NAMA ALLAH
- Bapa adalah asal pribadi (personal source/origin) dari Anak yang diperanakkan dan Roh Kudus yang keluar dari Bapa (dalam tradisi Barat: dari Bapa dan Anak).
- Tetapi Bapa bukan sumber hakikat ilahi.
Secara umum, banyak ayat Perjanjian Baru memakai pola:
- Allah (ho Theos) → biasanya menunjuk kepada Bapa.
- Tuhan (Kyrios) → sering menunjuk kepada Yesus.
Contoh paling jelas:
"Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup." — (1 Korintus 8:6)Di sini Paulus membedakan:
- Satu Allah = Bapa
- Satu Tuhan = Yesus Kristus
Tetapi ini bukan berarti Yesus bukan Allah. Sebab di ayat-ayat lain Yesus juga secara langsung disebut Allah.
Yesus disebut Allah
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
— Yohanes 1:1
"Tomas menjawab Dia: 'Ya Tuhanku dan Allahku!'"
— Yohanes 20:28
"Sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus."
— Titus 2:13
Mengapa Bapa sering disebut Allah?
Karena dalam Perjanjian Baru, Bapa dipandang sebagai sumber atau asal relasi Trinitas.
Yesus sendiri berkata:
"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."
— Yohanes 17:3
Ayat ini sering dipakai untuk mengatakan Yesus bukan Allah. Namun jika demikian, akan timbul masalah karena Yohanes yang sama juga menulis:
"Firman itu adalah Allah."
— Yohanes 1:1
Jadi Yohanes tidak sedang menyangkal keilahian Yesus, melainkan berbicara tentang Bapa sebagai "satu-satunya Allah yang benar" dalam relasi dengan Anak yang diutus-Nya.
Mengapa Yesus sering disebut Tuhan?
Karena kata Yunani Kyrios (Tuhan) dipakai oleh Septuaginta (terjemahan Yunani Perjanjian Lama) untuk menerjemahkan nama kudus YHWH.
Contohnya:
"Setiap orang yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan."
— Yoel 2:32
Paulus menerapkan ayat ini kepada Yesus:
"Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan."
— Roma 10:13
Dalam konteks Roma 10, "Tuhan" yang dimaksud adalah Yesus. Jadi gelar "Tuhan" bukan sekadar sapaan hormat, tetapi gelar ilahi yang berkaitan dengan YHWH.
Rangkuman
Perjanjian Baru sering menggunakan pola:
- Allah → Bapa
- Tuhan → Yesus
terutama untuk membedakan pribadi-pribadi ilahi dalam karya keselamatan.
Namun pola itu tidak mutlak, karena:
- Bapa disebut Allah.
- Yesus disebut Tuhan.
- Yesus juga disebut Allah dalam beberapa ayat.
- Roh Kudus juga memiliki sifat dan karya ilahi.
Karena itu, dalam teologi Kristen klasik, pola "Allah = Bapa" dan "Tuhan = Yesus" dipahami sebagai pembedaan pribadi, bukan pembedaan hakikat. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; tetapi Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa.
Banyak teolog Kristen memahami demikian.
Dalam Perjanjian Lama, penekanan utamanya adalah monoteisme: hanya ada satu Allah. Identitas pribadi-pribadi dalam keallahan belum dinyatakan secara penuh dan eksplisit seperti dalam Perjanjian Baru.
Misalnya:
"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!"— Ulangan 6:4
Fokus ayat ini adalah bahwa Israel hanya memiliki satu Allah, berbeda dari bangsa-bangsa penyembah banyak dewa.
Namun, Perjanjian Lama juga memuat petunjuk-petunjuk yang kemudian dipahami orang Kristen sebagai persiapan bagi wahyu Trinitas, seperti:
- Roh Allah yang bekerja (Kejadian 1:2).
- Firman Allah yang bertindak mencipta (Mazmur 33:6).
- Malaikat TUHAN yang kadang berbicara sebagai Allah dan dibedakan dari Allah.
- Mazmur 110:1: "TUHAN berfirman kepada Tuanku."
- Yesaya 48:16 yang menyebut TUHAN Allah, Roh-Nya, dan Dia yang diutus.
Tetapi petunjuk-petunjuk ini belum menjelaskan secara terang bahwa ada Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang sama-sama ilahi.
Baru dalam Perjanjian Baru wahyu itu menjadi lebih jelas:
- Bapa disebut Allah.
- Anak dinyatakan sebagai Firman yang menjadi manusia.
- Roh Kudus bertindak sebagai pribadi ilahi.
- Ketiganya muncul bersama, misalnya saat baptisan Yesus (Matius 3:16-17).
Karena itu, banyak teolog mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama pribadi-pribadi ilahi belum dibedakan secara eksplisit, sedangkan dalam Perjanjian Baru pembedaan itu dinyatakan lebih jelas.
Namun perlu dicatat bahwa bahkan dalam Perjanjian Baru, para penulis tetap menjaga monoteisme Yahudi. Mereka tidak mengajarkan tiga Allah, melainkan satu Allah yang dikenal sebagai:
- Bapa,
- Anak (Yesus Kristus),
- Roh Kudus.
Jadi jika pertanyaannya:
"Apakah karena wahyu Trinitas belum dinyatakan secara eksplisit dalam PL maka Allah dan Tuhan belum dibedakan seperti di PB?"
Jawabannya: secara umum, ya. Dalam PL, fokusnya adalah penyataan bahwa hanya ada satu Allah. Dalam PB, setelah kedatangan Yesus dan pencurahan Roh Kudus, hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus dinyatakan lebih jelas sehingga para penulis PB sering memakai pola "Allah" untuk Bapa dan "Tuhan" untuk Yesus tanpa meninggalkan keyakinan bahwa hanya ada satu Allah.
• Bapa adalah YHWH.
• Anak adalah YHWH.
• Roh Kudus adalah YHWH.
Karena itu teologi Kristen historis mengajarkan:
- Bapa adalah YHWH.
- Anak adalah YHWH.
- Roh Kudus adalah YHWH.
Tetapi:
- Bapa bukan Anak.
- Anak bukan Roh Kudus.
- Roh Kudus bukan Bapa.
Ini mirip dengan penggunaan kata "Allah":
- Bapa adalah Allah.
- Anak adalah Allah.
- Roh Kudus adalah Allah.
Namun hanya ada satu Allah dan satu YHWH, bukan tiga.
Karena itu banyak penafsir Trinitarian melihat beberapa teks PL yang menyebut YHWH, lalu PB menerapkannya kepada Yesus.
Contoh:
"Ada suara yang berseru-seru: Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita."
— Yesaya 40:3
Dalam konteks PL, "TUHAN" di sini adalah YHWH.
Tetapi PB menerapkannya kepada pelayanan Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi Yesus Kristus (Matius 3:3; Markus 1:3).
Demikian juga:
"Setiap orang yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan."
— Yoel 2:32
Ayat ini diterapkan kepada Yesus dalam Roma 10:13.
Karena itu, dari sudut pandang Trinitarian:
- Nama relasional adalah Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
- Nama perjanjian Allah dalam PL adalah YHWH.
- YHWH dapat dipakai bagi Bapa, bagi Anak, dan bagi Roh Kudus karena ketiganya adalah satu Allah yang sama.
Namun perlu dicatat bahwa tidak semua tradisi Kristen menjelaskan dengan cara yang sama. Ada yang lebih berhati-hati dan mengatakan bahwa YHWH terutama menunjuk kepada Allah yang esa tanpa selalu menentukan pribadi mana yang sedang dinyatakan dalam suatu teks tertentu. Tetapi dalam arus utama Trinitarian, tidak ada keberatan untuk mengatakan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus masing-masing adalah YHWH, selama tidak dipahami sebagai tiga YHWH yang berbeda.
Istilah "nama korporat" untuk YHWH bukanlah istilah yang umum dipakai dalam teologi Kristen klasik maupun studi Alkitab. Namun jika yang Anda maksud adalah:
YHWH adalah nama yang dimiliki bersama oleh Bapa, Anak, dan Roh Kudus, bukan nama eksklusif satu pribadi saja
Dalam pandangan Trinitarian:
- Bapa adalah nama pribadi (relasional).
- Anak adalah nama pribadi (relasional).
- Roh Kudus adalah nama pribadi (relasional).
- YHWH adalah nama Allah yang esa.
Karena hanya ada satu Allah, maka nama YHWH tidak dibatasi pada satu pribadi saja.
Analogi yang kadang dipakai (meskipun tidak sempurna):
- "Bapa", "Anak", dan "Roh Kudus" seperti identitas pribadi.
- "YHWH" seperti nama yang menunjuk kepada keberadaan ilahi yang satu yang dimiliki bersama.
Karena itu seorang Trinitarian dapat berkata:
- Bapa adalah YHWH.
- Anak adalah YHWH.
- Roh Kudus adalah YHWH.
Tetapi tidak mengatakan:
- Bapa = Anak.
- Anak = Roh Kudus.
Jadi jika Anda memakai istilah "nama korporat" dalam arti nama yang mencakup seluruh keallahan yang satu dan bukan hanya satu pribadi, maka itu cukup sejalan dengan logika Trinitarian.
Namun perlu dicatat bahwa istilah "korporat" sendiri bisa menimbulkan salah paham, karena terdengar seperti beberapa individu yang membentuk satu kelompok atau organisasi. Sedangkan doktrin Trinitas tidak mengajarkan tiga individu yang bergabung menjadi satu "korporasi", melainkan satu Allah dengan satu hakikat ilahi yang dimiliki oleh tiga pribadi yang berbeda.
Karena itu, banyak teolog akan lebih memilih mengatakan:
YHWH adalah nama Allah yang esa, sedangkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah nama-nama pribadi yang dibedakan oleh relasi mereka satu sama lain.
Jika yang Anda maksud adalah padanan Perjanjian Lama untuk "Theos" sebagai sebutan hakikat ilahi, maka kata yang paling sering diterjemahkan menjadi Theos dalam Septuaginta (PL Yunani) adalah:
- אֱלֹהִים (Elohim) = Allah
- Kadang juga אֵל (El) = Allah
- אֱלוֹהַּ (Eloah) = Allah (bentuk tunggal, terutama dalam kitab Ayub)
Contohnya:
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."
— Kejadian 1:1
Dalam bahasa Ibrani:
Bereshit bara Elohim et hashamayim ve'et ha'aretz.
Di Septuaginta diterjemahkan:
En archē epoiēsen ho Theos ton ouranon kai tēn gēn.
Jadi:
- Elohim (PL Ibrani) ↔ Theos (PL/PB Yunani)
Mengenai hakikat, teologi Kristen biasanya mengatakan:
- Dalam PL, istilah Elohim belum dibedakan secara eksplisit antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
- Elohim menunjuk kepada Allah yang esa.
- Dalam PB, wahyu yang lebih penuh menunjukkan bahwa satu hakikat ilahi itu dimiliki oleh Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Sedangkan nama relasi dalam PL belum dinyatakan sejelas PB. Yang paling mendekati adalah:
- Allah sebagai Bapa Israel (misalnya Ulangan 32:6; Yesaya 63:16).
- Firman Allah.
- Roh Allah.
Tetapi belum ada penyataan eksplisit "satu hakikat ilahi dalam tiga pribadi" sebagaimana dipahami gereja setelah PB.
Perlu dibedakan juga antara hakikat ilahi dan nama pribadi Allah:
- Elohim / Theos → sebutan Allah, sering dipahami menunjuk kepada keallahan atau Allah sebagai Allah.
- YHWH (יהוה) → nama pribadi Allah dalam PL.
Ketika Septuaginta menerjemahkan PL ke Yunani:
- Elohim → Theos.
- YHWH → Kyrios (Tuhan).
Inilah sebabnya mengapa dalam PB gelar Kyrios (Tuhan) yang dalam PL dipakai untuk YHWH kemudian sering diterapkan kepada Yesus, misalnya dalam Roma 10:13 yang mengutip Yoel 2:32. Banyak teolog melihat hal ini sebagai salah satu dasar pengakuan keilahian Kristus dalam PB.
Pertanyaan ini penting karena menyentuh perbedaan antara "siapa" dan "apa" dalam teologi.
Secara umum, Theos (Θεός, Allah) menunjuk kepada hakikat/keallahan, bukan nama relasi.
Misalnya ketika Yohanes menulis:
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. — (Yohanes 1:1)Pada bagian "Firman itu adalah Allah" (kai Theos ēn ho Logos), kata Theos menyatakan bahwa Firman memiliki hakikat ilahi.
Demikian juga:
"Firman itu adalah Allah."
Artinya bukan "Firman itu adalah Bapa", melainkan "Firman itu memiliki natur atau hakikat Allah."
Dalam teologi klasik:
- Bapa = nama relasi (Pribadi pertama).
- Anak = nama relasi (Pribadi kedua).
- Roh Kudus = nama relasi (Pribadi ketiga).
- Allah (Theos) = menunjuk kepada hakikat ilahi yang dimiliki bersama.
Karena itu para teolog sering mengatakan:
- Bapa adalah Allah.
- Anak adalah Allah.
- Roh Kudus adalah Allah.
Karena itu seorang Trinitarian dapat berkata:
- Bapa adalah YHWH.
- Anak adalah YHWH.
- Roh Kudus adalah YHWH.
Tetapi:
- Bapa bukan Anak.
- Anak bukan Roh Kudus.
- Roh Kudus bukan Bapa.
Sebab "Allah" menjawab pertanyaan "apa Dia?", sedangkan "Bapa", "Anak", dan "Roh Kudus" menjawab pertanyaan "siapa Dia?"
Namun ada nuansa penting dalam Perjanjian Baru. Kadang-kadang ho Theos ("Sang Allah") dipakai secara khusus untuk menunjuk kepada Bapa.
Contoh:
"Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus."— Roma 1:7
Di sini "Allah" memang menunjuk kepada Bapa sebagai pribadi.
Jadi dalam PB, Theos dapat dipakai dalam dua cara:
-
Sebagai sebutan hakikat ilahi
(misalnya Yohanes 1:1, "Firman itu adalah Allah"). -
Sebagai sebutan pribadi Bapa
(misalnya banyak salam Paulus: "Allah Bapa").
Karena itu jawaban yang paling tepat adalah:
Secara dasar, Theos adalah istilah yang menunjuk pada hakikat keallahan. Tetapi dalam banyak konteks Perjanjian Baru, kata Theos juga dipakai sebagai sebutan bagi Pribadi Bapa. Kontekslah yang menentukan apakah Theos sedang dipakai secara ontologis (hakikat) atau personal (Bapa).
Tentu. Jika Elohim dimasukkan secara eksplisit, tabelnya menjadi lebih lengkap:
| Kategori | Perjanjian Lama (Ibrani) | Perjanjian Baru (Yunani) | Fungsi Utama |
|---|---|---|---|
| Nama Hakikat / Keallahan | Elohim (אֱלֹהִים) | Theos (Θεός) | Menunjuk kepada Allah sebagai Allah (keallahan/hakikat ilahi). |
| Nama Pribadi Allah yang Esa | YHWH (יהוה) | Kyrios (Κύριος) ketika dipakai sebagai padanan YHWH | Nama perjanjian Allah. |
| Pribadi Pertama | Tersirat sebagai Allah/Bapa Israel | Bapa | Relasi sebagai Bapa. |
| Pribadi Kedua | Firman YHWH, Hikmat Allah (bayangan/antisipasi) | Anak, Yesus Kristus, Logos | Relasi sebagai Anak. |
| Pribadi Ketiga | Roh Allah, Roh YHWH | Roh Kudus | Relasi sebagai Roh Kudus. |
Hubungan istilah-istilah itu
Perjanjian Lama
YHWH
(Nama Allah yang Esa)
│
Elohim
(Keallahan/hakikat)
Contoh:
"Pada mulanya Elohim menciptakan langit dan bumi."
— Kejadian 1:1
"Akulah YHWH, itulah nama-Ku."
— Yesaya 42:8
Di sini:
- Elohim = Allah (hakikat)
- YHWH = nama Allah tersebut.
Perjanjian Lama & Perjanjian Baru
(Elohim/Theos) / (YHWH/Kyrios)
(Allah yang Esa)
┌──────────l──────────┐
Bapa Anak Roh Kudus
Jika memakai bahasa teologi Trinitarian
| Pertanyaan | Jawaban |
|---|---|
| 1. Apa nama hakikat ilahi dalam PL? | • Elohim |
| 2. Apa nama hakikat ilahi dalam PB? | • Theos |
| 3. Apa nama Allah yang esa dalam PL? | • YHWH |
| 4. Apa padanan YHWH dalam PB Yunani? | • Kyrios |
| 5. Siapa pribadi-pribadi yang dinyatakan jelas dalam PB? | • Bapa, Anak, Roh Kudus |
Jadi secara ringkas:
PL
- Elohim = Allah/hakikat (keallahan).
- YHWH = nama Allah.
PB
- Theos = Allah/hakikat (keallahan).
- Kyrios = padanan Yunani untuk YHWH.
- Bapa, Anak, dan Roh Kudus = nama-nama pribadi yang dinyatakan secara lebih jelas.
Itulah sebabnya sebagian teolog mengatakan:
Elohim ↔ Theos (istilah keallahan/hakikat)
YHWH ↔ Kyrios (nama Allah)
Bapa, Anak, Roh Kudus (pembedaan pribadi).
Berikut rangkuman yang lebih lengkap dan mudah dibandingkan antara Ibrani (PL), Yunani (PB), Inggris, dan Indonesia:
| Fungsi | Ibrani (PL) | Yunani (LXX/PB) | Inggris | Indonesia |
|---|---|---|---|---|
| Nama Allah (Perjanjian) | YHWH (יהוה) | Kyrios (Κύριος) | LORD | TUHAN |
Sebutan Allah / Keallahan |
Elohim (אֱלֹהִים) | Theos (Θεός) | God | Allah |
Bentuk tunggal Allah |
Eloah (אֱלוֹהַּ) | Theos | God | Allah |
Sebutan umum Allah |
El (אֵל) | Theos | God | Allah |
Tuhan / Tuan |
Adonai (אֲדֹנָי) | Kyrios | Lord | Tuhan |
| Allah Yang Mahakuasa | El Shaddai (אֵל שַׁדַּי) |
Pantokratōr (Παντοκράτωρ) | Almighty God | Allah Yang Mahakuasa |
Nama Pribadi dalam Wahyu Trinitarian
| Pribadi | Ibrani (PL) | Yunani (PB) | Inggris | Indonesia |
|---|---|---|---|---|
| Bapa | Av (אָב) | Patēr (Πατήρ) | Father | Bapa |
| Anak | Ben (בֵּן) | Huios (Υἱός) | Son | Anak |
| Roh Kudus | Ruakh Ha-Qodesh (רוּחַ הַקֹּדֶשׁ) | Pneuma Hagion (Πνεῦμα Ἅγιον) | Holy Spirit | Roh Kudus |
Hubungan Istilah
| Tingkat | PL | PB |
|---|---|---|
| Hakikat / Keallahan | Elohim | Theos |
| Nama Allah yang Esa | YHWH | Kyrios (saat mewakili YHWH) |
| Pribadi Pertama | Tersirat | Bapa |
Pribadi Kedua |
Firman YHWH (tersirat) | Anak / Yesus Kristus |
Pribadi Ketiga |
Roh Allah |
Roh Kudus |
Ringkasan satu kalimat:
Elohim ↔ Theos = sebutan Allah/keallahan (hakikat)
YHWH ↔ Kyrios = nama Allah yang esa
Bapa, Anak, Roh Kudus = nama pribadi (relasi) yang dinyatakan secara jelas dalam PB.
| Kategori | Istilah |
|---|---|
| Hakikat | Elohim |
| Nama | YHWH |
Namun mengatakan "tidak ada gelar sama sekali" agak sulit dipertahankan dari data PL, karena PL juga memakai banyak gelar atau sebutan bagi Allah.
Misalnya:
| Gelar/Julukan | Arti |
|---|---|
| Adonai | Tuhan, Penguasa |
| El Shaddai | Allah Yang Mahakuasa |
| El Elyon | Allah Yang Mahatinggi |
| Melekh | Raja |
| Avinu | Bapa kami |
| Go'el | Penebus |
Contoh:
"Akulah Allah Yang Mahakuasa; hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela."
— Kejadian 17:1
Dalam Ibrani:
Ani El Shaddai
Di sini El Shaddai bukan nama YHWH, melainkan gelar atau sebutan yang menjelaskan siapa Allah itu.
Demikian pula:
"TUHAN adalah Raja untuk seterusnya dan selamanya."
— Mazmur 10:16
Di sini YHWH adalah nama, sedangkan "Raja" adalah gelar.
Jadi secara linguistik PL memiliki:
| Jenis | Contoh |
|---|---|
| Nama | YHWH |
| Hakikat/Sebutan Allah | Elohim |
| Gelar | Adonai, Raja, Gembala, Penebus, Yang Mahakuasa, Yang Mahatinggi |
Yang mungkin ingin Anda tekankan adalah hal lain:
Dalam PL, identitas utama Allah dibangun terutama oleh YHWH (nama) dan Elohim (Allah), bukan oleh gelar "Tuhan" sebagaimana dalam PB yang sering menyebut Yesus sebagai "Tuhan".
Jika dirumuskan demikian, itu lebih dekat dengan data Alkitab. Jadi:
PL
- Elohim = Allah (sebutan keallahan).
- YHWH = nama Allah.
- Ada berbagai gelar lain (Adonai, Raja, Penebus, dll.).
PB
- Theos = Allah.
- Kyrios = Tuhan.
- Bapa, Anak, Roh Kudus = pembedaan pribadi yang dinyatakan lebih jelas.
Ini salah satu pertanyaan yang paling banyak dibahas dalam studi Perjanjian Baru.
Pertama, perlu dibedakan antara:
| Pengertian | Contoh |
|---|---|
| Theos sebagai hakikat | "Firman itu adalah Allah" (Yohanes 1:1) |
| Ho Theos sebagai sebutan pribadi | "Allah Bapa" (1 Korintus 8:6) |
Jadi pertanyaannya sebenarnya adalah:
Mengapa dalam PB kata Theos (Allah) sering dipakai untuk menunjuk Bapa, padahal Theos juga berarti keallahan atau hakikat ilahi?
1. Karena PB mewarisi monoteisme PL
Dalam PL, fokus utama adalah:
• YHWH itu Elohim.
Tidak ada pembedaan pribadi yang dinyatakan secara penuh.
Ketika PB ditulis, para rasul tetap mempertahankan keyakinan bahwa hanya ada satu Allah.
Karena itu mereka sering memakai istilah yang sudah dikenal orang Yahudi:
• Allah (Theos)
dan dalam banyak konteks menunjukkannya kepada Bapa.
Misalnya:
"Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus."
— Roma 1:7
Di sini "Allah" dipakai untuk Bapa.
2. Karena Yesus datang sebagai manusia yang berelasi dengan Bapa
Setelah inkarnasi, Yesus hidup sebagai manusia sejati.
Karena itu dalam sejarah keselamatan terlihat relasi:
- Bapa mengutus Anak.
- Anak berdoa kepada Bapa.
- Anak taat kepada Bapa.
- Bapa membangkitkan Anak.
Untuk membedakan kedua pribadi itu, PB sering menggunakan pola:
| Pribadi | Sebutan dominan |
|---|---|
| Bapa | Allah |
| Anak | Tuhan |
Contoh:
"Bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa... dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus..."
— 1 Korintus 8:6
3. Karena Bapa dipandang sebagai sumber relasional dalam Trinitas
Dalam teologi klasik,
• Bapa disebut:
"unbegotten" (tidak diperanakkan)
• Anak:
"diperanakkan oleh Bapa"
• Roh Kudus:
"berasal dari Bapa" (dan menurut tradisi Barat, melalui Anak).
Karena itu para Bapa Gereja sering berbicara tentang Bapa sebagai "asal relasional" dalam Trinitas.
Bukan lebih Allah daripada Anak, tetapi sumber relasi pribadi.
Akibatnya kata "Allah" sering dipakai untuk Bapa.
4. Tetapi PB tidak membatasi Theos hanya kepada Bapa
Ini sangat penting.
Ada ayat-ayat yang menyebut Yesus sebagai Allah.
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." — (Yohanes 1:1)Ayat ini membedakan:
- Allah (Bapa)
- Firman
Tetapi juga mengatakan:
Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" — (Yohanes 20:28)Firman itu adalah Allah.
Yesus disebut:
- Tuhan
- Allah
sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus." — (Titus 2:13)
Di sini banyak ahli tata bahasa Yunani memahami "Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita" menunjuk kepada satu pribadi, yaitu Yesus.
5. Jadi sebenarnya bukan hakikat yang dipindahkan ke Bapa
Dari sudut pandang Trinitarian, yang terjadi bukan:
Theos = hakikat
↓
lalu dipersempit menjadi Bapa
melainkan:
Theos memiliki dua fungsi
================
1. Menunjuk hakikat ilahi
2. Menunjuk pribadi Bapa
Konteks menentukan fungsi mana yang sedang dipakai.
Contoh:
Fungsi hakikat
"Firman itu adalah Allah."
Theos = hakikat ilahi.
Fungsi pribadi
"Allah mengutus Anak-Nya."
Theos = Bapa.
Ringkasan
Jika dirumuskan secara sederhana:
| PL | PB |
|---|---|
Elohim smenunjuk Allah yang esa tanpa pembedaan pribadi yang jelas |
Theos sering dipakai untuk Bapa |
YHWH adalah nama Allah |
Kyrios sering dipakai untuk Yesus |
| Fokus pada kesatuan Allah | Fokus pada pembedaan Bapa dan Anak dalam sejarah keselamatan |
Karena itu banyak teolog mengatakan bahwa dalam PB:
- Theos (Allah) sering menjadi sebutan pribadi untuk Bapa.
- Kyrios (Tuhan) sering menjadi sebutan pribadi untuk Yesus.
- Tetapi Theos sebagai hakikat ilahi tidak pernah berhenti dimiliki oleh Anak dan Roh Kudus.
Jadi alasan utamanya bukan karena Bapa memiliki hakikat ilahi lebih banyak daripada Anak, melainkan karena para penulis PB memakai pola bahasa untuk membedakan pribadi-pribadi ilahi setelah inkarnasi Yesus, sambil tetap mempertahankan pengakuan bahwa Allah tetap satu.
Yohanes 17:26 adalah bagian dari doa Yesus kepada Bapa
Pertanyaannya: Nama yang mana yang diberitahukan Yesus?
Ada beberapa pandangan.
1. Bukan sekadar mengajarkan bunyi "YHWH"
Dalam Injil Yohanes tidak ada catatan bahwa Yesus datang untuk mengajarkan cara mengucapkan YHWH.
Orang Yahudi pada zaman Yesus sudah mengenal Kitab Suci dan sudah mengetahui nama YHWH dalam teks Taurat.
Jadi sulit mengatakan bahwa Yohanes 17:26 berarti:
"Aku mengajarkan mereka empat huruf YHWH."
Karena para murid sudah mengenal Taurat sebelum mengikuti Yesus.
2. Dalam pemikiran Ibrani, "nama" berarti pribadi dan karakter
Dalam Alkitab, "nama" sering berarti lebih dari sekadar sebutan.
Contoh:
"Orang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu." — (Mazmur 9:11)Artinya bukan sekadar mengetahui empat huruf YHWH, melainkan mengenal siapa Allah itu.
Dalam budaya Ibrani, nama sering menunjuk kepada:
- karakter,
- otoritas,
- identitas,
- pribadi.
3. Konteks Yohanes 17 mendukung arti "penyingkapan pribadi Bapa"
Beberapa ayat sebelumnya:
Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. — (Yohanes 17:6)
Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata:
"Aku mengajarkan ejaan nama-Mu."
Tetapi:
"Aku telah menyatakan nama-Mu."
Melalui seluruh pelayanan-Nya Yesus menunjukkan:
- kasih Bapa,
- kekudusan Bapa,
- kehendak Bapa,
- kemuliaan Bapa.
4. Yohanes menekankan bahwa Yesus menyatakan Bapa
Ayat yang sangat penting:
"Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." — (Yohanes 1:18)Jadi misi Yesus menurut Yohanes adalah:
• Menyatakan Bapa.
Karena itu banyak penafsir memahami Yohanes 17:26 sebagai:
"Aku telah memperkenalkan siapa Bapa itu kepada mereka."
5. Apakah nama itu YHWH?
Dari sudut PL, tentu Bapa adalah YHWH.
Tetapi Yohanes 17:26 tampaknya tidak sedang menekankan:
"Nama Bapa adalah YHWH."
Melainkan:
"Aku telah menyatakan pribadi dan karakter Bapa yang sesungguhnya."
Dengan kata lain:
| Arti sempit | Arti luas |
|---|---|
| Nama = YHWH | Nama = identitas, karakter, kemuliaan, kasih Bapa |
Sebagian besar penafsir memilih arti yang kedua.
6. Hubungan dengan Yohanes 17:11-12
Yesus berkata:
Ini menarik karena "nama" itu bahkan dikatakan diberikan kepada Yesus.
Karena itu banyak teolog memahami "nama" di sini bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan:
- otoritas ilahi,
- kemuliaan ilahi,
- identitas ilahi yang dinyatakan melalui Anak.
Kesimpulan
Jika melihat keseluruhan Injil Yohanes, "Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka" paling mungkin berarti:
Yesus telah menyatakan siapa Bapa sebenarnya karakter-Nya, kasih-Nya, kemuliaan-Nya, kehendak-Nya, dan identitas-Nya.
Apakah itu mencakup YHWH? Secara teologis, ya, karena Bapa adalah YHWH.
Tetapi fokus Yohanes 17:26 bukan pada pengucapan atau ejaan nama YHWH, melainkan pada penyingkapan pribadi Allah Bapa melalui kehidupan, ajaran, karya, kematian, dan kemuliaan Yesus Kristus.
Dengan kata lain, menurut konteks Injil Yohanes:
"memberitahukan nama-Mu" = "membuat mereka mengenal Engkau sebagaimana Engkau sebenarnya."
Yohanes 17:6 berbunyi:
"Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku, dan mereka telah menuruti firman-Mu."
— Yohanes 17:6
Untuk memahami frasa "Aku telah menyatakan nama-Mu", kita perlu melihat bagaimana Injil Yohanes memakai kata "nama" dan bagaimana konsep "nama" dipahami dalam Alkitab.
1. "Nama" dalam pemikiran Ibrani lebih dari sekadar sebutan
Dalam budaya modern, nama biasanya hanya label identitas.
Tetapi dalam Alkitab, nama sering menunjuk kepada:
- pribadi,
- karakter,
- sifat,
- otoritas,
- kemuliaan,
- reputasi.
Misalnya:
"Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu."
— Mazmur 9:11
Pemazmur tidak sedang berkata:
"Orang yang tahu huruf-huruf nama YHWH percaya kepada-Mu."
Melainkan:
"Orang yang mengenal siapa Engkau sebenarnya percaya kepada-Mu."
2. Kata "menyatakan" dalam Yohanes 17:6
Kata Yunani yang dipakai adalah:
ἐφανέρωσα (ephanerōsa)
artinya:
- membuat nyata,
- menyingkapkan,
- memperlihatkan,
- membuat dikenal.
Jadi Yesus berkata:
"Aku telah membuat nama-Mu dikenal."
atau
"Aku telah menyingkapkan siapa Engkau sebenarnya."
3. Apa yang Yesus nyatakan?
Sepanjang Injil Yohanes, Yesus terus-menerus menyatakan Bapa.
a. Menyatakan karakter Bapa
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."
— Yohanes 14:9
Yesus menunjukkan:
- kasih Bapa,
- kekudusan Bapa,
- belas kasihan Bapa,
- kebenaran Bapa.
b. Menyatakan firman Bapa
"Apa yang Aku ajarkan bukanlah ajaran-Ku sendiri, melainkan ajaran Dia yang telah mengutus Aku."
— Yohanes 7:16
c. Menyatakan pekerjaan Bapa
"Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga."
— Yohanes 5:17
d. Menyatakan kemuliaan Bapa
"Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi."
— Yohanes 17:4
4. Apakah yang dimaksud adalah nama YHWH?
Ada dua kemungkinan yang sering dibahas.
Tingkat pertama: Ya
Karena Bapa yang disembah Yesus adalah Allah Israel, maka nama-Nya tentu adalah YHWH.
Namun ada masalah:
Orang-orang Yahudi yang menjadi murid Yesus sudah mengenal nama YHWH dari Taurat sejak kecil.
Mereka tidak membutuhkan Yesus untuk memberitahu bahwa nama Allah adalah YHWH.
Tingkat kedua: Lebih dari YHWH
Karena itu banyak penafsir menyimpulkan:
Yesus bukan sekadar memberitahukan bunyi nama YHWH.
Melainkan:
Yesus menyingkapkan makna sejati dari nama itu.
Dengan kata lain:
Mereka tahu nama YHWH.
Tetapi melalui Yesus mereka mengenal pribadi YHWH dengan cara yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
5. Yohanes 1:18 adalah kunci
• Anak menyatakan Bapa.
Karena itu Yohanes 17:6 hampir merupakan ringkasan seluruh pelayanan Yesus:
"Aku telah memperkenalkan Bapa kepada mereka."
6. Hubungan dengan Yohanes 17:26
Di akhir doa yang sama Yesus berkata:
Perhatikan:
Nama YHWH cukup disebut sekali.
"Aku akan terus menyatakan siapa Engkau kepada mereka."
Kesimpulan
Ketika Yesus berkata:
"Aku telah menyatakan nama-Mu kepada mereka" (Yohanes 17:6),
makna utamanya bukan:
"Aku telah mengajarkan mereka cara mengucapkan YHWH."
Melainkan:
"Aku telah membuat mereka mengenal siapa Engkau sebenarnya."
Dalam bahasa Alkitab, nama mencakup:
- identitas,
- karakter,
- kemuliaan,
- otoritas,
- kasih,
- kehendak,
- pribadi.
Jadi "menyatakan nama Bapa" berarti bahwa melalui kehidupan, ajaran, mukjizat, kematian, dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka kepada para murid siapa Allah Bapa yang sesungguhnya. Mereka tidak hanya mengetahui nama-Nya, tetapi mengenal pribadi-Nya.
• Orang Yahudi mengenal Allah sebagai Elohim dan YHWH.
Ada beberapa cara utama:
1. Dengan mengajarkan tentang Bapa
Yesus terus-menerus berbicara tentang Bapa.
"Apa yang Aku ajarkan bukanlah ajaran-Ku sendiri, melainkan ajaran Dia yang telah mengutus Aku."
— Yohanes 7:16
"Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka."
— Yohanes 17:8
Melalui pengajaran-Nya, murid-murid mengenal kehendak dan pikiran Bapa.
2. Dengan menunjukkan karakter Bapa
Yesus memperlihatkan kasih, belas kasihan, kesabaran, dan kekudusan Allah.
Ketika Yesus mengampuni, menolong, menyembuhkan, dan menerima orang berdosa, Ia sedang menunjukkan seperti apa Bapa itu.
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."— (Yohanes 14:9)Ini bukan berarti Yesus adalah Bapa, melainkan bahwa Yesus adalah penyataan sempurna dari Bapa.
3. Dengan melakukan pekerjaan Bapa
"Pekerjaan-pekerjaan yang Kuberikan oleh Bapa kepada-Ku supaya Aku menyelesaikannya, yaitu pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan itu, memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku." — (Yohanes 5:3)Mukjizat-mukjizat Yesus bukan sekadar demonstrasi kuasa, tetapi juga penyataan tentang siapa Bapa itu.
4. Dengan menyatakan kemuliaan Bapa
"Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya." — (Yohanes 17:4)Melalui seluruh kehidupan-Nya, Yesus memuliakan Bapa dan membuat Bapa dikenal.
5. Dengan memperkenalkan relasi "Bapa"
Ini sangat penting.
Orang Yahudi mengenal Allah sebagai Elohim dan YHWH. Namun Yesus secara khusus mengajar murid-murid untuk mengenal Allah sebagai Bapa.
Misalnya:
Jadi Yesus tidak hanya mengungkapkan bahwa Allah itu ada, tetapi juga mengungkapkan hubungan-Nya sebagai Bapa.
6. Dengan salib dan kebangkitan
Puncak penyataan nama Bapa adalah salib.
Di salib terlihat:
- kasih Bapa,
- keadilan Bapa,
- kekudusan Bapa,
- rencana keselamatan Bapa.
Karena itu Yohanes 17 diucapkan tepat sebelum penyaliban.
Ringkasan
Ketika Yesus berkata:
"Aku telah menyatakan nama-Mu kepada mereka."
Maksudnya adalah:
| Cara Yesus menyatakan nama Bapa | Bentuknya |
|---|---|
| • Mengajar firman Bapa | Pengajaran |
| • Menunjukkan karakter Bapa | Kehidupan-Nya |
| • Melakukan pekerjaan Bapa | Mukjizat dan pelayanan |
| • Menyatakan kemuliaan Bapa | Ketaatan sempurna |
| • Memperkenalkan Allah sebagai Bapa | Relasi |
• Menggenapi rencana keselamatan |
Salib dan kebangkitan |
Jadi dalam Yohanes 17, "nama Bapa" bukan terutama huruf-huruf YHWH, melainkan seluruh identitas, karakter, kemuliaan, dan kasih Bapa yang dinyatakan secara sempurna melalui Yesus Kristus. Itulah sebabnya Yesus dapat berkata:
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." — (Yohanes 14:9)
Karena melalui Yesus, para murid mengenal Bapa dengan cara yang belum pernah dinyatakan sebelumnya.
- Dalam Injil Yohanes, tema yang lebih dominan adalah Yesus menyatakan Bapa.
- Dalam surat-surat Paulus, tema Adam terakhir lebih menonjol.
- Kedua tema bertemu dalam pribadi Kristus: Yesus menyatakan Bapa melalui kehidupan-Nya sebagai manusia yang sempurna dan taat.
Yesus datang terutama untuk menyatakan Bapa.
Sedangkan menjadi manusia sempurna (Adam terakhir) adalah tema yang sangat penting, tetapi lebih menonjol dalam tulisan Paulus daripada dalam Injil Yohanes.
1. Dalam Injil Yohanes
Tema besar Yohanes adalah:
Allah yang tidak kelihatan dinyatakan melalui Anak.
Perhatikan ayat-ayat ini:
"Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya."
— Yohanes 1:18
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."
— Yohanes 14:9
"Aku telah menyatakan nama-Mu kepada mereka."
— Yohanes 17:6
Jadi dalam Yohanes, fokusnya berulang kali adalah:
- Anak diutus oleh Bapa.
- Anak menyatakan Bapa.
- Anak memuliakan Bapa.
- Anak membawa manusia kepada Bapa.
2. Dalam Paulus
Tema Adam terakhir muncul sangat jelas.
"Manusia pertama, Adam, menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan."
— 1 Korintus 15:45
"Sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar."
— Roma 5:19
Di sini fokusnya adalah:
- Adam pertama gagal.
- Kristus berhasil.
- Adam pertama membawa kematian.
- Kristus membawa hidup.
Jadi Paulus sering melihat Yesus sebagai wakil umat manusia yang sempurna.
Apakah kedua tema bertentangan?
Tidak.
Dalam teologi Kristen klasik, keduanya saling melengkapi:
| Tema | Pertanyaan yang dijawab |
|---|---|
Menyatakan Bapa |
Siapakah Allah itu? |
| Adam terakhir | Seperti apakah manusia yang seharusnya? |
Yesus melakukan keduanya sekaligus.
- Sebagai Anak Allah, Ia menyatakan Bapa.
- Sebagai manusia sejati, Ia menunjukkan manusia yang sempurna.
Mana yang lebih dominan dalam Yohanes 17?
Dalam konteks Yohanes 17, jelas yang dominan adalah: penyataan Bapa.
Karena seluruh doa itu dipenuhi ungkapan:
- "Aku telah menyatakan nama-Mu."
- "Aku telah mempermuliakan Engkau."
- "Supaya mereka mengenal Engkau."
- "Segala milik-Ku adalah milik-Mu."
Fokusnya bukan:
"Aku telah menunjukkan manusia yang sempurna."
melainkan:
"Aku telah membuat mereka mengenal Bapa."
3. Yesus menyatakan Bapa dengan cara hidup sebagai manusia sempurna
Sebenarnya Yesus menyatakan Bapa justru dengan hidup sebagai manusia yang sempurna.
Dengan kata lain:
- Adam pertama gagal mencerminkan Allah.
- Yesus sebagai Adam terakhir berhasil mencerminkan Allah dengan sempurna.
Karena itu ketika orang melihat Yesus:
- mereka melihat manusia yang sempurna,
- dan sekaligus melihat penyataan sempurna dari Bapa.
Jadi secara keseluruhan:
- Dalam Injil Yohanes, tema yang lebih dominan adalah Yesus menyatakan Bapa.
- Dalam surat-surat Paulus, tema Adam terakhir lebih menonjol.
- Kedua tema bertemu dalam pribadi Kristus: Yesus menyatakan Bapa melalui kehidupan-Nya sebagai manusia yang sempurna dan taat.
Ini pemisahan yang cukup membantu, karena sering kali kedua tema itu bercampur dalam pembacaan kita.
1. AYAT-AYAT YANG MENUNJUKKAN YESUS MENYATAKAN BAPA
(Revelation of the Father)
Tema utama:
"Melalui Yesus kita mengenal siapa Allah Bapa itu."
Yohanes 1:18
"Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya."
Fokus:
- Menyatakan Allah.
- Menyingkapkan Bapa.
Yohanes 5:19
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak."
Fokus:
- Yesus memperlihatkan pekerjaan Bapa.
Yohanes 8:28
"Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku."
Fokus:
- Menyatakan ajaran Bapa.
Yohanes 10:30
"Aku dan Bapa adalah satu."
Fokus:
- Kesatuan dengan Bapa.
Yohanes 14:9
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."
Fokus:
- Yesus adalah penyataan sempurna Bapa.
Yohanes 17:6
"Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang..."
Fokus:
- Menyatakan identitas Bapa.
Yohanes 17:26
"Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka..."
Fokus:
- Menyingkapkan Bapa.
Ringkasan Tema Penyataan Bapa
Ayat-ayat ini menjawab:
"Siapakah Allah itu?"
Jawaban:
- Lihat Yesus.
- Dengarkan Yesus.
- Kenali Yesus.
2. AYAT-AYAT YANG MENUNJUKKAN YESUS SEBAGAI ADAM TERAKHIR
(Perfect Man / Last Adam)
Tema utama:
"Yesus adalah manusia sempurna yang berhasil di mana Adam gagal."
Roma 5:18-19
"Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup."
"Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar."
Fokus:
- Adam gagal.
- Kristus taat.
1 Korintus 15:21-22
"Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia."
Fokus:
- Kristus sebagai kepala umat manusia yang baru.
1 Korintus 15:45
"Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan."
Fokus:
- Kristus = Adam terakhir.
Filipi 2:8
"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."
Fokus:
- Ketaatan sempurna manusia.
Ibrani 4:15
"Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa."
Fokus:
- Manusia tanpa dosa.
Ibrani 5:8
"Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya."
Fokus:
- Ketaatan manusia sejati.
1 Petrus 2:22
"Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya."
Fokus:
- Kesempurnaan moral.
Ringkasan Tema Adam Terakhir
Ayat-ayat ini menjawab:
"Seperti apakah manusia yang Allah kehendaki?"
Jawaban:
- Lihat Yesus.
- Yesus adalah manusia sempurna.
- Yesus berhasil di mana Adam gagal.
Perbandingan
| Penyataan Bapa | Adam Terakhir |
|---|---|
| Yoh 1:18 | Roma 5:18-19 |
| Yoh 5:19 | 1 Kor 15:21-22 |
| Yoh 8:28 | 1 Kor 15:45 |
| Yoh 10:30 | Filipi 2:8 |
| Yoh 14:9 | Ibrani 4:15 |
| Yoh 17:6 | Ibrani 5:8 |
| Yoh 17:26 | 1 Petrus 2:22 |
• Penyataan Bapa menjawab:
"Siapa Allah itu?"
• Adam Terakhir menjawab:
"Seperti apa manusia yang sempurna itu?"
Dan dalam diri Yesus kedua tema itu bertemu:
• Sebagai Anak Allah, Ia menyatakan Bapa.
• Sebagai Adam terakhir, Ia menyatakan manusia yang sempurna di hadapan Bapa.
DALAM PL
======
YHWH = Nama
Adonai = Gelar
Elohim = Sebutan Allah/keallahan (kodrat)
DALAM PB
======
Kyrios = Nama/Gelar
Theos = Keallahan(kodrat)/Pribadi
1. Dalam Perjanjian Lama (Ibrani)
Ada dua istilah utama:
| Ibrani | Indonesia | Fungsi |
|---|---|---|
| YHWH (יהוה) | TUHAN | Nama Allah |
| Adonai (אֲדֹנָי) | Tuhan | Gelar ("Tuan", "Penguasa") |
Contoh:
"Akulah YHWH, itulah nama-Ku.". — (Yesaya 42:8)Di sini YHWH adalah nama.
Sedangkan:
• Adonai YHWH
sering diterjemahkan:
• Tuhan ALLAH
karena Adonai adalah gelar dan YHWH adalah nama.
Jadi dalam PL
Secara sederhana:
YHWH = Nama
Adonai = Gelar
Elohim = Sebutan Allah/keallahan (kodrat)
2. Dalam Perjanjian Baru (Yunani)
• Kyrios (Κύριος)
yang berarti:
- tuan,
- pemilik,
- penguasa,
- lord,
- Tuhan.
• YHWH → Kyrios
Jadi kata Kyrios memperoleh makna yang jauh lebih besar daripada sekadar "tuan".
3. Mengapa ini penting?
Dalam PL:
YHWH = Nama Allah
Adonai = Gelar
Dalam PB:
Kyrios dapat mewakili:
1. Adonai (gelar)
2. YHWH (nama Allah dalam PL)
Jadi satu kata Yunani memikul dua fungsi sekaligus.
4. Contoh dalam PL
Mazmur 110:1
Ibrani:
• YHWH berkata kepada adoni
Secara harfiah:
• TUHAN berkata kepada tuanku
Ada dua kata berbeda:
| Kata | Fungsi |
|---|---|
| YHWH | Nama Allah |
| adoni | tuan/manusia |
5. Ketika masuk PB
Mazmur 110:1 dikutip dalam Yunani:
• Kyrios berkata kepada kyrios-ku
Keduanya menjadi:
• Kyrios
Karena bahasa Yunani tidak lagi membedakan YHWH dan Adoni dengan dua kata yang berbeda.
6. Mengapa Yesus disebut Tuhan?
Ketika Paulus berkata:
"Yesus adalah Tuhan."
Yunani:
Iēsous Kyrios
Maksudnya lebih dari:
Yesus adalah pemimpin.
Karena Kyrios adalah kata yang sudah dipakai untuk YHWH dalam Septuaginta.
Misalnya:
"Setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan."
PL:
Tuhan = YHWH
Paulus menerapkannya kepada Yesus (Roma 10:13).
7. Perbedaan fokus PL dan PB
Dalam PL
Fokus utama:
Siapakah Allah yang benar?
Jawabannya:
YHWH.
Karena itu nama YHWH sangat dominan.
Dalam PB
Fokus utama:
Siapakah Yesus?
Jawabannya:
Yesus adalah Tuhan (Kyrios).
Karena itu gelar Tuhan menjadi sangat dominan.
8. Mengapa Paulus sering menulis:
Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus
Misalnya:
"Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus."
Di sini:
| Sebutan | Pribadi |
|---|---|
| Allah (Theos) | Bapa |
| Tuhan (Kyrios) | Yesus |
Ini bukan berarti:
- Bapa lebih Allah,
- Yesus kurang Allah.
Melainkan cara Paulus membedakan pribadi-pribadi ilahi setelah inkarnasi.
Ringkasan Besar
| Aspek | PL | PB |
|---|---|---|
| Nama Allah | YHWH | Tidak dipakai secara eksplisit |
| Gelar Tuhan | Adonai | Kyrios |
| Sebutan Allah | Elohim | Theos |
| Fokus | YHWH Allah Israel | Yesus adalah Tuhan |
| Fungsi "Tuhan" | Umumnya gelar | Gelar yang juga memuat makna YHWH |
Kesimpulan
• Dalam PL, "TUHAN" terutama menunjuk kepada YHWH, nama Allah perjanjian, sedangkan "Tuhan" (Adonai) adalah gelar.
• Dalam PB, kata Kyrios (Tuhan) menjadi sangat kaya makna karena sekaligus:
- berarti Tuan/Penguasa,
- menjadi padanan YHWH dalam tradisi Yunani,
- dipakai secara khusus untuk Yesus Kristus.
Karena itu, ketika orang Kristen mula-mula mengaku:
"Yesus adalah Tuhan"
mereka bukan hanya mengatakan bahwa Yesus adalah Penguasa, tetapi juga menempatkan-Nya dalam identitas ilahi yang dalam PL dikaitkan dengan YHWH.
• FIRMAN bersama dengan ALLAH, Ada artikel ton ("Sang"), sehingga banyak ahli memahami ini menunjuk kepada Pribadi Bapa.
Yohanes 1:1 (TB)
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
Teks Yunani
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ Λόγος,
καὶ ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν,
καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος.
Transliterasi:
En archē ēn ho Logos,
kai ho Logos ēn pros ton Theon,
kai Theos ēn ho Logos.
Analisis
• Bagian pertama
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ Λόγος
"Pada mulanya adalah Firman."
Firman sudah ada sejak kekekalan.
• Bagian kedua
καὶ ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν
"Dan Firman itu bersama-sama dengan Allah."
Di sini dipakai:
✅ τὸν Θεόν (ton Theon)
Ada artikel ton ("Sang"), sehingga banyak ahli memahami ini menunjuk kepada Pribadi Bapa.
Artinya:
Firman berada dalam persekutuan dengan Sang Allah (Bapa).
• Bagian ketiga
καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος
"Dan Firman itu adalah Allah."
καὶ ὁ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος
Karena kalau begitu artinya menjadi:
"Firman adalah seluruh Pribadi Allah."
yang akan menghilangkan pembedaan pribadi antara Bapa dan Firman.
Sebaliknya Yohanes menulis:
Θεὸς ἦν ὁ Λόγος
untuk menyatakan bahwa:
Firman memiliki hakikat Allah, tetapi tetap berbeda pribadi dari Allah yang bersama-Nya.
Diperjelas oleh Yohanes 1:18
"Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya."
Di sini Yohanes baru memperkenalkan istilah:
"Bapa"
Sehingga kita memahami bahwa:
Yohanes 1:1"Firman bersama Allah"
= Firman bersama Bapa.
Sedangkan:
Ringkasan
| Frasa | Makna |
|---|---|
Firman bersama Allah (πρὸς τὸν Θεόν) |
Menunjuk kepada Pribadi Bapa. |
| Firman adalah Allah (Θεὸς ἦν ὁ Λόγος) | Menunjukkan bahwa Firman memiliki hakikat ilahi, bukan bahwa Firman adalah Pribadi Bapa. |
Inilah sebabnya Yohanes memilih menggunakan Theos dua kali dengan bentuk yang berbeda. Dalam satu ayat ia menyatakan dua kebenaran sekaligus:
- Perbedaan pribadi: Firman bersama Allah (Bapa).
- Kesatuan hakikat: Firman adalah Allah (memiliki natur ilahi). Ini menjadi dasar penting bagi pemahaman Kristen tentang relasi Bapa dan Anak.
I. THEOS menunjuk kepada Pribadi (terutama Bapa)
Dalam banyak ayat Perjanjian Baru, Theos dipakai sebagai sebutan bagi Pribadi Bapa.
1. Yohanes 17:3
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
Di sini Yesus sedang berdoa kepada Bapa.
Maka:
Theos = Pribadi Bapa.
2. 1 Korintus 8:6
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
Di sini Paulus dengan jelas mengatakan:
Satu Theos = Bapa.
Artinya dalam konteks ayat ini:
Theos menunjuk kepada Pribadi Bapa.
3. Efesus 4:6
Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
Di sini:
Theos = Bapa.
4. 1 Petrus 1:3
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.
Sekali lagi:
Theos = Pribadi Bapa.
II. THEOS menunjuk kepada Hakikat Ilahi (Ke-Allahan)
Dalam beberapa ayat, Theos tidak sedang menunjuk kepada Pribadi Bapa, melainkan menyatakan bahwa seseorang memiliki hakikat Allah.
Contoh paling penting adalah:
Yohanes 1:1
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Dalam bahasa Yunani:
καὶ ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν
"Firman itu bersama Allah."
Di sini:
Theon (dengan artikel)
menunjuk kepada Pribadi yang bersama Firman.
Lalu Yohanes berkata:
καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος
"Firman itu adalah Allah."
Di sini Yohanes tidak mengatakan Firman adalah Bapa, sebab Firman sudah dibedakan dari Allah yang bersama-Nya.
Sebaliknya ia mengatakan:
Firman memiliki hakikat Allah.
Yohanes 20:28
"Tomas menjawab Dia: 'Ya Tuhanku dan Allahku!'"
Di sini Tomas memanggil Yesus:
Theos.
Karena Yesus bukan Bapa,
maka:
Theos di sini bukan berarti Bapa, tetapi menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.
Titus 2:13
Dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Menurut banyak ahli tata bahasa Yunani, kedua sebutan itu merujuk kepada Yesus.
Maka:
Yesus disebut: Theos.
Ibrani 1:8
Tetapi tentang Anak Ia berkata: 'Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.'
Di sini Bapa sendiri memanggil Anak:
Theos.
III. Kesimpulan
Jadi kata Theos tidak selalu dipakai dengan fungsi yang sama.
| Fungsi THEOS | Contoh Ayat | Makna |
|---|---|---|
| Pribadi Bapa | Yohanes 17:3; 1 Korintus 8:6; Efesus 4:6; 1 Petrus 1:3 |
Menunjuk kepada Pribadi Bapa. |
| Hakikat Allah / Keilahian | Yohanes 1:1; Yohanes 20:28; Titus 2:13; Ibrani 1:8 |
Menunjukkan bahwa Yesus memiliki natur ilahi, bukan bahwa Yesus adalah Pribadi Bapa. |
Analogi sederhana
Kata "manusia" dapat dipakai dalam dua cara:
-
Menunjuk kepada hakikat:
"Andi adalah manusia." (Artinya Andi memiliki natur manusia.)
-
Menunjuk kepada pribadi tertentu dalam konteks:
"Manusia itu bernama Andi."
Demikian pula dalam PB:
- Kadang Theos menunjuk kepada Pribadi Bapa.
- Kadang Theos menyatakan bahwa Anak memiliki hakikat ilahi.
Karena itu, ketika membaca kata Theos, kita tidak boleh langsung menyimpulkan artinya. Konteks kalimatlah yang menentukan apakah Theos sedang dipakai sebagai sebutan bagi Pribadi Bapa atau sebagai penegasan bahwa seseorang memiliki keilahian. Ini juga menjelaskan mengapa PB dapat menyebut Bapa sebagai Theos dan juga menyebut Yesus sebagai Theos, tanpa mengajarkan bahwa Bapa dan Anak adalah Pribadi yang sama.
Dalam teologi Kristen klasik, jawaban yang paling kuat adalah: Ya, doa Yesus dalam Yohanes 17 dipahami sebagai doa yang dinaikkan oleh Yesus menurut natur manusia-Nya, meskipun Pribadi yang berdoa tetap satu, yaitu Pribadi Sang Anak.
Mengapa?
Yesus benar-benar menjadi manusia (Yohanes 1:14). Sebagai manusia, Ia:
- berdoa,
- taat kepada Bapa,
- belajar ketaatan,
- lapar,
- haus,
- menderita,
- dan mati.
Semua ini adalah tindakan yang sesuai dengan natur manusia-Nya, bukan karena Ia berhenti menjadi Allah.
Karena itu ketika Yesus berkata:
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)
Ia sedang berbicara kepada Bapa sebagai Anak yang telah menjadi manusia dan sebagai Mesias yang diutus.
Hal ini sejalan dengan ayat-ayat lain, misalnya:
Sebab Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. (First Epistle to Timothy 2:5)
Paulus secara sengaja menyebut:
"manusia Kristus Yesus."
Karena dalam karya pengantaraan-Nya, Yesus mewakili umat manusia di hadapan Bapa.
Demikian juga:
"Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya." (Epistle to the Hebrews 5:8)
Ketaatan adalah tindakan Sang Anak dalam inkarnasi.
Apakah dalam keilahian terjadi doa intra-Trinitas?
Di sini perlu dibuat pembedaan yang penting.
Teologi Kristen tidak mengatakan bahwa kodrat ilahi "berdoa" kepada kodrat ilahi.
Yang berdoa adalah Pribadi Sang Anak yang telah mengambil natur manusia.
Jadi:
- SEBELUM INKARNASI, tidak ada gambaran Alkitab tentang Anak berdoa kepada Bapa.
- SESUDAH INKARNASI, Sang Anak sebagai manusia hidup dalam ketergantungan, ketaatan, dan persekutuan dengan Bapa.
Itulah sebabnya doa-doa Yesus merupakan bagian dari misi inkarnasi-Nya.
Mengenai kalimat "Engkau satu-satunya Allah yang benar"
Banyak teolog memahami bahwa Yesus sedang berbicara sebagai Mesias yang diutus, mengakui Bapa sebagai sumber pengutusan dan sebagai Allah yang benar. Namun pengakuan itu tidak dimaksudkan untuk menyangkal keilahian Anak, karena Injil Yohanes sendiri telah menyatakan:
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1)
dan
"Tomas menjawab Dia: 'Ya Tuhanku dan Allahku!'" (Yohanes 20:28)
Jadi, jika seluruh Injil Yohanes dibaca bersama, terlihat pola berikut:
- Dalam inkarnasi, Yesus berdoa, taat, dan menyebut Bapa sebagai "satu-satunya Allah yang benar".
- Dalam identitas ilahi-Nya, Yesus juga dinyatakan sebagai Allah dan menerima pengakuan sebagai Allah.
Dengan demikian, banyak teolog menyimpulkan bahwa Yohanes 17:3 paling tepat dipahami dalam konteks misi inkarnasi: Sang Anak yang telah menjadi manusia sedang membawa manusia kepada Bapa. Dalam peran itulah Ia berdoa dan menyebut Bapa sebagai "Engkau, satu-satunya Allah yang benar", tanpa mengingkari keilahian-Nya sendiri yang dinyatakan di bagian lain Injil Yohanes.
- Bapa adalah asal pribadi (personal source/origin) dari Anak yang diperanakkan dan Roh Kudus yang keluar dari Bapa (dalam tradisi Barat: dari Bapa dan Anak).
- Tetapi Bapa bukan sumber hakikat ilahi
- Bapa sering disebut Allah (Theos).
- Yesus sering disebut Tuhan (Kyrios).
- Roh Kudus disebut Roh Allah atau Roh Kristus.
Pertanyaannya adalah: mengapa "Allah yang esa" sering dihubungkan dengan Bapa?
Ada beberapa penjelasan dalam tradisi Kristen.
1. Penjelasan yang paling umum: pola pewahyuan, bukan pembagian keilahian
Para rasul sering memakai Theos sebagai sebutan bagi Pribadi Bapa. Ini adalah pola bahasa Perjanjian Baru, bukan pernyataan bahwa hanya Bapa memiliki keilahian.
Contohnya:
1 Korintus 8:6
namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.Paulus membedakan pribadi, tetapi tetap menempatkan Yesus di sisi Sang Pencipta dengan berkata:
"oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan."
2. Bapa sebagai "sumber" (monarki Bapa)
Dalam teologi para Bapa Gereja Timur, ada konsep yang disebut monarki Bapa.
Artinya:
- Bapa adalah asal pribadi (personal source/origin) dari Anak yang diperanakkan dan Roh Kudus yang keluar dari Bapa (dalam tradisi Barat: dari Bapa dan Anak).
- Tetapi Bapa bukan sumber hakikat ilahi.
Ini penting.
Mereka tidak mengatakan:
Bapa lebih Allah daripada Anak.
Mereka mengatakan:
Dalam relasi pribadi, Bapa adalah asal Anak dan Roh Kudus.
Sedangkan hakikat ilahi yang dimiliki ketiganya adalah satu dan sama, bukan tiga hakikat.
3. Apakah ketika PB berkata "Allah yang esa" lalu menyebut Bapa, di dalamnya sudah termasuk Anak dan Roh Kudus?
Menurut teologi Tritunggal klasik, ya, tetapi dengan penjelasan yang hati-hati.
Karena:
- Anak berada di dalam Bapa (Yohanes 10:38; 14:10-11).
- Roh Kudus adalah Roh Allah dan Roh Kristus.
- Ketiganya tidak berbagi tiga keilahian, melainkan satu hakikat ilahi.
Maka ketika Paulus berkata:
"Satu Allah, yaitu Bapa..."
ia tidak sedang mengecualikan Anak, melainkan menyebut Pribadi yang menjadi sumber pengutusan dalam karya keselamatan.
4. Mengapa bukan langsung berkata "Allah Tritunggal"?
Karena Perjanjian Baru tidak memakai istilah "Tritunggal". Para rasul berbicara berdasarkan sejarah keselamatan:
- Bapa mengutus Anak.
- Anak menjadi manusia.
- Anak mengutus Roh Kudus.
Akibatnya, dalam bahasa mereka:
- Bapa sering menjadi subjek utama ketika memakai kata Theos.
- Anak disebut Kyrios.
- Roh Kudus disebut Roh.
Kesimpulan
Saya kira Anda menangkap satu poin yang memang dibahas dalam teologi:
Ketika Perjanjian Baru menyebut Bapa sebagai "Allah yang esa", apakah itu karena Bapa adalah sumber pribadi-pribadi ilahi?
Dalam tradisi Kristen klasik, terutama tradisi Timur, jawabannya adalah:
- Ya, Bapa dipandang sebagai asal pribadi (principle without principle) dalam relasi Tritunggal.
- Tidak, itu bukan berarti hanya Bapa memiliki hakikat Allah.
Karena itu, penyebutan:
"Allah yang esa, yaitu Bapa"
dipahami sebagai menunjuk kepada Pribadi Bapa yang adalah asal relasional Anak dan Roh Kudus, sementara Anak dan Roh Kudus tetap sepenuhnya mengambil bagian dalam satu hakikat ilahi yang sama.
Jadi, dalam pemahaman Tritunggal klasik, keesaan Allah tidak berhenti pada Pribadi Bapa, melainkan berpusat pada satu hakikat ilahi yang dimiliki bersama oleh Bapa, Anak, dan Roh Kudus, sementara Bapa tetap memiliki peran khas sebagai asal relasional dalam kehidupan Tritunggal. Ini adalah salah satu cara teologi klasik berusaha menjelaskan mengapa PB sering menyebut Bapa sebagai "Allah" tanpa mengurangi keilahian Anak dan Roh Kudus.
1. Dalam bahasa Ibrani ada dua kata yang berbeda
(a) YHWH (יהוה)
- Nama perjanjian Allah.
- Nama diri, bukan gelar.
Contoh:
Aku menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN (YHWH) Aku belum menyatakan diri. (Keluaran 6:3)
(b) Adonai (אֲדֹנָי)
Artinya:
Tuhan, Tuan, Majikan.
Ini adalah gelar, bukan nama.
Misalnya seseorang dapat memanggil rajanya sebagai adon (tuan), sedangkan Adonai menjadi bentuk yang dipakai bagi Allah.
2. Tradisi Yahudi
Karena nama YHWH dianggap sangat kudus, orang Yahudi tidak mengucapkannya saat membaca Kitab Suci.
• YHWH
mereka membacanya:
• Adonai
Jadi:
• yang diucapkan = Adonai.
3. Septuaginta (LXX)
Ketika PL diterjemahkan ke bahasa Yunani, penerjemah mengikuti tradisi pembacaan itu.
Karena Adonai berarti "Tuhan", mereka menerjemahkannya dengan:
Κύριος (Kyrios).
Akibatnya, Kyrios mulai memiliki dua fungsi:
Fungsi pertama
Sebagai terjemahan dari:
Adonai
Artinya:
Tuhan, Tuan.
Ini adalah gelar.
Fungsi kedua
Sebagai pengganti tulisan:
YHWH
Karena YHWH dibaca sebagai Adonai, maka dalam Septuaginta ditulis Kyrios.
Jadi dalam konteks ini:
Kyrios berfungsi sebagai padanan nama YHWH, walaupun secara leksikal kata itu tetap berarti "Tuhan".
4. Mengapa dalam PB menjadi sangat penting?
Ketika Paulus berkata:
"Yesus adalah Kyrios."
Seorang pembaca Yunani dapat memahami dua lapisan makna:
- Yesus adalah Tuhan/Penguasa.
- Yesus termasuk dalam identitas ilahi yang dalam PL dinyatakan dengan YHWH, terutama ketika Paulus mengutip ayat-ayat PL tentang YHWH dan menerapkannya kepada Yesus.
Misalnya dalam Epistle to the Philippians 2:9–11, Paulus menggemakan nubuat Book of Isaiah 45:23, di mana YHWH berkata bahwa kepada-Nya setiap lutut akan bertelut. Paulus menerapkan bahasa itu kepada Yesus.
Ringkasan
| Kata | Fungsi |
|---|---|
| YHWH | Nama perjanjian Allah dalam bahasa Ibrani. |
| Adonai | Gelar: Tuhan/Tuan; dipakai saat membaca YHWH. |
| Kyrios | Kata Yunani yang berarti Tuhan/Tuan, dan dalam Septuaginta dipakai sebagai padanan untuk YHWH karena mengikuti tradisi pembacaan Adonai. |
Jadi mengapa Kyrios bisa berarti dua hal?
Karena sejarah penerjemahan, bukan karena arti dasar katanya berubah.
- Secara leksikal, Kyrios berarti Tuhan/Tuan (gelar).
- Secara fungsional dalam Alkitab Yunani, Kyrios juga menjadi padanan bagi nama YHWH ketika menerjemahkan Perjanjian Lama.
Itulah sebabnya, ketika Anda menjumpai kata Kyrios dalam Perjanjian Baru, konteks menentukan apakah yang dimaksud adalah:
- gelar "Tuhan/Tuan", atau
- rujukan yang membawa bobot teologis sebagai padanan bagi YHWH.
