatikan urutannya:

Allah adalah Terang

manusia hidup dalam Terang

manusia mempunyai persekutuan

Jadi Terang → relasi/persekutuan.


7. Terang juga berkaitan dengan hadirat

Dalam Alkitab, terang sering menjadi gambaran manifestasi kehadiran Allah.

Misalnya:

Mazmur 27:1

“TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Di sini “terang” bukan sekadar cahaya fisik.

“TUHAN adalah terangku” berarti Allah menjadi sumber kehidupan, keselamatan, arah, dan keamanan bagi pemazmur.

Dengan kata lain:

Hadirat Allah menjadi terang bagi manusia yang hidup dalam relasi dengan-Nya.


8. Puncaknya adalah Kristus

Kristus mengatakan:

Yohanes 8:12

“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: ‘Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.’”

Perhatikan dua hal:

“Akulah terang dunia”

dan:

“barangsiapa mengikut Aku”

Terang itu menghasilkan relasi mengikuti Kristus.

Jadi bukan:

melihat terang → selesai.

Tetapi:

melihat terang → datang kepada terang → mengikuti Kristus → hidup dalam terang → bersekutu dengan Allah.


9. Hubungan keempatnya dapat dibuat seperti ini

ALLAH


menyatakan diri-Nya

PENYATAAN


Allah membuat diri-Nya dikenal

TERANG


manusia melihat kebenaran dan kemuliaan Allah

HADIRAT


Allah hadir dan menyertai manusia

RELASI


manusia mengenal, mengasihi, percaya, dan tinggal dalam Allah

UNION WITH CHRIST


“Kristus di dalam kamu” dan “kamu di dalam Kristus”

THEOSIS


manusia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi


10. Tetapi ada satu koreksi penting terhadap rumusan “Terang → Penyataan”

Kalau kita berbicara secara teologis lebih presisi, jangan selalu mengatakan:

Terang adalah sesuatu yang muncul setelah penyataan.

Lebih tepat:

Terang adalah gambaran tentang Allah yang menyatakan diri-Nya dan menerangi manusia untuk mengenal-Nya.

Karena Allah sendiri adalah Terang.

1 Yohanes 1:5

“Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.”

Jadi sumbernya bukan manusia.

Sumbernya adalah Allah sendiri.


11. Dan ini sangat berkaitan dengan konsep yang Anda sebut “Terang Wahyu Allah”

Kalau yang Anda maksud dengan TERANG WAHYU ALLAH adalah bahwa Allah memberikan terang kepada manusia sehingga manusia dapat melihat, memahami, dan mengenal Allah, maka saya akan merumuskannya:

Terang Wahyu Allah adalah penyataan diri Allah yang menerangi manusia sehingga manusia dapat mengenal kebenaran Allah, mengalami kehadiran-Nya, dan masuk ke dalam relasi persekutuan dengan-Nya.

Dengan demikian:

PENYATAAN menjawab:

“Apa yang Allah nyatakan?”

TERANG menjawab:

“Bagaimana kebenaran Allah menjadi terlihat/terpahami oleh manusia?”

HADIRAT menjawab:

“Bagaimana Allah hadir bersama manusia?”

RELASI menjawab:

“Untuk apa manusia mengenal dan mengalami Allah?”

Dan jawabannya:

Untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Itulah sebabnya dalam Yohanes 1, Firman, Terang, Kehadiran, dan relasi bertemu secara sangat kuat dalam diri Yesus Kristus:

Yohanes 1:1

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Yohanes 1:4

“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.”

Yohanes 1:9

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita...”

Yohanes 1:18

“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”

Jadi Kristus adalah titik temu semuanya:

Kristus adalah Firman yang menyatakan Bapa, Terang yang menerangi manusia, Hadirat Allah yang datang kepada manusia, dan Jalan yang membawa manusia masuk ke dalam relasi dengan Bapa.

Dan ini sangat erat dengan kesimpulan kita sebelumnya:

Keselamatan adalah tercapainya tujuan relasional penciptaan manusia—manusia dibawa keluar dari kegelapan, diterangi oleh wahyu Allah, diperdamaikan dengan Allah, masuk ke dalam hadirat-Nya, dipersatukan dengan Kristus, dan akhirnya hidup dalam persekutuan sempurna dengan Allah.


F. BEDANYA TERANG WAHYU DENGAN INJIL 

Karena Injil adalah berita tentang karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus, dan berita itu menerangi manusia mengenai siapa Allah, siapa Kristus, kondisi manusia, dan jalan menuju keselamatan.

Istilah “terang Injil” sangat jelas dalam 2 Korintus 4.

1. Ayat kuncinya

2 Korintus 4:3–6

“Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hamba-hamba kamu karena kehendak Yesus.
Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Ini luar biasa karena Paulus menghubungkan empat hal:

Injil → Terang → Kemuliaan Kristus → Pengetahuan tentang Allah.


2. Mengapa Injil disebut “terang”?

Karena manusia berada dalam kegelapan, yaitu keadaan tidak mengenal Allah dengan benar dan berada di bawah kuasa dosa.

Efesus 4:18

“Pengertian mereka gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.”

Perhatikan hubungan yang sangat penting:

Kegelapan → jauh dari hidup persekutuan dengan Allah.

Maka ketika Injil datang, Injil membawa manusia dari:

kegelapan → terang

dan dari:

keterasingan → persekutuan dengan Allah.


3. Terang Injil bukan sekadar informasi

Ini yang paling penting.

“Terang Injil” bukan hanya berarti:

“Saya sekarang mengetahui bahwa Yesus mati di salib.”

Lebih dalam daripada itu.

Terang Injil membuat manusia melihat realitas Allah dan keselamatan dengan benar.

2 Korintus 4:6 mengatakan:

“terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Jadi yang diterangi adalah pengetahuan tentang kemuliaan Allah.

Dan kemuliaan Allah itu dinyatakan:

“pada wajah Kristus.”

Dengan demikian:

Terang Injil → melihat Kristus → melihat kemuliaan Allah → mengenal Allah.


4. Mengapa “wajah Kristus”?

Karena Kristus adalah penyataan Allah yang sempurna.

Kolose 1:15

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”

Dan:

Ibrani 1:3

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”

Jadi ketika Injil menerangi kita, pusatnya bukan sekadar sebuah doktrin.

Pusatnya adalah:

YESUS KRISTUS.


5. Maka “Terang Injil” berbeda dari “Terang Allah” tetapi berasal dari Allah

Kita bisa membedakan:

Allah adalah Terang

1 Yohanes 1:5

“Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.”

Kristus adalah Terang

Yohanes 8:12

“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: ‘Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.’”

Injil adalah Terang

2 Korintus 4:4

“...sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.”

Jadi bukan ada tiga terang yang berbeda.

Lebih tepat:

Allah adalah sumber Terang → Kristus adalah penyataan Terang itu → Injil memberitakan Kristus sehingga Terang itu menerangi manusia.


6. Terang Injil membawa kepada RELASI

Ini menghubungkan langsung dengan pembahasan kita sebelumnya.

Perhatikan 2 Korintus 4:6:

“supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Dan tujuan pengetahuan tentang Allah bukan sekadar akademis.

Yohanes 17:3

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Jadi:

Terang Injil

pengetahuan tentang Kristus

pengetahuan tentang Allah

mengenal Allah

relasi dengan Allah

hidup kekal.


7. Mengapa orang bisa mendengar Injil tetapi tetap berada dalam kegelapan?

Karena ada perbedaan antara mendengar berita dan diterangi oleh berita tersebut.

2 Korintus 4:4 mengatakan:

“...pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus...”

Jadi Injil dapat diberitakan secara eksternal, tetapi manusia dapat tidak melihat kemuliaan Kristus.

Karena itu Paulus mengatakan bahwa Allah membuat terang-Nya bercahaya:

2 Korintus 4:6

“Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita...”

Ada dimensi internal illumination—Allah menerangi hati sehingga manusia dapat melihat kebenaran Injil.


8. Ini sangat dekat dengan konsep “wahyu”

Maka kalau kita susun pembahasan kita:

WAHYU ALLAH

Allah menyingkapkan diri-Nya.

TERANG WAHYU

Manusia diterangi untuk melihat dan memahami apa yang Allah nyatakan.

INJIL

Isi utama berita penyelamatan itu adalah Kristus dan karya-Nya.

TERANG INJIL

Manusia melihat kemuliaan Kristus.

PENGETAHUAN

Manusia mengenal Allah.

RELASI

Manusia masuk dalam persekutuan dengan Allah.

KESELAMATAN

Manusia mencapai tujuan penciptaannya di dalam Kristus.


Jadi kalimat paling tepatnya:

Disebut “TERANG INJIL” karena Injil menyingkapkan dan menerangi manusia mengenai kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, sehingga manusia yang berada dalam kegelapan dapat melihat, mengenal, percaya kepada, dan masuk ke dalam relasi dengan Allah.

Dan ada satu detail yang sangat indah dalam 2 Korintus 4:6:

“kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Artinya, Terang Injil pada akhirnya bukan terutama menerangi kita untuk melihat sesuatu, tetapi menerangi kita untuk melihat SESEORANG: YESUS KRISTUS.

Dan ketika kita melihat Kristus dengan benar, kita melihat kemuliaan Allah, karena Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.


Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post