TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA

 


Dalam perspektif Alkitab, kematian bukan bagian dari tujuan awal penciptaan manusia. Manusia diciptakan untuk hidup, bersekutu dengan Allah, memenuhi bumi, dan menikmati kehidupan yang berasal dari Allah. Kematian masuk ke dalam pengalaman manusia sebagai akibat dosa.

Namun ada satu nuansa penting: Alkitab juga menunjukkan bahwa Allah berdaulat atas kehidupan dan kematian, dan melalui Kristus kematian akhirnya dikalahkan. Jadi, kematian bukan tujuan penciptaan, melainkan musuh yang masuk akibat kejatuhan dan yang pada akhirnya akan dihapuskan.

1. Manusia pada awalnya diciptakan untuk hidup

Kejadian 1 menunjukkan tujuan Allah ketika menciptakan manusia:

Kejadian 1:26–28

26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Perhatikan: ketika manusia diciptakan, yang diberikan Allah adalah berkat, kehidupan, keturunan, tugas, dan pemerintahan—bukan kematian.


2. Allah sendiri mengatakan bahwa ciptaan-Nya "sungguh amat baik"

Kejadian 1:31

"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam."

Kematian sebagai akibat dosa tidak termasuk dalam penilaian "sungguh amat baik" tersebut.

Ini penting secara teologis.

Allah tidak menciptakan manusia dengan tujuan:

"Manusia harus mati."

Sebaliknya, manusia diciptakan dalam keadaan baik, menurut gambar Allah, untuk hidup di hadapan-Nya.


3. Manusia ditempatkan di taman dengan "pohon kehidupan"

Kejadian 2:8–9

8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Pohon kehidupan sangat penting.

Alkitab memperlihatkan bahwa kehidupan manusia berkaitan dengan Allah sebagai sumber kehidupan.

Bahkan setelah kejatuhan, Allah mencegah manusia mengambil buah pohon kehidupan:

Kejadian 3:22

"Berfirmanlah TUHAN Allah: 'Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.'"


4. Kematian muncul setelah manusia jatuh ke dalam dosa

Ini adalah titik yang sangat penting.

Sebelum manusia jatuh, Allah memberikan peringatan:

Kejadian 2:16–17

16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Jadi hubungan antara dosa dan kematian sudah dinyatakan sejak awal.

Manusia tidak diciptakan untuk mati sebagai tujuan akhirnya. Allah memperingatkan bahwa kematian akan terjadi apabila manusia memberontak terhadap Allah.


5. Setelah dosa, kematian masuk ke dalam pengalaman manusia

Kejadian 3 memperlihatkan kejatuhan manusia.

Kejadian 3:6

"Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya."

Akibatnya:

Kejadian 3:19

"Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Perhatikan urutannya:

Penciptaan → kehidupan → perintah → dosa → kematian.

Bukan:

Penciptaan → kematian → kehidupan.


6. Paulus menjelaskan dengan sangat jelas: dosa masuk, lalu kematian

Ini salah satu ayat terpenting untuk doktrin ini:

Roma 5:12

"Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa."

Perhatikan kalimatnya:

"dosa telah masuk ... dan oleh dosa itu juga maut."

Jadi menurut Paulus:

Dosa → maut.

Bukan:

Allah menciptakan manusia untuk mati → kemudian dosa.


7. Kematian disebut sebagai akibat dosa

Roma 6:23

"Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."

Ada dua realitas yang dikontraskan:

dosa → maut

tetapi

Kristus → hidup yang kekal.

Ini sangat penting bagi pemahaman keselamatan.


8. Kematian bahkan disebut sebagai "musuh"

Ini lebih kuat lagi.

1 Korintus 15:26

"Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut."

Paulus tidak menyebut maut sebagai "sahabat manusia".

Ia menyebut maut:

ἐχθρὸς — echthros = musuh.

Jadi secara eskatologis, kematian bukan sesuatu yang akan dipertahankan selamanya oleh Allah.

Kematian adalah musuh yang akan dikalahkan.


9. Kristus datang untuk menghancurkan kuasa maut

Ibrani 2:14–15

14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

Perhatikan paradoks Injil:

Kristus masuk ke dalam kematian untuk menghancurkan kematian.

Ia tidak datang untuk mengatakan bahwa kematian adalah tujuan akhir manusia.

Ia datang untuk mengalahkan kematian.


10. Kebangkitan Kristus adalah kemenangan atas kematian

1 Korintus 15:20–22

20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

21 Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.

22 Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.

Di sini terdapat dua kepala umat manusia:

Adam → maut

Kristus → kebangkitan dan kehidupan.

Ini berkaitan erat dengan pembahasan kita sebelumnya tentang Adam pertama dan Adam terakhir.


11. Kristus adalah "Adam yang terakhir"

1 Korintus 15:45

"Seperti ada tertulis: 'Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup', tetapi Adam yang terakhir menjadi roh yang menghidupkan."

Adam pertama membawa manusia ke dalam kondisi dosa dan maut.

Kristus, Adam terakhir, membawa manusia kepada kehidupan.

Karena itu keselamatan bukan sekadar:

"Yesus mati menggantikan saya."

Tetapi juga:

"Yesus membawa saya masuk ke dalam kehidupan-Nya."

Ini sangat berkaitan dengan konsep union with Christ (persatuan dengan Kristus) dan kehidupan baru.


12. Tujuan akhir Allah bukan kematian, tetapi kehidupan

Wahyu memberikan gambaran luar biasa tentang akhir sejarah:

Wahyu 21:3–4

3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

Perhatikan:

Pada awal Alkitab: manusia berada bersama Allah dan memiliki akses kepada pohon kehidupan.

Di tengah sejarah: dosa dan maut masuk.

Pada akhir Alkitab: maut dihapuskan dan kehidupan dipulihkan.


13. Bahkan "maut" akhirnya dilemparkan ke dalam lautan api

Wahyu 20:14

"Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api."

Artinya sangat jelas:

Maut bukan realitas kekal yang menjadi tujuan Allah bagi manusia.

Maut sendiri akan mengalami penghakiman dan akhirnya disingkirkan.


14. Diawali dan diakhiri dgn Pohon kehidupan 

Ini sangat indah karena Alkitab dimulai dengan pohon kehidupan dan berakhir dengan pohon kehidupan.

Wahyu 22:2

"Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa."

Dan:

Wahyu 22:14

"Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu."

Jadi ada semacam alur besar Alkitab:

Kejadian 1–2 → manusia diciptakan menurut gambar Allah
→ manusia hidup di hadapan Allah
→ pohon kehidupan

Kejadian 3 → dosa
→ maut
→ manusia kehilangan akses kepada pohon kehidupan

Kristus → menjadi manusia
→ mati
→ bangkit
→ mengalahkan maut
→ memberikan kehidupan

Wahyu 21–22 → maut dihapuskan
→ Allah diam bersama manusia
→ pohon kehidupan
→ kehidupan kekal.


15. Jadi apakah manusia pada awalnya "bisa mati"?

Di sini perlu dibedakan antara kematian sebagai tujuan penciptaan dan kemungkinan manusia jatuh ke dalam kematian.

Alkitab tidak mengatakan secara eksplisit dengan istilah teknis bahwa Adam sejak awal memiliki tubuh yang secara biologis "mustahil mati". Tetapi Alkitab sangat jelas bahwa:

  1. Allah menciptakan manusia untuk hidup.
  2. Allah memberikan pohon kehidupan.
  3. Allah memperingatkan bahwa ketidaktaatan membawa maut.
  4. Dosa membawa maut.
  5. Kristus datang untuk mengalahkan maut.
  6. Maut adalah musuh terakhir.
  7. Pada akhirnya maut tidak akan ada lagi.

Karena itu lebih tepat mengatakan:

Kematian bukan tujuan ontologis penciptaan manusia; kematian merupakan akibat kejatuhan manusia dan sebuah realitas yang pada akhirnya akan dikalahkan oleh Kristus.


16. Tetapi bagaimana dengan "manusia berasal dari debu"?

Ada yang bertanya: kalau manusia diciptakan dari debu, bukankah berarti manusia memang harus mati?

Tidak otomatis demikian.

Kejadian 2:7

"ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup."

Manusia berasal dari debu, tetapi Allah memberikan nafas kehidupan.

Debu bukan berarti kematian adalah tujuan manusia.

Justru kehidupan berasal dari Allah.


17. Tujuan manusia sebenarnya jauh lebih tinggi daripada sekadar "tidak mati"

Ini bagian yang sangat penting.

Tujuan penciptaan manusia bukan sekadar:

"Manusia tidak boleh mati."

Tujuan manusia adalah hidup dalam persekutuan dengan Allah, menjadi gambar-Nya, mengenal-Nya, mengasihi-Nya, dan memerintah ciptaan bersama-Nya.

Yesus sendiri berkata:

Yohanes 17:3

"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."

Jadi hidup kekal (ζωὴ αἰώνιος / zōē aiōnios) bukan sekadar durasi hidup tanpa akhir.

Intinya adalah kehidupan dalam persekutuan dengan Allah.


18. Karena itu Kristus tidak hanya "menyelamatkan dari neraka"

Keselamatan dalam Kristus jauh lebih besar.

Yesus berkata:

Yohanes 10:10

"Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."

Perhatikan:

Kristus datang untuk memberikan HIDUP.

Bukan sekadar menghindarkan manusia dari hukuman.

Dan:

Yohanes 11:25–26

25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"

Kristus menyatakan diri-Nya bukan hanya sebagai pemberi kehidupan, tetapi:

"Akulah ... hidup."


19. Kesimpulan teologis

Maka kita dapat menyusun seluruh alur Alkitab seperti ini:

Penciptaan

Allah → kehidupan → manusia → gambar Allah → persekutuan dengan Allah

Kejatuhan

dosa → keterpisahan → maut

Penebusan

Kristus → inkarnasi → ketaatan → kematian → kebangkitan → kemenangan atas maut

Kesempurnaan

Kristus → kehidupan kekal → kebangkitan tubuh → maut dihapuskan → Allah bersama manusia

Dengan demikian:

Kematian bukan bagian dari tujuan akhir penciptaan manusia. Kematian adalah musuh yang masuk melalui dosa, sedangkan tujuan Allah adalah kehidupan manusia dalam persekutuan dengan-Nya, dan tujuan akhir penebusan dalam Kristus adalah kebangkitan serta kemenangan total atas maut.

Dan ini menjadi sangat penting untuk Kristologi yang sedang kita bahas: Kristus tidak hanya mati menggantikan manusia, tetapi juga bangkit untuk membawa manusia masuk ke dalam kehidupan-Nya.

Adam membawa maut; Kristus, Adam terakhir, membawa kehidupan.
Pohon kehidupan hilang dari Eden; dalam Kristus, kehidupan dipulihkan.
Maut masuk melalui dosa; dalam Kristus, maut dikalahkan.
Kematian adalah musuh terakhir; kehidupan bersama Allah adalah tujuan akhirnya.


Ya, ada dasar yang sangat kuat untuk melihat doa Yesus di Getsemani sebagai bukti bahwa kematian bukan sesuatu yang dikehendaki manusia secara kodrati. Tetapi perlu dibuat pembedaan yang sangat penting secara Kristologi: Yesus sungguh memiliki kehendak manusia (human will), dan kehendak manusia-Nya secara kodrati tidak menginginkan kematian; namun kehendak manusia-Nya dengan sempurna tunduk kepada kehendak ilahi.

Ini justru sangat penting dalam doktrin Hypostatic Union.

1. Getsemani menunjukkan adanya kehendak manusia yang menghadapi kematian

Yesus berkata:

Matius 26:38–39

38 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."

39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

Ini luar biasa penting.

Yesus tidak berkata:

"Aku menghendaki kematian karena kematian adalah tujuan penciptaan manusia."

Sebaliknya:

"Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku."

Artinya, dalam kemanusiaan-Nya yang sejati, Yesus menghadapi kematian sebagai sesuatu yang tidak dikehendaki secara kodrati oleh kehendak manusia-Nya.

Namun kemudian:

"Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

Di sinilah terlihat ketaatan sempurna.


2. Lukas memperlihatkan pergumulan itu dengan sangat kuat

Lukas 22:42–44

42 kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.

Di sini kita melihat sesuatu yang sangat manusiawi:

Yesus menghadapi kematian dengan penderitaan yang nyata.

Ini bukan drama.

Ini bukan pura-pura.

Ini adalah kemanusiaan sejati.


3. Ibrani menegaskan bahwa Yesus mengalami kematian sebagai manusia

Ibrani 5:7–8

7 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.

8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.

Perhatikan:

"ratap tangis dan keluhan"

dan:

"menyelamatkan-Nya dari maut."

Ini menunjukkan bahwa kematian bukan sesuatu yang secara natural dicari oleh manusia Yesus.


4. Tetapi apakah ini berarti Yesus menolak kehendak Bapa?

Tidak.

Ini bagian yang harus sangat hati-hati.

Yesus tidak memberontak terhadap Bapa.

Ia berkata:

"Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

Jadi ada perbedaan antara:

tidak menginginkan penderitaan dan kematian secara manusiawi

dengan:

menolak kehendak Allah.

Yesus melakukan yang pertama, tetapi tidak pernah melakukan yang kedua.


5. Ini justru membuktikan Yesus memiliki kehendak manusia yang nyata

Ini merupakan salah satu alasan mengapa doktrin dua kehendak Kristus sangat penting.

Karena Yesus adalah:

satu Pribadi — dua kodrat

yaitu:

  • kodrat ilahi
  • kodrat manusia.

Maka dalam inkarnasi-Nya, Ia memiliki:

kehendak ilahi dan
kehendak manusia.

Kehendak manusia Yesus tidak dihancurkan oleh kehendak ilahi.

Kehendak manusia-Nya tetap merupakan kehendak manusia yang sejati.

Tetapi kehendak manusia-Nya selalu taat dan tidak pernah bertentangan secara berdosa dengan kehendak ilahi.


6. Ini sangat penting terhadap ajaran Monotelitisme

Gereja kemudian menolak Monotelitisme, yaitu pandangan bahwa Kristus hanya mempunyai satu kehendak.

Salah satu dasar biblis yang sangat kuat untuk menolak pandangan tersebut adalah Getsemani.

Kalau Yesus hanya mempunyai satu kehendak, maka perkataan:

"bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah"

menjadi sangat sulit dijelaskan.

Tetapi jika Kristus mempunyai kehendak ilahi dan kehendak manusia, Getsemani menjadi sangat jelas:

kehendak manusia Kristus secara natural menghadapi kematian dengan penolakan terhadap kematian sebagai penderitaan, tetapi kehendak manusia itu dengan sempurna tunduk kepada kehendak Bapa.


7. Konsili Konstantinopel III

Ini akhirnya dirumuskan secara dogmatis dalam Konsili Konstantinopel III (680–681).

Kristus memiliki:

dua kehendak kodrati dan dua operasi kodrati

yang sesuai dengan dua kodrat-Nya.

Namun kedua kehendak itu tidak saling berlawanan.

Kehendak manusia Kristus:

mengikuti dan tunduk kepada kehendak ilahi.

Getsemani menjadi salah satu teks Alkitab terpenting untuk memahami hal ini.


8. Jadi apakah Getsemani membuktikan bahwa "kematian bukan tujuan penciptaan manusia"?

Ya, tetapi dengan sebuah batasan penting.

Getsemani menunjukkan bahwa:

kematian bukan sesuatu yang secara kodrati dicari atau diinginkan oleh kehendak manusia.

Yesus, sebagai manusia sejati, mengalami kematian sebagai penderitaan dan musuh.

Namun Yesus secara bebas menerima kematian sebagai jalan ketaatan dan penebusan.

Jadi kita harus membedakan:

Secara kodrati:

manusia tidak menghendaki kematian.

Secara moral:

manusia harus tunduk kepada kehendak Allah.

Secara karya keselamatan:

Yesus dengan sukarela menyerahkan hidup-Nya untuk menebus manusia.


9. Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya dengan sukarela

Jangan sampai Getsemani dipahami seolah-olah Yesus akhirnya dipaksa.

Yesus berkata:

Yohanes 10:17–18

17 "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.

18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Jadi ada dua hal yang berjalan bersama:

"Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku"

dan:

"Aku memberikan nyawa-Ku menurut kehendak-Ku sendiri."

Tidak ada kontradiksi.

Yang pertama menunjukkan kehendak manusia yang secara natural tidak menginginkan kematian.

Yang kedua menunjukkan ketaatan dan kebebasan Kristus menerima kematian sebagai misi penebusan.


10. Inilah keindahan Getsemani

Getsemani bukan bukti bahwa Yesus tidak mau taat.

Justru sebaliknya.

Getsemani adalah tempat ketaatan manusia Kristus mencapai kedalaman yang sempurna.

Adam pertama menghadapi kehendak Allah di taman Eden dan berkata, secara tindakan:

"kehendakku."

Adam terakhir menghadapi kehendak Allah di taman Getsemani dan berkata:

"Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

Ini paralel yang sangat dalam:

Taman Eden → ketidaktaatan → dosa → maut

Taman Getsemani → ketaatan → salib → kebangkitan → kehidupan

Dan karena itu Paulus mengatakan:

Roma 5:19

"Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar."

Jadi Kristus bukan hanya mati menggantikan Adam; Ia juga menjalani ketaatan yang gagal dilakukan Adam.

Itulah sebabnya Getsemani sangat penting dalam memahami Adam terakhir, dua kehendak Kristus, hypostatic union, dan kemenangan atas maut.


Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post