NAMA ALLAH

 

NAMA ALLAH

Pertanyaan ini menyentuh cara Perjanjian Baru berbicara tentang hubungan antara Bapa dan Yesus.

Secara umum, banyak ayat Perjanjian Baru memakai pola:

  • Allah (ho Theos) → biasanya menunjuk kepada Bapa.
  • Tuhan (Kyrios) → sering menunjuk kepada Yesus.

Contoh paling jelas:

"Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup." — (1 Korintus 8:6)

Di sini Paulus membedakan:

  • Satu Allah = Bapa
  • Satu Tuhan = Yesus Kristus

Tetapi ini bukan berarti Yesus bukan Allah. Sebab di ayat-ayat lain Yesus juga secara langsung disebut Allah.

Yesus disebut Allah

"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."

— Yohanes 1:1

"Tomas menjawab Dia: 'Ya Tuhanku dan Allahku!'"

— Yohanes 20:28

"Sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus."

— Titus 2:13

Mengapa Bapa sering disebut Allah?

Karena dalam Perjanjian Baru, Bapa dipandang sebagai sumber atau asal relasi Trinitas.

Yesus sendiri berkata:

"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."

— Yohanes 17:3

Ayat ini sering dipakai untuk mengatakan Yesus bukan Allah. Namun jika demikian, akan timbul masalah karena Yohanes yang sama juga menulis:

"Firman itu adalah Allah."

— Yohanes 1:1

Jadi Yohanes tidak sedang menyangkal keilahian Yesus, melainkan berbicara tentang Bapa sebagai "satu-satunya Allah yang benar" dalam relasi dengan Anak yang diutus-Nya.

Mengapa Yesus sering disebut Tuhan?

Karena kata Yunani Kyrios (Tuhan) dipakai oleh Septuaginta (terjemahan Yunani Perjanjian Lama) untuk menerjemahkan nama kudus YHWH.

Contohnya:

"Setiap orang yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan."

— Yoel 2:32

Paulus menerapkan ayat ini kepada Yesus:

"Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan."

— Roma 10:13

Dalam konteks Roma 10, "Tuhan" yang dimaksud adalah Yesus. Jadi gelar "Tuhan" bukan sekadar sapaan hormat, tetapi gelar ilahi yang berkaitan dengan YHWH.

Rangkuman

Perjanjian Baru sering menggunakan pola:

  • Allah → Bapa
  • Tuhan → Yesus

terutama untuk membedakan pribadi-pribadi ilahi dalam karya keselamatan.

Namun pola itu tidak mutlak, karena:

  • Bapa disebut Allah.
  • Yesus disebut Tuhan.
  • Yesus juga disebut Allah dalam beberapa ayat.
  • Roh Kudus juga memiliki sifat dan karya ilahi.

Karena itu, dalam teologi Kristen klasik, pola "Allah = Bapa" dan "Tuhan = Yesus" dipahami sebagai pembedaan pribadi, bukan pembedaan hakikat. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; tetapi Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa.

Banyak teolog Kristen memahami demikian.

Dalam Perjanjian Lama, penekanan utamanya adalah monoteisme: hanya ada satu Allah. Identitas pribadi-pribadi dalam keallahan belum dinyatakan secara penuh dan eksplisit seperti dalam Perjanjian Baru.

Misalnya:

"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!"

— Ulangan 6:4

Fokus ayat ini adalah bahwa Israel hanya memiliki satu Allah, berbeda dari bangsa-bangsa penyembah banyak dewa.

Namun, Perjanjian Lama juga memuat petunjuk-petunjuk yang kemudian dipahami orang Kristen sebagai persiapan bagi wahyu Trinitas, seperti:

  • Roh Allah yang bekerja (Kejadian 1:2).
  • Firman Allah yang bertindak mencipta (Mazmur 33:6).
  • Malaikat TUHAN yang kadang berbicara sebagai Allah dan dibedakan dari Allah.
  • Mazmur 110:1: "TUHAN berfirman kepada Tuanku."
  • Yesaya 48:16 yang menyebut TUHAN Allah, Roh-Nya, dan Dia yang diutus.

Tetapi petunjuk-petunjuk ini belum menjelaskan secara terang bahwa ada Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang sama-sama ilahi.

Baru dalam Perjanjian Baru wahyu itu menjadi lebih jelas:

  • Bapa disebut Allah.
  • Anak dinyatakan sebagai Firman yang menjadi manusia.
  • Roh Kudus bertindak sebagai pribadi ilahi.
  • Ketiganya muncul bersama, misalnya saat baptisan Yesus (Matius 3:16-17).

Karena itu, banyak teolog mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama pribadi-pribadi ilahi belum dibedakan secara eksplisit, sedangkan dalam Perjanjian Baru pembedaan itu dinyatakan lebih jelas.

Namun perlu dicatat bahwa bahkan dalam Perjanjian Baru, para penulis tetap menjaga monoteisme Yahudi. Mereka tidak mengajarkan tiga Allah, melainkan satu Allah yang dikenal sebagai:

  • Bapa,
  • Anak (Yesus Kristus),
  • Roh Kudus.

Jadi jika pertanyaannya:

"Apakah karena wahyu Trinitas belum dinyatakan secara eksplisit dalam PL maka Allah dan Tuhan belum dibedakan seperti di PB?"

Jawabannya: secara umum, ya. Dalam PL, fokusnya adalah penyataan bahwa hanya ada satu Allah. Dalam PB, setelah kedatangan Yesus dan pencurahan Roh Kudus, hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus dinyatakan lebih jelas sehingga para penulis PB sering memakai pola "Allah" untuk Bapa dan "Tuhan" untuk Yesus tanpa meninggalkan keyakinan bahwa hanya ada satu Allah.

Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post