A. ALAM SEMESTA AKHIR ZAMA
Pertanyaan ini menyentuh pusat eskatologi Kristen yang paling sering disalahpahami. Jawabannya bukan spekulatif, tetapi berakar kuat pada struktur Alkitab bila dibaca secara konsisten dengan teologi inkarnasi dan kebangkitan.
Jawaban ringkas:
Ya. Alam semesta tetap ada—bukan dimusnahkan—dan akan dikelola, tetapi dalam keadaan dipulihkan, dimuliakan, dan berada di bawah pemerintahan manusia yang diteosiskan di dalam Kristus.
Mari kita uraikan secara bertahap dan presisi.
I. CIPTAAN BARU ≠ PENCIPTAAN DARI NOL
Alkitab tidak pernah mengajarkan:
- kosmos dimusnahkan lalu diganti dari nol
- materi dianggap jahat lalu dihapus
Sebaliknya:
🔹 Roma 8:21
“Ciptaan akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan…”
👉 Dimerdekakan ≠ dimusnahkan
👉 Subjeknya ciptaan yang sama
🔹 Kolose 1:16–20
Kristus:
- menciptakan segala sesuatu
- menopang segala sesuatu
- mendamaikan segala sesuatu
👉 Yang didamaikan adalah yang dicipta, bukan yang dihapus.
II. API PENGHAKIMAN = PEMURNIAN, BUKAN NIHILISASI
Ayat yang sering disalahpahami:
🔥 2 Petrus 3:10–13
“Langit akan lenyap… unsur-unsur dunia akan hancur oleh api…”
Bahasa ini:
- profetis-apokaliptik
- sama seperti “api pemurnian emas”
Buktinya:
“Kami menantikan langit baru dan bumi baru.”
👉 baru = diperbarui, bukan other universe
III. ALAM SEMESTA DALAM KEKALAN TETAP BERSIFAT DINAMIS
Ciptaan baru:
- bukan statis
- bukan museum
- bukan hanya “surga rohani”
“Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:33)
Kerajaan:
- berarti pemerintahan
- berarti aktivitas
- berarti pengelolaan
IV. SIAPA YANG MENGELOLA?
1️⃣ Kristus (Raja Kosmik)
“Segala sesuatu telah diletakkan di bawah kaki-Nya.” (Ef 1:22)
2️⃣ Manusia yang Dimuliakan
“Jika kita bertekun, kita akan memerintah bersama Dia.” (2 Tim 2:12)
“Mereka akan memerintah sampai selama-lamanya.” (Why 22:5)
👉 Ini bukan metafora pasif
👉 Ini mandat kosmik yang dipulihkan
V. APA YANG DIKELOLA?
Bukan hanya “bumi kecil”.
“Segala sesuatu di surga dan di bumi.” (Kol 1:20)
“Langit menceritakan kemuliaan Allah.” (Mzm 19)
👉 “Langit” = kosmos luas
Alam semesta:
- tetap ada
- berada dalam harmoni
- menjadi medan kemuliaan Allah
VI. PERAN IPTEK & PENGETAHUAN
Bukan IPTEK jatuh:
- senjata
- eksploitasi
- dominasi
Tetapi:
- hikmat
- pengetahuan
- kreativitas
- eksplorasi tanpa dosa
“Pengetahuan akan Tuhan memenuhi bumi.” (Yes 11:9)
VII. APA YANG TIDAK ADA
❌ entropi destruktif
❌ kerusakan ekologis
❌ eksploitasi
❌ kekacauan kosmik
❌ kematian
VIII. RINGKASAN STRUKTURAL
Ciptaan Lama (rusak)
↓
Pemurnian
↓
Ciptaan Baru (dimuliakan)
↓
Manusia diteosiskan
↓
Pengelolaan kosmos bersama Kristus
IX. KESIMPULAN TEGAS
**Alam semesta tidak berakhir sebagai kegagalan,
tetapi sebagai ciptaan yang disempurnakan.Manusia tidak diselamatkan untuk keluar dari kosmos,
tetapi untuk memerintah di dalam kosmos
bersama Kristus.**
Ini adalah eskatologi inkarnasional, bukan eskapisme.
Jika Anda mau, kita bisa lanjut ke pertanyaan lanjutan yang sangat tajam:
🔹 Apakah hukum fisika berubah di ciptaan baru?
🔹 Apakah ada eksplorasi kosmos kekal?
🔹 Bagaimana waktu bekerja dalam kekekalan?
🔹 Apakah hierarki tugas di ciptaan baru?
Pertanyaan Anda menunjukkan visi kosmik Injil yang matang.
B. HEWAN MENGALAMI KEMATIAN TANPA DOSA
Pertanyaan ini sangat mendasar, dan jawabannya menyentuh jantung antropologi, kosmologi, dan teologi kematian. Kita harus menjawab tanpa emosi berlebih, tanpa spekulasi, dan tanpa merendahkan Kitab Suci.
Jawaban ringkas:
Hewan mati bukan karena dosa pribadi, tetapi karena mereka diciptakan sebagai makhluk fana dalam tatanan kosmik yang berada di bawah manusia; ketika manusia jatuh, seluruh tatanan itu ikut masuk ke dalam kefanaan dan kematian.
Mari kita uraikan lapis demi lapis.
I. KEMATIAN ≠ DOSA PRIBADI
Alkitab tidak pernah mengatakan:
- hewan berdosa
- hewan dihukum
- hewan bersalah
“Upah dosa ialah maut” (Rm 6:23)
Ayat ini khusus untuk manusia bermoral.
👉 Maka kematian hewan bukan hukuman moral.
II. HEWAN DICIPTAKAN FANA SEJAK AWAL
Perhatikan Kejadian 1:
- manusia → diciptakan menurut gambar Allah
- hewan → nefesh hayyah (makhluk hidup)
- tidak pernah dikatakan “menurut gambar Allah”
Implikasi:
- hewan memiliki kehidupan biologis
- bukan hidup ilahi
👉 Hidup mereka:
- bergantung
- temporal
- tidak memiliki janji keabadian intrinsik
III. POHON KEHIDUPAN: PETUNJUK KUNCI
Dalam Kejadian 2–3:
- manusia perlu Pohon Kehidupan untuk hidup kekal
- tidak ada indikasi hewan mengakses pohon ini
Setelah kejatuhan:
manusia diusir “supaya jangan… hidup selama-lamanya” (Kej 3:22)
👉 Ini menunjukkan:
- keabadian bukan sifat alami makhluk
- tetapi anugerah partisipatif
Hewan tidak berada dalam ekonomi ini.
IV. KEJATUHAN MANUSIA = KERUSAKAN KOSMOS
Walau hewan fana, kejatuhan manusia memperburuk kondisi ciptaan.
“Ciptaan telah ditaklukkan kepada kesia-siaan.” (Rm 8:20)
Akibatnya:
- penderitaan
- predatorisme
- kekacauan ekologi
- kematian penuh derita
👉 Bukan karena hewan berdosa,
tetapi karena kepala kosmiknya jatuh.
V. SEBELUM & SESUDAH KEJATUHAN
Ini penting.
Apakah hewan mati sebelum kejatuhan?
Kitab Suci tidak menjelaskan secara eksplisit.
Yang bisa dikatakan dengan aman:
- kematian biologis ≠ kutuk moral
- penderitaan & kekacauan = akibat kejatuhan
Tradisi:
- Timur: kematian ada, penderitaan meningkat
- Barat: sering menganggap kematian masuk setelah dosa
Gereja tidak mendogmakan detail biologis.
VI. MENGAPA ALLAH MENGIZINKAN KEMATIAN HEWAN?
Karena:
- Hewan bukan subjek keabadian
- Alam dicipta dinamis & bergantung
- Ciptaan bergerak menuju pemuliaan, bukan statis
- Kehidupan biologis bersifat sementara
👉 Ini bukan kejahatan, tetapi modus ciptaan yang belum dimuliakan.
VII. KASIH ALLAH TETAP ADA
“TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (Mzm 145:9)
Allah:
- memelihara hewan
- memperhatikan penderitaan mereka
- menjanjikan pemulihan kosmik
👉 Kematian hewan bukan tanda Allah kejam,
tetapi tanda dunia belum mencapai kepenuhannya.
VIII. KESIMPULAN PADAT
**Hewan mati bukan karena dosa,
tetapi karena mereka fana
dan ikut berada dalam tatanan kosmik
yang rusak oleh kejatuhan manusia.Mereka tidak dihukum,
tetapi menantikan pemulihan.**
Jika Anda mau, tahap lanjut yang sangat tajam:
🔹 Apakah predatorisme bagian dari kehendak awal Allah?
🔹 Apakah ada kematian biologis sebelum dosa?
🔹 Makna “nefesh hayyah” pada manusia vs hewan
🔹 Mengapa Kristus tidak menebus hewan secara personal?
Pertanyaan Anda sudah berada di teologi penciptaan tingkat lanjut.
