Tentu. Jika pertanyaannya adalah "Apakah sunat diperlukan jika manusia tidak jatuh dalam dosa?", maka kita perlu melihat ayat-ayat yang menunjukkan:
- Manusia diciptakan baik sebelum dosa masuk.
- Sunat baru diberikan setelah kejatuhan.
- Sunat adalah tanda perjanjian, bukan bagian dari penciptaan.
- Perjanjian Baru menekankan sunat hati.
1. Manusia Diciptakan Baik Sebelum Dosa
Kejadian 1:27-31
"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: 'Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.'
Berfirmanlah Allah: 'Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.
Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.' Dan jadilah demikian.
Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam."
Perhatikan bahwa manusia sudah diciptakan "sungguh amat baik". Tidak ada perintah sunat dalam keadaan penciptaan yang sempurna ini.
2. Dosa Masuk ke Dunia
Kejadian 3:6-7
"Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat."
Kejatuhan manusia terjadi di sini.
3. Sunat Baru Diberikan Jauh Sesudah Kejatuhan
Kejadian 17:9-11
Allah berfirman kepada Abraham:
"Lagi firman Allah kepada Abraham: 'Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu: setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.'"
Ayat ini menunjukkan bahwa sunat diberikan sebagai tanda perjanjian, bukan sebagai bagian dari penciptaan manusia.
4. Sunat Menunjuk Kepada Hati
Ulangan 10:16
"Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk."
Ulangan 30:6
"Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup."
Di sini Allah menunjukkan bahwa sunat fisik menunjuk kepada realitas rohani yang lebih dalam.
5. Perjanjian Baru: Yang Penting Adalah Sunat Hati
Roma 2:28-29
"Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah.
Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara huruf. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah."
Galatia 6:15
"Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah menjadi ciptaan baru."
Kesimpulan Teologis
Alkitab tidak pernah berkata secara eksplisit:
"Jika Adam tidak jatuh dalam dosa, maka sunat tidak diperlukan."
Tetapi dari urutan wahyu Alkitab kita dapat menyimpulkan:
- Manusia diciptakan sempurna tanpa perintah sunat.
- Sunat muncul setelah dunia jatuh dalam dosa.
- Sunat diberikan sebagai tanda perjanjian kepada Abraham.
- Sunat akhirnya menunjuk kepada kebutuhan akan hati yang diperbarui.
- Dalam Perjanjian Baru, fokus berpindah dari sunat fisik kepada "sunat hati" dan "ciptaan baru".
Karena itu banyak teolog menyimpulkan bahwa sunat bukan bagian dari tujuan penciptaan manusia yang asli, melainkan bagian dari sejarah perjanjian dan penebusan Allah setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa.
