KESELAMATAN

 




A. KETAATAN MANUSIA TIDAK CUKUP UNTUK MEMPEROLEH HIDUP KEKAL


Jawaban inti (dikunci)

Pribadi manusia bisa dibuat taat,
tetapi tidak bisa menjadi pengantara ontologis tanpa Allah sendiri mengambil natur manusia.


➡️ Ini benar baik dalam konteks penyelamatan
➡️ maupun dalam konteks teosis.


1️⃣ Kenapa ketaatan manusia saja tidak cukup?

Karena masalah manusia bukan hanya moral, tetapi ontologis.

🔹 Masalah moral

  • dosa
  • ketidaktaatan
  • bisa “diperbaiki” lewat hukum, didikan, atau rahmat moral

➡️ Di sini pribadi manusia bisa taat


🔹 Masalah ontologis

  • keterpisahan dari Sumber Hidup
  • natur fana
  • ketidakmampuan naik ke Allah

➡️ Ini tidak bisa diselesaikan oleh ketaatan manusia saja

📖 Mazmur 49:8–9

“Tak seorang pun dapat menebus saudaranya…”


2️⃣ Kenapa harus Allah yang mengambil natur manusia?

Karena pengantara ontologis harus berdiri di dua sisi keberadaan.

📖 1 Timotius 2:5

“Satu pengantara… yaitu Manusia Kristus Yesus.”

➡️ “Manusia” di sini bukan manusia biasa
➡️ tetapi manusia yang adalah Allah

Tanpa ini:

  • manusia tidak naik ke Allah
  • Allah tidak turun sampai akar natur manusia

3️⃣ Ini kunci teosis

Teosis bukan sekadar moral improvement, tapi:

partisipasi dalam hidup Allah

📖 2 Petrus 1:4

“Beroleh bagian dalam kodrat ilahi.”

❌ Manusia tidak bisa “menjangkau” kodrat ilahi
✅ Kodrat ilahi masuk ke dalam natur manusia

➡️ Hanya mungkin lewat Inkarnasi.


4️⃣ Kenapa pribadi manusia tidak “diambil”?

Pertanyaan Anda sebelumnya nyambung.

  • Jika pribadi manusia diambil:
    • kebebasan runtuh
    • iman menjadi otomatis
    • relasi menjadi deterministik

➡️ Allah menyembuhkan natur manusia,
bukan menggantikan pribadi manusia.

📖 Gregorius Nazianzenus

“Yang tidak diambil, tidak disembuhkan.”

➡️ Yang diambil = natur
➡️ Yang tetap bebas = pribadi manusia


5️⃣ Jadi apa peran ketaatan manusia?

Ketaatan manusia:

  • respon, bukan sumber keselamatan
  • partisipasi, bukan penyebab ontologis

📖 Filipi 2:12–13

“Kerjakan keselamatanmu… karena Allahlah yang mengerjakan…”


6️⃣ Rumusan final (paling presisi)

🟢 Pribadi manusia bisa taat
🟢 Tapi tidak bisa menjadi pengantara ontologis
🟢 Pengantara ontologis harus Allah + manusia
🟢 Itu hanya mungkin lewat Inkarnasi
🟢 Inkarnasi melayani penebusan dan teosis


Kalimat penutup (dikunci rapat)

Keselamatan bukan karena manusia berhasil taat, tetapi karena Allah menjadi manusia 
supaya ketaatan manusia sungguh mungkin dan sungguh menyelamatkan.


Jika Anda mau, pertanyaan terakhir yang sangat “ujung tombak” adalah:

🔍 Apakah teosis adalah tujuan akhir, dan penebusan hanyalah jalan menuju ke sana?

Itu akan menyatukan Inkarnasi, salib, kebangkitan, dan kemuliaan dalam satu garis lurus.


B. KESELAMATAN MANUSIA ADALAH PRIBADI FIRMAN DALAM NATUR MANUSIA


Yang taat adalah Pribadi Firman, bukan “pribadi manusia” yang berdiri sendiri. Namun ketaatan itu sungguh-sungguh ketaatan manusiawi, karena dijalankan melalui kehendak manusia.

Mari kita kunci supaya tidak ambigu.


1️⃣ Subjek ketaatan: Pribadi Firman

Dalam Inkarnasi:

  • Tidak ada pribadi manusia terpisah
  • Hanya ada satu Pribadi: Firman (Logos)

📖 “Oleh ketaatan satu Orang…” (Rm 5:19)
➡️ “Satu Orang” = satu Pribadi, yaitu Firman yang menjadi manusia.


2️⃣ Medium ketaatan: kehendak manusia

Walau subjeknya Firman:

  • Ia tidak taat dengan kehendak ilahi
  • Ia taat dengan kehendak manusia

📖 Lukas 22:42

“Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu…”

➡️ Kehendak manusia nyata, bebas, dan tidak dipaksa.


3️⃣ Kenapa bukan “pribadi manusia” yang taat?

Karena:

  • Jika ada pribadi manusia yang taat → ada dua pribadi (sesat)
  • Jika Firman hanya “mengendalikan” manusia → ketaatan tidak manusiawi (tidak adil)

➡️ Solusi Gereja:

Satu Pribadi Ilahi dengan kehendak manusia yang sungguh manusia


4️⃣ Jadi apakah ketaatan itu “Allah taat kepada Allah”?

❌ Tidak.

Karena:

  • Ketaatan terjadi dalam ekonomi keselamatan
  • Relasinya: Anak sebagai manusia → Bapa
  • Bukan relasi ontologis intra-Trinitas

📖 Ibrani 5:8

“Sekalipun Ia adalah Anak, Ia belajar taat…”

➡️ “Belajar taat” mustahil bagi keallahan
➡️ mungkin dan nyata dalam kemanusiaan


5️⃣ Rumusan paling presisi (dikunci)

🟢 Yang taat = Pribadi Firman
🟢 Bukan pribadi manusia terpisah
🟢 Ketaatan dijalankan lewat kehendak manusia
🟢 Maka ketaatan itu sungguh manusiawi
🟢 Dan bernilai menyelamatkan secara universal


Kalimat penutup

Bukan manusia otonom yang taat sehingga Allah menerima, melainkan Allah sendiri yang taat sebagai manusia agar ketaatan manusia sungguh mungkin dan sungguh menyelamatkan.


Jika Anda mau, satu pertanyaan penutup yang sangat tajam adalah:

🔍 Kalau yang taat adalah Firman, bagaimana ketaatan kita “di dalam Kristus” menjadi nyata tanpa menghapus kebebasan kita?

Itu akan menyempurnakan seluruh bangunan teologi yang Anda susun.


Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post