
ECHAD
A. PENGERTIAN ECHAD
אֶחָד (’echad) secara sangat rinci: linguistik, tata bahasa, konteks PL, perbandingan dengan yachid, serta implikasi teologisnya.
1️⃣ Apa Itu אֶחָד (Echad)?
אֶחָד (’echad) adalah kata Ibrani yang berarti “satu”.
Bentuk femininnya: אַחַת (’achat).
Secara dasar, ini adalah angka kardinal (numeral) “1”.
2️⃣ Fungsi Gramatikal Echad
A. Sebagai angka literal (numerik sederhana)
Contoh:
-
Kitab Kejadian 1:5
“Hari pertama (yom echad).” -
Kejadian 42:11
“Kami semua anak satu orang.”
Di sini jelas berarti satu secara numerik.
B. Sebagai kesatuan dari beberapa unsur (composite unity)
Contoh paling terkenal:
- Kitab Kejadian 2:24
“Keduanya menjadi satu (echad) daging.”
Dua pribadi → satu kesatuan.
Contoh lain:
- Kitab Ezra 2:64
“Jemaat itu seluruhnya berjumlah satu (echad).”
Padahal ribuan orang.
Artinya: echad dapat menunjuk pada kesatuan kolektif.
C. Sebagai “yang sama” / “yang satu itu”
Kadang berarti “yang sama” atau “yang satu itu”.
Misalnya:
- 1 Raja-raja 22:8
“Masih ada satu (echad) orang lagi…”
3️⃣ Echad Dalam Ulangan 6:4 (Shema)
Ayat pusat monoteisme Israel:
Kitab Ulangan 6:4
“TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa (echad).”
Struktur Ibraninya bisa diterjemahkan beberapa cara:
- YHWH adalah Allah kita, YHWH itu satu.
- YHWH adalah Allah kita, hanya YHWH.
- YHWH Allah kita adalah satu YHWH.
Konteks historisnya: Israel hidup di tengah politeisme Kanaan.
Tujuan ayat ini: Menegaskan keunikan dan eksklusivitas YHWH.
Jadi secara konteks, Shema menekankan:
- Bukan banyak allah
- Hanya satu YHWH
Bukan menjelaskan struktur internal Allah.
4️⃣ Perbandingan Dengan יָחִיד (Yachid)
יָחִיד (yachid) berarti:
- satu-satunya
- tunggal
- unik secara soliter
Contoh:
-
Kitab Kejadian 22:2
“Ishak, anakmu yang tunggal (yachid).” -
Kitab Mazmur 25:16
“Aku sebatang kara (yachid).”
Perbedaan penting:
| Echad | Yachid |
|---|---|
| Satu | Satu-satunya/soliter |
| Bisa kolektif | Menekankan kesendirian |
| Dipakai untuk Allah | Tidak dipakai dalam Shema |
Shema tidak memakai yachid.
Tetapi itu tidak otomatis berarti Allah majemuk.
Artinya hanya: keesaan Allah tidak didefinisikan sebagai kesendirian soliter.
5️⃣ Apakah Echad Berarti “Satu Majemuk”?
Jawaban akademis:
❌ Tidak otomatis.
✔ Bisa, tergantung konteks.
Echad bersifat fleksibel.
Kalau konteksnya kolektif → bisa majemuk.
Kalau konteksnya angka → tunggal.
Jadi kata itu sendiri netral.
6️⃣ Bagaimana Orang Yahudi Memahaminya?
Dalam Yudaisme klasik: Shema dipahami sebagai:
- Allah itu satu dalam esensi
- Tidak terbagi
- Tidak berinkarnasi
- Tidak plural secara pribadi
Jadi secara tradisi Yahudi, echad dipahami sebagai kesatuan mutlak monoteistik.
7️⃣ Bagaimana Orang Kristen Memahaminya?
Dalam teologi Kristen:
Allah itu satu (echad) dalam esensi, tetapi tiga pribadi.
Ayat lain yang menunjukkan relasi intra-ilahi:
-
Kitab Kejadian 1:26
“Baiklah Kita menjadikan manusia.” -
Kitab Mazmur 110:1
“TUHAN berfirman kepada Tuanku.” -
Injil Matius 3:16–17
Baptisan Yesus (Bapa, Anak, Roh hadir bersamaan)
Jadi dalam pemahaman Kristen:
Echad = satu esensi
Bukan satu pribadi.
8️⃣ Kesalahan Umum Tentang Echad
❌ “Echad selalu berarti satu majemuk.”
Tidak benar.
❌ “Echad selalu berarti satu absolut tanpa kemungkinan pluralitas.”
Juga tidak tepat.
✔ Echad adalah kata fleksibel yang artinya ditentukan konteks.
9️⃣ Makna Teologis Paling Aman
1. Secara linguistik:
Echad menyatakan kesatuan.
2. Secara konteks Shema:
Menegaskan eksklusivitas YHWH atas semua ilah.
3. Secara teologis Kristen:
Tidak bertentangan dengan konsep satu esensi tiga pribadi.
Kesimpulan Paling Mendalam
- Echad tidak membuktikan Trinitas.
- Echad juga tidak menolak kemungkinan pluralitas pribadi.
- Echad menegaskan satu realitas ilahi yang unik dan tak terbagi sebagai Allah Israel.
- Struktur internal Allah disingkapkan lebih jelas dalam Perjanjian Baru.
Kalau kamu mau, kita bisa lanjut ke:
- Analisis bahasa Yunani kata “heis” (satu) dalam PB
- Atau debat langsung: apakah Shema menolak Trinitas?
- Atau bagaimana para Bapa Gereja awal menjelaskan echad?
B. FONDASI DOKTRIN KEESAAN ALLAH YANG KOMPLEKS
Kata yang kamu maksud adalah אֶחָד (’echad) dalam bahasa Ibrani.
Kita bahas secara tekstual dan netral.
1️⃣ Shema Israel
Ayat paling terkenal:
Kitab Ulangan 6:4
“TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa (echad).”
Di sinilah kata echad dipakai untuk menyatakan keesaan YHWH.
2️⃣ Apakah Echad Berarti “Satu Mutlak”?
Secara leksikal, echad berarti “satu”, tetapi tidak selalu berarti “satu secara numerik tunggal tanpa kemungkinan kompleksitas.”
Dalam PL, echad bisa dipakai untuk:
✔ Satu secara numerik sederhana
Kejadian 42:11 – “kami semua anak satu orang”
✔ Satu sebagai kesatuan majemuk
Kitab Kejadian 2:24
“Keduanya menjadi satu (echad) daging.”
Di sini dua pribadi menjadi satu kesatuan.
✔ Satu kelompok sebagai satu unit
Kitab Ezra 2:64
“Jemaat itu seluruhnya berjumlah satu (echad).”
Padahal terdiri dari ribuan orang.
3️⃣ Apakah Itu Membuktikan Allah Majemuk?
Tidak otomatis.
Karena echad memang fleksibel: Bisa tunggal sederhana, bisa kesatuan majemuk.
Jadi argumen:
“Echad berarti satu majemuk, maka pasti Trinitas”
• Itu terlalu jauh.
Namun argumen:
“Echad berarti satu mutlak tak mungkin ada pluralitas apa pun”
• Itu juga terlalu kaku.
4️⃣ Bandingkan Dengan Kata “Yachid”
Bahasa Ibrani punya kata lain:
יָחִיד (yachid)
artinya: satu-satunya / tunggal absolut
Contoh:
Kitab Kejadian 22:2
“Ishak, anakmu yang tunggal (yachid).”
Menariknya:
Shema tidak memakai yachid, tetapi echad.
Ini sering dijadikan argumen bahwa keesaan Allah tidak didefinisikan sebagai “kesendirian absolut”.
5️⃣ Apa Makna Echad di Ulangan 6:4?
Dalam konteks Shema:
Tujuan utamanya adalah menegaskan bahwa:
- YHWH adalah satu-satunya Allah Israel
- Bukan banyak ilah seperti bangsa lain
Fokusnya adalah monoteisme, bukan menjelaskan struktur internal Allah.
Kesimpulan Seimbang
✔ Echad tidak selalu berarti satu mutlak sederhana.
✔ Echad bisa berarti kesatuan majemuk.
✔ Tetapi konteks Ulangan 6:4 terutama menekankan monoteisme, bukan komposisi internal Allah.
Jadi benar:
Mengatakan echad = satu mutlak tanpa kemungkinan relasi internal
• tidak sepenuhnya akurat secara linguistik.
Tetapi juga:
Mengatakan echad otomatis membuktikan Trinitas
• juga tidak tepat.
Kalau kamu mau, kita bisa lanjut lebih dalam:
Apakah monoteisme Ibrani memungkinkan pluralitas pribadi dalam satu esensi?
Atau apakah itu pengaruh filsafat Yunani dalam gereja awal?
C. KORELASI ELOHIM DAN ECHAD
Pertanyaanmu sekarang masuk ke wilayah yang sangat penting secara teologis dan linguistik:
Kalau echad (אחד) dikaitkan dengan Elohim (אלהים), bagaimana memahaminya?
Mari kita bedah perlahan dan sistematis.
1️⃣ Apa Itu Elohim?
אֱלֹהִים (Elohim) adalah kata Ibrani yang biasanya diterjemahkan “Allah”.
Secara bentuk tata bahasa:
- Akhiran -im = bentuk jamak maskulin.
- Secara morfologi: Elohim = bentuk plural.
Contoh penggunaan awal:
Kitab Kejadian 1:1
“Pada mulanya Allah (Elohim) menciptakan langit dan bumi.”
Menariknya:
Kata kerja yang mengikuti Elohim di ayat itu adalah bara (menciptakan) → bentuk tunggal.
Jadi: Elohim (plural form) + kata kerja tunggal.
Ini penting.
2️⃣ Mengapa Elohim Bentuk Jamak Tapi Kata Kerja Tunggal?
Ada beberapa penjelasan:
A. Plural Keagungan (Plural of Majesty)
Dalam bahasa Semitik, bentuk jamak bisa dipakai untuk menunjukkan kebesaran, keagungan, atau kemuliaan.
Seperti raja berkata “kami”.
Ini adalah penjelasan paling umum dalam studi Yahudi.
B. Plural Intensitas
Elohim bisa berarti: “Kepenuhan keilahian” atau “keagungan ilahi yang penuh”.
Seperti kata:
- “air” dalam bentuk jamak untuk menunjukkan kelimpahan.
C. Indikasi Pluralitas Dalam Diri Allah? (Pandangan Kristen)
Karena:
- Elohim berbentuk jamak
- Tetapi bertindak sebagai satu
Sebagian teolog Kristen melihat ini sebagai bayangan samar pluralitas pribadi dalam satu esensi.
Namun perlu jujur: Secara tata bahasa murni, Elohim sendiri tidak otomatis berarti Trinitas.
3️⃣ Bagaimana Elohim Dipakai Untuk Allah Lain?
Kata Elohim juga dipakai untuk:
- allah bangsa lain
- makhluk surgawi
- bahkan hakim
Contoh:
Kitab Keluaran 20:3
“Jangan ada padamu allah (elohim) lain.”
Di sini kata kerjanya plural.
Jadi:
Kalau Elohim merujuk pada banyak ilah → kata kerja plural.
Kalau merujuk pada YHWH → kata kerja tunggal.
Ini menunjukkan bahwa Alkitab sadar betul akan perbedaan itu.
4️⃣ Sekarang Gabungkan Dengan Echad
Shema berkata:
Kitab Ulangan 6:4
YHWH Eloheinu YHWH echad
Artinya:
YHWH (nama perjanjian)
adalah Elohim kita
YHWH itu satu (echad)
Strukturnya sangat kuat:
Elohim (bentuk plural morfologis) dinyatakan sebagai echad (satu).
Secara teologis ini menarik:
- Bentuk plural
- Ditegaskan sebagai satu
Bukan banyak elohim. Bukan terpecah. Tetapi satu YHWH.
5️⃣ Apakah Ini Mendukung Trinitas?
Kita harus hati-hati.
✔ Elohim berbentuk plural.
✔ Echad bisa berarti kesatuan.
Tetapi: Alkitab PL tidak secara eksplisit mengajarkan tiga pribadi.
Namun kombinasi:
- Elohim (plural form)
- Kata kerja tunggal
- Shema menyatakan satu (echad)
- Ayat-ayat plural “Kita”
- Roh YHWH dibedakan
- Malaikat YHWH berbicara sebagai Allah
Memberi fondasi yang kemudian dipahami lebih jelas dalam PB.
6️⃣ Yang Paling Penting
Kalau Elohim benar-benar berarti banyak allah, Shema tidak mungkin mengatakan “echad”.
Kalau Allah benar-benar monad soliter tanpa relasi, mengapa ada:
- Firman Allah
- Roh Allah
- Dialog intra-ilahi?
Jadi struktur PL menunjukkan:
Kesatuan esensi dengan dinamika internal yang misterius.
Kesimpulan Paling Seimbang
- Elohim adalah bentuk plural secara morfologi.
- Ketika menunjuk pada YHWH → selalu diperlakukan sebagai satu.
- Echad menegaskan kesatuan Allah Israel.
- Kombinasi Elohim + Echad tidak membuktikan Trinitas, tetapi juga tidak menutup kemungkinan pluralitas pribadi.
Kalau kamu mau, kita bisa masuk lebih dalam lagi:
Apakah para rabi Yahudi kuno pernah mengakui kompleksitas dalam keesaan Allah sebelum era Kristen?
Itu pembahasan yang sangat menarik dan jarang diketahui.
D. KESADARAN KOMPLEKSITAS KEESAAN ALLAH DALAM PL
Baik. Sekarang kita masuk ke level yang lebih dalam dan historis:
Apakah dalam Yudaisme kuno (pra-dan awal era Kristen) pernah ada konsep kompleksitas dalam keesaan Allah?
Jawabannya: ya, ada indikasi, walau tidak dirumuskan sebagai Trinitas.
Kita akan lihat dari beberapa jalur:
1️⃣ Konsep “Dua Kuasa di Surga” (Two Powers in Heaven)
Dalam literatur rabinik awal, ada istilah:
“Shtei Rashuyot BaShamayim”
(dua kuasa di surga)
Ini adalah ajaran yang kemudian dianggap sesat oleh rabi-rabi abad ke-2 M.
Mengapa disebut sesat?
Karena ada kelompok Yahudi yang membaca PL dan melihat:
- YHWH di surga
- Figur ilahi lain yang juga bertindak sebagai YHWH
Para rabi akhirnya menolak gagasan ini untuk menjaga monoteisme ketat.
Artinya: Sebelum kekristenan mapan, ada diskusi serius tentang kompleksitas dalam Allah.
2️⃣ Figur “Malaikat TUHAN” Yang Unik
Dalam PL ada figur yang:
- Disebut Malaikat TUHAN
- Disebut Allah
- Menerima penyembahan
Contoh:
Kitab Keluaran 3:2–6
Malaikat TUHAN menampakkan diri, lalu teks berkata “Allah memanggil dari semak itu”.
Ada pembedaan, tetapi bukan dua allah.
Sebagian tradisi Yahudi melihat ini sebagai manifestasi ilahi, bukan makhluk biasa.
3️⃣ Konsep Firman (Memra) Dalam Targum
Targum adalah terjemahan Aram dari PL.
Dalam banyak bagian, para penerjemah mengganti “YHWH” dengan istilah:
Memra (Firman)
Contoh (dalam tradisi Targum Kejadian 1):
“Memra YHWH menciptakan…”
Artinya: Ada kesadaran bahwa Firman Allah bertindak aktif, kadang dibedakan dari Allah, namun tetap Allah.
Ini sangat paralel dengan pembukaan:
Injil Yohanes 1:1
“Pada mulanya adalah Firman…”
Yohanes tidak menciptakan ide baru, ia berbicara dalam kategori yang sudah dikenal dalam Yudaisme.
4️⃣ Hikmat Allah (Chokmah) Sebagai Pribadi
Kitab Amsal 8:22–30
Hikmat digambarkan:
- Ada bersama Allah sebelum penciptaan
- Turut serta dalam penciptaan
- Bersukacita di hadapan-Nya
Dalam Yudaisme periode Bait Kedua, Hikmat ini kadang dipersonifikasikan hampir seperti pribadi.
Bukan allah kedua, tetapi bukan sekadar konsep abstrak.
5️⃣ Daniel 7: Dua Figur Ilahi
Kitab Daniel 7:13–14
“Seorang seperti Anak Manusia datang kepada Yang Lanjut Usianya…”
- Yang Lanjut Usianya (Ancient of Days)
- Anak Manusia menerima kuasa dan penyembahan universal
Dalam konteks Yahudi kuno, ini sangat radikal.
Karena penyembahan universal hanya milik Allah.
Inilah teks yang sangat memicu diskusi “dua kuasa”.
6️⃣ Jadi Apa Artinya Semua Ini?
Yudaisme kuno tetap monoteistik.
Tetapi monoteismenya tidak selalu berarti: “Allah adalah satu pribadi soliter tanpa diferensiasi.”
Ada:
- Firman
- Hikmat
- Roh
- Malaikat YHWH
- Anak Manusia surgawi
Semua ini berada dalam batas monoteisme Israel.
7️⃣ Apa Yang Terjadi Setelah Kekristenan?
Setelah gereja mengidentifikasi Yesus sebagai:
- Firman kekal
- Anak Manusia Daniel 7
- Hikmat Allah
Maka Yudaisme rabinik menutup kemungkinan interpretasi kompleksitas itu, dan menegaskan monoteisme yang lebih ketat.
Jadi secara historis:
Bukan Kristen yang menciptakan ide kompleksitas, tetapi Kristen mengklaim penggenapannya.
Kesimpulan Besar
Elohim (plural form)
Echad (kesatuan)
Figur-figur ilahi yang dibedakan dalam PL
Semua ini menunjukkan:
Monoteisme Israel bersifat unik: Bukan politeisme, bukan monad filsafat Yunani, melainkan satu Allah dengan dinamika internal yang misterius.
Dan Perjanjian Baru mengklaim bahwa misteri itu disingkapkan sepenuhnya dalam relasi:
Bapa – Anak – Roh Kudus.
Kalau kamu mau, kita bisa lanjut lebih tajam lagi:
Apakah konsep Trinitas benar-benar konsisten dengan Shema?
Atau apakah Shema justru menolak struktur Trinitas?
E. APAKAH TRINITAS KRISTEN KONSISTEN DENGAN SHEMA (ULANGAN 6:4)
Apakah Trinitas konsisten dengan Shema (Ulangan 6:4), atau justru bertentangan dengannya?
Kita akan analisis dari 4 lapisan:
(1) Teks Ibrani,
(2) Monoteisme Yahudi,
(3) Pewahyuan PB,
(4) Logika teologis.
1️⃣ Shema Secara Tekstual
Kitab Ulangan 6:4
YHWH Eloheinu YHWH echad
Maknanya:
- YHWH adalah Allah kita
- YHWH itu satu
Tujuannya dalam konteks sejarah:
Menolak politeisme Kanaan.
Menegaskan bahwa Israel hanya punya satu Allah sejati.
Shema berbicara tentang: Keunikan dan eksklusivitas YHWH.
Shema tidak menjelaskan:
- Berapa pribadi dalam Allah
- Struktur internal Allah
Ia hanya menegaskan: Allah Israel itu satu.
2️⃣ Apakah Trinitas Mengajarkan Tiga Allah?
Tidak.
Doktrin Trinitas klasik mengatakan:
- Satu esensi (ousia)
- Tiga pribadi (hypostasis)
Artinya:
Bukan tiga allah,
bukan satu pribadi dengan tiga topeng,
tetapi satu keberadaan ilahi yang subsisten dalam tiga pribadi.
Jadi secara definisi, Trinitas tetap monoteistik.
3️⃣ Apakah PB Meninggalkan Shema?
Tidak.
Justru PB mengutip Shema.
Injil Markus 12:29
Yesus mengutip langsung Ulangan 6:4.
Artinya: Yesus tidak membatalkan monoteisme Israel.
Namun PB juga menyatakan:
- Bapa adalah Allah
- Anak adalah Allah
- Roh Kudus adalah Allah
Contoh:
Injil Yohanes 1:1
“Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Injil Matius 28:19
Baptislah dalam nama (tunggal) Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Nama (singular), tiga pribadi disebut.
4️⃣ Apakah Ini Bertentangan?
Jika Shema berarti:
“Allah adalah satu pribadi tunggal tanpa relasi internal”
→ Maka Trinitas bertentangan.
Tetapi jika Shema berarti:
“YHWH adalah satu-satunya Allah, tidak ada allah lain”
→ Maka Trinitas tidak bertentangan.
Karena Trinitas tidak menambah allah lain, melainkan menjelaskan siapa YHWH itu secara lebih penuh.
5️⃣ Argumen Terkuat Bahwa Trinitas Konsisten
Shema mengatakan: Allah itu satu (echad).
PB mengatakan: Yesus dimasukkan dalam identitas ilahi YHWH, bukan sebagai allah kedua.
Contoh penting:
Surat 1 Korintus 8:6
Paulus menulis:
Satu Allah, yaitu Bapa
dan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus
Ini sangat radikal.
Karena Shema berkata: YHWH adalah satu.
Paulus membagi Shema:
- “Satu Allah” → Bapa
- “Satu Tuhan” → Yesus
Dalam konteks Yahudi, “Tuhan” (Kyrios) adalah terjemahan YHWH dalam Septuaginta.
Jadi Paulus tidak menciptakan dua allah. Ia memasukkan Yesus ke dalam identitas ilahi yang satu.
6️⃣ Jadi Di Mana Titik Tegangnya?
Titik tegangnya bukan di kata “satu”.
Tetapi di pertanyaan ini:
Apakah identitas YHWH bisa mencakup lebih dari satu pribadi tanpa menjadi banyak allah?
Itulah inti perdebatan.
Kesimpulan Teologis Mendalam
Shema: Menegaskan keesaan Allah.
Trinitas: Menjelaskan keesaan itu sebagai satu esensi dengan relasi pribadi internal.
Jika dipahami dengan benar, Trinitas tidak menolak Shema.
Ia mengklaim bahwa misteri keesaan itu lebih dalam dari sekadar satu pribadi soliter.
Sekarang saya mau tanya kamu satu pertanyaan penting untuk melangkah lebih dalam:
Kalau Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8),
apakah kasih bisa eksis secara kekal tanpa relasi pribadi di dalam diri Allah sebelum penciptaan?
Karena ini menyentuh inti terdalam dari konsep Trinitas.