RELASI

 


RELASI



A. RELASI ALLAH DAN MANUSIA



• Relasi Allah–manusia adalah relasi antara Pencipta dan ciptaan, yang dikehendaki Allah untuk menjadi relasi persekutuan kasih.


Kalau kita membahas RELASI ALLAH DAN MANUSIA, Alkitab menunjukkan bahwa relasi itu bukan sekadar hubungan antara “Pencipta” dan “makhluk”, tetapi Allah menciptakan manusia untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya, menerima hidup dari-Nya, mengasihi-Nya, mengenal-Nya, dan akhirnya mengambil bagian dalam kehidupan yang berasal dari Allah.

Relasi Allah-manusia juga penting dibedakan dengan relasi intra-Trinitas. Relasi Bapa–Anak dalam kekekalan adalah relasi ontologis dan kekal di dalam Allah sendiri. Sedangkan relasi Allah–manusia adalah relasi antara Pencipta dan ciptaan, yang dikehendaki Allah untuk menjadi relasi persekutuan kasih.

1. Allah menciptakan manusia untuk berelasi dengan-Nya

Tujuan penciptaan manusia tidak berhenti pada keberadaan manusia. Manusia diciptakan menurut gambar Allah dan ditempatkan untuk hidup di hadapan Allah.

Kejadian 1:26–27

“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Menjadi gambar Allah berarti manusia mempunyai kapasitas untuk mengenal, mengasihi, menaati, dan mencerminkan Allah.

Jadi sejak awal, manusia tidak dimaksudkan hidup terlepas dari Allah.


2. Relasi Allah–manusia adalah relasi kehidupan

Allah adalah sumber kehidupan manusia.

Kejadian 2:7

“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Manusia menerima hidup dari Allah.

Karena itu relasi dengan Allah bukan hubungan tambahan yang tidak penting. Allah adalah sumber keberadaan dan kehidupan manusia.

Paulus mengatakan:

Kisah Para Rasul 17:28

“Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.”

Dengan demikian:

Allah → sumber kehidupan → manusia

Manusia tidak memiliki kehidupan secara independen dari Allah.


3. Relasi itu mengandung kasih

Allah tidak menciptakan manusia karena kekurangan sesuatu dalam diri-Nya.

Allah adalah kasih dalam diri-Nya sendiri.

1 Yohanes 4:8

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

Dalam perspektif Trinitas, Bapa, Anak dan Roh Kudus telah berada dalam persekutuan kasih yang sempurna sejak kekekalan.

Karena itu ketika Allah menciptakan manusia, manusia dipanggil untuk masuk ke dalam persekutuan kasih dengan Allah, bukan menjadi bagian dari hakikat Allah, tetapi menjadi ciptaan yang menerima kasih dan hidup dari Allah.


4. Manusia dipanggil mengasihi Allah

Relasi dengan Allah bukan hanya Allah mengasihi manusia. Manusia juga dipanggil memberikan respons kasih kepada Allah.

Ulangan 6:4–5

“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Jadi relasi idealnya adalah:

Allah mengasihi → manusia menerima kasih → manusia mengasihi Allah → manusia hidup menurut kehendak Allah.


5. Relasi itu juga merupakan relasi mengenal Allah

Dalam Alkitab, “mengenal” Allah bukan sekadar mempunyai informasi tentang Allah.

Mengenal mempunyai dimensi relasional.

Yeremia 9:23–24

“Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang demikian: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.’”

Jadi tujuan manusia bukan hanya mengetahui bahwa Allah ada, tetapi mengenal Allah.


6. Dosa merusak relasi Allah dan manusia

Inilah titik penting.

Kejatuhan manusia bukan hanya membuat manusia melanggar suatu aturan. Dosa merusak relasi manusia dengan Allah.

Setelah Adam berdosa:

Kejadian 3:8–10

“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.
Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’
Ia menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.’”

Perhatikan perubahan relasi:

• Sebelum dosa: manusia hadir di hadapan Allah.

• Setelah dosa: manusia takut dan bersembunyi dari Allah.

Jadi dosa menghasilkan alienasi/keterasingan relasional.

Bukan berarti Allah secara lokal berpindah tempat dan meninggalkan taman. Yang berubah terutama adalah keadaan relasi manusia terhadap Allah.


7. Kematian adalah konsekuensi rusaknya relasi dengan sumber kehidupan

Allah telah memperingatkan:

Kejadian 2:16–17

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’

Mengapa dosa berhubungan dengan kematian?

• Karena Allah adalah sumber kehidupan.

Ketika manusia memberontak terhadap Allah dan hidup terlepas dari-Nya, manusia kehilangan kondisi kehidupan yang seharusnya.

Paulus menjelaskan:

Roma 6:23

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”


8. Namun Allah tidak berhenti mengasihi manusia

Ini sangat penting.

Kerusakan relasi bukan berarti Allah berhenti mengasihi manusia.

Yohanes 3:16

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Allah mengambil inisiatif untuk memulihkan relasi yang rusak.

Jadi keselamatan bukan hanya:

“Saya tidak dihukum.”

Tetapi juga:

“Saya diperdamaikan kembali dengan Allah.”


9. Kristus adalah pusat pemulihan relasi Allah–manusia

Inilah alasan Inkarnasi sangat penting.

Firman menjadi manusia.

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Di dalam Kristus, Allah datang kepada manusia.

Dan Kristus menjadi Pengantara antara Allah dan manusia.

1 Timotius 2:5

“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”

Ini sangat berkaitan dengan pembahasan kita sebelumnya mengenai dua kodrat Kristus.

Kristus adalah:

  • sungguh Allah;
  • sungguh manusia.

Karena itu Ia dapat menjadi Pengantara antara Allah dan manusia.


10. Tujuan Kristus bukan hanya mengampuni dosa, tetapi membawa manusia kembali kepada Allah

1 Petrus 3:18

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh.”

Perhatikan kalimat:

“supaya Ia membawa kita kepada Allah.”

Ini sangat kuat secara relasional.

Kristus tidak sekadar menyelesaikan masalah hukuman dosa.

Kristus membawa manusia kembali kepada Allah.


11. Di dalam Kristus, manusia menerima kembali relasi sebagai anak

Hubungan Allah dan manusia yang dipulihkan bahkan digambarkan sebagai Bapa dan anak.

Yohanes 1:12

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Dan:

Roma 8:15

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”

Jadi keselamatan membawa manusia dari:

takut → menjadi anak
terasing → menjadi dekat
musuh → diperdamaikan
mati → hidup
jauh → dekat

12. Puncak relasi itu adalah “tinggal di dalam Kristus”

Ini sangat berkaitan dengan pembahasan kita tentang union with Christ.

Yesus berkata:

Yohanes 15:4–5

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jika kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Ini adalah gambaran relasi yang sangat dalam.

Kristus → pokok anggur
manusia percaya → ranting
hidup Kristus → mengalir kepada manusia
manusia → menghasilkan buah

Ranting tidak mempunyai kehidupan secara independen dari pokok.

Demikian juga manusia tidak dapat menghasilkan kehidupan rohani yang sejati secara terpisah dari Kristus.


13. Relasi itu bahkan disebut “persekutuan”

1 Yohanes 1:3

“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”

Perhatikan urutannya:
persekutuan dengan umat percaya

dan pada akhirnya:
persekutuan dengan Bapa dan Anak.

Inilah istilah penting:
Koinonia — κοινωνία

Artinya persekutuan, partisipasi, sharing/participation dalam kehidupan bersama.


14. Manusia bahkan dipanggil mengambil bagian dalam kehidupan Allah

Ini membawa kita kepada konsep theosis, yang pernah kita bahas.

2 Petrus 1:3–4

“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita terhadap Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

“Mengambil bagian dalam kodrat ilahi” tidak berarti manusia berubah menjadi Allah secara ontologis.

Manusia tetap ciptaan.

Tetapi manusia mengambil bagian dalam kehidupan, kasih, kekudusan dan kemuliaan Allah melalui persekutuan dengan Kristus oleh Roh Kudus.

Itulah sebabnya pendekatan theosis sangat menekankan bahwa keselamatan adalah lebih dari sekadar status hukum; keselamatan adalah partisipasi dalam kehidupan Allah.


15. Relasi itu melalui Roh Kudus

Allah tidak hanya mengampuni manusia dari luar.

Roh Kudus tinggal di dalam manusia.

1 Korintus 6:19

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”

Ini sangat penting.

Dalam Perjanjian Baru, relasi Allah–manusia mencapai kedalaman baru:

Allah Roh Kudus diam di dalam umat-Nya.


16. Relasi dengan Kristus membawa kita kepada relasi dengan Bapa

Yesus berkata:

Yohanes 14:6

“Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’”

Perhatikan:

Kristus adalah jalan → kepada Bapa.

Jadi tujuan akhir keselamatan bukan sekadar “mendapat berkat”.

Tujuan akhirnya adalah datang kepada Bapa dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya.


17. Yesus bahkan berdoa agar umat-Nya masuk dalam persekutuan yang sangat dalam

Ini salah satu ayat terpenting mengenai relasi Allah dan manusia.

Yohanes 17:20–23

“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Ini luar biasa.

Perhatikan:

“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku.”

Tetapi kita harus membedakan:

• Relasi intra-Trinitas
Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa
adalah relasi ilahi dan kekal.

• Relasi manusia dengan Allah
Kristus di dalam manusia dan manusia di dalam Kristus adalah relasi anugerah dan partisipasi, bukan penyatuan hakikat.

Manusia tidak menjadi Allah menurut esensi.
Manusia tetap manusia.

Tetapi manusia berpartisipasi dalam kehidupan Allah melalui Kristus dan Roh Kudus.

18. Relasi Allah–manusia memiliki pola Trinitarian

Kalau diringkas:

BAPA
  ↓ mengasihi dan mengutus
ANAK
  ↓ menjadi manusia dan menyelamatkan
ROH KUDUS
  ↓ tinggal dalam manusia
MANUSIA
  ↓ dipersatukan dengan Kristus
kembali kepada BAPA

Efesus 2:18 mengatakan:

“karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.”

Ini sangat indah:

melalui Anak → dalam Roh → kepada Bapa.


19. Relasi Allah dan manusia akhirnya mencapai tujuan dalam “Allah diam bersama manusia”

Puncak Alkitab bukan manusia pergi mencari Allah, melainkan Allah berdiam bersama manusia dalam ciptaan yang dipulihkan.

Wahyu 21:3

“Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.’”

Perhatikan:

“Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.”

Ini adalah pemulihan penuh relasi.

Dan:

Wahyu 21:4

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”


20. Jadi, bagaimana definisi RELASI ALLAH DAN MANUSIA?

Secara teologis, kita dapat merumuskannya demikian:

Relasi Allah dan manusia adalah hubungan yang dikehendaki Allah sejak penciptaan, di mana manusia sebagai ciptaan menerima keberadaan, kehidupan, kasih, dan tujuan dari Allah, mengenal dan mengasihi Allah, serta hidup dalam persekutuan dengan-Nya; relasi ini dirusak oleh dosa, tetapi dipulihkan dan diperdalam melalui inkarnasi, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus, sehingga manusia melalui Roh Kudus dipersatukan dengan Kristus, diangkat menjadi anak-anak Allah, dan mengambil bagian dalam kehidupan ilahi tanpa kehilangan hakikatnya sebagai ciptaan.

Dengan demikian, alurnya adalah:

PENCIPTAAN
→ manusia diciptakan menurut gambar Allah

KEHIDUPAN
→ manusia menerima hidup dari Allah

PERSEKUTUAN
→ manusia dipanggil mengenal dan mengasihi Allah

KEJATUHAN
→ dosa merusak relasi

INKARNASI
→ Allah datang kepada manusia dalam Kristus

SALIB & KEBANGKITAN
→ manusia diperdamaikan dengan Allah

ROH KUDUS
→ Allah berdiam di dalam manusia

UNION WITH CHRIST
→ manusia tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam manusia

THEOSIS
→ manusia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi

PENGANGKATAN
→ manusia menjadi anak-anak Allah

KONSUMASI
→ Allah diam bersama manusia untuk selama-lamanya.

Dan ini menjelaskan mengapa relasi dalam teologi Kristen tidak boleh dipahami hanya sebagai “hubungan psikologis” atau “hubungan sosial”. Relasi dengan Allah menyangkut keberadaan, kehidupan, kasih, persekutuan, dan partisipasi.

Namun tetap ada batas yang tidak boleh dicampur: manusia tidak pernah menjadi Allah menurut esensi. Manusia menjadi serupa dengan Allah dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh anugerah, khususnya melalui persatuan dengan Kristus dalam Roh Kudus.


B. KESELAMATAN ADALAH TERCAPAINYA RELASI TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA





Bahkan bisa dirumuskan lebih kuat:

Keselamatan adalah pemulihan dan penyempurnaan relasi yang menjadi tujuan penciptaan manusia: manusia hidup dalam persekutuan dengan Allah, menerima hidup dari Allah, mengenal dan mengasihi Allah, serta mengambil bagian dalam kehidupan Allah melalui Kristus dan Roh Kudus.

Namun ada satu nuansa penting: keselamatan bukan hanya kembali kepada kondisi Adam sebelum jatuh, melainkan membawa manusia kepada tujuan akhir yang lebih penuh di dalam Kristus.

1. Tujuan penciptaan: manusia untuk Allah

Kejadian 1:26–27

“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Jadi orientasi terdalam manusia adalah Allah.


2. Dosa menggagalkan relasi tujuan itu

Manusia seharusnya hidup dari Allah dan bersama Allah, tetapi dosa membuat manusia terasing dari Allah.

Efesus 2:12

“bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.”

Jadi problem terbesar manusia bukan hanya:

“Saya bersalah sehingga harus dihukum.”

Tetapi juga:

“Saya telah kehilangan persekutuan yang seharusnya saya miliki dengan Allah.”


3. Kristus datang untuk membawa manusia kembali kepada Allah

Ini sangat jelas:

1 Petrus 3:18

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh.”

Perhatikan tujuan kematian Kristus:

“supaya Ia membawa kita kepada Allah.”

Jadi keselamatan bukan sekadar dibebaskan dari neraka, melainkan dibawa kembali kepada Allah.


4. Karena itu keselamatan adalah pemulihan relasi

Paulus berkata:

2 Korintus 5:18–19

“Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.”

Kata kuncinya:

“mendamaikan kita dengan diri-Nya.”

Ini bahasa relasional.


5. Tetapi keselamatan mencapai lebih dari sekadar “berdamai”

Allah tidak hanya berkata:

“Sekarang kamu tidak bermusuhan lagi dengan-Ku.”

Allah membawa manusia menjadi anak.

Yohanes 1:12

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Jadi:

musuh → berdamai → anak

Relasi dipulihkan dan kemudian ditingkatkan kepada relasi anak dengan Bapa.


6. Puncaknya: UNION WITH CHRIST

Keselamatan mencapai kedalaman yang sangat besar dalam persatuan dengan Kristus.

Yohanes 15:4

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jika kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Dan:

Galatia 2:20

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Jadi keselamatan bukan sekadar Allah mengubah status kita di hadapan-Nya, tetapi Allah membawa kita masuk ke dalam kehidupan Kristus.


7. Dan akhirnya: mengambil bagian dalam kehidupan ilahi

Ini membawa kita tepat kepada konsep theosis yang sering kita bahas.

2 Petrus 1:3–4

“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita terhadap Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

Jadi keselamatan mencapai tujuannya ketika manusia mengambil bagian dalam kehidupan Allah, bukan menjadi Allah secara hakikat.


Jadi rumusan Anda sangat tepat

Saya akan menyusunnya menjadi:

KESELAMATAN = pemulihan dan pencapaian tujuan relasional penciptaan manusia di dalam Kristus.

Atau lebih lengkap:

PENCIPTAAN
→ manusia diciptakan untuk hidup bersama Allah

KEJATUHAN
→ dosa merusak relasi dengan Allah

KESELAMATAN
→ Kristus memulihkan relasi itu

UNION WITH CHRIST
→ manusia dipersatukan dengan Kristus

ROH KUDUS
→ Allah berdiam di dalam manusia

ADOPSI
→ manusia menjadi anak-anak Allah

THEOSIS
→ manusia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi

KEGENAPAN
→ Allah dan manusia tinggal dalam persekutuan yang sempurna untuk selama-lamanya.

Jadi keselamatan bukan sekadar “selamat dari sesuatu”, tetapi terutama “diselamatkan untuk sesuatu”:

diselamatkan dari dosa dan kematian → untuk kembali kepada Allah → hidup dalam Kristus → menjadi anak Allah → mengambil bagian dalam kehidupan-Nya → mencapai tujuan penciptaan manusia.


C. MODUS ATAU BENTUK HADIRAT ALLAH PADA
MANUSIA BERKAITAN DENGAN JENIS RELASI YANG DIBANGUN





Relasi dengan Allah dan hadirat Allah sangat berkaitan, tetapi tidak identik. Perbedaannya terutama terletak pada apa yang dimaksud dengan “relasi” dan “hadirat.”

1. Relasi dengan Allah

Relasi menunjuk pada hubungan antara Allah dan manusia: mengenal, mengasihi, mempercayai, menaati, menerima kasih Allah, dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya.

Contohnya:

Yohanes 17:3

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Perhatikan: “mengenal Engkau.”

Ini bukan sekadar mengetahui tentang Allah, tetapi memiliki hubungan dengan Allah.

Karena itu relasi dapat digambarkan:

Allah ↔ manusia

Ada kasih, iman, ketaatan, komunikasi, persekutuan, dan kehidupan bersama.


2. Hadirat Allah

Hadirat Allah menunjuk pada kehadiran Allah bersama atau di tengah manusia.

Dalam Perjanjian Lama misalnya:

Keluaran 33:14

“Lalu Ia berfirman: ‘Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.’”

Musa sangat menyadari bahwa yang paling penting bukan sekadar menerima berkat dari Allah, tetapi Allah sendiri menyertai mereka.

Musa kemudian berkata:

Keluaran 33:15

“Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.”

Jadi:

Hadirat = Allah hadir bersama umat-Nya.


3. Perbedaan sederhananya

Kita dapat membedakannya seperti ini:

Relasi dengan Allah Hadirat Allah
Menyangkut hubungan Menyangkut kehadiran
Allah dan manusia berelasi Allah hadir bersama manusia
Mengenal, mengasihi, percaya, menaati Menyertai, diam, hadir
Bersifat relasional Bersifat kehadiran
“Aku mengenal Allah” “Allah hadir bersamaku”

Tetapi keduanya saling berhubungan.


4. Seseorang bisa mengalami hadirat Allah tanpa memiliki relasi yang benar

Ini penting.

Alkitab menunjukkan bahwa kehadiran Allah secara objektif tidak selalu berarti manusia memiliki relasi yang benar dengan Allah.

Misalnya Adam dan Hawa berada di taman tempat Allah hadir, tetapi setelah dosa mereka bersembunyi dari Allah.

Kejadian 3:8

“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.”

Jadi ada perbedaan antara:

Allah hadir
dan
manusia hidup dalam relasi yang benar dengan Allah.


5. Sebaliknya, manusia dapat memiliki relasi dengan Allah tanpa mengalami “perasaan hadirat”

Ini juga penting.

Kadang-kadang orang berpikir:

“Kalau saya tidak merasakan hadirat Allah, berarti Allah jauh dari saya.”

Tidak demikian.

Relasi dengan Allah tidak ditentukan oleh perasaan manusia.

Yesus berkata:

Matius 28:20

“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Jadi Kristus menyertai umat-Nya senantiasa, bukan hanya ketika seseorang merasakan suasana rohani tertentu.


6. Dalam Kristus, hadirat Allah menjadi sangat dalam

Perjanjian Baru membawa konsep hadirat Allah ke tingkat yang sangat kuat.

Roh Kudus diam di dalam orang percaya.

1 Korintus 3:16

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”

Ini bukan sekadar:

“Allah berada di dekatmu.”

Tetapi:

“Roh Allah diam di dalam kamu.”

Karena itu orang percaya menjadi bait Roh Kudus.


7. Ini berkaitan langsung dengan UNION WITH CHRIST

Inilah bagian yang sangat penting dengan pembahasan kita sebelumnya.

Yesus berkata:

Yohanes 15:4

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jika kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Ini lebih dalam daripada sekadar:

“Yesus hadir di dekat saya.”

Tetapi:

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”

Jadi hadirat dan union tidak boleh disamakan.

Hadirat berbicara tentang Allah hadir.

Union with Christ berbicara tentang persatuan relasional manusia dengan Kristus.


8. Hadirat bukan berarti Allah “berpindah tempat”

Ini juga sangat penting, terutama sesuai pembahasan kita sebelumnya tentang “di pangkuan Bapa” dan “di sebelah kanan Bapa.”

Allah tidak dibatasi ruang.

1 Raja-raja 8:27

“Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya, langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.”

Jadi ketika Alkitab berbicara:

“Allah hadir”

tidak selalu berarti:

Allah sebelumnya berada di tempat A, lalu berpindah ke tempat B.

“Hadirat Allah” sering berbicara tentang kehadiran Allah yang dinyatakan dan dialami dalam hubungan-Nya dengan ciptaan.


9. Relasi adalah kategori yang lebih luas

Kalau kita susun:

RELasi dengan Allah

  • mengenal Allah
  • percaya kepada Allah
  • mengasihi Allah
  • dikasihi Allah
  • menaati Allah
  • berdamai dengan Allah
  • menjadi anak Allah
  • tinggal dalam Kristus
  • mengambil bagian dalam kehidupan Allah

Sedangkan hadirat Allah adalah salah satu aspek penting dalam relasi tersebut:

Allah hadir bersama umat-Nya.

Jadi kita jangan mengatakan:

“Relasi = hadirat.”

Lebih tepat:

Hadirat Allah memungkinkan dan memperdalam pengalaman persekutuan dengan Allah, tetapi hadirat Allah dan relasi dengan Allah bukan konsep yang sama.


10. Dalam keselamatan, keduanya akhirnya bertemu secara sempurna

Tujuan akhirnya sangat indah.

Wahyu 21:3

“Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.’”

Perhatikan dua hal:

HADIRAT:

“Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.”

RELASI:

“Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.”

Jadi di dalam keadaan akhir:

Allah hadir bersama manusia
dan
manusia hidup dalam relasi sempurna dengan Allah.

Kesimpulan paling sederhana:

HADIRAT ALLAH = Allah hadir bersama manusia.

RELASI DENGAN ALLAH = manusia hidup dalam hubungan kasih, pengenalan, kepercayaan dan persekutuan dengan Allah.

Dan dalam keselamatan yang sempurna:

Allah hadir bersama manusia + manusia hidup dalam relasi sempurna dengan Allah.

Itulah sebabnya tujuan keselamatan bukan sekadar “merasakan hadirat Allah”, melainkan mencapai persekutuan yang sempurna dengan Allah.


D. JENIS HADIRAT ALLAH DITENTUKAN OLEH JENIS RELASI ALLAH DAN MANUSIA





Secara teologis pernyataan itu sangat tepat, tetapi perlu sedikit diperhalus:

Jenis hadirat Allah yang dialami/diterima manusia berkaitan erat dengan jenis relasi Allah dengan manusia.

Bukan berarti hakikat Allah atau “tingkat kehadiran” Allah berubah-ubah. Allah tetap hadir sebagai Allah yang sama, tetapi cara kehadiran-Nya dan bagaimana manusia mengalami/berelasi dengan hadirat-Nya berbeda sesuai dengan relasinya.

1. Allah hadir secara umum kepada seluruh ciptaan

Allah hadir sebagai Pencipta dan Penopang seluruh ciptaan.

Kisah Para Rasul 17:27–28

“supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.”

Ini adalah relasi Pencipta–ciptaan.

Jadi semua manusia berada dalam ketergantungan kepada Allah, bahkan ketika mereka tidak mengenal-Nya.


2. Hadirat Allah dalam relasi perjanjian

Dalam Perjanjian Lama, Allah hadir secara khusus di tengah umat perjanjian-Nya.

Keluaran 29:45–46

“Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka. Dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka; Akulah TUHAN, Allah mereka.”

Perhatikan hubungan keduanya:

“Aku akan diam di tengah-tengah mereka”
“Aku akan menjadi Allah mereka.”

Jadi hadirat dan relasi perjanjian sangat erat.


3. Hadirat dalam relasi anak dengan Bapa

Dalam Kristus, relasi berubah menjadi jauh lebih dalam:

Roma 8:15

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”

Di sini hadirat Allah bukan sekadar:

“Allah ada di tengah umat.”

Tetapi:

“Abba, ya Bapa.”

Ada relasi anak–Bapa.


4. Hadirat melalui Roh Kudus yang diam di dalam

Ini bahkan lebih dalam lagi.

1 Korintus 6:19

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”

Di sini kita berbicara tentang hadirat Roh Kudus di dalam orang percaya.

Dan ini sangat erat dengan union with Christ.

Yesus berkata:

Yohanes 14:17–18

“Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.”

Jadi ada hubungan:

Relasi → persekutuan → hadirat


5. Tetapi jangan sampai kita mengatakan Allah “hadir lebih banyak” secara ontologis

Ini batas yang penting.

Allah tidak menjadi:

  • 20% hadir,
  • 50% hadir,
  • 100% hadir.

Karena Allah tidak terbatas oleh ruang.

Yeremia 23:23–24

“Masakan Aku ini hanya Allah dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah dari jauh? Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN.”

Jadi kehadiran ontologis Allah tidak bertambah atau berkurang.

Yang berubah adalah relasi dan modus kehadiran yang dinyatakan kepada manusia.


6. Ini sangat penting untuk memahami keselamatan

Kalau kita hubungkan dengan pembahasan sebelumnya:

Penciptaan

Relasi:
Allah → Pencipta
manusia → ciptaan

Hadirat:
Allah menopang kehidupan manusia.

Perjanjian

Relasi:
Allah → Allah umat-Nya
Israel → umat-Nya

Hadirat:
Allah tinggal di tengah umat.

Kristus

Relasi:
Allah → Bapa
manusia → anak-anak Allah

Hadirat:
Roh Kudus tinggal di dalam orang percaya.

Union with Christ

Relasi:
manusia di dalam Kristus
Kristus di dalam manusia

Hadirat:
Kristus hadir dalam kehidupan umat-Nya.

Konsumasi

Relasi:
Allah dan umat-Nya dalam persekutuan sempurna.

Hadirat:

Wahyu 21:3

“Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.’”

Ini adalah relasi + hadirat dalam keadaan sempurna.


Jadi saya setuju dengan inti pernyataan Anda:

JENIS RELASI menentukan BAGAIMANA HADIRAT ALLAH DINYATAKAN DAN DIALAMI.

Tetapi lebih tepat daripada mengatakan “jenis hadirat Allah ditentukan oleh jenis relasi”, saya akan mengatakan:

“Modus atau bentuk hadirat Allah dalam relasi dengan manusia berkaitan dengan jenis relasi tersebut.”

Sebab Allah sendiri tidak berubah dalam hakikat-Nya dan tidak pernah menjadi lebih atau kurang hadir secara ontologis.

Dan ini menjadi sangat menarik jika kita lanjutkan ke pertanyaan:

Apakah “di pangkuan Bapa”, “di sebelah kanan Bapa”, “di dalam Kristus”, dan “Kristus di dalam kita” merupakan berbagai bentuk HADIRAT yang ditentukan oleh JENIS RELASI?

Di sinilah konsep relasi ontologis, relasi ekonomis, hadirat, dan union with Christ mulai bisa disusun dalam satu kerangka yang sangat rapi.

Mesias


E. PERBEDAAN HADIRAT DAN PENYATAAN ALLAH





Kalau yang dimaksud “hadirat” dan “penyataan Allah” (revelation), keduanya berbeda, walaupun sangat berkaitan dengan relasi Allah dengan manusia.

Kunci sederhananya:

HADIRAT = Allah hadir bersama.
PENYATAAN = Allah membuat diri-Nya dikenal.
RELASI = hubungan yang terbentuk antara Allah dan manusia.

1. Hadirat Allah: “Allah hadir”

Hadirat terutama berbicara mengenai kehadiran Allah.

Contohnya:

Keluaran 33:14

“Lalu Ia berfirman: ‘Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.’”

Musa tidak hanya membutuhkan pertolongan Allah; ia membutuhkan Allah sendiri yang menyertai.

Karena itu Musa berkata:

Keluaran 33:15

“Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.”

Jadi hadirat berkaitan dengan:

Allah hadir bersama umat-Nya.


2. Penyataan Allah: “Allah membuat diri-Nya dikenal”

Penyataan berarti Allah menyingkapkan atau menyatakan siapa diri-Nya, kehendak-Nya, karya-Nya, dan kebenaran-Nya kepada manusia.

Misalnya:

Keluaran 3:14

“Firman Allah kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.’”

Di sini Allah bukan hanya hadir di hadapan Musa.

Allah juga menyatakan siapa diri-Nya.

Jadi:

Hadirat:

Allah hadir.

Penyataan:

Allah menyatakan diri-Nya sehingga manusia mengenal-Nya.


3. Penyataan dapat terjadi melalui hadirat

Ini bagian penting.

Kadang Allah menyatakan diri-Nya melalui kehadiran-Nya.

Contohnya dalam semak yang menyala:

Keluaran 3:2–6

“Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu Musa melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
Musa berkata: ‘Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?’
Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu: ‘Musa, Musa!’ dan ia menjawab: ‘Ya, Allah.’
Lalu Ia berfirman: ‘Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.’ Lagi Ia berfirman: ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’ Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.”

Di sini ada tiga unsur sekaligus:

HADIRAT
→ Allah hadir di semak.

PENYATAAN
→ Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub.

RELASI
→ Allah berbicara kepada Musa dan mengutusnya.

Jadi ketiganya berhubungan tetapi tidak sama.


4. Relasi adalah tujuan yang lebih dalam

Penyataan Allah bukan sekadar supaya manusia memperoleh informasi tentang Allah.

Allah menyatakan diri supaya manusia mengenal Dia dan masuk dalam relasi dengan-Nya.

Yeremia 9:24

“tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang demikian: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

Jadi:

Penyataan → pengenalan → relasi.


5. Puncak penyataan Allah adalah Yesus Kristus

Ini sangat penting.

Yohanes 1:18

“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”

Perhatikan kata:

“Dialah yang menyatakan-Nya.”

Kristus bukan hanya membawa informasi tentang Bapa.

Kristus menyatakan Bapa.

Mengapa?

Karena Kristus memiliki relasi kekal dengan Bapa:

“yang ada di pangkuan Bapa.”

Jadi di sini kita melihat hubungan yang sangat erat:

Relasi Anak dengan Bapa → Anak menyatakan Bapa → manusia mengenal Bapa.


6. Hadirat dan penyataan berbeda dalam Yohanes 1:14

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Ada dua hal:

Hadirat

“diam di antara kita”

Firman hadir di tengah manusia.

Penyataan

“kita telah melihat kemuliaan-Nya”

Melalui kehadiran Kristus, manusia melihat dan mengenal kemuliaan Allah.

Jadi:

Hadirat menyediakan konteks kehadiran Allah; penyataan membuat siapa Allah itu dikenal.


7. Hubungannya dengan relasi

Kita bisa membuat pola:

HADIRAT
Allah hadir
↓
PENYATAAN
Allah menyatakan diri
↓
PENGENALAN
manusia mengenal Allah
↓
RELASI
manusia hidup dalam persekutuan dengan Allah
↓
UNION WITH CHRIST
manusia tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam manusia
↓
THEOSIS
manusia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi

Ini sangat cocok dengan konsep keselamatan yang baru saja kita bahas.


8. Hadirat tanpa penyataan belum tentu menghasilkan pengenalan yang benar

Allah dapat hadir, tetapi manusia tidak memahami siapa Dia.

Misalnya seluruh ciptaan berada di hadapan Allah, tetapi tidak semua manusia mengenal Allah secara benar.

Karena itu diperlukan penyataan.

Roma 1:19–20

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.”

Ini menunjukkan penyataan umum melalui ciptaan.


9. Ada penyataan khusus

Puncaknya adalah Kristus.

Ibrani 1:1–3

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.”

Di sini Kristus adalah:

Penyataan Allah yang sempurna.


10. Maka jangan menyamakan “hadirat” dengan “penyataan”

Contohnya:

Allah hadir ≠ otomatis manusia memahami Allah.

Dan:

Allah menyatakan diri ≠ sekadar Allah hadir secara fisik.

Penyataan mengandung unsur komunikasi dan pengenalan.

Hadirat mengandung unsur kehadiran dan penyertaan.


11. Hubungan ketiganya dapat dirumuskan begini

HADIRAT

Allah bersama manusia.

PENYATAAN

Allah membuat diri-Nya dikenal manusia.

RELASI

Manusia mengenal, mengasihi, mempercayai, dan hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Dan dalam Kristus ketiganya mencapai puncaknya:

Allah hadir di antara manusia dalam Kristus → Allah menyatakan diri-Nya melalui Kristus → manusia diperdamaikan dengan Allah → manusia dipersatukan dengan Kristus → manusia menerima Roh Kudus → manusia hidup dalam persekutuan dengan Bapa.

Karena itu hadirat dan penyataan bukan tujuan akhir keselamatan.

Keduanya mengarah kepada tujuan yang lebih dalam:

PERSEKUTUAN/RELASI DENGAN ALLAH.

Dan ini sangat membantu memahami Yohanes 17:3:

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Jadi hidup kekal pada hakikatnya adalah hidup dalam relasi mengenal Allah melalui Kristus, bukan sekadar hidup tanpa akhir.


E. KAITANNYA RELASI DENGAN TERANG WAHYU ALLAH





Kalau kita memasukkan “Terang Wahyu Allah” ke dalam pembahasan, keempatnya dapat disusun sebagai satu rangkaian:

TERANG → PENYATAAN → HADIRAT → RELASI

Tetapi perlu diperjelas: Terang bukan sekadar “tambahan” di samping penyataan dan hadirat. Terang adalah cara Alkitab menggambarkan Allah yang menyatakan diri-Nya dan membuat manusia mampu melihat/mengenal kebenaran-Nya.

1. TERANG: Allah membuat diri-Nya dapat dikenal

Alkitab memakai “terang” untuk menggambarkan kebenaran, kehidupan, kekudusan, dan penyataan Allah.

Yohanes 1:4–5

“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

Perhatikan hubungan:

Hidup yang ada dalam Firman → menjadi terang bagi manusia.

Jadi terang berhubungan dengan kemampuan manusia melihat realitas Allah dengan benar.


2. PENYATAAN: Terang itu dinyatakan

Terang Allah bukan sesuatu yang manusia ciptakan.

Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya.

Yohanes 1:9

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

Kemudian Yohanes mengatakan:

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Jadi:

Terang → dinyatakan → dalam Firman yang menjadi manusia.

Kristus adalah pusat penyataan Allah.


3. HADIRAT: Terang itu hadir di tengah manusia

Ini sangat indah dalam Yohanes 1.

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita...”

Kata “diam di antara kita” menunjukkan kehadiran.

Jadi kita mempunyai:

PENYATAAN

Allah menyatakan diri.

HADIRAT

Allah hadir di tengah manusia.

TERANG

Dalam kehadiran dan penyataan itu, manusia melihat kemuliaan Allah.

Yohanes mengatakan:

“kita telah melihat kemuliaan-Nya.”


4. RELASI: Terang itu membawa manusia mengenal Allah

Tujuan akhirnya bukan hanya manusia melihat terang, tetapi masuk dalam hubungan dengan Allah yang dinyatakan oleh terang tersebut.

Yohanes 17:3

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Jadi:

Terang → melihat

Penyataan → mengenal siapa Allah

Hadirat → Allah bersama manusia

Relasi → manusia hidup bersama Allah


5. Tetapi “Terang” mempunyai fungsi yang lebih dalam

Terang bukan hanya membuat Allah terlihat secara intelektual.

Terang juga membongkar kegelapan manusia.

Yohanes 3:19–21

“Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Jadi ketika Terang Allah datang, manusia harus memberikan respons.

Ada yang:

datang kepada terang → menerima → percaya → berelasi dengan Allah

atau:

menolak terang → tetap dalam kegelapan → menolak relasi dengan Allah.


6. Karena itu Terang berhubungan langsung dengan relasi

Ini sangat penting.

Terang bukan hanya masalah pengetahuan.

Terang menuntut respons relasional.

Contohnya:

1 Yohanes 1:5–7

“Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang, sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.”

Ini ayat yang sangat penting untuk pertanyaan Anda.

Perhatikan urutannya:

Allah adalah Terang

         ↓

manusia hidup dalam Terang

         ↓

manusia mempunyai persekutuan

Jadi Terang → relasi/persekutuan.


7. Terang juga berkaitan dengan hadirat

Dalam Alkitab, terang sering menjadi gambaran manifestasi kehadiran Allah.

Misalnya:

Mazmur 27:1

“TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Di sini “terang” bukan sekadar cahaya fisik.

“TUHAN adalah terangku” berarti Allah menjadi sumber kehidupan, keselamatan, arah, dan keamanan bagi pemazmur.

Dengan kata lain:

Hadirat Allah menjadi terang bagi manusia yang hidup dalam relasi dengan-Nya.


8. Puncaknya adalah Kristus

Kristus mengatakan:

Yohanes 8:12

“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: ‘Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.’”

Perhatikan dua hal:

“Akulah terang dunia”

dan:

“barangsiapa mengikut Aku”

Terang itu menghasilkan relasi mengikuti Kristus.

Jadi bukan:

melihat terang → selesai.

Tetapi:

melihat terang → datang kepada terang → mengikuti Kristus → hidup dalam terang → bersekutu dengan Allah.


9. Hubungan keempatnya dapat dibuat seperti ini

ALLAH

↓
menyatakan diri-Nya

PENYATAAN

↓
Allah membuat diri-Nya dikenal

TERANG

↓
manusia melihat kebenaran dan kemuliaan Allah

HADIRAT

↓
Allah hadir dan menyertai manusia

RELASI

↓
manusia mengenal, mengasihi, percaya, dan tinggal dalam Allah

UNION WITH CHRIST

↓
“Kristus di dalam kamu” dan “kamu di dalam Kristus”

THEOSIS

↓
manusia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi


10. Tetapi ada satu koreksi penting terhadap rumusan “Terang → Penyataan”

Kalau kita berbicara secara teologis lebih presisi, jangan selalu mengatakan:

Terang adalah sesuatu yang muncul setelah penyataan.

Lebih tepat:

Terang adalah gambaran tentang Allah yang menyatakan diri-Nya dan menerangi manusia untuk mengenal-Nya.

Karena Allah sendiri adalah Terang.

1 Yohanes 1:5

“Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.”

Jadi sumbernya bukan manusia.

Sumbernya adalah Allah sendiri.


11. Dan ini sangat berkaitan dengan konsep yang Anda sebut “Terang Wahyu Allah”

Kalau yang Anda maksud dengan TERANG WAHYU ALLAH adalah bahwa Allah memberikan terang kepada manusia sehingga manusia dapat melihat, memahami, dan mengenal Allah, maka saya akan merumuskannya:

Terang Wahyu Allah adalah penyataan diri Allah yang menerangi manusia sehingga manusia dapat mengenal kebenaran Allah, mengalami kehadiran-Nya, dan masuk ke dalam relasi persekutuan dengan-Nya.

Dengan demikian:

PENYATAAN menjawab:

“Apa yang Allah nyatakan?”

TERANG menjawab:

“Bagaimana kebenaran Allah menjadi terlihat/terpahami oleh manusia?”

HADIRAT menjawab:

“Bagaimana Allah hadir bersama manusia?”

RELASI menjawab:

“Untuk apa manusia mengenal dan mengalami Allah?”

Dan jawabannya:

Untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Itulah sebabnya dalam Yohanes 1, Firman, Terang, Kehadiran, dan relasi bertemu secara sangat kuat dalam diri Yesus Kristus:

Yohanes 1:1

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Yohanes 1:4

“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.”

Yohanes 1:9

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita...”

Yohanes 1:18

“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”

Jadi Kristus adalah titik temu semuanya:

Kristus adalah Firman yang menyatakan Bapa, Terang yang menerangi manusia, Hadirat Allah yang datang kepada manusia, dan Jalan yang membawa manusia masuk ke dalam relasi dengan Bapa.

Dan ini sangat erat dengan kesimpulan kita sebelumnya:

Keselamatan adalah tercapainya tujuan relasional penciptaan manusia—manusia dibawa keluar dari kegelapan, diterangi oleh wahyu Allah, diperdamaikan dengan Allah, masuk ke dalam hadirat-Nya, dipersatukan dengan Kristus, dan akhirnya hidup dalam persekutuan sempurna dengan Allah.



F. BEDANYA TERANG WAHYU DENGAN INJIL 





Karena Injil adalah berita tentang karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus, dan berita itu menerangi manusia mengenai siapa Allah, siapa Kristus, kondisi manusia, dan jalan menuju keselamatan.

Istilah “terang Injil” sangat jelas dalam 2 Korintus 4.

1. Ayat kuncinya

2 Korintus 4:3–6

“Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hamba-hamba kamu karena kehendak Yesus.
Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Ini luar biasa karena Paulus menghubungkan empat hal:

Injil → Terang → Kemuliaan Kristus → Pengetahuan tentang Allah.


2. Mengapa Injil disebut “terang”?

Karena manusia berada dalam kegelapan, yaitu keadaan tidak mengenal Allah dengan benar dan berada di bawah kuasa dosa.

Efesus 4:18

“Pengertian mereka gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.”

Perhatikan hubungan yang sangat penting:

Kegelapan → jauh dari hidup persekutuan dengan Allah.

Maka ketika Injil datang, Injil membawa manusia dari:

kegelapan → terang

dan dari:

keterasingan → persekutuan dengan Allah.


3. Terang Injil bukan sekadar informasi

Ini yang paling penting.

“Terang Injil” bukan hanya berarti:

“Saya sekarang mengetahui bahwa Yesus mati di salib.”

Lebih dalam daripada itu.

Terang Injil membuat manusia melihat realitas Allah dan keselamatan dengan benar.

2 Korintus 4:6 mengatakan:

“terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Jadi yang diterangi adalah pengetahuan tentang kemuliaan Allah.

Dan kemuliaan Allah itu dinyatakan:

“pada wajah Kristus.”

Dengan demikian:

Terang Injil → melihat Kristus → melihat kemuliaan Allah → mengenal Allah.


4. Mengapa “wajah Kristus”?

Karena Kristus adalah penyataan Allah yang sempurna.

Kolose 1:15

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”

Dan:

Ibrani 1:3

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”

Jadi ketika Injil menerangi kita, pusatnya bukan sekadar sebuah doktrin.

Pusatnya adalah:

YESUS KRISTUS.


5. Maka “Terang Injil” berbeda dari “Terang Allah” tetapi berasal dari Allah

Kita bisa membedakan:

Allah adalah Terang

1 Yohanes 1:5

“Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.”

Kristus adalah Terang

Yohanes 8:12

“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: ‘Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.’”

Injil adalah Terang

2 Korintus 4:4

“...sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.”

Jadi bukan ada tiga terang yang berbeda.

Lebih tepat:

Allah adalah sumber Terang → Kristus adalah penyataan Terang itu → Injil memberitakan Kristus sehingga Terang itu menerangi manusia.


6. Terang Injil membawa kepada RELASI

Ini menghubungkan langsung dengan pembahasan kita sebelumnya.

Perhatikan 2 Korintus 4:6:

“supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Dan tujuan pengetahuan tentang Allah bukan sekadar akademis.

Yohanes 17:3

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Jadi:

Terang Injil

→ pengetahuan tentang Kristus

→ pengetahuan tentang Allah

→ mengenal Allah

→ relasi dengan Allah

→ hidup kekal.


7. Mengapa orang bisa mendengar Injil tetapi tetap berada dalam kegelapan?

Karena ada perbedaan antara mendengar berita dan diterangi oleh berita tersebut.

2 Korintus 4:4 mengatakan:

“...pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus...”

Jadi Injil dapat diberitakan secara eksternal, tetapi manusia dapat tidak melihat kemuliaan Kristus.

Karena itu Paulus mengatakan bahwa Allah membuat terang-Nya bercahaya:

2 Korintus 4:6

“Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita...”

Ada dimensi internal illumination—Allah menerangi hati sehingga manusia dapat melihat kebenaran Injil.


8. Ini sangat dekat dengan konsep “wahyu”

Maka kalau kita susun pembahasan kita:

WAHYU ALLAH
Allah menyingkapkan diri-Nya.
          ↓
TERANG WAHYU
Manusia diterangi untuk melihat dan memahami apa yang Allah nyatakan.
          ↓
INJIL
Isi utama berita penyelamatan itu adalah Kristus dan karya-Nya.
         ↓
TERANG INJIL
Manusia melihat kemuliaan Kristus.
         ↓
PENGETAHUAN
Manusia mengenal Allah.
         ↓
RELASI
Manusia masuk dalam persekutuan dengan Allah.
        ↓
KESELAMATAN
Manusia mencapai tujuan penciptaannya di dalam Kristus.

Jadi kalimat paling tepatnya:

Disebut “TERANG INJIL” karena Injil menyingkapkan dan menerangi manusia mengenai kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, sehingga manusia yang berada dalam kegelapan dapat melihat, mengenal, percaya kepada, dan masuk ke dalam relasi dengan Allah.

Dan ada satu detail yang sangat indah dalam 2 Korintus 4:6:

“kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Artinya, Terang Injil pada akhirnya bukan terutama menerangi kita untuk melihat sesuatu, tetapi menerangi kita untuk melihat SESEORANG: YESUS KRISTUS.

Dan ketika kita melihat Kristus dengan benar, kita melihat kemuliaan Allah, karena Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.



G  BATAS RELASI ALLAH DENGAN MANUSIA





Ada batasnya relasi Allah dan manusia tetapi batas itu perlu dibedakan dengan kedalaman relasi.

Dalam teologi Kristen, manusia dapat masuk semakin dalam dan tanpa akhir ke dalam persekutuan dengan Allah, tetapi manusia tidak pernah melampaui batas antara Pencipta dan ciptaan.

1. Ada batas ontologis

Allah adalah Pencipta, manusia adalah ciptaan.

Yesaya 55:8–9

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanmu, demikianlah firman TUHAN.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Dan:

Roma 11:33–36

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?
Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Jadi manusia tidak pernah menjadi Allah menurut hakikat/esensi.


2. Tetapi kedalaman relasi tidak mempunyai “batas atas” seperti angka

Ini yang menarik.

Manusia dapat semakin mengenal Allah, semakin mengasihi Allah, semakin serupa dengan Kristus, dan semakin mengambil bagian dalam kehidupan Allah.

2 Korintus 3:18

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”

Perhatikan:

“diubah menjadi serupa”

dan

“dalam kemuliaan yang semakin besar.”

Jadi ada pertumbuhan yang nyata dalam relasi dan keserupaan.


3. Inilah yang sangat dekat dengan THEOSIS

2 Petrus 1:4

“Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

Perhatikan: “mengambil bagian.”

Bukan:

manusia menjadi Allah dalam esensi.

Tetapi:

manusia berpartisipasi dalam kehidupan Allah.

Jadi ada dua hal yang harus dipegang sekaligus:

Tidak ada batas akhir bagi kedalaman partisipasi dalam kehidupan Allah.

Tetapi:

Ada batas kekal antara Allah dan manusia sebagai Pencipta dan ciptaan.


4. Kristus menunjukkan kemungkinan relasi yang paling dalam

Di dalam Kristus terjadi sesuatu yang luar biasa:

Yohanes 17:21

“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

Kemudian:

Yohanes 17:23

“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Ini adalah kedalaman relasi yang luar biasa.

Tetapi perhatikan: Yesus tidak mengatakan manusia menjadi Bapa atau Anak menurut hakikat.

Manusia masuk:

“di dalam Kita”

melalui relasi dengan Kristus.


5. Jadi ada perbedaan antara RELASI dan IDENTITAS

Ini sangat penting.

Manusia dapat memiliki relasi yang sangat dalam dengan Allah, tanpa menjadi Allah secara ontologis.

Contoh sederhana:

Seorang anak dapat mempunyai hubungan yang sangat dalam dengan ayahnya—mengenal, mengasihi, tinggal bersama, menerima kehidupan dan warisan—tetapi anak itu tidak menjadi ayahnya.

Demikian jauh lebih tinggi dalam hubungan Allah–manusia:

semakin dalam persekutuan → bukan semakin kabur perbedaan Pencipta dan ciptaan.

Justru semakin manusia mengenal Allah, semakin ia mengenal siapa Allah dan siapa dirinya.


6. Bahkan dalam kekekalan relasi itu terus “dalam”

Ini sangat menarik.

Jika kehidupan kekal adalah mengenal Allah:

Yohanes 17:3

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Maka kehidupan kekal bukan berarti:

“Saya akhirnya mengetahui segala sesuatu tentang Allah.”

Karena Allah tidak terbatas.

Sebaliknya, manusia yang terbatas akan terus hidup dalam pengenalan dan persekutuan dengan Allah yang tidak terbatas.

Jadi kita dapat mengatakan:

Relasi dengan Allah tidak memiliki titik jenuh, karena objek relasinya adalah Allah yang tidak terbatas.


7. Namun ada satu “batas” yang tidak akan pernah dilewati

Batasnya adalah:

MANUSIA TIDAK MENJADI ALLAH DALAM ESENSI.

Allah tetap Allah.

Manusia tetap manusia.

Ini justru membuat theosis menjadi indah:

Manusia menjadi semakin serupa dengan Allah tanpa berhenti menjadi manusia.

Seperti besi yang berada dalam api: besi menjadi panas dan bercahaya karena mengambil bagian dalam energi panas api, tetapi besi tidak berubah menjadi api menurut hakikatnya.


Jadi jawabannya:

Apakah kedalaman relasi manusia dan Allah ada batasnya?

Dalam hal ONTOLOGIS:

Ya, ada batas mutlak.

Manusia tidak pernah menjadi Allah menurut esensi.

Dalam hal PERSEKUTUAN:

Tidak ada batas akhir yang dapat dicapai manusia sehingga berkata, “sudah tidak mungkin lebih dalam lagi.”

Manusia dapat terus bertumbuh dalam:

  • pengenalan Allah,
  • kasih kepada Allah,
  • keserupaan dengan Kristus,
  • kekudusan,
  • partisipasi dalam kehidupan Allah,
  • dan persekutuan dengan Bapa melalui Anak dalam Roh Kudus.

Maka dapat dirumuskan:

BATAS IDENTITAS → TETAP.
BATAS PARTISIPASI → TIDAK ADA TITIK JENUH.

Dan ini sebenarnya sangat cocok dengan pemahaman Anda sebelumnya tentang keselamatan sebagai tercapainya tujuan relasional penciptaan:

Keselamatan membawa manusia sedalam mungkin ke dalam kehidupan Allah, tetapi tidak pernah menghapus perbedaan antara Pencipta dan ciptaan.

Itulah keseimbangan antara union with Christ dan theosis: persatuan yang nyata, partisipasi yang nyata, tetapi bukan peleburan hakikat.



H  KEDALAMAN RELASI ALLAH DENGAN SETIAP INDIVIDU ADALAH BERBEDA





Secara Alkitabiah, kita dapat mengatakan bahwa kedalaman pengalaman dan pertumbuhan relasi seseorang dengan Allah dapat berbeda, dan respons manusia terhadap panggilan, firman, dan karya Roh Kudus sangat berpengaruh.

Namun perlu dibedakan: kasih Allah kepada orang percaya tidak bertingkat-tingkat. Yang berbeda adalah respons, keterbukaan, ketaatan, pengenalan, dan partisipasi manusia dalam relasi tersebut.

1. Allah memanggil manusia terlebih dahulu

Relasi tidak dimulai dari manusia mencari Allah, tetapi dari Allah yang memanggil.

Yohanes 15:16

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Jadi:

Allah memanggil → manusia merespons → relasi berkembang.


2. Respons manusia terhadap panggilan dapat berbeda

Yesus memberikan gambaran melalui perumpamaan tentang penabur.

Markus 4:20

“Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat dan ada yang seratus kali lipat.”

Ini sangat relevan.

Semua menerima benih, tetapi hasilnya berbeda:

30× → 60× → 100×

Artinya, respons terhadap firman menghasilkan tingkat buah yang berbeda.


3. Paulus juga berbicara tentang pertumbuhan yang berbeda

1 Korintus 3:1–2

“Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.”

Jadi ada orang yang sudah berada dalam Kristus tetapi belum dewasa.

Ini menunjukkan:

memiliki relasi dengan Kristus ≠ sudah mencapai kedalaman maksimal relasi tersebut.


4. Kita dipanggil untuk “bertumbuh” dalam relasi

2 Petrus 3:18

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.”

Perhatikan:

“bertumbuhlah ... dalam pengenalan.”

Kalau pengenalan bisa bertumbuh, maka kedalaman relasi juga mengalami pertumbuhan.


5. Respons terhadap Roh Kudus sangat menentukan

Allah bekerja dalam manusia, tetapi manusia dipanggil untuk merespons.

Efesus 4:30

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”

Ini menunjukkan bahwa orang percaya dapat merespons secara benar atau salah terhadap karya Roh Kudus.

Demikian juga:

1 Tesalonika 5:19

“Janganlah padamkan Roh.”

Artinya, kehidupan relasional dengan Allah membutuhkan respons yang terus-menerus.


6. Semakin kita membuka diri kepada Allah, semakin dalam kita mengalami persekutuan

Yesus berkata:

Yohanes 14:21

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Perhatikan:

“akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Ada hubungan antara:

mengasihi → menaati → mengalami penyataan Kristus.

Bukan berarti Allah hanya mengasihi orang yang taat, tetapi ketaatan membuka manusia untuk mengalami dan menikmati persekutuan dengan Allah secara lebih penuh.


7. Maria dan Marta memberikan gambaran yang menarik

Yesus berkata:

Lukas 10:41–42

“Tetapi Tuhan menjawabnya: ‘Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.’”

Maria memilih duduk di kaki Yesus dan mendengarkan Dia.

Ini menggambarkan orientasi hati kepada pribadi Kristus, bukan hanya aktivitas bagi Kristus.

Dengan demikian, seseorang dapat melakukan banyak hal untuk Allah tetapi belum tentu memiliki kedalaman persekutuan yang sama.


8. Paulus menunjukkan kerinduan akan relasi yang semakin dalam

Filipi 3:10

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.”

Perhatikan Paulus berkata:

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia.”

Padahal Paulus sudah mengenal Kristus.

Artinya:

pengenalan terhadap Allah tidak berhenti pada saat pertobatan.

Ada perjalanan semakin dalam.


9. Jadi kita bisa membedakan tiga hal

A. STATUS RELASI

Misalnya:

anak Allah

Yohanes 1:12

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Status ini adalah anugerah, bukan hasil prestasi manusia.

B. KEDALAMAN PERSEKUTUAN

Ini dapat bertumbuh.

mengenal → semakin mengenal
mengasihi → semakin mengasihi
percaya → semakin percaya
taat → semakin taat

C. PARTISIPASI DALAM KEHIDUPAN ALLAH

Ini juga mengalami pertumbuhan.

2 Korintus 3:18

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”


10. Jadi rumusan Anda bisa dibuat sangat kuat

Allah memberikan panggilan dan anugerah-Nya kepada manusia. Manusia kemudian dipanggil untuk merespons dalam iman, kasih, ketaatan, dan keterbukaan terhadap karya Roh Kudus. Respons tersebut berpengaruh terhadap kedalaman pengalaman, pengenalan, persekutuan, dan partisipasi manusia dalam kehidupan Allah.

Tetapi jangan sampai dipahami bahwa:

“Orang yang lebih dalam relasinya lebih dikasihi Allah.”

Bukan itu.

Lebih tepat:

Kasih Allah adalah sumbernya; respons manusia menentukan sejauh mana manusia membuka diri untuk menerima, mengalami, dan berpartisipasi dalam kasih serta kehidupan yang Allah berikan.

Sehingga alurnya:

PANGGILAN ALLAH
↓
ANUGERAH ALLAH
↓
RESPONS MANUSIA
↓
IMAN & KETAATAN
↓
PENGENALAN YANG SEMAKIN DALAM
↓
PERSEKUTUAN YANG SEMAKIN DALAM
↓
KESERUPAAN DENGAN KRISTUS
↓
PARTISIPASI DALAM KEHIDUPAN ALLAH

Dan ini kembali kepada gagasan besar yang sedang kita bangun:

Keselamatan bukan hanya menerima status “diselamatkan”, tetapi masuk dan terus bertumbuh dalam relasi dengan Allah sampai tujuan penciptaan manusia digenapi.



I. RELASI MENGHASILKAN KESELARASAN KEHENDAK





Relasi juga menentukan bagaimana kita melakukan kehendak Allah. Bahkan ini merupakan salah satu tanda penting bahwa relasi dengan Allah sungguh-sungguh bertumbuh:

Semakin benar dan dalam relasi seseorang dengan Allah, semakin kehendaknya dibentuk dan diarahkan agar sesuai dengan kehendak Allah.

Namun bukan berarti manusia kehilangan kehendaknya sendiri. Justru kehendak manusia dipulihkan, sehingga ia semakin bebas menghendaki apa yang baik dan sesuai dengan Allah.

1. Kristus adalah contoh sempurna

Yesus berkata:

Yohanes 6:38

“Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.”

Ini bukan berarti Yesus tidak mempunyai kehendak manusia. Dalam kemanusiaan-Nya, Ia mempunyai kehendak manusia yang nyata.

Di Getsemani:

Lukas 22:42

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Ini sangat penting:

kehendak manusiawi Kristus → tidak memberontak terhadap kehendak Bapa → tunduk dan selaras dengan kehendak Bapa.


2. Relasi menghasilkan keselarasan kehendak

Semakin kita mengenal seseorang yang kita kasihi, semakin kita memahami apa yang dia kehendaki.

Demikian pula secara rohani.

Roma 12:2

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Ada proses:

relasi dengan Allah
↓
pembaruan budi
↓
mampu membedakan kehendak Allah
↓
menghendaki dan melakukan yang berkenan kepada Allah.


3. Ini merupakan bagian dari transformasi manusia

Allah bukan hanya mengampuni kita; Ia mengubah kita dari dalam.

Filipi 2:13

“karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

Perhatikan dua hal:

“kemauan”

dan

“pekerjaan.”

Allah bekerja bukan hanya supaya kita melakukan kehendak-Nya, tetapi juga mengerjakan kemauan/kehendak di dalam kita.

Ini sangat dalam.

Keselamatan menyentuh:

apa yang kita pikirkan → apa yang kita cintai → apa yang kita kehendaki → apa yang kita lakukan.


4. Jadi kehendak yang selaras dengan Allah adalah buah relasi

Yesus berkata:

Yohanes 15:5

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Perhatikan:

tinggal di dalam Kristus → berbuah.

Buah bukan dasar persatuan dengan Kristus; buah adalah hasil dari kehidupan yang tinggal dalam Kristus.

Karena itu:

Relasi yang benar menghasilkan transformasi kehendak.


5. Bahkan doa mulai berubah

Pada awalnya manusia mungkin berdoa:

“Tuhan, lakukan apa yang saya mau.”

Tetapi semakin dewasa:

“Tuhan, bentuklah apa yang saya kehendaki sehingga sesuai dengan kehendak-Mu.”

Yesus mengajar:

Matius 6:10

“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

Ini merupakan orientasi hidup murid Kristus:

kehendak Allah menjadi pusat kehidupan.


6. Tetapi jangan salah memahami “kehendak Allah”

Keselarasan dengan kehendak Allah bukan berarti manusia menjadi robot.

Justru sebaliknya.

Dosa membuat kehendak manusia terbelenggu oleh keinginan yang salah.

Yesus berkata:

Yohanes 8:34

“Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.’”

Keselamatan membebaskan manusia untuk kembali menghendaki yang baik.

Galatia 5:13

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

Jadi kebebasan sejati bukan:

“Saya bebas melakukan apa pun yang saya mau.”

Melainkan:

“Saya dibebaskan sehingga dapat menghendaki dan melakukan apa yang baik di hadapan Allah.”


7. Inilah hubungan dengan THEOSIS

Kalau kita tarik lebih dalam:

Relasi dengan Allah
→ mengenal Allah

Mengenal Allah
→ mengasihi Allah

Mengasihi Allah
→ menghendaki apa yang Allah kehendaki

Menghendaki kehendak Allah
→ melakukan kehendak Allah

Melakukan kehendak Allah
→ semakin serupa dengan Kristus

Semakin serupa dengan Kristus
→ semakin mengambil bagian dalam kehidupan Allah.

2 Korintus 3:18

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”


8. Jadi kita bisa membuat prinsip yang sangat kuat

Kualitas relasi dengan Allah tercermin dalam arah kehendak manusia.

Bukan berarti setiap orang yang mengalami pergumulan otomatis mempunyai relasi yang buruk. Orang percaya masih dapat jatuh, bingung, dan bergumul.

Tetapi arah dasarnya berubah:

Dulu:
“Yang penting kehendakku.”

Sekarang:
“Apa kehendak Allah?”

Semakin dewasa:
“Aku ingin kehendakku sendiri dibentuk sehingga sesuai dengan kehendak Allah.”

Kedewasaan rohani:

“Bukan hanya aku melakukan kehendak Allah, tetapi aku mulai mencintai apa yang Allah cintai dan menghendaki apa yang Allah kehendaki.”

Dan menurut saya, ini sangat penting untuk kerangka yang sedang kita bangun:

Keselamatan bukan hanya pemulihan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga pemulihan kehendak manusia supaya manusia dapat kembali hidup sesuai dengan tujuan Allah dalam penciptaannya.

Dengan demikian:

RELASI DIPULIHKAN → KEHENDAK DIPULIHKAN → KEHIDUPAN DIPULIHKAN → GAMBAR ALLAH SEMAKIN NYATA.



J. RELASI ALLAH DAN MANUSIA ADALAH RELASI KASIH




Secara Alkitabiah, relasi Allah dengan manusia dapat dipahami sebagai relasi kasih yang berasal dari Allah dan mengundang manusia untuk menjawab dengan kasih kepada Allah serta kasih kepada sesama. Namun, kasih manusia kepada Allah bukan berarti Allah membutuhkan manusia sebagai sumber kasih; Allah lebih dahulu mengasihi, dan manusia menerima serta merespons kasih itu.

1. Allah lebih dahulu mengasihi manusia

Dasar pertama adalah: inisiatif kasih berasal dari Allah.

1 Yohanes 4:9–10
“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”

Jadi urutannya:

Allah mengasihi → Allah mengutus Anak → manusia menerima kasih → manusia hidup dalam kasih.

Bukan:

manusia mengasihi → kemudian Allah mengasihi manusia.


2. Allah mengasihi manusia dan manusia dipanggil mengasihi Allah

Yesus menyebut ini sebagai hukum yang terutama:

Matius 22:37–39
“Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’”

Di sini terlihat arah relasi kasih:

Allah → manusia
Allah mengasihi manusia.

Manusia → Allah
Manusia mengasihi Allah.

Manusia → manusia
Manusia mengasihi sesamanya.

Jadi kehidupan manusia di dalam Allah bukan sekadar hubungan hukum atau kewajiban, tetapi relasi kasih.


3. Kasih Allah dinyatakan paling sempurna dalam Kristus

Puncak kasih Allah kepada manusia adalah pemberian Anak-Nya.

Yohanes 3:16
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Perhatikan kata “mengasihi” dan “memberikan.”

Kasih Allah bukan sekadar perasaan. Kasih Allah bertindak dan memberikan diri.

Dan hal ini mencapai puncaknya di salib:

Roma 5:8
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”

Ini sangat penting: Allah mengasihi manusia bukan karena manusia sudah layak dikasihi.

Kasih Allah justru mendahului pertobatan manusia.


4. Manusia kemudian membalas kasih Allah

Setelah menerima kasih Allah, manusia dipanggil mengasihi Allah.

1 Yohanes 4:19
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Ini merupakan salah satu ayat paling jelas mengenai pola relasi tersebut.

Allah lebih dahulu → manusia merespons.

Kasih manusia kepada Allah adalah respons terhadap kasih Allah, bukan sumber kasih Allah.


5. Relasi kasih itu menjadi “tinggal di dalam Allah”

Di sinilah konsep yang sangat dekat dengan pembahasan kita mengenai Union with Christ.

1 Yohanes 4:16
“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”

Perhatikan:

“ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”

Ini bukan sekadar mengatakan:

“Allah menyukai manusia.”

Tetapi berbicara tentang persekutuan/communion:

manusia di dalam Allah — Allah di dalam manusia.

Dan konteksnya adalah kasih.


6. Union with Christ membawa manusia masuk ke dalam relasi kasih Allah

Yesus menggunakan bahasa yang sangat kuat dalam Yohanes 15:

Yohanes 15:9–10
“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.”

Perhatikan pola ini:

Bapa → Anak → manusia

Bapa mengasihi Anak.
Anak mengasihi manusia.
Manusia dipanggil tinggal dalam kasih Kristus.

Ini sangat dekat dengan gagasan Union with Christ.


7. Kasih Allah kepada manusia membawa manusia kepada kasih kepada sesama

Kasih kepada Allah tidak boleh dipisahkan dari kasih kepada manusia.

1 Yohanes 4:20–21
“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

Jadi ada arus kasih:

Allah mengasihi kita
↓
kita mengasihi Allah
↓
kita mengasihi sesama


8. Bahkan kasih kepada musuh termasuk dalam kehidupan anak-anak Allah

Yesus berkata:

Matius 5:44–45
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga; Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”

Ini menarik.

Allah sendiri memberikan kebaikan-Nya bahkan kepada orang yang tidak mengasihi-Nya.

Karena itu manusia dipanggil mencerminkan karakter kasih Bapa.


9. Kasih Allah bukan relasi yang statis, tetapi relasi yang menghasilkan kehidupan

Yesus berkata:

Yohanes 15:12
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Dan:

Yohanes 15:13
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Kristus bukan hanya mengajarkan kasih.

Kristus menunjukkan kasih melalui pemberian diri-Nya.

Karena itu kasih Kristen bersifat:

menerima → mengalami → memberikan.


10. Relasi kasih itu berasal dari kehidupan Allah sendiri

Ini semakin dalam kalau kita melihat relasi Bapa dan Anak.

Yohanes 17:24
“Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”

Ayat ini luar biasa.

“Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”

Artinya, kasih bukan sesuatu yang baru muncul setelah manusia diciptakan.

Kasih sudah ada dalam kehidupan Allah.

Kemudian melalui Kristus, manusia diikutsertakan dalam kehidupan kasih itu.


11. Yohanes 17: manusia dibawa masuk ke dalam persekutuan Bapa dan Anak

Ini salah satu teks terpenting untuk memahami Union with Christ:

Yohanes 17:20–23
“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;
supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Ini sangat dalam.

Yesus mengatakan:

“Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Dan sebelumnya:

“agar mereka juga di dalam Kita.”

Jadi Union with Christ bukan hanya:

“Yesus mengampuni saya.”

Tetapi juga:

manusia dipersatukan dengan Kristus dan masuk ke dalam persekutuan dengan Allah.


12. Tetapi manusia tidak menjadi Allah menurut natur

Ini penting supaya konsep theosis/Union with Christ tidak disalahpahami.

Ketika Alkitab mengatakan:

“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku”

bukan berarti manusia berubah menjadi Allah menurut natur atau menjadi Pribadi ilahi.

Yang terjadi adalah persekutuan dengan Allah.

Petrus berkata:

2 Petrus 1:3–4
“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Oleh karena itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

“mengambil bagian dalam kodrat ilahi” bukan berarti manusia menjadi Allah secara ontologis.

Lebih tepat dipahami sebagai partisipasi dalam kehidupan Allah melalui anugerah.


13. Kristus adalah pusat relasi Allah dan manusia

Karena itu kita dapat menggambarkan relasinya:

BAPA
↓ kasih
ANAK / KRISTUS
↓ kasih & pemberian diri
MANUSIA
↓ menerima kasih
MANUSIA DI DALAM KRISTUS
↓
mengasihi Allah & sesama

Dan Roh Kudus mengerjakan kehidupan baru itu di dalam manusia.

Paulus berkata:

Roma 5:5
“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Jadi kasih Allah bukan hanya sesuatu yang diketahui secara intelektual.

Kasih Allah dicurahkan ke dalam hati manusia oleh Roh Kudus.


14. Tujuan akhirnya: manusia hidup dalam kasih

Paulus mengatakan:

Efesus 3:17–19
“sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”

Perhatikan hubungan antara:

Kristus diam dalam hati
→ berakar dalam kasih
→ mengenal kasih Kristus
→ dipenuhi dalam kepenuhan Allah.

Ini sangat dekat dengan pemahaman theosis sebagai partisipasi dalam kehidupan Allah.


15. Kesimpulan teologis

Jadi, kalimat:

“Relasi Allah dengan manusia adalah relasi saling mengasihi”

dapat kita jelaskan dengan lebih presisi:

① Allah mengasihi manusia lebih dahulu
1 Yohanes 4:10, 19

② Kasih Allah dinyatakan melalui Kristus
Yohanes 3:16; Roma 5:8

③ Manusia menerima kasih Allah melalui iman
Yohanes 1:12; Yohanes 3:16

④ Manusia kemudian mengasihi Allah
Matius 22:37

⑤ Manusia tinggal di dalam kasih Kristus
Yohanes 15:9–10

⑥ Manusia dipersatukan dengan Kristus
Yohanes 17:20–23

⑦ Allah berdiam di dalam manusia
1 Yohanes 4:16; Yohanes 14:23

⑧ Kasih Allah dicurahkan melalui Roh Kudus
Roma 5:5

⑨ Manusia mengasihi sesama
Matius 22:39; Yohanes 13:34

⑩ Manusia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi
2 Petrus 1:4

Jadi gambaran besarnya bukan sekadar “Allah memberi perintah kepada manusia.”

Lebih dalam daripada itu:

Allah adalah kasih → Allah lebih dahulu mengasihi manusia → kasih itu dinyatakan dalam Kristus → manusia dipersatukan dengan Kristus → Roh Kudus mencurahkan kasih Allah ke dalam manusia → manusia mengasihi Allah dan sesama.

Dan ini membuat hubungan Union with Christ dan theosis menjadi sangat jelas:

Union with Christ adalah persekutuan manusia dengan Kristus; melalui persekutuan itu manusia mengambil bagian dalam kehidupan Allah oleh anugerah, sehingga hidup manusia semakin diubah menjadi hidup kasih.

Dengan demikian, kasih bukan sekadar “salah satu aktivitas” dalam relasi Allah-manusia. Kasih adalah karakter utama dari persekutuan itu.



K. TANPA KASIH KEHENDAK ALLAH TIDAK BISA DILAKUKAN




Secara Alkitabiah, pernyataan itu dapat dirumuskan:

Kasih kepada Allah adalah sumber motivasi batin yang membuat manusia rela menyelaraskan kehendaknya dengan kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya.

Tetapi ada satu nuansa penting: kasih kepada Allah sendiri merupakan respons terhadap kasih dan karya Allah lebih dahulu. Jadi manusia tidak menghasilkan kasih itu secara mandiri.

1. Allah lebih dahulu mengasihi manusia

1 Yohanes 4:19

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Ini menjadi titik awal.

Bukan:

manusia mengasihi Allah → kemudian Allah mengasihi manusia.

Tetapi:

Allah mengasihi → manusia menerima kasih → manusia mengasihi Allah.

1 Yohanes 4:10

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”

Jadi kemampuan manusia untuk mengasihi Allah berakar pada inisiatif kasih Allah.


2. Kasih kepada Allah menghasilkan keinginan melakukan kehendak-Nya

Yesus memberikan hubungan yang sangat langsung:

Yohanes 14:15

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Ini bukan sekadar:

“Kalau mengasihi Yesus, maka kamu harus memaksa diri menaati.”

Lebih dalam:

Kasih mengubah arah kehendak.

Orang yang mengasihi Allah mulai bertanya:

“Apa yang menyenangkan hati Allah?”

bukan hanya:

“Apa yang saya inginkan?”


3. Kasih membuat ketaatan bukan sekadar kewajiban

Ada perbedaan antara:

ketaatan karena takut
dan
ketaatan karena kasih.

Seorang budak mungkin menaati karena takut dihukum.

Tetapi seorang anak yang mengasihi ayahnya dapat menaati karena ingin menyenangkan ayahnya.

Yesus berkata:

Yohanes 14:23

“Jawab Yesus: ‘Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.’”

Perhatikan rangkaiannya:

mengasihi Kristus → menuruti firman → persekutuan dengan Bapa dan Anak.

Jadi kasih berhubungan langsung dengan ketaatan dan relasi.


4. Kasih bahkan membuat perintah Allah tidak terasa sebagai beban

1 Yohanes 5:3

“Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.”

Ini sangat kuat.

Orang yang tidak mengasihi Allah melihat kehendak Allah sebagai:

beban yang menghalangi kehendakku.

Orang yang mengasihi Allah mulai melihatnya sebagai:

jalan untuk menyenangkan Pribadi yang dikasihinya.

Karena itu kasih mengubah cara manusia memandang kehendak Allah.


5. Kasih menyentuh KEHENDAK, bukan hanya PERASAAN

Ini penting.

Kasih Kristen bukan sekadar:

“Saya merasa dekat dengan Tuhan.”

Kasih mempunyai arah kehendak.

Yesus berkata:

Matius 22:37–38

“Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.’”

Kasih melibatkan:

  • hati — pusat kehidupan batin,
  • jiwa — kehidupan diri,
  • akal budi — pikiran dan pemahaman.

Jadi kasih kepada Allah melibatkan seluruh pribadi manusia.


6. Karena kasih mengarahkan kehendak, kasih juga mengubah tindakan

Galatia 5:13

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

Kasih kepada Allah tidak berhenti pada hubungan vertikal.

Kasih itu mengalir kepada manusia lain.

1 Yohanes 4:20–21

“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

Jadi:

Kasih kepada Allah → kehendak sesuai Allah → kasih kepada sesama.


7. Kasih membuat manusia ingin mengetahui kehendak Allah

Ini berkaitan dengan pertanyaan kita sebelumnya tentang kasih dan pengenalan.

Orang yang mengasihi Allah akan ingin mengenal Dia lebih dalam.

Dan semakin mengenal Allah, semakin memahami apa yang berkenan kepada-Nya.

Filipi 1:9–10

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.”

Perhatikan:

kasih → pengetahuan/pengertian → mampu memilih apa yang baik.

Jadi kasih bukan lawan dari pengetahuan.

Justru:

kasih mendorong pengenalan, dan pengenalan membentuk kehendak.


8. Ini menjelaskan mengapa relasi menghasilkan kehendak yang selaras

Kita sekarang bisa menyusun seluruh prosesnya:

KASIH ALLAH
↓
PENYATAAN ALLAH
↓
PENGENALAN AKAN ALLAH
↓
KASIH KEPADA ALLAH
↓
KEHENDAK SEMAKIN SELARAS DENGAN ALLAH
↓
KETAATAN
↓
PERBUATAN YANG SESUAI KEHENDAK ALLAH
↓
RELasi SEMAKIN DALAM

Ini menjadi semacam siklus pertumbuhan rohani.


9. Tetapi manusia tidak melakukan kehendak Allah hanya dengan kekuatan moralnya sendiri

Ini juga sangat penting.

Paulus berkata:

Filipi 2:13

“karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik KEMAUAN maupun PEKERJAAN menurut kerelaan-Nya.”

Allah mengerjakan:

kemauan

dan

pekerjaan.

Jadi bahkan kemampuan untuk menghendaki yang baik dan melakukannya bergantung pada karya kasih karunia Allah.

Ini menjaga kita dari dua ekstrem:

Ekstrem 1

“Saya mampu melakukan kehendak Allah karena kekuatan saya sendiri.”

Tidak.

Ekstrem 2

“Karena semuanya anugerah, manusia tidak perlu merespons.”

Juga tidak.

Alkitab justru mengatakan:

Allah bekerja di dalam kita → kita merespons → kita menghendaki dan melakukan kehendak Allah.


10. Roh Kudus bekerja dalam proses ini

Kasih Allah dicurahkan ke dalam hati melalui Roh Kudus.

Roma 5:5

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Kemudian Roh menghasilkan buah:

Galatia 5:22–23

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Jadi kemampuan mengasihi Allah tidak berdiri sendiri.

Ada karya:

Bapa → Anak → Roh Kudus → manusia.


11. Yesus adalah pola sempurna

Dalam Kristus kita melihat hubungan:

kasih → kehendak → ketaatan.

Yohanes 14:31

“Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku. Bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”

Perhatikan kalimat:

“Aku mengasihi Bapa”

lalu:

“Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku.”

Ini persis prinsip yang sedang kita bicarakan.

Kasih kepada Bapa → keselarasan kehendak → ketaatan kepada Bapa.


12. Puncaknya: kehendak manusia tidak dihancurkan, tetapi dipulihkan

Ini sangat penting dalam pembahasan kita mengenai keselamatan.

Tujuan Allah bukan membuat manusia menjadi robot.

Allah tidak menghapus kehendak manusia.

Sebaliknya, Allah memulihkan kehendak manusia, sehingga manusia dapat dengan bebas menghendaki apa yang baik.

Karena itu doa Yesus:

Matius 6:10

“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

Dan di Getsemani:

Lukas 22:42

“Ya Bapa, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Di sini kita melihat bahwa keselarasan dengan kehendak Allah tidak berarti tidak mempunyai kehendak sendiri.

Justru:

kehendak manusia yang sehat mampu berkata: “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu.”


13. Maka kasih adalah “motor” relasi

Kita dapat menggunakan gambaran sederhana:

• PENGENALAN memberi kita pemahaman tentang siapa Allah dan apa kehendak-Nya.

• KASIH membuat kita menginginkan Allah dan kehendak-Nya.

• KEHENDAK memilih untuk mengikuti-Nya.

• KETAATAN mewujudkannya dalam tindakan.

Jadi:

Pengenalan menjawab: “Apa yang Allah kehendaki?”

Kasih menjawab: “Mengapa saya mau melakukannya?”

Kehendak menjawab: “Saya memilih untuk melakukannya.”

Ketaatan menjawab: “Saya melakukannya.”


14. Dan ini kembali kepada KESELAMATAN

Kalau kita gabungkan seluruh pembahasan kita:

Allah mengasihi manusia → Allah menyatakan diri-Nya → manusia mengenal Allah → manusia mengasihi Allah → kehendak manusia dibentuk → manusia menghendaki kehendak Allah → manusia melakukan kehendak Allah → manusia semakin serupa dengan Kristus → relasi dengan Allah semakin dalam.

Maka keselamatan bukan hanya:

“dosa saya diampuni.”

Tetapi juga:

“hati saya dipulihkan untuk mengasihi Allah, kehendak saya dipulihkan untuk menghendaki apa yang Allah kehendaki, dan hidup saya diarahkan kembali kepada tujuan penciptaan.”

Dan puncaknya adalah apa yang Paulus katakan:

Galatia 2:20

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Jadi sangat tepat kalau dirumuskan:

KASIH KEPADA ALLAH → KEHENDAK YANG SELARAS DENGAN ALLAH → KETAATAN KEPADA ALLAH.

Tetapi sumber terdalamnya adalah:

KASIH ALLAH KEPADA MANUSIA → manusia mampu merespons dengan KASIH KEPADA ALLAH.

Dan semakin kasih itu bertumbuh, semakin kehendak manusia tidak sekadar “tunduk” kepada Allah, tetapi mulai mencintai apa yang Allah kehendaki. Itu adalah salah satu tanda penting dari kedalaman relasi manusia dengan Allah.



L. KETAATAN KEPADA TUHAN YESUS ADALAH BUAH KASIH




Yohanes 14:15 menunjukkan bahwa kasih kepada Kristus menjadi dasar ketaatan kepada firman-Nya. Tetapi ada satu lapisan penting: kasih kita kepada Kristus sendiri merupakan respons terhadap kasih Allah yang lebih dahulu diberikan kepada kita.

1. Yesus menempatkan KASIH sebelum KETAATAN

Yohanes 14:15

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Urutannya jelas:

MENGASIHI YESUS
↓
MENURUTI PERINTAH YESUS

Jadi ketaatan Kristen bukan terutama:

“Saya harus melakukan perintah supaya Yesus mengasihi saya.”

Melainkan:

“Karena saya mengasihi Yesus, saya mau melakukan apa yang Dia kehendaki.”

Ini perbedaan yang sangat penting.


2. Kasih mengubah sumber motivasi ketaatan

Ada dua kemungkinan seseorang melakukan perintah:

A. Karena takut

“Saya harus melakukan ini supaya tidak dihukum.”

Ketaatan seperti ini dapat terjadi secara lahiriah, tetapi hati belum tentu mengasihi Allah.

B. Karena kasih

“Saya melakukan ini karena saya mengasihi Tuhan dan ingin menyenangkan hati-Nya.”

Inilah yang Yesus tekankan.

Karena itu Yesus tidak berkata:

“Kalau kamu menaati Aku, maka kamu akan mengasihi Aku.”

Tetapi:

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Kasih → ketaatan.


3. Ini bukan berarti perintah Allah tidak penting

Justru sebaliknya.

Kasih yang benar menghasilkan ketaatan.

Perhatikan:

Yohanes 14:21

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Di sini Yesus menghubungkan tiga hal:

MENGASIHI YESUS
↓
MEMEGANG PERINTAH-NYA
↓
MELAKUKANNYA

Jadi ketaatan adalah buah yang terlihat dari kasih.


4. Bahkan Yesus sendiri memberikan pola tersebut

Yesus berkata:

Yohanes 14:31

“Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku. Bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”

Perhatikan hubungan:

YESUS MENGASIHI BAPA
↓
YESUS MELAKUKAN KEHENDAK BAPA

Jadi apa yang Yesus minta dari murid-murid-Nya, terlebih dahulu Dia sendiri hidupkan.

Kasih bukan lawan ketaatan.

Kasih adalah sumber ketaatan.


5. Tetapi dari mana kasih kita kepada Allah berasal?

Di sinilah ayat yang sangat penting:

1 Yohanes 4:19

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Jadi jangan berhenti pada:

Kasih kita → ketaatan.

Ada sesuatu yang lebih dahulu:

KASIH ALLAH
↓
ALLAH MENYATAKAN KASIH-NYA
↓
KITA MENGENAL/MENYADARI KASIH ALLAH
↓
KITA MENGASIHI ALLAH
↓
KITA MAU MELAKUKAN KEHENDAK-NYA
↓
KETAATAN

Ini sangat sesuai dengan pembahasan kita sebelumnya tentang pengenalan dan kasih.


6. Karena itu ketaatan bukan sekadar tindakan eksternal

Allah tidak hanya ingin:

tangan kita melakukan perintah-Nya.

Allah menghendaki:

hati kita mengasihi-Nya sehingga kehendak kita mulai selaras dengan kehendak-Nya.

Itulah sebabnya Roma 12:2 berkata:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Ada perubahan di dalam, kemudian menghasilkan kehidupan di luar.


7. Kasih mengubah “HARUS” menjadi “MAU”

Ini salah satu bagian terdalam dari hubungan dengan Allah.

Orang yang belum memiliki relasi kasih dengan Allah mungkin berkata:

“Saya tahu ini perintah Allah, tetapi saya tidak mau.”

Sedangkan ketika kasih kepada Allah bertumbuh:

“Saya tahu ini kehendak Allah, dan saya ingin melakukannya karena saya mengasihi Dia.”

Jadi yang dipulihkan bukan hanya perilaku, tetapi juga kehendak.

Filipi 2:13

“karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

Perhatikan dua hal:

KEMAUAN
dan
PEKERJAAN

Allah bekerja bukan hanya supaya manusia melakukan, tetapi juga supaya manusia memiliki kemauan untuk melakukan.


8. Inilah hubungan kasih dengan kehendak manusia

Kita dapat membuat rantai:

MENGENAL ALLAH
↓
MENGENAL KASIH ALLAH
↓
MENGASIHI ALLAH
↓
KEHENDAK MULAI SELARAS DENGAN ALLAH
↓
MAU MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH
↓
TAAT
↓
HIDUP MENGHASILKAN BUAH

Jadi kasih mengubah arah kehendak.

Bukan berarti kehendak manusia dihapus.

Sebaliknya:

Kehendak manusia dipulihkan sehingga semakin mampu menghendaki apa yang baik dan sesuai dengan kehendak Allah.


9. Kasih juga membuat perintah Allah tidak terasa sebagai beban yang asing

1 Yohanes 5:3

“Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.”

Mengapa?

Karena orang yang mengasihi Allah mulai mencintai apa yang Allah cintai.

Maka hubungan itu berkembang:

“Allah memerintahkan.”
↓
“Saya mengetahui perintah-Nya.”
↓
“Saya mengasihi Dia.”
↓
“Saya ingin melakukan kehendak-Nya.”
↓
“Kehendak-Nya menjadi sesuatu yang saya kehendaki.”

Ini jauh lebih dalam daripada sekadar kepatuhan eksternal.


10. Puncaknya: bukan hanya “melakukan kehendak Allah”, tetapi “menghendaki kehendak Allah”

Ini sesuai dengan perkataan Yesus di Getsemani:

Lukas 22:42

“Ya Bapa, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Yesus menunjukkan bahwa ketaatan sejati bukan berarti tidak ada kehendak pribadi.

Ada kehendak:

“bukanlah kehendak-Ku”

tetapi kehendak itu dengan rela diselaraskan:

“melainkan kehendak-Mulah.”


Jadi rumusan yang sangat kuat untuk kerangka teologi Anda:

KASIH mendahului KETAATAN. Tetapi KASIH kita kepada Allah didahului oleh KASIH ALLAH kepada kita.

Sehingga:

KASIH ALLAH
↓
PENYATAAN ALLAH
↓
PENGENALAN AKAN ALLAH
↓
KASIH KEPADA ALLAH
↓
KEHENDAK SELARAS DENGAN ALLAH
↓
KETAATAN KEPADA FIRMAN
↓
KEHIDUPAN YANG MENGHASILKAN BUAH
↓
RELASI DENGAN ALLAH SEMAKIN DALAM

Dan ini menjelaskan mengapa keselamatan bukan sekadar pengampunan dosa.

Allah memulihkan manusia sampai ke tingkat relasi, kasih, kehendak, dan kehidupan—sehingga manusia bukan hanya berkata:

“Aku harus melakukan kehendak Allah,”

tetapi semakin menjadi:

“Aku mengasihi Allah, karena itu aku ingin melakukan kehendak-Nya.”

Itulah perbedaan antara ketaatan karena takut dan ketaatan yang lahir dari kasih.

Allah.



M. KASIH KITA TERBANGUN DARI HASIL RESPON KITA TERHADAP KASIH ALLAH




Yohanes 14:15 
Kasih kita kepada Allah adalah buah dari respons kita terhadap kasih Allah yang lebih dahulu dinyatakan kepada kita.

Ya, benar. Kasih kita kepada Allah adalah buah dari respons kita terhadap kasih Allah yang lebih dahulu dinyatakan kepada kita.

1. Allah lebih dahulu mengasihi

1 Yohanes 4:19

> “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Ayat ini menunjukkan bahwa sumber pertama bukanlah kasih manusia, melainkan kasih Allah.

Urutannya:

ALLAH MENGASIHI KITA ↓ ALLAH MENYATAKAN KASIH-NYA ↓ KITA MENGENAL DAN MENERIMA KASIH-NYA ↓ KASIH KITA KEPADA ALLAH TERBANGUN

Kasih manusia kepada Allah bukan sesuatu yang muncul secara mandiri, tetapi merupakan jawaban terhadap kasih ilahi.

2. Kasih Allah dinyatakan secara nyata dalam Kristus

1 Yohanes 4:9–10

> “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”

Kasih Allah bukan sekadar gagasan atau perasaan.

Kasih itu dinyatakan melalui:

* pengutusan Anak,
* inkarnasi Kristus,
* pengorbanan Kristus,
* pendamaian dosa,
* pemberian hidup yang baru.

Karena manusia melihat dan mengalami kasih Allah di dalam Kristus, maka hatinya digerakkan untuk mengasihi Allah.

3. Respons manusia melibatkan pengenalan, iman, dan penerimaan

Kasih Allah dapat dinyatakan kepada manusia, tetapi manusia dipanggil untuk merespons.

Yohanes 1:12

> “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Respons itu mencakup:

* mendengar penyataan Allah;
* mengenal kasih-Nya;
* percaya kepada Kristus;
* menerima anugerah-Nya;
* mengasihi Dia;
* hidup dalam ketaatan.

Dengan demikian, kasih manusia kepada Allah bukan hasil usaha moral semata, melainkan buah dari anugerah yang diterima dengan iman.

4. Kasih yang diterima melahirkan kasih yang dibalas

Kasih memiliki sifat relasional.

Ketika seseorang sungguh mengenal bahwa dirinya dikasihi Allah, respons yang sewajarnya adalah mengasihi Dia.

1 Yohanes 4:16

> “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”

Perhatikan urutannya:

MENGENAL ↓ PERCAYA ↓ TINGGAL DI DALAM KASIH ↓ TINGGAL DI DALAM ALLAH

Kasih yang diterima tidak berhenti sebagai pengetahuan. Kasih itu membawa manusia masuk ke dalam persekutuan dengan Allah.

5. Kasih kepada Allah kemudian menghasilkan ketaatan

Yohanes 14:15

> “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Maka:

KASIH ALLAH KEPADA KITA ↓ KITA MERESPONS DENGAN MENGASIHI ALLAH ↓ KASIH KEPADA ALLAH MENGUBAH KEHENDAK ↓ KEHENDAK MENGARAH KEPADA KEHENDAK ALLAH ↓ KETAATAN KEPADA FIRMAN

Ketaatan bukan cara untuk membeli kasih Allah, tetapi buah dari kasih yang telah diterima.

6. Respons manusia tidak menciptakan kasih Allah

Perlu dibedakan:

* Kasih Allah adalah sumber.
* Respons manusia adalah jawaban.
* Kasih manusia kepada Allah adalah buah.
* Ketaatan adalah bukti atau perwujudan kasih itu.

Jadi bukan:

> Manusia mengasihi Allah terlebih dahulu, lalu Allah mulai mengasihi manusia.

Melainkan:

> Allah mengasihi manusia terlebih dahulu, kemudian manusia dimampukan untuk merespons dengan kasih.

Bahkan kemampuan untuk merespons itu sendiri berkaitan dengan karya Allah dalam diri manusia.

Roma 5:5

> “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

7. Kasih yang bertumbuh menghasilkan perubahan hidup

Kasih kepada Allah tidak hanya berada dalam perasaan, tetapi membentuk:

* pikiran,
* kehendak,
* pilihan,
* perkataan,
* tindakan,
* relasi dengan sesama.

1 Yohanes 4:20–21

> “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

Jadi kasih kepada Allah akan mengalir keluar menjadi kasih kepada manusia.

Rumusan utamanya

> Kasih kita kepada Allah terbangun sebagai buah dari respons kita terhadap kasih Allah yang lebih dahulu dinyatakan kepada kita dalam Kristus.

Rantainya:

KASIH ALLAH ↓ PENYATAAN KASIH DALAM KRISTUS ↓ PENGENALAN DAN PENERIMAAN ↓ RESPONS IMAN ↓ KASIH KITA KEPADA ALLAH ↓ KEHENDAK YANG DIPULIHKAN ↓ KETAATAN KEPADA FIRMAN ↓ KASIH KEPADA SESAMA ↓ RELASI DENGAN ALLAH SEMAKIN DALAM

Dengan demikian, kasih manusia bukan akar keselamatan, melainkan buah dari kasih dan anugerah Allah yang telah lebih dahulu bekerja dalam diri manusia.


N. POTENSI KASIH DAN ORIENTASI KASIH




Ini perlu dibedakan dengan sangat jelas: potensi/kemampuan untuk mengasihi memang sudah ada dalam manusia sejak penciptaan, tetapi kasih kepada Allah dalam bentuk relasi yang dipulihkan dan diarahkan kepada Allah perlu dibangkitkan/diperbarui oleh kasih dan karya Allah.

Jadi bukan berarti sebelum menerima kasih Allah manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan mengasihi.

1. Manusia diciptakan menurut gambar Allah

Kejadian 1:26–27

“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Kalau Allah adalah kasih, dan manusia diciptakan menurut gambar-Nya, maka kemampuan manusia untuk mengasihi merupakan bagian dari kapasitas manusia sebagai gambar Allah.

Jadi sejak awal manusia memiliki kapasitas untuk:

  • mengasihi,
  • menerima kasih,
  • membangun relasi,
  • memberikan diri,
  • berbelas kasih,
  • menghendaki kebaikan orang lain.

2. Tetapi ada perbedaan antara POTENSI KASIH dan ARAH KASIH

Ini sangat penting.

Manusia diciptakan dengan kemampuan mengasihi, tetapi setelah kejatuhan, arah kasih manusia menjadi rusak.

Dengan kata sederhana:

Potensinya tidak hilang, tetapi orientasinya rusak.

Manusia tetap bisa mencintai:

  • orang tua,
  • pasangan,
  • anak,
  • sahabat,
  • bangsa,
  • bahkan melakukan pengorbanan untuk orang lain.

Tetapi manusia berdosa juga dapat mengarahkan kasih kepada:

  • diri sendiri secara berlebihan,
  • uang,
  • kekuasaan,
  • kenikmatan,
  • status,
  • ciptaan menggantikan Sang Pencipta.

Karena itu masalah manusia bukan:

“Manusia tidak punya kemampuan mengasihi.”

Melainkan:

“Kasih manusia tidak lagi tertata dengan benar kepada Allah dan sesama.”


3. Alkitab bahkan menunjukkan bahwa manusia berdosa masih mampu mengasihi

Yesus mengatakan:

Matius 5:46–47

“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?”

Ini sangat penting.

Yesus mengakui bahwa orang yang belum mengenal Allah pun dapat mengasihi.

Jadi jelas:

kemampuan mengasihi tidak baru muncul setelah seseorang menjadi percaya.


4. Lalu apa yang dilakukan kasih Allah?

Kasih Allah bukan menciptakan kemampuan mengasihi dari nol, melainkan memulihkan, menerangi, mengarahkan, dan menyempurnakan kasih manusia.

Kita bisa menggambarkannya:

PENCIPTAAN → manusia menerima kapasitas untuk mengasihi

KEJATUHAN → kapasitas itu tetap ada tetapi kasih menjadi tidak teratur/terarah

PENYATAAN KASIH ALLAH → manusia mengenal kembali sumber kasih yang benar

KRISTUS → kasih Allah dinyatakan secara sempurna

ROH KUDUS → kasih Allah dicurahkan ke dalam hati

PEMULIHAN → kasih manusia diarahkan kembali kepada Allah dan sesama


5. Roma 5:5 sangat penting di sini

Roma 5:5

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Jadi ada sesuatu yang diperbarui dan dicurahkan ke dalam hati manusia.

Bukan berarti manusia sebelumnya tidak mempunyai kapasitas kasih.

Lebih tepat:

Kasih Allah masuk secara baru dan transformatif ke dalam kehidupan manusia, sehingga kapasitas kasih yang telah diberikan dalam penciptaan diarahkan dan diperbarui kepada Allah.


6. Ini juga menjelaskan mengapa manusia bisa mengasihi sesamanya sebelum mengenal Kristus

Misalnya seseorang yang tidak percaya kepada Kristus bisa:

  • mencintai anaknya,
  • menolong orang miskin,
  • mengorbankan diri demi keluarga,
  • setia kepada sahabat,
  • membela orang yang tertindas.

Kita tidak perlu mengatakan:

“Itu bukan kasih karena dia belum mengenal Allah.”

Tidak.

Itu tetap merupakan kasih manusia yang nyata.

Tetapi dalam perspektif Kristen, kasih manusia tersebut tetap memiliki sumber akhirnya pada Allah sebagai Pencipta.


7. Namun kasih kepada ALLAH adalah persoalan yang lebih dalam

Manusia dapat mengasihi sesama secara natural, tetapi hubungan dengan Allah membutuhkan penyataan Allah dan respons iman.

Karena itu:

1 Yohanes 4:19

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Dalam konteks kasih kepada Allah, ayat ini sangat penting.

Allah menyatakan diri-Nya → manusia mengenal-Nya → manusia merespons → manusia mengasihi Allah.

Jadi ada dua tingkat yang harus kita bedakan:

Secara penciptaan

Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya
→ manusia memiliki kapasitas kasih.

Secara penebusan

Allah menyatakan kasih-Nya dalam Kristus
→ manusia mengenal kasih Allah
→ hati diperbarui
→ manusia kembali mengasihi Allah
→ kasih kepada sesama dimurnikan dan diarahkan.


8. Bahkan hukum terutama mengasumsikan manusia mampu mengasihi

Yesus berkata:

Matius 22:37–39

“Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’”

Ada dua arah:

VERTIKAL

Kasih kepada Allah.

HORIZONTAL

Kasih kepada sesama.

Dan keduanya berkaitan dengan tujuan penciptaan manusia sebagai makhluk relasional.


9. Jadi formulasi kita sebelumnya perlu diperbaiki sedikit

Sebelumnya kita mengatakan:

“Kasih kita kepada Allah adalah buah dari respons terhadap kasih Allah.”

Itu benar, tetapi belum lengkap.

Formulasi yang lebih lengkap adalah:

Manusia sejak penciptaan telah diberi kapasitas untuk mengasihi sebagai bagian dari gambar Allah. Namun karena dosa, kasih manusia menjadi rusak dan salah arah. Ketika Allah menyatakan kasih-Nya dalam Kristus, manusia dipanggil untuk merespons dalam iman; Roh Kudus memperbarui hati sehingga kasih manusia kembali diarahkan kepada Allah dan sesama.

Maka:

KAPASITAS KASIH
→ diberikan dalam PENCIPTAAN

ARAH KASIH YANG BENAR
→ dipulihkan dalam PENEBUSAN

PERTUMBUHAN KASIH
→ berlangsung dalam RELASI DENGAN ALLAH

KESEMPURNAAN KASIH
→ menuju KESEMPURNAAN DALAM KRISTUS


Dan ini sangat cocok dengan kerangka Anda tentang keselamatan:

MANUSIA DICIPTAKAN MENURUT GAMBAR ALLAH
↓
MEMILIKI KAPASITAS RELASI & KASIH
↓
DOSА MERUSAK ARAH KASIH DAN KEHENDAK
↓
ALLAH MENYATAKAN KASIH-NYA DALAM KRISTUS
↓
MANUSIA MENGENAL & MERESPONS KASIH ALLAH
↓
ROH KUDUS MEMPERBARUI HATI
↓
KASIH KEPADA ALLAH BERTUMBUH
↓
KEHENDAK SEMAKIN SELARAS DENGAN ALLAH
↓
KETAATAN
↓
KASIH KEPADA SESAMA
↓
RELASI DENGAN ALLAH SEMAKIN DALAM

Jadi, kasih bukan sesuatu yang baru “dimasukkan” ke dalam manusia ketika ia percaya. Benih/kapasitas kasih sudah ada dalam penciptaan; yang dilakukan anugerah adalah memulihkan dan mengarahkan kasih itu kembali kepada sumbernya, yaitu Allah, sehingga kasih manusia semakin menyerupai kasih Kristus.


O. DOSA MERUSAK ORIENTASI KASIH & KEHENDAK MANUSIA 




Gagasan itu sangat kuat, terutama jika “kehendak gnômik” juga adalah konsep kehendak deliberatif yang muncul ketika manusia mempertimbangkan berbagai pilihan karena belum memiliki kehendak yang sepenuhnya tertuju kepada kebaikan. Namun perlu satu nuansa: gnomic will tidak identik dengan dosa, tetapi dalam kondisi manusia yang jatuh, cara kehendak yang ragu-ragu dan memilih di antara berbagai kemungkinan dapat menjadi tempat masuknya orientasi kasih yang keliru.

1. Kasih dan kehendak menentukan arah relasi

Kita dapat melihat manusia sebagai makhluk yang:

mengenal → mengasihi → menghendaki → memilih → bertindak → membangun relasi.

Karena itu kalau orientasi kasih salah, kehendak juga cenderung salah arah.

Misalnya:

Saya mengasihi uang secara tidak teratur
↓
saya menghendaki uang di atas kehendak Allah
↓
saya mengambil keputusan yang salah
↓
relasi dengan Allah dan sesama rusak.

Jadi persoalannya bukan sekadar tindakan eksternal, tetapi arah batin manusia.


2. Inilah yang terjadi sejak kejatuhan

Manusia tetap memiliki kemampuan mengasihi dan berkehendak, tetapi orientasinya menjadi tidak tertata.

Kejadian 3:6

“Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.”

Terlihat adanya:

melihat → menginginkan → memilih → bertindak.

Masalahnya adalah kehendak manusia tidak lagi tunduk kepada firman Allah.


3. Maka keselamatan menyentuh ORIENTASI kehendak

Allah tidak hanya mengampuni tindakan masa lalu.

Allah juga memulihkan manusia sehingga kehendaknya kembali diarahkan kepada-Nya.

Filipi 2:13

“karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

Perhatikan:

kemauan → pekerjaan

Allah bekerja sampai pada tingkat kehendak, bukan hanya perilaku.


4. Dan ini berhubungan langsung dengan tujuan akhir manusia

Anda mengatakan:

“Tujuan akhir adalah relasi yang sempurna dengan Allah.”

Ini sangat sesuai dengan arah Yohanes 17.

Yohanes 17:21

“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

Dan:

Yohanes 17:23

“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Perhatikan kata:

“sempurna menjadi satu.”

Tujuan akhirnya bukan sekadar manusia menjadi “orang baik”.

Tujuannya adalah persekutuan yang sempurna dengan Allah melalui Kristus.


5. Karena itu orientasi kasih dan kehendak sangat penting

Kita bisa menggambarkan:

Kondisi awal

GAMBAR ALLAH
↓
KAPASITAS MENGASIHI
↓
KEHENDAK
↓
RELАSI DENGAN ALLAH

Tetapi dosa menyebabkan:

KASIH MENJADI TIDAK TERATUR
↓
KEHENDAK MENJADI TERPECAH
↓
PILIHAN MENYIMPANG
↓
RELASI DENGAN ALLAH RUSAK
↓
RELASI DENGAN SESAMA JUGA RUSAK


6. Kristus memulihkan arah tersebut

Dalam Kristus:

KASIH ALLAH DINYATAKAN
↓
MANUSIA MENGENAL ALLAH
↓
KASIH KEPADA ALLAH DIBANGKITKAN
↓
KEHENDAK DIARAHKAN KEMBALI KEPADA ALLAH
↓
KETAATAN
↓
RELASI DIPULIHKAN
↓
PERSEKUTUAN SEMAKIN DALAM

Itulah sebabnya Yesus berkata:

Yohanes 14:15

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Kasih menentukan arah kehendak, dan kehendak yang diarahkan kepada Allah menghasilkan ketaatan.


7. Tetapi ada satu koreksi penting tentang “gnomik”

Kalau kita menggunakan istilah gnomic will (θέλημα γνωμικόν) dalam kerangka Maximus Sang Pengaku Iman, jangan menyamakannya begitu saja dengan:

“kehendak yang jahat.”

Gnomic will lebih berkaitan dengan cara manusia yang belum memiliki kesatuan kehendak yang sempurna melakukan deliberasi, mempertimbangkan, memilih, dan mengalami keraguan.

Karena itu lebih tepat mengatakan:

Dalam manusia yang jatuh, kehendak gnômik dapat menjadi sarana munculnya keraguan dan pilihan yang menyimpang karena orientasi kasihnya belum sepenuhnya tertuju kepada Allah.

Ini juga membantu menjelaskan mengapa Maximus sangat menekankan Kristus: dalam Kristus ada kehendak manusia yang sungguh manusia, tetapi tidak berdosa dan tidak memberontak terhadap Allah.


8. Jadi masalah terdalam manusia bukan sekadar “tidak tahu”

Ini sangat penting bagi kerangka Anda.

Manusia dapat tahu apa yang benar tetapi tetap tidak melakukannya.

Karena itu:

PENGETAHUAN SAJA tidak cukup.

Diperlukan:

PENGENALAN AKAN ALLAH
+
KASIH KEPADA ALLAH
+
KEHENDAK YANG SELARAS
→
KETAATAN

Maka Roma 12:2 mengatakan:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”


Rumusan besarnya

Saya kira kalimat Anda dapat dipertajam menjadi:

“Dosa merusak orientasi kasih dan kehendak manusia. Dalam kondisi jatuh, kehendak yang bersifat gnômik dapat mengalami keraguan dan memilih secara menyimpang, sehingga relasi dengan Allah dan sesama rusak. Keselamatan dalam Kristus memulihkan orientasi kasih dan kehendak kepada Allah, sehingga manusia semakin mampu menghendaki dan melakukan kehendak-Nya. Tujuan akhirnya adalah persekutuan yang sempurna dengan Allah.”

Atau dalam bentuk paling ringkas:

KASIH → KEHENDAK → PILIHAN → TINDAKAN → RELASI

Jika kasih diarahkan kepada Allah, kehendak semakin selaras dengan Allah → ketaatan → relasi semakin dalam.

Jika kasih berbalik kepada diri/ciptaan sebagai tujuan tertinggi, kehendak menyimpang → relasi dengan Allah dan sesama rusak.

Dan keselamatan adalah pemulihan seluruh arah tersebut sampai manusia mencapai persekutuan sempurna dengan Allah dalam Kristus.



P. MEMBANGUN KASIH YANG BISA MENGASIHI ALLAH




Kalau kita mengikuti kerangka yang sedang dibangun, pertumbuhan kasih kepada Allah adalah proses ketika kasih manusia yang sudah ada dalam penciptaan dipulihkan, diarahkan, dan semakin dipenuhi oleh kasih Allah, sampai seluruh pribadi: hati, jiwa, dan akal budi, semakin tertuju kepada Allah.

Yesus menyebut tujuan itu:

Matius 22:37–38

“Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.’”

Perhatikan kata “segenap”. Ini bukan terutama soal intensitas emosi, tetapi integrasi seluruh pribadi kepada Allah.


1. Kasih dimulai dari kasih Allah, bukan dari usaha manusia

Dasarnya:

1 Yohanes 4:19

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Jadi prosesnya bukan:

manusia berusaha keras → akhirnya mampu mengasihi Allah.

Tetapi:

Allah mengasihi → Allah menyatakan kasih-Nya → manusia mengenal → manusia merespons → kasih kepada Allah bertumbuh.

Karena itu pertumbuhan kasih adalah respons terhadap kasih yang terlebih dahulu diterima.


2. Tahap pertama: manusia MENGENAL kasih Allah

Kasih sulit bertumbuh terhadap pribadi yang tidak dikenal.

Allah menyatakan diri-Nya terutama melalui Kristus.

1 Yohanes 4:9–10

“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”

Jadi:

PENYATAAN → PENGENALAN → KASIH

Semakin manusia mengenal siapa Allah dan apa yang telah dilakukan-Nya, semakin ada dasar bagi kasih kepada-Nya.


3. Tahap kedua: kasih diterima secara pribadi

Mengetahui bahwa:

“Allah mengasihi manusia”

belum sama dengan mengalami dan menerima:

“Allah mengasihi aku.”

Di sini iman menjadi penting.

Galatia 2:20

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Perhatikan ungkapan Paulus:

“yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Kasih Allah menjadi personal.


4. Tahap ketiga: kasih manusia mulai membalas kasih Allah

Ketika manusia sungguh mengenal dan menerima kasih Allah, muncul respons:

“Aku mengasihi Dia karena Dia terlebih dahulu mengasihi aku.”

Ini bukan transaksi.

Bukan:

“Allah mengasihi saya, maka saya harus membayar dengan mengasihi Allah.”

Melainkan kasih melahirkan kasih.

Seperti api menyalakan api:

Kasih Allah → menyentuh manusia → manusia merespons dengan kasih.


5. Tahap keempat: kasih mulai mengubah KEHENDAK

Ini bagian yang sangat penting dengan pembahasan Anda mengenai kehendak.

Kasih tidak berhenti pada perasaan.

Kalau saya mengasihi seseorang, apa yang dia kehendaki mulai menjadi penting bagi saya.

Karena itu Yesus berkata:

Yohanes 14:15

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Kasih:

→ memengaruhi kehendak
→ kehendak memengaruhi pilihan
→ pilihan menghasilkan ketaatan.

Maka semakin seseorang mengasihi Allah, semakin ia bertanya:

“Apa yang Allah kehendaki?”

bukan hanya:

“Apa yang saya inginkan?”


6. Tahap kelima: kasih bertumbuh melalui KETAATAN

Menariknya, ketaatan bukan hanya hasil kasih; ketaatan juga menjadi sarana kasih semakin dalam.

Yohanes 14:21

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Ada lingkaran pertumbuhan:

KASIH ↓ KETAATAN ↓ PENGALAMAN AKAN ALLAH ↓ PENGENALAN SEMAKIN DALAM ↓ KASIH SEMAKIN DALAM ↓ KETAATAN SEMAKIN DALAM

Jadi hubungan dengan Allah bukan garis lurus sekali jadi. Ia semakin dalam melalui persekutuan.


7. Tahap keenam: kasih semakin melibatkan seluruh pribadi

Inilah makna “segenap hati, jiwa dan akal budi.”

❤️ HATI

Pusat keinginan dan orientasi manusia.

“Apa yang paling saya cintai?”

🧍 JIWA

Seluruh kehidupan dan keberadaan diri.

“Siapakah yang menjadi tujuan hidup saya?”

🧠 AKAL BUDI

Pikiran, pengertian, penilaian.

“Bagaimana saya memahami Allah dan kehendak-Nya?”

Maka kasih kepada Allah bukan hanya:

“Saya merasa dekat dengan Tuhan.”

Tetapi:

hati mencintai Allah, jiwa tertuju kepada Allah, pikiran mengenal dan memahami Allah, dan kehendak memilih kehendak Allah.


8. Kasih harus bertumbuh bersama PENGETAHUAN

Paulus berdoa:

Filipi 1:9–10

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam PENGETAHUAN yang benar dan dalam segala macam PENGERTIAN, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.”

Ini sangat sesuai dengan pertanyaan Anda.

Perhatikan:

KASIH
↕
PENGETAHUAN & PENGERTIAN
↓
KEMAMPUAN MEMILIH YANG BAIK

Jadi kasih yang matang bukan kasih yang buta.

Semakin mengenal Allah → semakin tahu apa yang Allah kehendaki → semakin mampu mengasihi apa yang Allah kasihi.


9. Roh Kudus memperdalam kasih itu

Pertumbuhan ini bukan hanya hasil disiplin manusia.

Roma 5:5

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Roh Kudus bekerja di dalam manusia sehingga kasih Allah bukan hanya menjadi informasi di luar diri, tetapi menjadi realitas yang bekerja di dalam hati.

Karena itu:

KASIH ALLAH → dicurahkan oleh Roh → diterima manusia → menghasilkan kasih kepada Allah → menghasilkan buah Roh dalam kehidupan.

Galatia 5:22

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan...”


10. Kasih kemudian meluas kepada sesama

Semakin seseorang mengasihi Allah, kasih itu tidak berhenti secara vertikal.

1 Yohanes 4:20–21

“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

Jadi:

Kasih kepada Allah ↓ kasih kepada sesama

bukan dua kasih yang terpisah.


11. Pertumbuhan kasih juga berarti semakin menyerupai Kristus

Tujuan akhirnya bukan sekadar:

“Saya semakin sering melakukan perintah.”

Tetapi:

“Karakter dan kehendak saya semakin menyerupai Kristus.”

Filipi 2:5

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”

Dan:

2 Korintus 3:18

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”

Jadi kasih yang bertumbuh menghasilkan transformasi pribadi.


12. Maka prosesnya dapat dirumuskan seperti ini

DARI KASIH ALLAH SAMPAI KASIH DENGAN SEGENAP PRIBADI

KASIH ALLAH
↓
PENYATAAN ALLAH DALAM KRISTUS
↓
PENGENALAN AKAN ALLAH
↓
MENERIMA & MEMERCAYAI KASIH ALLAH
↓
KASIH KEPADA ALLAH
↓
KEHENDAK MULAI SELARAS DENGAN ALLAH
↓
KETAATAN KEPADA FIRMAN
↓
PENGALAMAN PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH
↓
PENGENALAN SEMAKIN DALAM
↓
KASIH SEMAKIN DALAM
↓
KEHIDUPAN SEMAKIN SERUPA KRISTUS
↓
KASIH KEPADA ALLAH DENGAN SEGENAP HATI, JIWA & AKAL BUDI


Dan ada satu hal yang sangat indah:

“Mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi” bukan berarti manusia tiba-tiba menghasilkan kasih yang sempurna dengan kekuatannya sendiri.

Ini adalah arah pertumbuhan.

• Hari ini mungkin hati kita masih terbagi.
• Besok lebih tertuju.
• Kemudian semakin mengenal.
• Semakin mengasihi.
• Semakin ingin melakukan kehendak-Nya.
• Semakin menyerupai Kristus.
• Sampai akhirnya tujuan keselamatan tercapai:

manusia yang telah dipulihkan sepenuhnya hidup dalam persekutuan sempurna dengan Allah.

Jadi dalam kerangka Anda, pertumbuhan kasih sebenarnya adalah pertumbuhan relasi:

semakin mengenal → semakin mengasihi → semakin menghendaki kehendak Allah → semakin taat → semakin tinggal dalam Allah → semakin serupa Kristus → semakin dalam persekutuan dengan Allah.



Q. MELALUI KETAATAN/IMAN KITA JUGA DAPAT MENGALAMI KASIH ALLAH 




ini nuansa yang sangat penting. Dalam proses pemuridan, urutannya tidak selalu linear “kenal → kasih → taat.” Kadang justru “taat → mengalami → semakin mengenal → semakin mengasihi → semakin rela taat.”

Analogi anak dengan ayah yang Anda berikan sangat tepat.

1. Anak kecil belum memahami seluruh maksud ayah

Seorang anak mungkin berkata:

“Mengapa Ayah melarang saya melakukan ini?”

Dia belum memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kedewasaan untuk memahami alasan ayahnya.

Tetapi karena percaya kepada ayahnya, dia menaati.

PERCAYA KEPADA AYAH
↓
TAAT
↓
MENGALAMI PEMELIHARAAN/MAKSUD AYAH
↓
SEMAKIN MENGENAL AYAH
↓
MENYADARI KASIH AYAH
↓
KASIH SEMAKIN DALAM

Begitu juga dengan murid Kristus.


2. Yesus memang memanggil murid untuk mengikuti terlebih dahulu

Perhatikan panggilan para murid:

Markus 1:17–18

“Yesus berkata kepada mereka: ‘Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’ Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.”

Mereka belum memahami seluruh identitas, karya, salib, kebangkitan, dan kerajaan Kristus.

Tetapi mereka:

DIPANGGIL → MENGIKUTI → BELAJAR → MENGENAL.

Jadi pemuridan memang sering dimulai dengan ketaatan berdasarkan kepercayaan, bukan pemahaman yang sudah sempurna.


3. Tetapi ketaatan itu bukan ketaatan buta

Ada perbedaan antara:

ketaatan tanpa relasi
dan
ketaatan berdasarkan kepercayaan kepada Pribadi yang kita percayai.

Anak kecil menaati ayah bukan karena memahami seluruh filsafat pendidikan ayahnya.

Dia menaati karena:

“Aku percaya Ayah mengasihiku.”

Demikian juga murid:

“Aku belum memahami semuanya, tetapi aku percaya kepada Kristus.”

Inilah iman yang berjalan mendahului pemahaman penuh.


4. Bahkan ketaatan dapat membuka pengenalan yang lebih dalam

Yesus berkata:

Yohanes 7:17

“Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.”

Ini sangat cocok dengan gagasan Anda.

Perhatikan:

“mau melakukan kehendak-Nya”
↓
“ia akan tahu”

Jadi ada kondisi ketika ketaatan mendahului pemahaman yang lebih dalam.

Bukan berarti kita harus memahami semuanya terlebih dahulu baru boleh taat.

Kadang:

ketaatan menjadi jalan menuju pengenalan.


5. Ketaatan kemudian menghasilkan pengalaman akan Allah

Kembali ke:

Yohanes 14:21

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Di sini ada dinamika:

MELAKUKAN PERINTAH
→ MENGASIHI KRISTUS
→ KRISTUS MENYATAKAN DIRI

Ini berarti relasi dengan Allah bersifat dinamis dan bertumbuh.


6. Jadi ada dua arah proses yang saling memperkuat

Kita jangan membuatnya menjadi satu garis lurus saja.

Arah pertama:

KASIH ALLAH
↓
PENGENALAN
↓
KASIH KEPADA ALLAH
↓
KETAATAN

Tetapi ada juga:
==========

KETAATAN

↓
PENGALAMAN AKAN ALLAH
↓
PENGENALAN SEMAKIN DALAM
↓
KASIH SEMAKIN DALAM
↓
KETAATAN SEMAKIN RELA

Sehingga terbentuk siklus pertumbuhan:

KASIH → TAAT → MENGALAMI → MENGENAL → KASIH SEMAKIN DALAM → TAAT SEMAKIN RELA.


7. Ini menjelaskan pertumbuhan seorang MURID

Pada awalnya:

“Tuhan, saya taat karena saya percaya kepada-Mu.”

Kemudian:

“Sekarang saya mulai mengerti mengapa Engkau meminta saya melakukan ini.”

Kemudian:

“Saya melihat ternyata Engkau mengasihi saya.”

Kemudian:

“Saya melakukan kehendak-Mu bukan lagi hanya karena Engkau memerintahkannya, tetapi karena saya mengasihi-Mu.”

Dan akhirnya:

“Aku menghendaki apa yang Engkau kehendaki.”

Ini adalah perkembangan dari ketaatan seorang anak yang masih kecil menuju ketaatan seorang anak yang telah matang dalam kasih dan pengenalan.


8. Ini sangat dekat dengan pembahasan kita tentang kehendak

Pada awal pemuridan:

KEHENDAK SAYA
→ belum sepenuhnya memahami
→ tetapi saya memilih percaya
→ kemudian saya taat.

Dalam proses:

TAAT
→ kehendak saya belajar
→ pikiran saya diperbarui
→ kasih saya bertumbuh
→ pengenalan saya bertambah.

Akhirnya:

KEHENDAK SAYA
semakin
SELARAS DENGAN KEHENDAK ALLAH.

Bukan karena kehendak saya dihancurkan, tetapi karena kehendak saya dipulihkan.


9. Analogi anak dan ayah bahkan menjelaskan kasih yang matang

Anak kecil:

“Ayah menyuruh, maka aku taat.”

Anak yang mulai dewasa:

“Aku percaya Ayah, walaupun aku belum mengerti.”

Anak yang semakin dewasa:

“Sekarang aku mengerti mengapa Ayah melakukan itu.”

Anak yang matang:

“Aku mengenal hati Ayah. Aku tahu bahwa yang Ayah kehendaki adalah kebaikanku. Karena itu aku sendiri menghendaki apa yang Ayah kehendaki.”

Itulah perkembangan dari:

TAAT KARENA PERINTAH
→ TAAT KARENA PERCAYA
→ TAAT KARENA MENGENAL
→ TAAT KARENA MENGASIHI
→ TAAT KARENA KEHENDAK SUDAH SELARAS.


Jadi saya akan menyempurnakan rumusan kita sebelumnya:

Bukan hanya:

Kasih → Ketaatan.

Tetapi dalam pemuridan:

Kadang kasih melahirkan ketaatan, dan ketaatan yang lahir dari iman kemudian membawa murid kepada pengenalan yang lebih dalam, yang selanjutnya memperbesar kasih.

Sehingga prosesnya menjadi spiral pertumbuhan:

PANGGILAN ALLAH
↓
PERCAYA
↓
TAAT
↓
MENGALAMI KARYA ALLAH
↓
MENGENAL ALLAH
↓
MENGENAL KASIH ALLAH
↓
MENGASIHI ALLAH
↓
KEHENDAK SEMAKIN SELARAS
↓
TAAT DENGAN LEBIH RELA
↓
MENGENAL LEBIH DALAM
↓
MENGASIHI LEBIH DALAM

Dan siklus itu terus berlangsung menuju kedewasaan:

Efesus 4:13

“Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

Jadi ketaatan awal seorang murid bukan lawan dari kasih. Ketaatan dapat menjadi jalan pedagogis Allah untuk membawa seorang anak dari “aku taat karena percaya kepada-Mu” menuju “aku taat karena aku mengenal dan mengasihi-Mu”, sampai akhirnya “kehendakku semakin selaras dengan kehendak-Mu.”



R. SUMBER KASIH OBJEKTIF ADALAH DARI ALLAH





Ini membuat kita bisa membedakan antara urutan objektif kasih Allah dan urutan pengalaman manusia.

1. Secara objektif: Kasih Allah tetap yang pertama

Walaupun manusia belum menyadari atau memahaminya, kasih Allah sudah lebih dahulu bekerja.

1 Yohanes 4:19

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Jadi secara hakikat:

KASIH ALLAH ↓ KARYA ALLAH ↓ MANUSIA MERESPONS ↓ KASIH MANUSIA BERTUMBUH

Kasih Allah tidak menunggu manusia terlebih dahulu memahami-Nya.


2. Tetapi secara pengalaman manusia, urutannya bisa terlihat berbeda

Seorang murid mungkin mengalami:

“Saya disuruh melakukan ini.”

Lalu:

TAAT ↓ MENGALAMI ↓ MENGERTI ↓ MENYADARI KASIH ALLAH ↓ KASIH KEPADA ALLAH BERTUMBUH

Dari sudut pandang manusia, kelihatannya:

taat → mengenal → mengasihi.

Tetapi dari sudut pandang Allah:

Allah sudah mengasihi → Allah memanggil → Allah membimbing → Allah memberikan perintah → manusia merespons → akhirnya manusia menyadari kasih yang sejak awal sudah bekerja.

Ini perbedaan yang sangat penting.


3. Seperti anak kecil dan ayahnya

Contohnya sangat tepat.

Seorang ayah berkata:

“Nak, jangan pergi ke sana.”

Anak belum memahami:

“Mengapa Ayah melarang saya?”

Dia hanya melihat larangan.

Tetapi ayah melihat sesuatu yang anak belum lihat:
bahaya yang ada di depan.

Anak mungkin merasa:
“Ayah membatasi kebebasanku.”

Padahal kenyataannya:
“Ayah sedang melindungiku.”
Jadi bahasa kasih ayah belum dimengerti oleh anak. Kasihnya sudah ada.
Pengertiannya yang belum ada.

4. Demikian pula Allah

Kadang kita membaca Firman:

“Ampunilah.”

Kita berpikir:

“Mengapa saya harus mengampuni orang yang menyakiti saya?”

Kita belum memahami seluruh maksud Allah.

Lalu kita taat.

Kemudian kita mengalami:

“Ternyata ketika saya mengampuni, hati saya dibebaskan dari kepahitan.”

Baru kemudian kita berkata:

“Oh, sekarang saya mengerti. Perintah Allah ternyata merupakan ekspresi kasih-Nya.”

Jadi:

PERINTAH
→ awalnya terlihat sebagai KEWAJIBAN
→ kemudian dipahami sebagai KASIH
→ akhirnya menjadi KEHENDAK YANG SAYA SENANGI.


5. Ini persis dengan Yohanes 7:17

Yesus berkata:

“Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.”

Perhatikan:

MAU MELAKUKAN
↓
AKAN TAHU

Artinya ada hal-hal tentang Allah yang baru kita pahami setelah kita berjalan dalam ketaatan.

Bukan karena ketaatan kita menciptakan kebenaran, tetapi karena ketaatan membuka pengalaman yang sebelumnya belum kita pahami.


6. Jadi ada “bahasa kasih Allah” yang belum langsung kita mengerti

Ini sangat menarik untuk kerangka Anda.

Allah berbicara melalui:

  • perintah,
  • larangan,
  • disiplin,
  • teguran,
  • penantian,
  • penderitaan,
  • berkat,
  • pengampunan,
  • panggilan,
  • bahkan situasi yang pada awalnya tidak kita pahami.

Kita sering hanya melihat:

“Allah menyuruh.”

Tetapi ketika pengenalan bertumbuh, kita mulai melihat:

“Allah sedang mengasihi.”

Dan akhirnya:

“Saya mulai mengenal hati Allah di balik perintah-Nya.”


7. Karena itu kedewasaan rohani bukan hanya semakin banyak tahu perintah

Tetapi semakin mampu membaca hati Allah di balik kehendak-Nya.

Anak kecil:

“Ayah bilang jangan.”

Anak dewasa:

“Saya tahu mengapa Ayah berkata jangan.”

Demikian juga murid Kristus.

Murid yang masih awal:

“Apa yang Tuhan perintahkan?”

Murid yang bertumbuh:

“Mengapa Tuhan menghendaki ini?”

Murid yang semakin dewasa:

“Saya mulai memahami hati Tuhan.”

Murid yang matang:

“Saya mencintai apa yang Tuhan cintai dan menghendaki apa yang Tuhan kehendaki.”


8. Inilah yang membuat kasih dan ketaatan akhirnya menyatu

Awalnya:

PERINTAH ALLAH
→ saya taati karena percaya.

Kemudian:

PERINTAH ALLAH
→ saya pahami sebagai kasih.

Kemudian:

KASIH ALLAH
→ saya balas dengan kasih.

Kemudian:

KASIH KEPADA ALLAH
→ saya ingin melakukan kehendak-Nya.

Akhirnya:

Kehendak Allah tidak lagi saya rasakan sebagai sesuatu yang asing bagi kehendak saya.

Itulah kedewasaan.


9. Jadi rumusan Anda bisa dibuat sangat tajam:

“Yang berubah bukan kasih Allah kepada manusia, melainkan kemampuan manusia untuk melihat, memahami, menerima, dan merespons kasih Allah.”

Kasih Allah sudah lebih dahulu ada dan bekerja.

Manusia sering belum dapat membacanya.

Maka:

KASIH ALLAH
↓
PENYATAAN ALLAH
↓
PANGGILAN / FIRMAN / PERINTAH
↓
MANUSIA BELUM MEMAHAMI
↓
PERCAYA & TAAT
↓
MENGALAMI
↓
MENGENAL
↓
MENYADARI: “TERNYATA INI KASIH ALLAH”
↓
MENGASIHI ALLAH
↓
KETAATAN MENJADI SEMAKIN RELA
↓
KEHENDAK SEMAKIN SELARAS DENGAN ALLAH

Jadi arah pengalaman manusia bisa dimulai dari ketaatan, tetapi akar dan sumbernya tetap kasih Allah.

Ini juga menjelaskan mengapa perjalanan seorang murid adalah perjalanan dari ketaatan yang mungkin belum dipahami menuju ketaatan yang lahir dari pengenalan dan kasih.



S. TUHAN MENYATAKAN DIRI KEPADA YANG TAAT DAN YANG MELAKUKAN PERINTAHNYA



Yohanes 14:21 adalah salah satu ayat yang sangat kuat untuk kerangka relasi yang sedang dibangun, karena Yesus menghubungkan ketaatan → kasih → penyataan diri → relasi yang semakin dalam.

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. — (Yohanes 14:21)

Perhatikan bagian terakhir:

Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.

Ini bukan berarti sebelumnya Yesus tidak mengasihi orang tersebut. Justru kasih Allah sudah lebih dahulu ada. Yang berubah adalah tingkat pengenalan dan pengalaman manusia terhadap kasih dan kehadiran Kristus.

1. “Menyatakan diri-Ku” bukan berarti Yesus baru mulai ada

Kata “menyatakan” di sini berkaitan dengan membuat diri dikenal, menyingkapkan siapa Dia kepada seseorang.

Jadi bukan:

Yesus sebelumnya tidak hadir → lalu datang.

Melainkan:

Yesus sudah ada dan mengasihi → tetapi sekarang Dia membuat diri-Nya semakin dikenal oleh orang yang mengasihi-Nya.

Ini sangat dekat dengan pembahasan kita tentang wahyu dan relasi.

Ada perbedaan antara:

Yesus hadir
dan
saya menyadari, mengenal, dan mengalami kehadiran Yesus.


2. Mengapa ketaatan berkaitan dengan penyataan diri?

Ayat itu mempunyai urutan:

memegang perintah
↓
melakukan perintah
↓
menunjukkan kasih kepada Yesus
↓
relasi dengan Bapa dan Anak
↓
Yesus menyatakan diri
↓
pengenalan semakin dalam

Jadi ketaatan di sini bukan harga untuk membeli kasih Allah.

Bukan:

“Kalau saya taat, baru Yesus mau mengasihi saya.”

Tetapi:

Ketaatan membuka kehidupan manusia untuk mengalami dan mengenal lebih dalam siapa Yesus sebenarnya.

Ini sesuai sekali dengan Yohanes 7:17:

Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.

Ada unsur mengalami dahulu, kemudian semakin mengerti.


3. “Menyatakan diri” berarti pengenalan pribadi, bukan sekadar pengetahuan

Misalnya seseorang membaca:

“Allah itu setia.”

Itu pengetahuan.

Tetapi ketika seseorang berada dalam situasi sulit, tetap percaya, kemudian mengalami bahwa Allah benar-benar menopangnya, dia dapat berkata:

“Sekarang saya bukan hanya tahu bahwa Allah setia. Saya mengenal kesetiaan-Nya.”

Itulah perbedaan:

INFORMASI tentang Allah
vs.
PENGENALAN akan Allah.

Dan Yohanes 14:21 berbicara tentang yang kedua.


4. Di sinilah kedalaman relasi menjadi penting

Bayangkan dua orang sama-sama mengenal seseorang.

Orang pertama hanya tahu:

nama, pekerjaan, latar belakang, dan beberapa informasi tentang dia.

Orang kedua sudah hidup bersamanya, mengalami kesetiaannya, mengetahui cara dia berpikir, memahami hatinya, dan mempercayainya.

Keduanya tahu tentang orang yang sama, tetapi kedalaman relasinya berbeda.

Demikian juga dengan Allah.
Kita dapat memiliki:
pengetahuan teologis tentang Allah
tanpa memiliki kedalaman:
pengenalan relasional akan Allah.
Karena itu Paulus berkata:

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.               — (Filipi 3:10

Paulus sudah menjadi rasul, tetapi masih berkata:

“Aku ingin mengenal Dia.”

Artinya pengenalan akan Kristus mempunyai kedalaman yang terus bertumbuh.


5. Tetapi ada sesuatu yang sangat indah dalam Yohanes 14:21

Perhatikan:

“...dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Yesus bukan hanya mengatakan:

“Dia akan mengetahui lebih banyak tentang Aku.”

Tetapi:

“Aku akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Artinya pengenalan itu bukan semata-mata hasil usaha intelektual manusia.

Kristus sendiri adalah subjek yang menyatakan diri.

Manusia membuka diri, mengasihi, menaati, mencari Allah.

Tetapi Kristuslah yang menyatakan diri.

Ini kembali kepada prinsip:

Wahyu Allah mendahului pengenalan manusia.


6. Jadi ada hubungan antara kasih dan wahyu

Perhatikan pola Yohanes:

Allah mengasihi manusia
↓
Allah menyatakan diri
↓
manusia mengenal Allah
↓
manusia mengasihi Allah
↓
manusia menaati Allah
↓
Kristus menyatakan diri semakin dalam
↓
pengenalan semakin dalam
↓
kasih semakin dalam

Maka ini menjadi siklus relasional.

Bukan karena kasih Allah bertambah kepada kita, tetapi karena kemampuan kita menerima, memahami, dan mengalami kasih itu semakin diperluas.


7. Ini menjelaskan perbedaan kedalaman relasi

Kita harus hati-hati di sini.

Jangan mengatakan:

“Allah lebih mengasihi orang yang lebih taat.”

Karena itu dapat membuat kasih Allah seolah-olah memiliki tingkat kualitas yang berbeda.

Lebih tepat:

Kasih Allah adalah sumbernya; respons manusia menentukan seberapa jauh manusia membuka diri untuk mengenal, mengalami, dan berpartisipasi dalam kasih tersebut.

Karena itu Yohanes 14:21 berbicara tentang kedalaman pengalaman relasional, bukan tentang Allah baru mulai mengasihi seseorang.


8. Ada perkembangan dari “mengetahui” menjadi “mengenal”

Kita bisa menggambarkannya seperti ini:
Tingkat awal

“Yesus memerintahkan.”
Saya mungkin belum mengerti mengapa.
↓
Kemudian
“Saya percaya kepada-Nya, maka saya taat.”
↓
Kemudian
“Saya mengalami bahwa perintah-Nya ternyata baik.”
↓
Kemudian
“Saya mulai memahami hati-Nya.”
↓
Kemudian
“Saya mengenal kasih-Nya di balik perintah-Nya.”
↓
Kemudian
“Saya mengasihi Dia.”
↓
Kemudian
“Saya ingin melakukan kehendak-Nya bukan karena terpaksa, tetapi karena saya mengasihi-Nya.”
↓
Semakin dalam
“Saya mulai mencintai apa yang Dia cintai.”
↓
Semakin dalam lagi

“Kehendak saya semakin selaras dengan kehendak-Nya.”

Inilah yang kita bicarakan sebelumnya mengenai pemulihan kehendak manusia.


9. Yohanes 14:21 juga terkait langsung dengan Yohanes 14:23

Yesus melanjutkan:

“Jawab Yesus: ‘Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.’”
— Yohanes 14:23

Di sini bahkan lebih dalam:

mengasihi Kristus
→ menuruti firman-Nya
→ Bapa dan Anak datang
→ diam bersama manusia.

Ini bukan sekadar hubungan hukum:

“Saya melakukan aturan.”

Tetapi menuju persekutuan.


10. Dan ini akhirnya membawa kita kepada Yohanes 17

Tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui banyak tentang Allah.

Yesus berdoa:

“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” — (Yohanes 17:21)

Jadi kita bisa melihat keseluruhan gerakannya:

KASIH ALLAH
↓
PENYATAAN ALLAH
↓
PENGENALAN
↓
KASIH KEPADA ALLAH
↓
KETAATAN
↓
KRISTUS MENYATAKAN DIRI
↓
PENGENALAN SEMAKIN DALAM
↓
RELASI SEMAKIN DALAM
↓
PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS
↓
“DI DALAM KITA”
↓
KESEMPURNAAN RELASI

Jadi inti Yohanes 14:21:

“Menyatakan diri” adalah Kristus membawa manusia kepada pengenalan yang semakin pribadi dan mendalam tentang siapa Dia, kasih-Nya, kehendak-Nya, dan kehadiran-Nya.

Dan semakin manusia mengenal → mengasihi → menaati, semakin terbuka kehidupannya untuk mengalami penyataan Kristus.

Bukan karena Kristus semakin mengasihi kita, melainkan karena kita semakin mampu melihat, menerima, memahami, dan hidup dalam kasih yang sejak semula sudah diberikan-Nya.

Dengan demikian, ayat ini sangat kuat mendukung rumusan Anda sebelumnya:

Kedalaman relasi dengan Allah tercermin dalam kedalaman pengenalan, kasih, dan keselarasan kehendak kita dengan Allah.



T. KEDALAMAN PENGALAMAN SETIAP ORANG BERJALAN DENGAN TUHAN TIDAK SAMA


Dengan satu penajaman penting: pengalaman setiap orang dapat berbeda karena respons, kedewasaan, ketaatan, dan kapasitas menerima penyataan Allah berbeda. Tetapi jangan sampai dipahami bahwa Allah hanya menyatakan diri kepada orang yang paling taat. Kasih dan inisiatif Allah tetap mendahului respons manusia.

Yohanes 14:21 sangat cocok untuk menjelaskan hal ini:

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Maka polanya:

Kasih Allah lebih dahulu
↓
Allah menyatakan diri / memanggil
↓
manusia merespons
↓
memegang dan melakukan firman
↓
mengalami karya Allah
↓
pengenalan bertambah
↓
kasih bertambah
↓
respons semakin dalam
↓
penyataan yang dialami semakin kaya

Karena itu perjalanan setiap murid tidak harus identik.

Seseorang mungkin mengenal kesetiaan Allah melalui penantian.
Orang lain melalui pelayanan.
Yang lain melalui pengampunan.
Yang lain melalui ketaatan dalam penderitaan.
Yang lain melalui panggilan tertentu.

Bukan berarti Allah memiliki kasih yang berbeda-beda kepada mereka. Yang berbeda adalah pengalaman relasional dan kapasitas mereka dalam menerima serta memahami karya Allah.

Dan ini kembali kepada “kedalaman relasi”

Semakin seseorang:

mengenal → percaya → mengasihi → menaati → mengalami → memahami

maka semakin dalam pula ia dapat mengenali siapa Allah dan bagaimana Allah bekerja dalam hidupnya.

Karena itu kita dapat mengatakan:

“Allah yang sama menyatakan diri-Nya kepada setiap orang, tetapi pengalaman penyataan-Nya dapat berbeda sesuai dengan perjalanan relasi, respons, dan kedewasaan masing-masing orang.”

Namun ada batas penting: kita tidak boleh mengukur kedalaman relasi seseorang hanya dari banyaknya pengalaman luar biasa. Seseorang yang mengalami mukjizat bukan otomatis memiliki relasi lebih dalam daripada orang yang menjalani ketaatan sederhana dan tersembunyi.

Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah kehidupannya semakin:

mengenal Kristus → mengasihi Kristus → menghendaki kehendak Kristus → menaati Kristus → menyerupai Kristus.

Itulah sebabnya pengalaman individu berbeda, tetapi arah akhirnya sama: semakin dalam masuk ke dalam relasi dan persekutuan dengan Allah.

pengenalan dan kasih.



U. HADIRAT, PENYATAAN DAN RELASI DENGAN ALLAH


Hadirat Allah, penyataan Allah, dan relasi manusia dengan Allah memang sangat erat, tetapi ketiganya tidak sama. Justru kalau dibedakan dengan baik, kita bisa melihat bagaimana ketiganya saling berhubungan dalam pertumbuhan seorang murid.

1. Tiga hal yang perlu dibedakan

A. HADIRAT Allah

Allah hadir.

Hadirat terutama berbicara tentang kehadiran Allah.

Allah tidak menjadi hadir karena manusia berdoa atau taat. Allah adalah Allah yang hadir.

“Ke manakah aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke manakah aku dapat lari dari hadapan-Mu?”
— Mazmur 139:7

Jadi secara ontologis, Allah tidak menjadi lebih atau kurang hadir.


B. PENYATAAN Allah

Allah membuat diri-Nya dikenal.

Penyataan bukan sekadar Allah hadir, tetapi Allah menyingkapkan siapa diri-Nya, kehendak-Nya, kasih-Nya, dan karya-Nya kepada manusia.

Misalnya:

“Barangsiapa mengasihi Aku ... Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
— Yohanes 14:21

Di sini sangat jelas:

Allah hadir ≠ selalu berarti manusia mengalami penyataan-Nya dengan kedalaman yang sama.

Allah dapat hadir, tetapi manusia belum memahami atau menyadari kehadiran tersebut.


C. RELASI

Relasi berbicara tentang hubungan pribadi manusia dengan Allah: mengenal, mengasihi, percaya, merespons, menaati, dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya.

Karena itu relasi dapat bertumbuh dalam kedalaman.


2. Hubungannya dapat digambarkan seperti ini

HADIRAT ALLAH
↓
Allah hadir dan berinisiatif
↓
PENYATAAN ALLAH
↓
Allah membuat diri-Nya dikenal
↓
MANUSIA MERESPONS
↓
iman, kasih, ketaatan
↓
RELASI SEMAKIN DALAM
↓
manusia semakin mampu mengenali hadirat dan penyataan Allah
↓
PENGENALAN SEMAKIN DALAM

Jadi terjadi semacam siklus relasional.


3. Hadirat tidak sama dengan kesadaran akan hadirat

Ini sangat penting.

Misalnya seseorang berada di rumah bersama ayahnya.

Ayahnya ada di sana, tetapi anak sedang sibuk bermain dan tidak memperhatikan ayahnya.

Kehadiran ayah tidak berubah.

Yang berubah adalah:

kesadaran anak terhadap kehadiran ayah.

Demikian juga dengan Allah.

Kita tidak mengatakan:

“Allah baru hadir ketika saya merasakan hadirat-Nya.”

Lebih tepat:

Allah selalu hadir, tetapi manusia dapat mengalami dan menyadari kehadiran-Nya dengan tingkat yang berbeda.


4. Penyataan juga bukan berarti Allah baru mulai mengetahui manusia

Allah sudah mengetahui manusia sepenuhnya.

Tetapi dalam penyataan, Allah membuat sesuatu tentang diri-Nya dikenal oleh manusia.

Contoh:

Allah adalah kasih.

Itu benar sebelum manusia mengetahuinya.

Tetapi ketika Allah menyatakan kasih-Nya dalam Kristus, manusia mulai mengenal kasih tersebut.

1 Yohanes 4:9

“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.”

Jadi:

Allah adalah kasih
→ Allah menyatakan kasih
→ manusia mengenal kasih
→ manusia merespons kasih
→ relasi berkembang.


5. Relasi menentukan bagaimana penyataan itu diterima

Ini kembali kepada Yohanes 14:21.

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku... dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Perhatikan bahwa penyataan diri Kristus ditempatkan dalam konteks relasi kasih dan ketaatan.

Jadi orang yang hidup dalam:

percaya → mengasihi → menaati

akan semakin memiliki pengalaman:

mengenal → mengalami → memahami

siapa Kristus.

Bukan karena ketaatannya membeli penyataan Allah, tetapi karena ketaatan membuat dia semakin hidup di dalam relasi yang memungkinkan dia mengalami dan memahami apa yang Allah sedang kerjakan.


6. Inilah yang menjelaskan perbedaan pengalaman setiap orang

Allah yang sama.
Kristus yang sama.
Roh Kudus yang sama.
Firman yang sama.
Tetapi perjalanan setiap orang berbeda.
Mengapa?
Karena:
  • responsnya berbeda,
  • ketaatannya berbeda,
  • pengalaman hidupnya berbeda,
  • kapasitas pemahamannya berbeda,
  • tahap kedewasaannya berbeda,
  • panggilan dan perjalanan relasionalnya berbeda.

Karena itu seseorang dapat berkata:

“Dalam situasi ini saya melihat kesetiaan Allah.”

Orang lain:

“Dalam penderitaan saya melihat kasih Allah.”

Yang lain:

“Dalam pengampunan saya memahami hati Allah.”

Yang lain:

“Dalam pelayanan saya mengenal kuasa dan kesabaran Allah.”

Penyataan Allah yang dialami bisa berbeda, tetapi Allah yang menyatakan diri tetap sama.


7. Namun kita harus membedakan penyataan umum dan khusus

Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui ciptaan.

Roma 1:20

“Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.”

Ini merupakan penyataan melalui ciptaan.

Tetapi dalam Kristus, penyataan Allah menjadi jauh lebih khusus dan personal.

Yohanes 1:18

“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”

Kristus adalah pusat penyataan Allah.

Jadi:

CIPTAAN → mengenal bahwa Allah ada dan berkuasa

KRISTUS → mengenal siapa Allah secara lebih penuh dan pribadi


8. Puncaknya adalah relasi

Tujuan penyataan Allah bukan sekadar memberikan informasi teologis.

Allah tidak menyatakan diri hanya supaya manusia berkata:

“Saya sekarang punya banyak pengetahuan tentang Allah.”

Tujuannya adalah:

manusia mengenal Allah dan masuk dalam persekutuan dengan-Nya.

Yesus berkata:

Yohanes 17:3

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Perhatikan:

HIDUP KEKAL = MENGENAL ALLAH.

Bukan hanya mengetahui fakta tentang Allah.


9. Karena itu “kedalaman relasi” berkaitan dengan kedalaman pengenalan

Kita bisa membuat spektrum sederhana:

Tingkat awal

“Saya tahu Allah ada.”

Lebih dalam

“Saya mengenal siapa Allah.”

Lebih dalam

“Saya mengenal karakter dan kehendak Allah.”

Lebih dalam

“Saya mengenali karya Allah dalam hidup saya.”

Lebih dalam

“Saya memahami hati Allah di balik kehendak-Nya.”

Lebih dalam

“Saya mengasihi apa yang Allah kasihi.”

Semakin matang

“Kehendak saya semakin selaras dengan kehendak Allah.”

Ini bukan berarti manusia menjadi Allah atau mengetahui Allah secara sempurna.

Tetapi relasi menjadi semakin dalam.


10. Inilah hubungan dengan “Terang Wahyu Allah”

Pembahasan Anda sebelumnya juga masuk di sini.

Kita bisa melihat:

HADIRAT
= Allah hadir.

PENYATAAN
= Allah membuat diri-Nya dikenal.

TERANG
= Allah menerangi sehingga manusia mampu melihat/memahami apa yang dinyatakan.

RELASI
= manusia merespons dengan iman, kasih, dan ketaatan.

Jadi:

Hadirat tanpa pengenalan belum tentu menghasilkan relasi yang mendalam.

Dan:

Penyataan tanpa respons belum menghasilkan kedalaman relasi yang sama.

Karena itu ada unsur manusia:

melihat → memahami → percaya → mengasihi → menaati.


11. Terang Injil menjadi sangat penting

Di sini kita dapat memahami mengapa disebut “Terang Injil.”

2 Korintus 4:6

“Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Perhatikan:

TERANG
→ HATI
→ PENGETAHUAN
→ KEMULIAAN ALLAH
→ WAJAH KRISTUS

Jadi Injil bukan hanya memberikan informasi tentang keselamatan.

Injil menerangi manusia supaya melihat Allah sebagaimana Dia menyatakan diri-Nya dalam Kristus.


12. Maka keselamatan dapat dilihat sebagai pemulihan relasi

Semua ini akhirnya kembali kepada gagasan Anda tentang keselamatan.

Masalah manusia bukan hanya:

“Saya melakukan dosa.”

Tetapi juga:

relasi dengan Allah rusak.

Akibatnya:

relasi rusak
→ pengenalan Allah rusak
→ kasih kepada Allah rusak
→ kehendak menyimpang
→ ketaatan rusak.

Dalam Kristus:

pengampunan
→ rekonsiliasi
→ pengenalan dipulihkan
→ kasih dipulihkan
→ kehendak dipulihkan
→ ketaatan bertumbuh
→ relasi semakin dalam.


Jadi rumusan besarnya:

HADIRAT adalah kehadiran Allah.
PENYATAAN adalah Allah membuat diri-Nya dikenal.
TERANG adalah karya Allah yang memungkinkan manusia melihat dan memahami penyataan tersebut.
RELASI adalah respons manusia terhadap Allah dalam iman, kasih, kepercayaan, dan ketaatan.

Dan semakin relasi itu bertumbuh:

HADIRAT ALLAH
→ semakin dikenali

PENYATAAN ALLAH
→ semakin dipahami

TERANG ALLAH
→ semakin menerangi hati dan akal budi

KASIH
→ semakin dalam

KEHENDAK
→ semakin selaras

KETAATAN
→ semakin rela

RELASI
→ semakin dalam.

Jadi bukan Allah menjadi lebih hadir karena relasi kita semakin dalam. Allah tetap hadir. Yang bertumbuh adalah kapasitas manusia untuk mengenali, menerima, mengalami, dan hidup dalam hadirat serta penyataan Allah.

Dan di situlah Yohanes 14:21 menjadi sangat penting: ketaatan dalam kasih menjadi salah satu jalan yang membawa murid kepada pengenalan yang semakin dalam terhadap Pribadi Kristus yang menyatakan diri-Nya.



U. RELASI YANG BAIK DENGAN TUHAN YESUS AKAN MEMILIKI KESAMAAN KEHENDAK 





Yohanes 15:7 sangat erat dengan konsep relasi, bahkan ayat ini memperlihatkan bahwa ketika relasi dengan Kristus semakin dalam, kehendak manusia semakin dibentuk oleh firman Kristus. Akibatnya, apa yang manusia minta semakin selaras dengan apa yang Allah kehendaki.

Yohanes 15:7 (TB)
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

Kuncinya ada pada dua kalimat:

“kamu tinggal di dalam Aku”
dan
“firman-Ku tinggal di dalam kamu.”


1. “Tinggal di dalam Aku” adalah bahasa RELASI

“Tinggal” bukan sekadar percaya bahwa Yesus ada.

“Tinggal” menggambarkan persekutuan yang terus-menerus.

Dalam konteks Yohanes 15, Yesus menggunakan gambaran:

pokok anggur — ranting.

Yohanes 15:4

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Ranting tidak memiliki kehidupan yang terpisah dari pokok.

Jadi:

KRISTUS → sumber kehidupan
MANUSIA → menerima kehidupan dari Kristus
RELASI → terus-menerus bergantung dan menerima
HASIL → menghasilkan buah

Ini jauh lebih dalam daripada hubungan hukum:

“Saya menaati beberapa peraturan.”

Ini adalah relasi kehidupan.


2. “Firman-Ku tinggal di dalam kamu” berarti Firman menjadi bagian dari kehidupan batin

Perhatikan bahwa Yesus tidak hanya mengatakan:

“Kamu membaca firman-Ku.”

Tetapi:

“Firman-Ku tinggal di dalam kamu.”

Artinya Firman masuk ke dalam:

  • pikiran,
  • hati,
  • kehendak,
  • nilai,
  • pertimbangan,
  • keputusan.

Sehingga Firman bukan hanya sesuatu yang kita dengar, tetapi sesuatu yang membentuk diri kita.


3. Di sinilah hubungan dengan KEHENDAK menjadi sangat kuat

Yesus berkata:

“mintalah apa saja yang kamu kehendaki...”

Pertanyaannya:

Kehendak siapa?

Dalam konteks ayat tersebut, kehendak manusia sedang dibentuk oleh:

Kristus + Firman Kristus.

Maka semakin firman tinggal di dalam seseorang, semakin kehendaknya mengalami transformasi.

Awalnya:

“Aku menghendaki apa yang aku mau.”

Kemudian:

“Aku mulai memahami apa yang Tuhan kehendaki.”

Kemudian:

“Aku mulai menghendaki apa yang Tuhan kehendaki.”

Akhirnya:

“Permintaanku semakin sesuai dengan kehendak Tuhan.”


4. Jadi “mintalah apa saja” bukan cek kosong

Ayat ini tidak berarti:

“Kalau saya dekat dengan Yesus, semua keinginan pribadi saya pasti dikabulkan.”

Kalimat itu harus dibaca bersama bagian:

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu...”

Itulah syarat relasionalnya.

Orang yang benar-benar tinggal dalam Kristus dan firman Kristus tinggal dalam dirinya mengalami pembentukan kehendak.

Karena itu doanya berubah.

Bukan hanya:

“Tuhan, berikan apa yang saya mau.”

Tetapi semakin menjadi:

“Tuhan, bentuklah keinginan saya supaya sesuai dengan kehendak-Mu.”


5. Ini sangat dekat dengan 1 Yohanes 5:14

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.”

Perhatikan:

MEMINTA
→ MENURUT KEHENDAK-NYA

Jadi Yohanes 15:7 dan 1 Yohanes 5:14 saling menerangi.

Firman tinggal di dalam kita
→ kehendak kita dibentuk
→ permintaan kita semakin sesuai dengan kehendak Allah.


6. Ini juga menjelaskan hubungan KASIH → FIRMAN → KEHENDAK

Kita sudah membahas Yohanes 14:21:

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku...”

Sekarang Yohanes 15:7:

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu...”

Maka kita bisa menggabungkannya:

MENGASIHI KRISTUS
↓
MEMEGANG FIRMAN-NYA
↓
FIRMAN TINGGAL DI DALAM KITA
↓
KEHENDAK DIBENTUK
↓
DOA / PERMINTAAN BERUBAH
↓
KEHENDAK KITA SEMAKIN SELARAS DENGAN KEHENDAK-NYA


7. Ini adalah bentuk kedalaman relasi

Semakin dangkal relasi:

“Saya datang kepada Yesus terutama untuk mendapatkan sesuatu.”

Semakin dalam:

“Saya datang kepada Yesus untuk mengenal Dia.”

Lebih dalam:

“Saya ingin mengetahui kehendak-Nya.”

Lebih dalam lagi:

“Saya ingin kehendak saya dibentuk oleh kehendak-Nya.”

Dan akhirnya:

“Saya menghendaki apa yang Dia kehendaki.”

Inilah kedalaman relasi.


8. Perhatikan bagaimana Yohanes 15 bergerak dari RELASI menuju BUAH

Yohanes 15:4

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu...”

↓

Yohanes 15:5

“Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak...”

↓

Yohanes 15:7

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu...”↓

Yohanes 15:8

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

Jadi:

RELASI
→ FIRMAN
→ KEHENDAK
→ DOA
→ BUAH


9. Dan buahnya adalah karakter Kristus

Buah bukan hanya hasil eksternal.

Yesus melanjutkan:

Yohanes 15:9–10

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.”

Ini luar biasa karena Yesus menghubungkan:

TINGGAL
→ KASIH
→ KETAATAN

Bukan tiga hal terpisah.
Relasi menghasilkan kasih.
Kasih menghasilkan ketaatan.
Ketaatan memperdalam pengalaman relasi.

10. Maka Yohanes 15:7 sangat cocok dengan konsep “penyataan diri”

Kita sebelumnya membahas Yohanes 14:21:

“...Aku akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Sekarang Yohanes 15:7:

“...firman-Ku tinggal di dalam kamu.”

Kita bisa melihat kesinambungannya:

RELАSI DENGAN KRISTUS
↓
FIRMAN KRISTUS TINGGAL DALAM KITA
↓
PIKIRAN & KEHENDAK DIBENTUK
↓
KITA SEMAKIN MENGENAL HATI KRISTUS
↓
DOA SEMAKIN SELARAS DENGAN KEHENDAK-NYA
↓
KITA MENGALAMI KARYA-NYA
↓
RELASI SEMAKIN DALAM


11. Jadi “tinggal” menunjukkan CONTINUITY

Ini bukan pengalaman satu kali.

Bukan:

“Saya pernah bertemu Tuhan.”

Tetapi:

“Saya tinggal di dalam Kristus.”

Relasi yang hidup mempunyai:

  • kesinambungan,
  • komunikasi,
  • penerimaan,
  • respons,
  • pertumbuhan,
  • pembentukan.

Seperti hubungan anak dengan ayah.

Anak bukan hanya sekali berbicara dengan ayahnya.

Dia hidup bersama ayahnya.

Semakin lama:

semakin mengenal suara ayah,
semakin memahami maksud ayah,
semakin percaya kepada ayah,
semakin memahami kasih ayah,
dan akhirnya semakin mengerti hati ayah.

Demikian juga murid dengan Kristus.


12. Inilah kaitannya dengan “segenap hati, jiwa, dan akal budi”

Kita sekarang dapat menyatukan semuanya.

HATI
→ mengasihi Kristus.

AKAL BUDI
→ mengenal dan memahami firman Kristus.

KEHENDAK
→ semakin selaras dengan kehendak Kristus.

TINDAKAN
→ menaati firman.

DOA
→ meminta sesuai dengan kehendak-Nya.

KEHIDUPAN
→ menghasilkan buah.

Maka manusia semakin menjadi satu arah dengan Kristus.


Rumusan paling kuat dari Yohanes 15:7

Saya kira kita bisa merumuskannya demikian:

“Semakin dalam seseorang tinggal di dalam Kristus dan semakin firman Kristus tinggal di dalam dirinya, semakin dalam pula Kristus membentuk pikiran, kasih, dan kehendaknya. Karena itu doanya tidak lagi terutama merupakan ekspresi keinginan dirinya sendiri, tetapi semakin menjadi ekspresi kehendak Kristus yang telah dibentuk di dalam dirinya.”

Dan akhirnya:

TINGGAL DALAM KRISTUS
→ FIRMAN TINGGAL DALAM KITA
→ HATI DIUBAH
→ AKAL BUDI DITERANGI
→ KEHENDAK DISELARASKAN
→ DOA DISELARASKAN
→ KETAATAN
→ BUAH
→ RELASI SEMAKIN DALAM.

Jadi benar sekali bahwa Yohanes 15:7 bukan terutama ayat tentang “mendapatkan apa yang kita minta”, melainkan tentang bagaimana kedalaman relasi dengan Kristus membentuk sedemikian rupa apa yang kita kehendaki dan minta.


V. RELASI POKOK DENGAN RANTING, NUTRISI & BUAH 





Kalau Yohanes 15:7 dibaca dalam konteks pokok anggur dan ranting, gambaran yang Yesus berikan sangat kuat untuk menjelaskan relasi, kehidupan, firman, dan pertumbuhan rohani.

Yohanes 15:7 (TB)
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

Ada dua keadaan relasional yang Yesus tekankan:

  1. “Kamu tinggal di dalam Aku” → hubungan ranting dengan pokok.
  2. “Firman-Ku tinggal di dalam kamu” → kehidupan dari pokok mengalir dan membentuk ranting.

1. “Tinggal di dalam Aku” — ranting berada di dalam pokok

Yesus menjelaskan terlebih dahulu:

Yohanes 15:4 (TB)
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Ranting tidak mempunyai kehidupan yang mandiri dari pokok.

Ranting:

  • melekat pada pokok,
  • menerima kehidupan dari pokok,
  • bergantung pada pokok,
  • bertumbuh dari pokok,
  • dan menghasilkan buah karena tetap terhubung dengan pokok.

Jadi “tinggal” bukan sekadar berada dekat dengan Yesus.

Melainkan:

hidup dalam keterhubungan yang terus-menerus dengan Kristus.


2. “Aku di dalam kamu” menunjukkan arah sebaliknya

Menariknya, Yesus tidak hanya berkata:

“Kamu di dalam Aku.”

Tetapi:

“Aku di dalam kamu.”

Jadi ada persekutuan dua arah:

KAMU DI DALAM AKU
dan
AKU DI DALAM KAMU.

Secara analogi:

RANTING melekat pada POKOK
↕
KEHIDUPAN POKOK mengalir kepada RANTING

Inilah yang membuat hubungan tersebut bukan sekadar hubungan eksternal.


3. “Firman-Ku tinggal di dalam kamu” — firman menjadi kehidupan batin

Kemudian Yesus mengatakan:

“...dan firman-Ku tinggal di dalam kamu...”

Ini lebih dalam daripada sekadar:

“Kamu pernah mendengar firman.”

atau:

“Kamu membaca Alkitab.”

Firman tinggal.

Artinya Firman masuk dan menetap dalam kehidupan manusia sehingga membentuk:

  • pikiran,
  • pemahaman,
  • hati,
  • kehendak,
  • keputusan,
  • dan tindakan.

Karena itu Firman bukan hanya informasi dari Kristus, tetapi menjadi prinsip yang membentuk kehidupan murid.


4. Analogi “nutrisi” sangat membantu — tetapi perlu sedikit diperjelas

Analogi Anda:

nutrisi mengalir dari akar → pokok → ranting

sangat baik untuk menggambarkan ketergantungan dan kehidupan yang diterima ranting.

Secara biologis, air dan mineral terutama diserap melalui akar dan kemudian dialirkan melalui jaringan pembuluh tanaman; hasil fotosintesis juga didistribusikan dari daun ke bagian lain tanaman.

Dalam analogi rohani:

KRISTUS = POKOK ANGGUR
↓
KEHIDUPAN DARI KRISTUS
↓
RANTING = MURID
↓
PERTUMBUHAN
↓
BUAH

Namun jangan menyamakan secara harfiah mekanisme biologis tanaman dengan cara kerja Allah.

Ini adalah analogi relasional yang dipakai Yesus.


5. Lalu di mana posisi FIRMAN?

Di sinilah Yohanes 15:7 menjadi sangat menarik.

Yesus bukan hanya berkata:

“Tinggallah di dalam Aku.”

Tetapi:

“...dan firman-Ku tinggal di dalam kamu.”

Jadi ada dua sisi:

Sisi pertama:

RANTING → melekat kepada POKOK

Ini menggambarkan relasi dengan Kristus.

Sisi kedua:

FIRMAN KRISTUS → tinggal di dalam RANTING

Ini menggambarkan pembentukan internal oleh Firman Kristus.

Sehingga:

Relasi dengan Kristus memberikan sumber kehidupan, sedangkan Firman Kristus membentuk kehidupan yang diterima itu menjadi kehidupan yang sesuai dengan kehendak Kristus.


6. Dari sini kita bisa memahami “buah”

Yesus berkata:

Yohanes 15:5 (TB)
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Perhatikan:

TINGGAL
→ MENERIMA KEHIDUPAN
→ BERTUMBUH
→ BERBUAH

Buah bukan sesuatu yang ditempelkan dari luar.

Buah merupakan hasil dari kehidupan yang mengalir dari pokok kepada ranting.

Secara rohani:

Kehidupan yang berasal dari Kristus menghasilkan kehidupan yang semakin menyerupai Kristus.


7. Firman kemudian membentuk kehendak ranting

Sekarang kita sampai kepada bagian:

“mintalah apa saja yang kamu kehendaki...”

Mengapa Yesus bisa mengatakan demikian?

Karena sebelumnya ada:

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu...”

Artinya, “kehendaki” di sini tidak boleh dipisahkan dari proses pembentukan oleh Kristus dan Firman-Nya.

Awalnya:

“Aku ingin apa yang aku inginkan.”

Kemudian Firman tinggal dalam diri:

“Aku mulai memahami apa yang Tuhan kehendaki.”

Kemudian:

“Aku mulai menghendaki apa yang Tuhan kehendaki.”

Maka doa semakin menjadi:

“Tuhan, berikanlah apa yang sesuai dengan kehendak-Mu.”


8. Jadi Firman bukan hanya nutrisi — tetapi juga pembentuk arah

Analogi nutrisi sangat baik, tetapi kita bisa memperluasnya.

KRISTUS = SUMBER KEHIDUPAN
FIRMAN = MEMBENTUK ARAH KEHIDUPAN
RANTING = MENERIMA DAN MERESPONS
BUAH = HASIL KEHIDUPAN YANG DIBENTUK KRISTUS

Dengan demikian:

Kehidupan berasal dari Kristus, sedangkan Firman Kristus membentuk bagaimana kehidupan itu dijalani.


9. Ini juga menjelaskan hubungan dengan Yohanes 14:21

Sebelumnya kita membahas:

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku...”

Kemudian:

“...Aku akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Sekarang Yohanes 15:

“Tinggallah di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu...”

Jadi kedua pasal ini saling melengkapi.

Yohanes 14:21

KETAATAN
→ KASIH
→ PENYATAAN DIRI KRISTUS

Yohanes 15:7

TINGGAL DALAM KRISTUS
+
FIRMAN TINGGAL DALAM KITA
→ KEHENDAK DIBENTUK
→ DOA SELARAS DENGAN ALLAH

Ini semua berbicara tentang kedalaman relasi.


10. Semakin dalam relasi, semakin dalam pula “aliran kehidupan”

Dengan analogi Anda:

AKAR
↓
POKOK
↓
RANTING
↓
DAUN
↓
BUAH

Secara rohani dapat digambarkan:

ALLAH / KRISTUS
↓
KEHIDUPAN DARI KRISTUS
↓
RELASI DENGAN KRISTUS
↓
FIRMAN TINGGAL DALAM DIRI
↓
PIKIRAN & HATI DIBENTUK
↓
KEHENDAK DIUBAH
↓
KETAATAN
↓
BUAH
↓
KEMULIAAN BAGI BAPA

Yesus sendiri mengatakan:

Yohanes 15:8 (TB)
“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”


11. Jadi “tinggal” bukan pasif

Ini penting.

“Tinggal di dalam Kristus” bukan:

duduk diam dan menunggu Allah melakukan semuanya.

Ranting memang menerima kehidupan, tetapi ranting juga hidup dan menghasilkan buah.

Karena itu tinggal dalam Kristus mencakup:

percaya
→ menerima
→ mendengar Firman
→ menaati
→ berdoa
→ mengasihi
→ menghasilkan buah.

Jadi relasi menghasilkan respons.


12. Gambaran lengkapnya

Saya kira model yang paling sesuai dengan pembahasan kita adalah:

KRISTUS
POKOK ANGGUR
│
│
kehidupan dari Kristus
↓
┌───────────┐
RANTING
MURID
└───────────┘
│
─────────────
TINGGAL DALAM FIRMAN KRISTUS
KRISTUS TINGGAL DALAM
DIRI
└───────────────┘
↓
PIKIRAN & HATI DIBENTUK
↓
KEHENDAK DIBENTUK
↓
DOA SEMAKIN SELARAS
↓
KETAATAN
↓
BUAH
↓
BAPA DIPERMULIAKAN


Jadi inti Yohanes 15:7:

“Tinggal di dalam Kristus” berbicara tentang keterhubungan hidup kita dengan Sang Pokok. “Firman-Ku tinggal di dalam kamu” berbicara tentang kehidupan dan kehendak kita yang terus dibentuk oleh Firman Kristus. Dari relasi dan pembentukan itulah lahir kehendak dan doa yang semakin selaras dengan Allah, sehingga kehidupan menghasilkan buah.

Dan analogi nutrisi yang Anda gunakan sangat membantu untuk menjelaskan satu hal penting: ranting tidak menghasilkan kehidupan dari dirinya sendiri. Ia menerima kehidupan dari pokok. Demikian juga kehidupan rohani murid bukan bersumber dari dirinya sendiri, melainkan dari Kristus yang menjadi sumber kehidupan.









Bukan berarti setiap keinginan kita langsung sempurna sama dengan kehendak Tuhan, tetapi semakin kita tinggal di dalam Kristus dan Firman-Nya tinggal di dalam kita, semakin kehendak kita dibentuk dan diarahkan agar selaras dengan kehendak Tuhan.

Yohanes 15:7

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

Logikanya:

TINGGAL DI DALAM YESUS
→ relasi hidup dengan Kristus

FIRMAN YESUS TINGGAL DI DALAM KITA
→ pikiran, hati, dan kehendak kita dibentuk Firman

KEHENDAK KITA DIBENTUK
→ apa yang kita inginkan semakin sesuai dengan kehendak-Nya

DOA KITA SEMAKIN SELARAS
→ kita meminta bukan hanya “apa yang saya mau”, tetapi semakin “apa yang Tuhan kehendaki”

HIDUP MENGHASILKAN BUAH

Ini juga sesuai dengan:

Roma 12:2 (TB)
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Jadi ada proses pembentukan

Awalnya:

“Tuhan, ini yang saya kehendaki.”

Kemudian:

“Tuhan, apakah ini sesuai dengan kehendak-Mu?”

Semakin dewasa:

“Tuhan, bentuklah kehendakku sesuai dengan kehendak-Mu.”

Dan semakin matang:

“Aku menghendaki apa yang Engkau kehendaki.”

Ini sangat dekat dengan konsep yang kita bahas sebelumnya tentang relasi yang semakin dalam.

Relasi dengan Kristus → Firman masuk → pengenalan bertambah → kasih bertambah → kehendak dibentuk → ketaatan menjadi semakin rela → relasi semakin dalam.

Jadi Yohanes 15:7 bukan hanya berbicara tentang Allah mengabulkan keinginan kita, tetapi tentang proses di mana Kristus membentuk keinginan kita sehingga semakin sejalan dengan kehendak-Nya.

Mesias








berdampingan

Mesias








berdampingan

Mesias








berdampingan


Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post