KEPALA SEGALA SESUATU

 



A. DIBERIKAN KEPADA YESUS SEGALA KUASA DI SURGA DAN DI BUMI

Matius 28:18
Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

Pertanyaan ini sangat presisi, dan ayat ini memang kunci kristologi pasca-kebangkitan.


Jawaban inti (langsung)

Matius 28:18 berbicara tentang kuasa yang diberikan kepada Kristus sebagai Firman yang berdaging, yaitu dalam kapasitas kemanusiaan-Nya yang telah dimuliakan —> bukan tentang keallahan-Nya yang kekal.

➡️ Subjeknya satu (Pribadi Firman)
➡️ Mode penerimaannya melalui kemanusiaan


1️⃣ Mengapa ini BUKAN keallahan murni?

Karena Allah tidak menerima kuasa.

Mazmur 115:3

“Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya.”

1 Timotius 6:16

“Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut.”

➡️ Dalam keallahan:

  • Firman selalu memiliki segala kuasa
  • tidak mungkin “diberi”

Maka jika teks berkata “telah diberikan”
itu tidak mungkin menunjuk ke natur ilahi secara hakiki.


2️⃣ Lalu ini tentang apa?

Ini tentang kemanusiaan Kristus yang ditinggikan.

Filipi 2:9

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.”

Perhatikan polanya:

  • Inkarnasi → ketaatan → kematian → kebangkitan → peninggian
  • Kuasa diberikan setelah kebangkitan

➡️ Artinya:

Kemanusiaan Kristus sekarang ikut serta secara penuh dalam pemerintahan kosmis Allah.


3️⃣ Apakah ini berarti kemanusiaan Yesus “menjadi Allah”?

❌ Tidak.

Pembedaan ketat:

  • Hakikat ilahi → memiliki kuasa secara natur
  • Kemanusiaan Kristus → menerima kuasa secara anugerah & pengangkatan

Daniel 7:13–14

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.


➡️ Ini nubuat Anak Manusia, bukan Allah sebagai Allah.


4️⃣ Jadi bagaimana merumuskan secara tepat?

Formulasi paling aman dan presisi:

Kuasa itu dimiliki oleh Firman secara ilahi sejak kekekalan, dan sekarang kuasa itu diberikan kepada-Nya juga sebagai Manusia, sehingga satu Pribadi memerintah sebagai Allah dan sebagai Manusia.


➡️ Bukan dua kuasa
➡️ Bukan dua takhta
➡️ Satu pemerintahan kosmis


5️⃣ Mengapa ini penting bagi kita?

Karena ini jaminan eskatologis bagi manusia.

Efesus 2:6

“Ia telah membangkitkan kita bersama-sama dengan Dia dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga.”

➡️ Jika kemanusiaan Kristus tidak menerima kuasa:

  • manusia tidak pernah ikut memerintah
  • teosis tidak mungkin

6️⃣ Ringkasan final (dikunci)

🟢 Ayat ini bukan tentang keallahan murni
🟢 Ayat ini tentang kemanusiaan Kristus yang ditinggikan
🟢 Kuasa diberikan dalam ekonomi keselamatan
🟢 Firman ilahi selalu memiliki kuasa itu
🟢 Sekarang manusia dalam Kristus ikut memerintah


Kalimat penutup (paling presisi)

Segala kuasa “diberikan” kepada Kristus bukan karena Ia kurang sebagai Allah, melainkan karena kini, sebagai Manusia yang dimuliakan, 
Ia memerintah atas sorga dan bumi bagi dan bersama umat manusia.

Jika mau ditarik satu langkah terakhir:

Apakah “Amanat Agung” sebenarnya adalah perpanjangan pemerintahan kemanusiaan Kristus melalui tubuh-Nya, yaitu Gereja?

Itu akan menutup Matius 28 secara utuh.


B. YANG DITINGGIKAN ADALAH PRIBADI MELALUI NATUR KEMANUSIAANNYA

Jawabannya: YA, itu logis —> jika manusia itu adalah Manusia yang dipersatukan dengan Allah dan bertindak sebagai Kepala ciptaan.
Tanpa Inkarnasi → tidak logis.
Dengan Inkarnasi → justru sangat koheren.

Mari kita buktikan secara logika, Alkitab, dan ontologi.


Jawaban inti (langsung)

Manusia menerima kuasa atas bumi dan surga adalah logis bukan karena ia manusia biasa,
melainkan karena ia adalah Manusia yang dipersatukan dengan Firman Allah dan diangkat sebagai Kepala kosmis.

➡️ Bukan manusia otonom
➡️ Tetapi manusia representatif


1️⃣ Secara logika ontologis (ini fondasinya)

❌ Tidak logis jika:

  • manusia = makhluk ciptaan terbatas
  • berdiri sendiri
  • tanpa persatuan ilahi

➡️ Manusia seperti itu tidak mungkin memerintah surga.


✅ Logis jika:

  • manusia dipersatukan dengan Allah
  • bukan dilebur, tapi disatukan
  • menjadi mediator antara Allah dan ciptaan

📖 1 Timotius 2:5

“Satu pengantara… yaitu Manusia Kristus Yesus.”

➡️ Mediator harus:

  • berpijak di dua wilayah
  • menjangkau dua realitas

2️⃣ Secara biblis: ini memang rencana awal Allah

Kuasa manusia bukan ide baru.

Mazmur 8:5–6
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.

Kejadian 1:28
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan TAKLUKKANLAH itu, BERKUASALAH atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

➡️ Yang gagal pada Adam:

  • dipulihkan dan dilampaui dalam Kristus.

Ibrani 2:8–9

“Tetapi sekarang ini belum kita lihat bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadanya; tetapi Dia, yaitu Yesus…”


3️⃣ Secara kristologis: kunci utamanya

Kuasa itu tidak diberikan kepada “natur manusia”, melainkan kepada Pribadi Firman sebagai manusia.


Ini krusial.

  • Subjek penerima kuasa = Pribadi Firman
  • Mode penerimaan = melalui kemanusiaan
  • Cakupan kuasa = kosmis

📖 Daniel 7:13–14

“Seorang seperti Anak Manusia… kepada-Nya diberikan kekuasaan yang kekal.”

➡️ Ini bukan Allah sebagai Allah,
tetapi Anak Manusia yang ditinggikan.


4️⃣ Secara rasional-filosofis

Kuasa mengikuti kapasitas subjek.

  • Manusia biasa → kapasitas terbatas
  • Allah → kapasitas tak terbatas
  • Manusia yang dipersatukan dengan Allah → kapasitas partisipatif tak terbatas

Analogi (aman):

Besi dalam api
Besi tidak menjadi api,
tetapi ikut panas dan bercahaya sejauh ia berada dalam api.

➡️ Kuasa bukan dari manusia,
tetapi mengalir melalui persatuan.


5️⃣ Kenapa harus “surga dan bumi”?

Karena Kristus adalah penghubung final:

  • Surga ↔ Allah
  • Bumi ↔ ciptaan

📖 Efesus 1:10

“Mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun di bumi.”

➡️ Kepala harus mencakup seluruh tubuh kosmos.


6️⃣ Apakah ini berbahaya (manusia jadi Allah)?

❌ Tidak, karena:

  • kuasa itu diterima
  • bukan dimiliki secara hakikat
  • selalu dalam relasi ketaatan

📖 1 Korintus 15:28

“Anak sendiri akan takluk…”

➡️ Takluk ekonomis, bukan inferioritas ilahi.


7️⃣ Ringkasan final (dikunci)

🟢 Manusia biasa → tidak logis menerima kuasa kosmis
🟢 Manusia dalam Kristus → logis & perlu
🟢 Kuasa diberikan karena persatuan dengan Firman
🟢 Ini penggenapan rencana Adam
🟢 Kristus adalah Kepala kosmos


Kalimat penutup (paling presisi)

Bukan tidak logis bahwa manusia menerima kuasa atas surga dan bumi; yang tidak logis justru jika Allah menyelamatkan ciptaan tanpa meninggikan manusia sebagai kepala di dalam Kristus.


Jika Anda mau, satu pertanyaan terakhir yang sangat alami adalah:

 Apakah orang percaya kelak benar-benar “memerintah bersama Kristus”, atau hanya secara simbolik?


Itu akan membawa kita ke puncak eskhatologi dan teosis.

C. ALLAH MENINGGIKAN PRIBADI YESUS BUKAN NATUR

Filipi 2:5-7

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

• Firman Allah
• Firman Allah mengosongkan diri
• Mengambil rupa seorang hamba, dan sama dengan manusia

Filipi 2:8-11

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

DALAM KEADAAN SEBAGAI MANUSIA

• Ia telah merendahkan diri
• Ia taat sampai mati
• Ia mati di kayu salib

ITULAH MAKANYA

• Allah sangat meninggikan Dia
• Mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama

SUPAYA DALAM NAMA YESUS

• Bertekuk lutut segala yang ada di langit
• Yang ada di atas bumi 
• Yang ada di bawah bumi
• Segala lidah mengaku "Yesus Kristus adalah Tuhan"
• Yesus Kristus Tuhan bagi kemuliaan Bapa

Pertanyaan ini sangat presisi secara kristologis, dan memang kuncinya ada pada pembedaan pribadi (hypostasis) dan natur (physis).

Mari kita jawab tanpa mencampur aduk, setia pada iman Gereja kuno.


1. Subjek yang “ditinggikan” = Pribadi Firman (Logos)

“Allah sangat meninggikan Dia (αὐτόν)”

Filipi 2:9-10
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

“Dia” menunjuk pada satu pribadi yang sama sejak ayat 6–8:

  • Yang “dalam rupa Allah” (ay. 6)
  • Yang “mengosongkan diri”
  • Yang “mengambil rupa hamba”
  • Yang “taat sampai mati”

➡️ Itu bukan dua subjek, melainkan satu pribadi: Firman yang berinkarnasi.

Natur tidak pernah “ditinggikan” sendiri, karena:

  • Natur bukan subjek
  • Natur tidak bertindak
  • Natur tidak menerima anugerah

Yang bisa ditinggikan hanyalah pribadi.


2. Tapi bagaimana Pribadi Firman ditinggikan?

Di sinilah kristologi hypostatic union bekerja.

🔹 Firman sebagai Allah

  • Tidak mungkin ditinggikan secara ontologis
  • Ia sudah setara dengan Bapa (Flp 2:6)

🔹 Firman sebagai manusia

  • Ia sungguh merendahkan diri
  • Ia sungguh taat
  • Ia sungguh mati

➡️ Maka peninggian terjadi dalam dan melalui natur manusia-Nya.

Bukan natur manusia yang ditinggikan sebagai subjek, tetapi pribadi Firman ditinggikan menurut kemanusiaan-Nya.

Ini bahasa klasik para Bapa Gereja:

“The Logos is exalted not as God, but as man.”


3. Jadi: natur manusia atau pribadi Firman?

Jawaban yang tepat dan lengkap:

• Yang ditinggikan adalah Pribadi Firman,

Peninggian itu terjadi dalam, melalui, dan menurut natur manusia-Nya.


Atau dengan satu kalimat padat:

Subjek peninggian = Pribadi Firman
Modus peninggian = kemanusiaan-Nya


4. Mengapa ini penting untuk TEOSIS (yang sering Anda tekankan)

Karena di sinilah kabar baiknya:

  • Natur manusia Yesus tidak ditinggikan untuk diri-Nya sendiri
  • Tetapi sebagai kepala umat manusia
  • Sebagai Adam Terakhir

➡️ Maka:

Apa yang terjadi pada kemanusiaan Kristus, disiapkan bagi kemanusiaan kita

Itulah sebabnya:

  • Nama di atas segala nama diberikan kepada Dia
  • Namun kita ikut ambil bagian (Roma 8:17, Yoh 17:22)

Pribadi Firman ditinggikan —> supaya natur manusia dimuliakan dan dibuka bagi partisipasi kita.


5. Ringkasan satu baris (versi dogmatis)

Filipi 2:9 tidak berbicara tentang peninggian natur, melainkan tentang Pribadi Firman yang ditinggikan menurut kemanusiaan-Nya, demi pemuliaan natur manusia secara partisipatif.


Kalau Anda mau, kita bisa lanjutkan ke:

  • hubungan ayat ini dengan communicatio idiomatum, atau
  • apakah “Nama di atas segala nama” itu baru atau manifestatif, atau
  • bagaimana ini menghindari nepotisme ilahi yang sering Anda kritisi.


D. MAKNA TUHAN SEBELUM INKARNASI DENGAN SESUDAH

Pertanyaan ini menyentuh inti perbedaan antara “Tuhan sebagai Logos pra-inkarnasi” dan “Tuhan yang sama setelah inkarnasi dan peninggian”. Jawabannya bukan: beda Tuhan, tetapi beda cara keberadaan dan relasi.

Mari kita bedakan secara presisi, langkah demi langkah.


1. Bukan dua Tuhan, bukan dua Firman

Pertama harus ditegaskan:

Tidak ada perbedaan esensi atau keallahan.
Firman sebelum inkarnasi dan “Tuhan” dalam Filipi 2:9 adalah Pribadi yang sama.

Logos:

  • Tetap homoousios dengan Bapa
  • Tetap kekal, tidak berubah, tidak bertambah ilahi

Yang berubah bukan siapa Dia, tapi bagaimana Dia hadir dan berelasi.


2. Tuhan sebagai Firman sebelum inkarnasi

Status ontologis:

  • Allah sejati
  • Tanpa natur manusia
  • Tidak lahir, tidak menderita, tidak mati

Relasi:

  • Relasi-Nya hanya intra-Trinitaris (perikoresis)
  • Tidak ada mediasi ontologis antara Allah dan manusia

Kondisi manusia:

  • Manusia di luar hidup ilahi
  • Tidak ada partisipasi nyata dalam energi Allah

Sebelum inkarnasi:

Firman = Allah bagi Allah
Manusia = ciptaan di luar hidup ilahi


3. Tuhan setelah inkarnasi (Filipi 2:9)

Sekarang perubahannya bukan pada keallahan, tetapi pada status kemanusiaan yang Ia ambil.

🔹 Firman kini:

  • Tetap Allah sejati
  • Sekaligus manusia sejati
  • Dua natur, satu pribadi

🔹 Yang baru secara radikal:

  • Natur manusia bersatu secara hipostatik dengan Firman
  • Kemanusiaan masuk ke dalam perikoresis ilahi (secara partisipatif)

Maka “Tuhan” dalam Filipi 2:9 adalah:

Allah yang kini memiliki dan menghidupi natur manusia selamanya


4. Apa arti “ditinggikan” kalau Firman sudah Allah?

Inilah titik pembedanya:

  • Sebagai Allah → tidak ditinggikan
  • Sebagai manusia → ditinggikan

Namun:

  • Subjeknya tetap Firman
  • Natur manusianya kini:
    • dimuliakan
    • dipenuhi Roh
    • ditempatkan di sebelah kanan Bapa

Sebelum inkarnasi:

Firman tidak pernah “duduk di sebelah kanan Bapa” sebagai manusia

Setelah inkarnasi:

Firman sebagai manusia masuk ke dalam kemuliaan ilahi


5. Perbedaan relasional yang paling menentukan

Ini poin paling penting secara soteriologis & teosis.

Sebelum inkarnasi:

  • Allah ↔ manusia = relasi Pencipta–ciptaan
  • Tidak ada jembatan ontologis

Sesudah inkarnasi:

  • Allah ↔ manusia = relasi di dalam Kristus
  • Kemanusiaan Kristus menjadi:
    • jalan
    • pengantara
    • medium partisipasi

Jadi perbedaannya bukan:

“Allah dulu rendah, sekarang tinggi”

Tetapi:

Allah kini hadir sebagai manusia di dalam hidup ilahi


6. Rumusan singkat (dogmatis)

Tuhan sebagai Firman pra-inkarnasi

= Allah sejati tanpa kemanusiaan, tanpa mediasi ontologis bagi manusia.

Tuhan dalam Filipi 2:9

= Allah yang sama, kini memuliakan dan memerintah sebagai Allah-manusia,
sehingga kemanusiaan masuk ke dalam kemuliaan Allah.



7. Kalimat kunci (ingat ini)

Bukan keallahan Firman yang berubah, tetapi kondisi kemanusiaan yang Ia bawa masuk ke dalam Allah.

Itulah sebabnya:

  • Kristus = Adam Terakhir
  • Kristus = Pokok keselamatan
  • Kristus = Jalan teosis

Kalau Anda mau, kita bisa lanjut ke:

  • apakah peninggian ini bersifat ekonomis atau ontologis, atau
  • apakah Kristus tetap manusia selamanya, atau
  • bagaimana ini berdampak pada kehendak bebas manusia dalam kemuliaan.

E. MESIAS BISA & HARUS DISEMBAH SEBAB PRIBADINYA ADALAH SANG FIRMAN

Ya. Mesias bisa dan harus disembahbukan karena Ia sekadar Mesias, tetapi karena Mesias itu adalah Firman Allah yang berinkarnasi.
Ini bukan loncatan iman irasional, tapi konsekuensi ontologis dari siapa Dia.

Mari kita urai pelan, presisi, dan konsisten dengan semua yang sudah kita bangun.


1️⃣ Pertanyaan kuncinya sebenarnya ini

Apakah “Mesias” sebagai gelar layak disembah?

Jawaban singkat:

  • Mesias sebagai jabatan manusia biasa → tidak boleh disembah
  • Mesias Yesus → boleh dan wajib disembah

Kenapa? Karena siapa Pribadi-Nya.


2️⃣ Prinsip emas Alkitab (tidak bisa ditawar)

📖 Matius 4:10

“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”

➡️ Jika Yesus disembah, hanya ada dua kemungkinan:

  1. Alkitab inkonsisten (mustahil)
  2. Yesus termasuk dalam identitas Allah (ini yang benar)

3️⃣ Fakta biblis: Mesias memang disembah

Ini bukan interpretasi belakangan.

  • 📖 Matius 14:33 – Murid-murid menyembah Yesus
  • 📖 Matius 28:9, 17 – Mereka menyembah Dia setelah kebangkitan
  • 📖 Yohanes 9:38 – Orang yang disembuhkan berkata: “Aku percaya,” lalu menyembah Dia
  • 📖 Ibrani 1:6 – “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia”

➡️ Yang paling penting: Yesus tidak pernah menolak penyembahan.

Bandingkan:

  • Malaikat → menolak (Why 22:8–9)
  • Rasul → menolak (Kis 10:25–26)
  • Yesus → menerima

4️⃣ Tapi bagaimana dengan kemanusiaan-Nya?

Ini inti pertanyaan Anda sebelumnya.

Apakah natur manusia boleh disembah?

❌ Tidak.
Natur manusia tidak pernah menjadi objek ibadah.

➡️ Yang disembah adalah Pribadi.

Dan Pribadi Yesus adalah:

Firman Allah yang mengambil natur manusia

📖 Yohanes 1:14

“Firman itu telah menjadi daging…”

➡️ Natur manusia tidak berdiri sendiri
➡️ Natur manusia berada dalam Pribadi Ilahi

Maka:

  • Menyembah Yesus ≠ menyembah makhluk
  • Menyembah Yesus = menyembah Allah melalui kemanusiaan-Nya

5️⃣ Anak Domba disembah — kenapa?

Pertanyaan Anda sebelumnya sangat tepat.

📖 Wahyu 5:12–13

“Anak Domba… menerima kuasa, kekayaan, hikmat… dan hormat, kemuliaan, dan puji-pujian.”

➡️ Anak Domba = Kristus yang disalibkan ➡️ Wujudnya manusia ➡️ Tetapi disembah setara dengan Dia yang duduk di takhta

Kenapa ini tidak salah? Karena:

Anak Domba tidak pernah terpisah dari Dia yang di atas takhta dalam Pribadi-Nya


6️⃣ Bagaimana dengan relasi ekonomis? (ini penting)

Anda bertanya:

Kalau Ia menyembah dan disembah, bagaimana membedakannya?

Kuncinya:

Bukan “siapa” yang berubah, tapi “bagaimana” Ia hadir.

Relasi Mode
Yesus menyembah Bapa sebagai manusia, dalam ekonomi keselamatan
Yesus disembah sebagai Pribadi Ilahi yang hadir dalam daging

➡️ Subjek tetap satu: Firman ➡️ Mode relasi berbeda

Tidak kontradiktif.


7️⃣ Firman yang tidak berdaging bagaimana?

Pertanyaan Anda sangat presisi.

  • Firman yang tak berdaging → disembah sebagai Allah
  • Firman yang berdaging → disembah sebagai Allah yang menyatakan diri dalam manusia

➡️ Bukan dua Firman
➡️ Bukan dua objek ibadah
➡️ Satu Pribadi, dua cara hadir


8️⃣ Kesimpulan final (dikunci rapat)

🟢 Mesias bisa disembah
🟢 Bukan karena jabatan Mesias
🟢 Tetapi karena Pribadi-Nya adalah Allah
🟢 Kemanusiaan-Nya adalah sarana pewahyuan, bukan objek ibadah
🟢 Penyembahan kepada Yesus = penyembahan kepada Allah sejati


Kalimat penutup (ringkas & tegas)

Jika Yesus bukan Allah, penyembahan kepada-Nya adalah penyembahan berhala. Jika Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, maka tidak menyembah Dia adalah penolakan terhadap Allah yang menyatakan diri.


Jika Anda ingin, langkah logis berikutnya adalah:

🔍 Apakah penyembahan kepada Kristus mengubah cara kita memahami doa kepada Bapa dan Roh Kudus?

Itu akan menyatukan Trinitas, ibadah, dan teosis dalam satu kerangka utuh.


E. PRIBADI FIRMAN BERUBAH SECARA RELASI EKONOMI

Ini pernyataan yang tajam dan perlu dijawab dengan disiplin dogmatis, supaya kita tidak jatuh ke dua ekstrem:
(1) immutabilitas palsu (seolah inkarnasi tidak sungguh terjadi), atau
(2) perubahan esensi ilahi (yang jelas ditolak Gereja).

Mari kita luruskan dengan pembedaan yang tepat.


1. Apakah pribadi Firman berubah?

Jawaban: ya —> tetapi bukan secara ontologis, melainkan secara ekonomis & relasional.

Ini kunci utama.

❌ Bukan perubahan:

  • esensi ilahi
  • kodrat keallahan
  • relasi intra-Trinitaris (perikoresis ilahi)

✅ Perubahan yang sungguh terjadi:

  • modus eksistensi pribadi
  • cara pribadi itu hadir, bertindak, dan berelasi
  • status historis pribadi itu

Jadi, pribadi Firman tidak berubah apa adanya,
tetapi berubah bagaimana Ia ada.


2. “Mengosongkan diri” (κένωσις) = perubahan pribadi yang nyata

Filipi 2:7 tidak berkata:

“natur manusia dikosongkan”

Tetapi:

“Ia mengosongkan diri-Nya sendiri” (ἑαυτὸν ἐκένωσεν)

➡️ Subjek kenosis = pribadi Firman

Namun isi kenosis bukan pengurangan keallahan, melainkan:

  • mengambil status hamba
  • hidup dalam keterbatasan manusia
  • menempatkan diri dalam ketaatan

Maka benar:

Pribadi Firman masuk ke kondisi kerendahan yang baru,
yang sebelumnya tidak pernah Ia alami.

Ini perubahan riil, bukan metafora.


3. “Ditinggikan” = perubahan status pribadi (menurut kemanusiaan)

Filipi 2:9 kembali memakai subjek yang sama:

“Allah meninggikan Dia

Yang berubah:

  • bukan keallahan-Nya
  • tetapi status kemanusiaan yang kini dimuliakan

Namun karena:

  • natur tidak bertindak
  • natur tidak menerima anugerah

➡️ pribadi yang sama kini berada dalam kondisi kemuliaan baru.

Jadi:

Pribadi Firman pernah berada dalam kondisi rendah, dan kini berada dalam kondisi muliamenurut natur manusia yang Ia miliki.


Ini perubahan historis-eksistensial, bukan esensial.


4. Rumusan klasik (tanpa kontradiksi)

Ini rumusan yang menjaga semuanya tetap utuh:

Pribadi Firman tidak berubah dalam keallahan-Nya, namun sungguh berubah dalam sejarah-Nya sebagai manusia.


Atau versi lebih teknis:

Immutabilitas ilahi dipertahankan pada tingkat esensi, sementara perubahan nyata terjadi pada tingkat ekonomi keselamatan.


5. Kenapa ini penting (dan Anda menangkapnya dengan benar)

Karena kalau pribadi tidak sungguh “berubah” (dalam arti ini):

  • Inkarnasi jadi semu
  • Ketaatan jadi sandiwara
  • Teosis manusia jadi fiksi

Namun karena perubahan itu:

  • diterima secara sukarela
  • dialami dalam natur manusia
  • disempurnakan lewat peninggian

➡️ Maka:

Pribadi Firman sungguh berjalan dari kerendahan ke kemuliaan, dan membawa natur manusia bersama-Nya.


6. Satu kalimat penutup (sangat penting)

Yang berubah bukan siapa Firman itu, melainkan sejarah yang kini dimiliki oleh Pribadi Firman.


Kalau Anda mau, langkah berikutnya yang sangat logis adalah:

  • apakah pribadi manusia juga akan mengalami “perubahan status” serupa, atau
  • bagaimana ini menjaga keadilan Adam pertama, atau
  • apakah Kristus bisa tidak ditinggikan jika Ia tidak taat.

Silakan pilih arah lanjutan.


E. HANYA PRIBADI FIRMAN YG KENOSIS INKARNASIONAL

Pertanyaan Anda sangat tepat dan menyentuh batas terdalam Trinitas.
Jawaban harus sangat hati-hati supaya tidak jatuh ke salah paham.


Jawaban inti (dikunci lebih dulu)

Hanya Pribadi Firman (Anak) yang mengalami kenosis inkarnasional.
Bapa dan Roh Kudus tidak berkenosis dengan cara yang sama, namun tetap “turun” dan “memberi diri” secara ekonomi, bukan ontologis.


➡️ Tidak ada Pribadi Tritunggal yang berubah hakikat
➡️ Tetapi hanya Anak yang mengambil natur ciptaan


1️⃣ Apa itu “berubah” dan “kenosis”?

Kita harus bedakan dua hal:

🔹 Perubahan ontologis

  • perubahan hakikat
  • perubahan keallahan

Tidak pernah terjadi pada Pribadi mana pun

📖 Maleakhi 3:6

“Aku, TUHAN, tidak berubah.”


🔹 Kenosis (Filipi 2)

  • bukan perubahan hakikat
  • tetapi perubahan modus keberadaan
  • self-limitation dalam ekonomi keselamatan

➡️ Ini khusus terjadi pada Anak


2️⃣ Kenapa hanya Firman yang berkenosis inkarnasional?

Karena hanya Firman yang:

  • adalah Gambar Bapa
  • adalah Logos, prinsip pewahyuan
  • adalah Pengantara penciptaan dan penebusan

📖 Yohanes 1:1–3, 14

➡️ Inkarnasi bukan peran arbitrer,
melainkan sesuai identitas pribadi.


3️⃣ Bagaimana dengan Bapa?

Bapa:

  • tidak berinkarnasi
  • tidak mengambil natur manusia
  • tidak mengalami keterbatasan eksistensial

Namun:

  • Bapa memberi Anak
  • Bapa mengutus
  • Bapa menyerahkan

📖 Yohanes 3:16

“Karena begitu besar kasih Allah…”

➡️ Ini kenosis relasional, bukan inkarnasional.


4️⃣ Bagaimana dengan Roh Kudus?

Roh Kudus:

  • tidak berinkarnasi
  • tidak menjadi manusia

Namun:

  • Roh diam dalam manusia
  • Roh membatasi diri untuk bekerja melalui kebebasan manusia
  • Roh menangisi dosa (Ef 4:30)

➡️ Ini kenosis operasional, bukan ontologis.


5️⃣ Apakah ini berarti Anak “lebih rendah”?

❌ Tidak.

  • Dalam hakikat: setara
  • Dalam ekonomi: peran berbeda

📖 Yohanes 14:28

“Bapa lebih besar dari pada Aku” → ekonomi
📖 Yohanes 1:1
“Firman itu adalah Allah” → ontologi


6️⃣ Skema sederhana (aman)

Pribadi Kenosis
Bapa    Memberi & mengutus
Anak    Mengambil natur manusia
Roh Kudus    Diam & bekerja dalam manusia

➡️ Satu kasih ilahi, tiga modus pemberian diri.


7️⃣ Kesimpulan final (dikunci)

🟢 Hanya Firman berkenosis inkarnasional
🟢 Tidak ada Pribadi Tritunggal yang berubah hakikat
🟢 Bapa dan Roh Kudus tetap memberi diri secara ekonomi
🟢 Perbedaan peran ≠ perbedaan keallahan
🟢 Tritunggal tetap satu dalam kehendak dan kasih


Kalimat penutup

Dalam keselamatan, bukan hanya Anak yang “turun”, tetapi seluruh Tritunggal hadir, namun hanya Anak yang turun sampai menjadi manusia.


Jika Anda mau, pertanyaan berikut yang sangat tajam adalah:

🔍 Apakah kenosis Anak bersifat sementara (hanya sampai kebangkitan) atau bersifat kekal dalam ekonomi keselamatan?

Itu akan menutup seluruh rangkaian diskusi ini dengan sangat matang.


E. BAPA DAN ROH KUDUS JUGA KENOSIS RELASIONAL

Ya — benar, dengan satu penegasan agar tidak salah arah.
👉 Bapa dan Roh Kudus juga “berkenosis” dalam ekonomi relasional,
bukan kenosis inkarnasional atau ontologis.

Mari kita kunci maknanya dengan presisi.


1️⃣ Apa yang dimaksud “kenosis relasional”?

Kenosis relasional =

pemberian diri Allah dalam relasi,
tanpa perubahan hakikat,
tanpa mengambil natur ciptaan.

➡️ Ini adalah self-giving, bukan self-emptying ontologis.


2️⃣ Bagaimana Bapa berkenosis secara relasional?

Bapa:

  • mengutus Anak
  • menyerahkan Anak
  • menahan diri dari “menyelamatkan dari salib”

📖 Roma 8:32

“Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri…”

➡️ Ini kerendahan kasih, bukan kehilangan kuasa.


3️⃣ Bagaimana Roh Kudus berkenosis secara relasional?

Roh Kudus:

  • tinggal dalam manusia fana
  • bekerja melalui kehendak bebas
  • tidak memaksa, melainkan membujuk

📖 Yohanes 16:8

“Ia akan menginsafkan…”

➡️ Menginsafkan ≠ memaksa
➡️ Ini bentuk self-limitation kasih


4️⃣ Apa yang tidak terjadi?

❌ Bapa tidak menjadi manusia
❌ Roh Kudus tidak menjadi makhluk
❌ Tidak ada perubahan hakikat ilahi
❌ Tidak ada hierarki ontologis


5️⃣ Kesatuan Tritunggal tetap utuh

  • Satu kehendak ilahi
  • Satu energi ilahi
  • Satu kasih ilahi

Perbedaan hanya pada: ➡️ modus relasi dalam sejarah keselamatan


6️⃣ Rumusan final (dikunci)

🟢 Anak → kenosis inkarnasional
🟢 Bapa → kenosis relasional (mengutus & menyerahkan)
🟢 Roh Kudus → kenosis relasional-operasional (diam & membimbing)
🟢 Tidak ada perubahan hakikat
🟢 Satu kasih Tritunggal dalam tiga modus pemberian diri


Kalimat penutup

Salib bukan hanya tindakan Anak,
melainkan ekspresi kasih Tritunggal —
namun hanya Anak yang menanggungnya dalam daging.

Jika Anda mau, langkah terakhir yang sangat indah adalah:

🔍 Bagaimana perikoresis Tritunggal tetap utuh justru di dalam kenosis ini?

Itu akan memperlihatkan keindahan terdalam Allah yang Anda sedang gali.

F. MANUSIA DIDESAIN ALLAH SEBAGAI NATUR INKARNASI 

Ya — pernyataan Anda tepat secara kristologis dan antropologis, dan itu tidak melanggar keilahian, justru mengungkap rencana kekal Allah. Mari kita pertegas dan rapikan dalam rumusan yang kokoh.


1. Manusia diciptakan menurut Pola Sang Firman

Alkitab sendiri memberi dasar ini:

  • Yohanes 1:3segala sesuatu dijadikan oleh Dia
  • Kolose 1:16segala sesuatu diciptakan di dalam Dia dan untuk Dia
  • Kejadian 1:26menurut gambar dan rupa Allah

Para Bapa Gereja membaca ini kristologis:

Imago Dei = imago Christi (Firman)

Artinya:

  • Manusia sejak awal dibentuk dengan struktur relasional
  • Dicipta terbuka terhadap Allah
  • Dicipta mampu menerima Allah

Bukan Allah menyesuaikan diri secara darurat,
tetapi manusia sejak awal disiapkan untuk penyatuan.


2. Inkarnasi bukan “rencana B”, melainkan rencana kekal

Ini sangat penting.

Inkarnasi bukan respons darurat terhadap dosa, tetapi:

  • penggenapan maksud penciptaan
  • klimaks ekonomi keselamatan

Efesus 1:4–5

Ia telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan

Artinya:

  • Kristus mendahului Adam secara maksud
  • Adam diciptakan menurut Kristus yang akan datang

➡️ Dosa mengubah jalan,
tetapi tidak mengubah tujuan.


3. Manusia dirancang untuk “inkarnasi” — tapi bukan menjadi Allah

Pernyataan Anda perlu diperjelas supaya tidak disalahpahami.

❌ Bukan:

  • setiap manusia berinkarnasi seperti Firman
  • manusia menjadi Allah menurut esensi

✅ Tetapi:

  • manusia dicipta dengan kapasitas menerima Allah
  • tubuh, jiwa, kehendak → kompatibel dengan penyatuan ilahi

Maka:

Inkarnasi Sang Firman mungkin karena natur manusia memang dicipta untuk dipersatukan dengan Allah.


4. Perikoresis: ilahi ↔ manusia (secara partisipatif)

Perikoresis Tritunggal:

  • penuh
  • setara
  • esensial

Perikoresis Kristologis:

  • hipostatik (dua natur, satu pribadi)

Perikoresis manusia dalam teosis:

  • partisipatif
  • melalui Roh Kudus
  • tanpa mencampur esensi

Jadi benar:

Manusia dicipta agar bisa tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam manusia (Yoh 17:21–23)


5. Pola Sang Firman = kunci kebebasan manusia

Karena manusia dicipta menurut Firman:

  • kehendak bebas nyata
  • ketaatan mungkin
  • pertumbuhan dirancang

Adam gagal bukan karena desain rusak, tetapi karena:

  • kebebasan sejati
  • belum mencapai kepenuhan

➡️ Kristus menggenapi potensi itu sebagai Adam Terakhir.


6. Rumusan dogmatis yang seimbang

Pegang rumusan ini:

Manusia diciptakan menurut Pola Sang Firman,
agar Sang Firman dapat mengambil natur manusia tanpa kekerasan ontologis, dan agar manusia dapat mengambil bagian dalam hidup Allah tanpa kehilangan kemanusiaan.


Atau versi lebih singkat:

Inkarnasi mungkin karena manusia diciptakan kristologis; teosis mungkin karena inkarnasi itu kekal dalam maksud Allah.


7. Penutup (sangat penting)

Apa yang Anda simpulkan ini bukan spekulasi berbahaya,
melainkan inti dari:

  • Irenaeus (recapitulatio)
  • Athanasius (God became man…)
  • Maximus Confessor (logos–logoi)
Allah tidak menciptakan manusia lalu berpikir kemudian; manusia diciptakan di dalam Kristus, untuk Kristus, dan menuju Kristus.

Kalau Anda mau, langkah selanjutnya yang sangat dalam adalah:

  • apakah manusia akan memiliki “cara ada” baru setelah kebangkitan, atau
  • bagaimana kehendak bebas berfungsi dalam kemuliaan, atau
  • apakah teosis adalah tujuan semua manusia atau hanya yang taat.

G. MANUSIA DIRANCANG ALLAH UNTUK INKARNASI BUKAN DAN MAHLUK LAIN

Ya — kesimpulan Anda benar, dan ini bukan keterbatasan Allah, melainkan kesetiaan Allah pada hikmat dan rencana-Nya sendiri.

Mari kita jelaskan mengapa inkarnasi hanya mungkin lewat manusia, bukan lewat malaikat atau makhluk lain.


1. Inkarnasi ≠ sekadar “Allah masuk ke makhluk”

Inkarnasi bukan:

  • Allah sekadar “memakai” makhluk
  • Allah menempel sementara pada ciptaan

Inkarnasi adalah:

penyatuan hipostatik
satu Pribadi ilahi + satu natur ciptaantanpa pencampuran, tanpa perubahan esensi

Maka tidak semua natur cocok untuk ini.


2. Mengapa malaikat tidak bisa menjadi medium inkarnasi?

a. Malaikat bukan makhluk berinkarnasi

  • Tidak memiliki tubuh
  • Tidak memiliki sejarah biologis
  • Tidak berkembang

Inkarnasi menuntut:

  • kelahiran
  • pertumbuhan
  • penderitaan
  • kematian

➡️ Semua ini asing bagi natur malaikat.


b. Malaikat tidak memiliki struktur “Adamik”

Surat Ibrani sangat eksplisit:

Ibrani 2:16
“Sebab sesungguhnya Ia bukan mengambil rupa malaikat, melainkan keturunan Abraham.”

Kristus bukan Adam Malaikat, melainkan Adam Manusia.


c. Malaikat bukan kepala ciptaan jasmani

Inkarnasi bertujuan:

  • menebus
  • menyembuhkan
  • mempersatukan ciptaan jasmani & rohani

Manusia:

  • jasmani + rohani
  • mikro-kosmos
  • penghubung langit & bumi

➡️ Malaikat tidak mewakili ciptaan jasmani.


3. Mengapa manusia justru “pas” untuk inkarnasi?

Karena manusia:

  • dicipta menurut Pola Sang Firman
  • memiliki tubuh yang bisa dimuliakan
  • memiliki kehendak yang bisa taat
  • memiliki sejarah yang bisa dipulihkan

Maka:

Inkarnasi bukan improvisasi, tetapi penggenapan desain manusia.


4. Apakah ini membatasi kemahakuasaan Allah?

❌ Tidak.

Allah bisa melakukan apa saja yang tidak bertentangan dengan diri-Nya sendiri.

Inkarnasi lewat malaikat akan bertentangan dengan:

  • maksud penciptaan malaikat
  • tujuan keselamatan manusia
  • struktur teosis

➡️ Allah bebas, tetapi tidak inkonsisten.


5. Bagaimana dengan makhluk lain (alien, dsb)?

Secara teologis klasik:

  • Jika ada makhluk rasional lain,
  • mereka memiliki logos penciptaan berbeda (Maximus)

Inkarnasi Kristus:

  • tetap satu
  • tetap manusia
  • tetap pusat kosmik

Makhluk lain (jika ada):

  • diselamatkan melalui Kristus, bukan dengan inkarnasi baru

6. Rumusan akhir (ingat ini)

Allah tidak bisa berinkarnasi secara sembarang,
bukan karena kurang kuasa, melainkan karena inkarnasi harus setia pada pola ciptaan yang sejak kekal telah ditetapkan.

Atau versi singkat:

Inkarnasi hanya mungkin lewat manusia, karena manusia diciptakan untuk inkarnasi dan perikoresis.

Kalau Anda mau, kita bisa lanjut ke:

  • apakah malaikat juga ikut berpartisipasi dalam teosis manusia, atau
  • bagaimana posisi malaikat setelah Kristus dimuliakan, atau
  • apakah manusia yang didewakan melampaui malaikat.

Silakan pilih arah berikutnya.


Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post