Efesus 4 : 6
SATU ALLAH dan BAPA DARI SEMUA, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
2 Petrus 1 : 17
Kami menyaksikan, bagaimana IA MENERIMA KEHORMATAN DAN KEMULIAAN DARI ALLAH BAPA, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Kisah Para Rasul 2 : 32
YESUS INILAH YANG DIBANGKITKAN ALLAH, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.
Matius 28 : 18-20
Yesus mendekati mereka dan berkata: "KEPADAKU TELAH DIBERIKAN SEGALA KUASA DI SORGA DAN DI BUMI".
Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan MENYELESAIKAN PEKERJAAN YANG ENGKAU BERIKAN KEPADAKU untuk melakukannya.
Yohanes 17 : 5
Oleh sebab itu, ya Bapa, PERMULIAKANLAH AKU PADAMU SENDIRI dengan KEMULIAAN YANG KUMILIKI di HADIRATMU SEBELUM DUNIA ADA.
Yohanes 17 : 24
Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, AGAR MEREKA MEMANDANG KEMULIAANKU YANG TELAH ENGKAU BERIKAN KEPADAKU, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak
AKU MENGHAKIMI SESUAI DENGAN APA YANG AKU DENGAR, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.
kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, YANG WALAUPUN DALAM RUPA ALLAH,
tidak menganggap KESETARAAN DENGAN ALLAH
itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah MENGOSONGKAN DIRINYA
SENDIRI, dan MENGAMBIL RUPA HAMBA, dan
MENJADI SAMA DENGAN MANUSIA. Dan dalam keadaan sebagai manusia, IA TELAH
MERENDAHKAN DIRINYA dan TAAT SAMPAI MATI, bahkan sampai MATI DI KAYU SALIB. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN,” BAGI KEMULIAAN ALLAH, BAPA
JIKA KAMU TINGGAL DI DALAM AKU DAN FIRMANKU TINGGAL DI DALAM KAMU, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. DALAM HAL INI BAPAKU DIPERMULIAKAN, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”
Yohanes 14 : 28
Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab BAPA LEBIH BESAR DARI PADA AKU.
Inilah salah satu kesulitan terbesar dalam membaca Perjanjian Baru. Banyak ayat dapat dipahami dalam dua tingkat sekaligus:
- Ekonomi keselamatan (Yesus sebagai manusia dan Mesias yang diutus).
- Relasi ontologis yang kekal antara Bapa dan Anak (Monarki Bapa).
Karena itu, Gereja tidak menafsirkan setiap ayat hanya dari satu sisi.
Contoh: Yohanes 14:28
"Bapa lebih besar daripada Aku."
Ayat ini dapat dipahami:
- Secara ekonomis: Yesus sedang dalam keadaan inkarnasi, merendahkan diri dan taat kepada Bapa.
- Secara ontologis (menurut sebagian Bapa Gereja): Bapa adalah asal pribadi Anak (Monarki Bapa), tetapi bukan lebih besar dalam hakikat.
Contoh: Yohanes 5:19
"Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri..."
Secara ekonomis:
- Yesus sebagai Mesias melakukan kehendak Bapa.
Secara ontologis:
- Anak menerima segala sesuatu dari Bapa melalui kelahiran kekal. Ini mencerminkan relasi asal-usul tanpa berarti Anak kurang ilahi.
Contoh: 1 Korintus 15:28
"Anak akan menaklukkan diri-Nya..."
Secara ekonomis:
- Kristus sebagai Mesias menyelesaikan karya penebusan.
Secara ontologis:
- Relasi Anak kepada Bapa tetap kekal; namun ayat ini tidak mengajarkan bahwa natur ilahi Anak lebih rendah.
Mengapa sulit dibedakan?
Karena inkarnasi justru menyatakan siapa Allah itu. Yesus bukan hanya menjalankan sebuah peran sementara; Pribadi yang bertindak adalah Anak Allah yang kekal. Maka tindakan-Nya dalam sejarah benar-benar mengungkap relasi-Nya dengan Bapa, tetapi juga dipengaruhi oleh kenyataan bahwa Ia telah menjadi manusia.
Itulah sebabnya para teolog sering memakai prinsip:
Ekonomi menyatakan ontologi, tetapi tidak identik dengan ontologi.
Artinya:
- Relasi Yesus dengan Bapa dalam sejarah mencerminkan relasi kekal Bapa dan Anak.
- Namun tidak semua yang terjadi dalam inkarnasi (misalnya lapar, letih, mati) dapat dipindahkan begitu saja ke dalam kehidupan kekal Allah.
Pedoman praktis
Saat membaca ayat-ayat tentang Bapa dan Anak, tanyakan:
-
Apakah ayat ini berbicara tentang misi Yesus di dunia?
- Jika ya, kemungkinan besar fokus utamanya adalah ekonomi keselamatan.
-
Apakah ayat ini juga mengungkap relasi kekal Bapa dan Anak?
- Jika ya, ayat itu dapat memberi petunjuk tentang Monarki Bapa, tetapi tidak boleh dipakai sendiri untuk menyimpulkan subordinasi hakikat.
Dengan pendekatan ini, kita dapat menghargai baik kemanusiaan Yesus maupun relasi kekal Bapa-Anak, tanpa mencampurkan keduanya atau memisahkannya secara berlebihan.
• Relasi misi historis dalam keselamatan
- Relasi ekonomis (misi penyelamatan dalam sejarah).
- Relasi ontologis (relasi kekal Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam diri Allah).
Karena itu, ayat-ayat tersebut harus dibaca dalam konteks keseluruhan Alkitab.
I. Relasi Ekonomis (Misi Penyelamatan)
Relasi ekonomis adalah bagaimana Allah bekerja dalam sejarah untuk menyelamatkan manusia.
Polanya:
Bapa → mengutus Anak → Anak menjadi manusia → Roh Kudus diutus → manusia diselamatkan.
Yohanes 3:16–17
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia."
Fokusnya adalah pengutusan Anak dalam sejarah.
Yohanes 4:34
"Kata Yesus kepada mereka: 'Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.'"
Ini berbicara tentang ketaatan Mesias dalam misi penyelamatan.
Filipi 2:6–8
"yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."
Ketaatan ini adalah bagian dari ekonomi keselamatan.
II. Relasi Ontologis (Monarki Bapa)
Relasi ontologis berbicara tentang siapa Allah sejak kekekalan.
Bukan tentang apa yang Allah lakukan.
Melainkan siapa Allah.
Yohanes 1:1–2
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah."
Ini berbicara sebelum penciptaan.
Hubungan Bapa dan Firman sudah ada sejak kekal.
Yohanes 1:18
"Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya."
Anak berada dalam relasi kekal dengan Bapa.
Yohanes 5:26
"Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri."
Dalam teologi Trinitarian klasik, ayat ini menunjuk kepada kelahiran kekal Anak dari Bapa.
Yohanes 15:26
"Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku."
Roh Kudus berasal dari Bapa.
Ini berbicara mengenai relasi asal-usul pribadi.
III. Mengapa Keduanya Sering Menyatu?
Karena yang diutus ke dunia adalah Pribadi Anak yang sama yang sejak kekal berasal dari Bapa.
Contoh terbaik adalah:
Yohanes 16:28
"Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa."
Ayat ini memuat dua tingkat sekaligus.
Ontologis
"Aku datang dari Bapa."
Menunjukkan asal pribadi Anak.
Ekonomis
"Aku datang ke dalam dunia."
Menunjukkan inkarnasi.
Yohanes 8:42
"Jawab Yesus kepada mereka: 'Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.'"
Di sini ada dua kalimat:
"Aku keluar dari Allah." → Banyak Bapa Gereja melihat ini sebagai relasi ontologis.
"Dia mengutus Aku." → Ini adalah ekonomi keselamatan.
Keduanya muncul dalam satu ayat.
Yohanes 17:3–5
"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."
Ini berbicara mengenai misi penyelamatan.
Tetapi dua ayat kemudian:
"Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."
Sekarang Yesus berbicara mengenai relasi kekal sebelum dunia dijadikan.
Dalam doa yang sama, ekonomi dan ontologi hadir berdampingan.
IV. 1 Korintus 15:24–28
"Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan."
Ini adalah ekonomi.
Tetapi:
"Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua."
Ayat ini mengarah kepada relasi kekal Bapa-Anak setelah ekonomi keselamatan mencapai tujuannya.
V. Prinsip Penting
Para teolog sering merumuskan:
Ekonomi menyatakan ontologi, tetapi tidak identik dengan ontologi.
Artinya:
- Apa yang Yesus lakukan di dunia benar-benar mengungkapkan siapa Dia.
- Namun tidak semua tindakan selama inkarnasi dapat langsung dipindahkan ke dalam kehidupan kekal Allah.
Sebagai contoh:
- Bapa mengutus Anak (ekonomi) mencerminkan bahwa Anak berasal dari Bapa (ontologi).
- Anak taat kepada Bapa (ekonomi) mencerminkan relasi Anak terhadap Bapa, tetapi bukan berarti Anak lebih rendah dalam hakikat.
- Yesus lapar, letih, menderita, dan mati adalah bagian dari kemanusiaan-Nya, bukan sifat kodrat ilahi.
VI. Ringkasan Perbandingan
| Relasi Ekonomis | Relasi Ontologis |
|---|---|
| Terjadi dalam sejarah | Kekal sebelum penciptaan |
| Bapa mengutus Anak | Anak diperanakkan secara kekal dari Bapa |
| Anak menjadi manusia | Anak adalah Firman yang kekal |
| Anak taat sebagai Mesias | Anak tetap sehakikat dengan Bapa |
| Roh Kudus diutus | Roh Kudus berasal dari Bapa |
| Bertujuan menyelamatkan manusia | Menyatakan kehidupan kekal Allah sendiri |
Kesimpulan
Perjanjian Baru sering menggabungkan relasi ekonomis dan ontologis dalam ayat yang sama karena Pribadi yang bertindak adalah Pribadi yang sama, yaitu Anak Allah yang kekal. Oleh sebab itu, saat Yesus berkata bahwa Ia "diutus", "datang dari Bapa", atau "kembali kepada Bapa", ayat-ayat tersebut sering memiliki dua lapisan makna:
- Relasi ekonomis, yaitu misi penyelamatan dalam sejarah.
- Relasi ontologis, yaitu Monarki Bapa sebagai sumber pribadi yang kekal, di mana Anak diperanakkan dari Bapa dan Roh Kudus berasal dari Bapa.
Inilah sebabnya para penafsir Trinitarian selalu membaca ayat-ayat tersebut dengan memperhatikan konteks inkarnasi sekaligus relasi kekal dalam Trinitas, sehingga tidak jatuh pada dua kesalahan: menganggap semua ayat hanya berbicara tentang kemanusiaan Yesus, atau sebaliknya menganggap semua ayat langsung berbicara tentang kehidupan kekal Allah tanpa memperhatikan karya penyelamatan-Nya.
Jadi kita sebenarnya dapat membedakan tiga tingkat ketika membaca banyak ayat Perjanjian Baru.
Tingkat 1. Relasi Ontologis (Ad Intra/Intra-trinitas)
Ini adalah relasi kekal di dalam Trinitas, sebelum penciptaan.
- Bapa adalah Bapa.
- Anak adalah Anak.
- Roh Kudus adalah Roh Kudus.
Misalnya:
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
— Yohanes 1:1
Di sini belum ada inkarnasi.
Tingkat 2. Relasi Ekonomis Menurut Keilahian Pribadi Anak
Ini sering kurang diperhatikan.
Yang bertindak dalam sejarah adalah Pribadi Anak yang kekal, bukan manusia Yesus yang berdiri sendiri.
Misalnya:
"Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan."
— Yohanes 1:3
Penciptaan adalah karya ilahi Anak.
Atau:
"Sebab di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi..."
— Kolose 1:16
Ini bukan karya natur manusia Yesus.
Ini karya Pribadi Anak menurut keilahian-Nya.
Tingkat 3. Relasi Ekonomis Menurut Kemanusiaan Kristus
Sesudah inkarnasi:
Pribadi Anak hidup sebagai manusia sejati.
Maka Ia:
- lapar,
- letih,
- berdoa,
- taat,
- mati.
Misalnya:
"Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."
— Yohanes 4:34
Ini berbicara tentang Kristus sebagai Mesias.
Mengapa Sulit Dibedakan?
Karena semuanya dilakukan oleh Pribadi yang sama.
Bukan:
- kadang Allah,
- kadang manusia.
Melainkan:
Pribadi Anak yang satu bertindak melalui dua natur.
Inilah yang disebut communicatio idiomatum.
Contoh Yohanes 5:19
"Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri; jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya..."
• Segala sesuatu diterima dari Bapa.
2. Relasi Ekonomis menurut Keilahian
3. Relasi Ekonomis menurut Kemanusiaan
Yesus taat kepada Bapa.
Yohanes 17:5
"Permuliakanlah Aku... dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."
Di sini:
- bukan natur manusia,
- melainkan Pribadi Anak menurut keilahian.
Filipi 2:6-8
"yang walaupun dalam rupa Allah..."
Ini berbicara mengenai Pribadi Anak menurut keilahian.
Kemudian:
"mengambil rupa seorang hamba..."
Sekarang berbicara mengenai inkarnasi.
Lalu:
"taat sampai mati."
Ini berbicara mengenai kemanusiaan Kristus.
Dalam tiga ayat itu saja sudah ada perpindahan dari keilahian kepada kemanusiaan dalam satu Pribadi.
Model yang Lebih Lengkap
Daripada hanya membedakan dua kategori (ekonomi dan ontologi), Anda dapat memakai skema berikut:
| Tingkat | Fokus |
|---|---|
| 1. Relasi Ontologis | Bapa–Anak–Roh Kudus dalam kekekalan (Monarki Bapa) |
| 2. Relasi Ekonomis menurut Keilahian | Pribadi Anak yang kekal berkarya dalam penciptaan, penyataan, dan pemeliharaan |
| 3. Relasi Ekonomis menurut Kemanusiaan | Pribadi Anak sebagai manusia: taat, berdoa, menderita, mati, bangkit |
Skema ini membantu menjelaskan mengapa ayat-ayat yang tampaknya serupa sebenarnya berbicara pada tingkat yang berbeda.
Sebagai catatan, istilah "relasi ekonomis menurut keilahian" bukanlah istilah teknis yang lazim dipakai dalam teologi klasik. Para teolog biasanya cukup berbicara tentang ekonomi keselamatan, lalu menjelaskan bahwa dalam ekonomi itu Pribadi Anak bertindak menurut natur ilahi atau menurut natur manusia, bergantung pada konteks ayat. Namun sebagai kerangka analitis untuk membaca Alkitab, pembagian tiga tingkat di atas dapat membantu selama tetap diingat bahwa yang bertindak selalu satu Pribadi yang sama, yaitu Anak Allah yang berinkarnasi.
