TAAT

 


TAAT


A. MAKNA TAAT




berdampingan

Jika ditinjau dari perspektif Adam dan Jesus Christ sebagai Adam terakhir, maka kata "taat" bukan sekadar "melakukan perintah", tetapi memiliki makna yang jauh lebih dalam.


1. Arti dasar "taat"

Dalam Alkitab, taat berarti:

  • mendengar dengan sungguh-sungguh
  • menerima otoritas pihak yang berbicara
  • merespons dengan tindakan yang sesuai.

Jadi taat bukan hanya:

❌ mengetahui kehendak Allah

tetapi:

✅ melakukan kehendak Allah.


2. Taat dalam diri Adam

Sebelum jatuh dalam dosa, tugas Adam sebenarnya sederhana.

📖 Kejadian 2:16-17

"Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: 'Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.'"

Ketaatan Adam berarti:

  • mengakui Allah sebagai Tuhan
  • mempercayai hikmat Allah
  • hidup bergantung kepada firman Allah.

Dengan kata lain:

taat bagi Adam adalah tetap hidup dalam posisi sebagai manusia yang bergantung kepada Allah.


3. Hakikat ketidaktaatan Adam

Ketika Adam jatuh:

📖 Kejadian 3:6

"Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya."

Masalah utamanya bukan makan buah.

Akar dosanya adalah:

  • tidak mempercayai Allah
  • menentukan baik dan jahat menurut dirinya sendiri
  • mengambil otonomi yang seharusnya milik Allah.

Jadi ketidaktaatan Adam adalah:

penolakan terhadap posisi manusia sebagai makhluk yang bergantung kepada Allah.


4. Taat dalam diri Adam terakhir

📖 Roma 5:19

"Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar."

Adam pertama berkata secara tindakan:

"Kehendakku lebih baik daripada kehendak Allah."

Adam terakhir berkata:

📖 Yohanes 6:38

"Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku."


5. Ketaatan Yesus bukan hanya menaati aturan

Ini sangat penting.

Yesus tidak sekadar menaati hukum.

Ia hidup dalam:

  • kasih kepada Bapa
  • kepercayaan penuh kepada Bapa
  • penyerahan total kepada Bapa.

📖 Yohanes 4:34

"Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."

Bagi Yesus, ketaatan bukan beban.

Ketaatan adalah kehidupan-Nya.


6. Puncak ketaatan: Getsemani

Di sinilah kontras terbesar dengan Adam terlihat.

Adam di Eden:

"Aku memilih jalanku."

Yesus di Getsemani:

📖 Lukas 22:42

"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau menghendaki, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi janganlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

Di sini Yesus menghadapi sesuatu yang jauh lebih berat daripada Adam:

  • penderitaan
  • penolakan
  • kematian.

Tetapi Ia tetap taat.


7. Ketaatan sampai mati

📖 Filipi 2:8

"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Adam diuji di tengah kelimpahan dan gagal.

Yesus diuji di tengah penderitaan dan berhasil.


8. Definisi teologis ketaatan menurut Adam dan Adam terakhir

Jika disarikan:

Adam

Ketaatan = tetap bergantung kepada Allah sebagai manusia.

Kegagalan Adam = mengambil kemandirian moral dari Allah.


Adam terakhir (Kristus)

Ketaatan = penyerahan total kehendak manusia kepada kehendak Bapa.

Keberhasilan Kristus = tetap mempercayai dan tunduk kepada Bapa sampai mati.


Ringkasan paling singkat

Adam Adam Terakhir
• Diuji di taman
diuji di padang gurun dan Getsemani
• memilih kehendaknya memilih kehendak Bapa

• tidak percaya sepenuhnya
percaya sepenuhnya

• tidak taat

taat
• membawa dosa membawa kebenaran
• membawa maut membawa hidup

Kesimpulan

Dilihat dari Adam dan Adam terakhir, taat bukan sekadar melakukan perintah Allah, melainkan hidup dalam ketergantungan, kepercayaan, kasih, dan penyerahan penuh kepada kehendak Allah.

Adam gagal karena memilih dirinya sendiri sebagai penentu jalan hidupnya.

Jesus Christ berhasil karena sebagai manusia sejati Ia menyerahkan seluruh hidup-Nya kepada kehendak Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib.


B. KETAATAN MANUSIA TIDAK OTONOM




Pernyataan itu benar secara teologis dan konsisten dengan teladan Yesus sendiri, jika dipahami dengan tepat (tanpa jatuh ke fatalisme atau meniadakan kehendak bebas).

Mari kita tegaskan secara berlapis dan seimbang.


1. Secara ontologis: manusia tidak mandiri untuk taat

Manusia bukan sumber ketaatan.

Sejak awal:

• Manusia diciptakan untuk hidup dari Allah
• Kehendak manusia bersifat reseptif–relasional, bukan otonom absolut

Maka:

Taat sejati bukan hasil kekuatan pribadi manusia, melainkan respons manusia terhadap hidup Allah yang bekerja di dalamnya.

Tanpa Roh:

  • Kehendak tetap ada
  • Rasio tetap ada
  • Tetapi tidak memiliki energi hidup ilahi untuk konsistensi ketaatan

Itulah sebabnya Paulus berkata:

“Sebab keinginan memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal melakukan apa yang baik.” (Rm 7)


2. Yesus sendiri meneladankan prinsip ini (ini kunci)

Yesus bisa saja bertindak dari keilahian-Nya.
Tetapi Ia tidak melakukan itu.

Sebaliknya:

  • “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri” (Yoh 5:19)
  • “Aku hidup oleh Bapa” (Yoh 6:57)
  • “Roh Tuhan ada pada-Ku” (Luk 4:18)
  • “Dengan Roh yang kekal Ia mempersembahkan diri-Nya” (Ibr 9:14)

Artinya:

  • Ketaatan Yesus bukan shortcut ilahi
  • Melainkan ketaatan manusia sejati
  • yang bergantung sepenuhnya pada Roh Kudus

➡️ Ini sangat penting:

Jika Yesus taat sebagai manusia dengan bergantung pada Roh, maka tidak ada manusia yang bisa taat tanpa Roh.


3. Ini bukan meniadakan kehendak bebas

Sering ada salah paham:
“Kalau butuh Roh, berarti manusia tidak bebas.”
Justru sebaliknya.

Tanpa Roh:

  • Kehendak terbelenggu dosa
  • Bebas memilih, tetapi tidak bebas menuju kebaikan sejati

Dengan Roh:

  • Kehendak dipulihkan
  • Digerakkan dari dalam
  • Tetap memilih, tetapi kini mampu memilih yang benar

Maka:

Roh Kudus bukan pengganti kehendak, tetapi penyembuh dan penguat kehendak.


4. Hubungan dengan Roma 8:2 dan Adam Akhir

Sekarang semuanya menyatu:

  • Adam pertama → kehendak manusia tanpa Roh → jatuh
  • Adam akhir → kehendak manusia dipenuhi Roh → taat sampai mati

Roma 8:2:

“Hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu…”

Artinya:

  • Roh yang sama yang memampukan Yesus taat
  • kini diam di dalam kita
  • bukan hanya untuk mengampuni
  • tetapi untuk memampukan ketaatan

➡️ Ketaatan Kristen adalah partisipasi, bukan imitasi kosong.


5. Rumusan teologis yang tepat

Manusia tidak diciptakan untuk taat secara mandiri, tetapi untuk taat secara partisipatif—dengan kehendaknya sendiri yang digerakkan dan dikuatkan oleh Roh Kudus.

Atau lebih tajam:

Tanpa Roh, ketaatan manusia mustahil; dengan Roh, ketaatan manusia menjadi mungkin tanpa kehilangan kebebasan.


6. Mengapa ini penting?

Karena ini:

  • Menjaga keadilan Yesus sebagai teladan
  • Menjaga keilahian Allah
  • Menjaga martabat kehendak manusia
  • Menjadi dasar teosis, bukan moralitas kosong

Kalau kamu mau, kita bisa lanjut ke:

  • Apakah Adam pertama pernah punya bantuan Roh?
  • Mengapa Taurat tidak cukup tanpa Roh
  • Bedanya ketaatan moral vs ketaatan ontologis

Tinggal bilang arah lanjutannya.

Roma 12:2 memang ayat kunci tentang penyembuhan kehendak manusia, dan ia tidak boleh dibaca terpisah dari Roma 8. Paulus sedang berbicara tentang kehendak yang dipulihkan, bukan sekadar perilaku yang diperbaiki.

Mari kita uraikan secara ontologis, bukan moralistis.


Teks kunci

Roma 12:2

“Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”


1. Berubahlah/μεταμορφοῦσθε (metamorphosis)

Kata yang dipakai Paulus:

  • metamorphousthe = perubahan bentuk dari dalam
  • bukan sekadar koreksi perilaku luar

Ini menunjuk pada:

  • transformasi eksistensial
  • hasil kerja Roh (bdk. 2 Kor 3:18)

2. Pembaharuan budi ≠ intelektual saja

Dalam antropologi Paulus:

  • νοῦς (nous / budi) bukan sekadar pikiran
  • tetapi pusat kesadaran, penilaian, dan arah kehendak

Maka:

Pembaharuan budi = penyembuhan pusat pengambilan keputusan manusia

Kehendak (θέλημα) tidak disingkirkan,
tetapi dikembalikan ke fungsi aslinya.


3. Hasilnya: mampu “menguji kehendak Allah”

Perhatikan urutannya:

  1. Pembaharuan batin (oleh Roh)
  2. Baru kemudian: mampu membedakan kehendak Allah
  3. Lalu: hidup sesuai kehendak itu

➡️ Ini berarti:

  • Tanpa pembaharuan ontologis
  • kehendak Allah tidak bisa dikenali secara eksistensial
  • meski diketahui secara teoritis

4. Hubungan langsung dengan Roma 8:2

Roma 12 tidak berdiri sendiri.

Roma 8:

  • Roh membebaskan dari dosa & maut
  • Roh diam di dalam kita
  • Roh menghidupkan tubuh dan batin

Roma 12:

  • Roh yang sama menyembuhkan nous
  • sehingga kehendak manusia kembali selaras dengan Allah

Jadi:

• Roma 8 = fondasi hidup

• Roma 12 = operasional kehendak yang disembuhkan


5. Mengapa ini benar-benar “penyembuhan kehendak”?

Karena Paulus tidak berkata:

  • “paksa kehendakmu”
  • “lawan dirimu”

Melainkan:

  • “diubah”
  • “diperbaharui”

Ini bahasa terapi rohani, bukan komando legal.

➡️ Kehendak:

  • tidak dipatahkan
  • tidak digantikan
  • tetapi diluruskan dan dikuatkan

6. Formulasi teologis yang tepat

Roma 12:2 mengajarkan bahwa kehendak manusia disembuhkan
melalui pembaharuan nous oleh Roh Kudus, sehingga manusia kembali mampu memilih kehendak Allah
secara bebas dan sadar.

Atau dengan bahasa teosis:

Kehendak manusia dipulihkan bukan dengan paksaan ilahi, tetapi dengan partisipasi dalam pikiran Kristus
yang dibagikan oleh Roh.


7. Jembatan ke Kristus

Yesus sendiri:

  • memiliki kehendak manusia sejati
  • yang selaras sempurna dengan kehendak Bapa
  • karena hidup dalam ketergantungan total pada Roh

Roma 12:2 adalah partisipasi kita
dalam pola ketaatan Kristus itu.

Kalau kamu mau, kita bisa lanjut ke:

  • Filipi 2:12–13 (Allah yang mengerjakan kehendak)
  • “pikiran Kristus” (1 Kor 2:16)
  • Apakah pembaharuan ini instan atau progresif

Rumusanmu itu tepat, lengkap, dan seimbang secara teologis.

Dan yang penting: itu bukan dua pekerjaan terpisah, melainkan satu karya Roh Kudus yang bekerja pada dua sisi kehendak manusia.

Mari kita pertegas dan rapikan istilahnya.


1. Faktor pertama: Roh Kudus membenahi kecerdasan rohani (nous)

Ini persis Roma 12:2 dan 1 Korintus 2:12–16.

Apa yang dibenahi?

  • Nous (budi rohani), bukan sekadar IQ atau pengetahuan teologis
  • Pusat:
    • pengenalan kebenaran
    • penilaian moral
    • arah kehendak

Tanpa Roh:

  • kehendak Allah bisa diketahui secara konsep
  • tetapi tidak dipahami secara eksistensial

Dengan Roh:

  • kehendak Allah dikenal sebagai hidup
  • bukan sebagai tuntutan luar

Karena itu Paulus berkata:

“Kami memiliki pikiran Kristus.”

➡️ Ini bukan download informasi,
➡️ tapi partisipasi dalam cara Kristus mengetahui kehendak Bapa.


2. Faktor kedua: Roh Kudus memberi energi hidup untuk melakukannya

Ini Roma 8:2, Roma 8:11, Filipi 2:13.

Yang diberikan:

  • bukan sekadar motivasi psikologis
  • tetapi energi ilahi (energeia)

Tanpa Roh:

  • kehendak tahu yang baik
  • tetapi tidak mampu konsisten melakukannya (Rm 7)

Dengan Roh:

  • kehendak dikuatkan dari dalam
  • sehingga ketaatan bukan paksaan, tetapi ekspresi hidup baru

Inilah makna:

“Hukum Roh yang memberi hidup”


3. Dua faktor ini harus bersama

Jika hanya faktor 1 (pengetahuan):

  • jatuh ke moral intelektualisme
  • tahu kehendak Allah, tapi lemah melakukannya

Jika hanya faktor 2 (energi):

  • jatuh ke aktivisme buta
  • berbuat banyak tanpa discernment ilahi

Roh Kudus selalu bekerja integratif:

menerangi → menggerakkan → memampukan


4. Hubungan dengan teladan Yesus

Yesus sebagai manusia:

  • mengetahui kehendak Bapa secara sempurna
  • memiliki kekuatan untuk menaatinya
  • oleh Roh Kudus

Ini sebabnya:

  • ketaatan Yesus adil sebagai teladan
  • dan mungkin dipartisipasikan oleh kita

5. Rumusan akhir (tajam & aman)

Roh Kudus membenahi kehendak manusia pada dua level sekaligus:
(1) menyembuhkan kecerdasan rohani agar mengenal kehendak Allah dengan benar,

(2) memberi energi hidup ilahi agar kehendak itu dapat dilakukan secara bebas dan konsisten.

Atau versi sangat ringkas:

Roh menerangi kehendak,
Roh menguatkan kehendak.

Itulah sebabnya:

  • ketaatan Kristen bukan prestasi manusia
  • bukan pula paksaan ilahi
  • melainkan partisipasi hidup Anak oleh Roh.

Jika kamu mau, langkah lanjut yang logis adalah:

  • bagaimana askesis bekerja sama dengan Roh
  • peran sakramen dalam “energi hidup”
  • atau mengapa sebagian orang mengetahui kehendak Allah tetapi menolak melakukannya




B. KETAATAN MANUSIA TIDAK OTONOM




Kristologis, dan menjaga keadilan Inkarnasi.
Di Getsemani tidak ada kegagalan pengetahuan, yang ada adalah beratnya kapasitas natur kemanusiaan yang sejati.

Mari kita jelaskan dengan rapi agar tidak disalahpahami.


1. Yesus tahu kehendak Bapa, tidak ada kebingungan kognitif

Yesus bukan sedang mencari tahu apa kehendak Allah.

Bukti:

  • “Anak Manusia akan diserahkan…” (prediksi berulang)
  • “Inilah saat-Ku” (Yoh 12:23)
Doa-Nya bukan “apa kehendak-Mu?”
tetapi:

“jikalau mungkin, biarlah cawan ini berlalu… namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu

Jadi:

  • Nous Kristus terang
  • Tidak ada dosa kebodohan
  • Tidak ada keraguan iman

2. Yang bergumul adalah kapasitas natur kemanusiaan (sebab natur alami manusia tidak dicipta mengalami maut)

Getsemani menyingkap:

  • rasa takut akan penderitaan nyata
  • ngeri akan maut
  • tekanan eksistensial maksimum

Ini bukan dosa.
Ini natur manusia yang utuh.

Ibrani 5:7:

“Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan…”

Jika Yesus tidak mengalami ini:

  • Ia bukan manusia sejati
  • ketaatan-Nya tidak adil sebagai teladan

3. Di sini tampak dua kehendak (dyothelitisme), bukan konflik dosa

Dalam Kristus ada:

  • kehendak ilahi (selalu selaras dengan Bapa)
  • kehendak manusia (mampu merasa gentar)

Di Getsemani:

  • kehendak manusia tidak menolak Allah
  • tetapi menyerahkan diri secara bebas

➡️ Kalimat kuncinya:

“Namun bukan kehendak-Ku…”

Ini adalah penyembuhan kehendak manusia dalam momen ekstrem.


4. Peran Roh Kudus di Getsemani

Lukas 22:43:

“Seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.”

Ini bukan karena Yesus kurang ilahi,
tetapi karena Ia tidak menggunakan keilahian-Nya sebagai shortcut.

Artinya:

  • Natur manusia Kristus ditopang
  • bukan dilewati
  • oleh bantuan dari Allah

Ini selaras dengan:

“Dengan Roh yang kekal Ia mempersembahkan diri-Nya” (Ibr 9:14)


5. Makna soteriologis Getsemani

Getsemani adalah:

  • tempat kehendak manusia yang paling lemah
  • disatukan secara bebas dengan kehendak Allah

➡️ Maka:

  • ketidaktaatan Adam di taman Eden
  • disembuhkan oleh ketaatan Kristus di taman Getsemani

Bukan di salib dulu,
tetapi di kehendak manusia-Nya.


6. Rumusan teologis yang tepat

Getsemani bukan kegagalan pengetahuan, melainkan puncak kelemahan natur manusia yang disembuhkan oleh ketaatan bebas.


Atau lebih padat:

Yesus tahu kehendak Bapa, tetapi sebagai manusia Ia harus menaatinya dari dalam kelemahan dan justru di situlah kemenangan terjadi.


7. Implikasi bagi kita

Karena itu:

  • ketika kita tahu kehendak Allah tetapi merasa berat
  • itu bukan tanda kegagalan iman
  • melainkan ruang di mana kehendak sedang disembuhkan

➡️ Ketaatan Kristen bukan tanpa rasa berat,
tetapi dalam rasa berat yang diserahkan.

Jika kamu mau, langkah lanjut yang sangat dalam adalah:

  • hubungan Getsemani dengan Roma 8:26 (Roh berdoa dalam kelemahan)
  • perbedaan “takut alami” vs “takut berdosa”
  • mengapa Getsemani lebih penting dari yang sering kita sadari


C. KETAATAN MANUSIA TIDAK OTONOM



  • mampu merespons kebenaran
  • mampu mengatakan “ya” atau “tidak”
  • menyetujui atau menolak karya Allah di dalam dirinya.


Kalau tidak dijawab dengan presisi, orang bisa jatuh ke dua ekstrem: otonomi palsu atau determinisme rohani. Kekristenan klasik (terutama garis Kristologis–teosis yang sedang kita bahas) menolak keduanya.

Jawaban ringkasnya dulu:

Kehendak bebas manusia bukan terletak pada menjadi sumber kebaikan, tetapi pada kemampuan untuk menyetujui atau menolak karya Allah di dalam dirinya.


Sekarang kita jelaskan secara utuh.


1. “Tidak otonom” ≠ “tidak bebas”

Otonom berarti:

  • menjadi sumber hukum bagi diri sendiri
  • menentukan kebaikan dari dalam diri tanpa rujukan

Bebas dalam antropologi Kristen berarti:

  • mampu merespons kebenaran
  • mampu mengatakan “ya” atau “tidak”

Jadi:

  • manusia tidak otonom secara ontologis
  • tetapi tetap bebas secara relasional

2. Di mana tepatnya kebebasan itu bekerja?

Kebebasan manusia bukan pada mencipta kehendak Allah, melainkan pada relasi kehendak manusia dengan kehendak Allah.

Ada tiga momen kebebasan:

(1) Kebebasan untuk membuka diri atau menutup diri

“Kamu selalu menentang Roh Kudus” (Kis 7:51)

Ini berarti:

  • Roh bekerja lebih dulu (prevenient)
  • manusia bisa menolak

(2) Kebebasan untuk bekerja sama atau pasif

“Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus” (Ef 4:30)

Artinya:

  • kehendak manusia berpartisipasi
  • bukan otomatis

(3) Kebebasan untuk bertahan atau mundur

“Jika kamu tinggal di dalam Aku…” (Yoh 15)

“tinggal” = tindakan kehendak yang berkelanjutan


3. Teladan Kristus: kehendak bebas tanpa otonomi

Yesus sebagai manusia:

  • tidak bertindak otonom
  • tetapi sepenuhnya bebas

Getsemani membuktikannya:

  • kehendak manusia-Nya benar-benar bergumul
  • lalu secara bebas menyelaraskan diri

Kalimat kunci:

“Namun bukan kehendak-Ku…”

Itu bukan paksaan.
Itu keputusan kehendak manusia yang bebas.


4. Rumus kunci: sinergi, bukan monergi

Kekristenan arus utama Timur (dan juga sebagian Barat awal) memakai istilah:

Sinergia = Allah bekerja, manusia merespons

Filipi 2:12–13:

“kerjakanlah keselamatanmu…
karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu…”

Allah:

  • sumber hidup
  • sumber kekuatan
  • sumber arah

Manusia:

  • menyetujui
  • bekerja sama
  • memelihara relasi

5. Analogi yang aman (tanpa mereduksi)

Cahaya & mata:

  • Cahaya memungkinkan melihat
  • Mata memilih melihat atau memejam

Mata bukan sumber cahaya,
tetapi tanpa mata, cahaya tidak menghasilkan penglihatan.


6. Jawaban langsung atas pertanyaanmu

Jika ketaatan manusia tidak otonom, di mana kehendak bebas manusia?

Jawabannya:

Dalam kebebasan relasional untuk menyetujui, bekerja sama, dan bertahan dalam karya Roh Kudus, bukan dalam mencipta kebaikan secara mandiri.

Atau versi sangat ringkas:

Manusia bebas bukan sebagai sumber hidup, tetapi sebagai subjek yang dapat berkata “ya” atau “tidak” kepada hidup Allah.


7. Penutup teologis

Inilah yang membuat:

  • ketaatan adil
  • kasih nyata
  • teosis bukan paksaan
  • dan dosa tetap tanggung jawab manusia

Kalau kamu mau, langkah lanjut yang sangat tajam adalah:

  • apakah kebebasan ini hilang setelah kejatuhan
  • bagaimana “grace precedes freedom”
  • atau mengapa di surga kebebasan justru lebih penuh, bukan hilang


D. KETAATAN, SAMPAI MATI DAN PENYATAAN BAPA



• Taat kepada Bapa (Potensi dosa)
• Taat sampai mati (Akibat dosa)
• Menyatakan Bapa (karakter Bapa)


ketiga poin itu memang dapat dilihat sebagai bagian dari satu misi yang terjalin dalam pribadi dan karya Jesus Christ. Namun secara teologis, ketiganya bukan agenda yang terpisah, melainkan saling mendukung.

1. Ketaatan kepada Bapa: membalik ketidaktaatan Adam

Ini sangat jelas dalam teologi Paulus.

📖 Roma 5:19

"Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar."

Adam gagal sebagai manusia pertama.

Yesus berhasil sebagai Adam terakhir.

Karena itu hidup Yesus bukan sekadar mengajar, tetapi menunjukkan:

  • manusia seperti apa yang Allah kehendaki
  • ketaatan yang sempurna kepada Bapa
  • penyerahan kehendak manusia kepada kehendak Allah.

Puncaknya terlihat di Getsemani:

📖 Lukas 22:42

"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau menghendaki, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi janganlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."


2. Ketaatan sampai mati

Paulus tidak hanya berbicara tentang ketaatan, tetapi:

📖 Filipi 2:8

"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Mengapa sampai mati?

Karena akibat dosa Adam adalah maut.

Jika Yesus datang sebagai Adam terakhir, maka Ia harus masuk ke wilayah yang dikuasai maut untuk mengalahkannya.

📖 Ibrani 2:14

"Supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut."

Jadi kematian Kristus bukan kecelakaan sejarah.

Kematian itu bagian dari ketaatan-Nya.

Dan melalui kematian itulah:

  • dosa ditanggung
  • tuntutan keadilan dipenuhi
  • kuasa maut dipatahkan
  • dakwaan Iblis kehilangan dasar.

3. Menyatakan Bapa

Ini adalah tema yang sangat kuat dalam Injil Yohanes.

📖 Yohanes 1:18

"Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya."

📖 Yohanes 17:6

"Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia."

Di sini "nama" bukan sekadar sebutan.

Dalam pemikiran Ibrani, nama menunjuk pada:

  • karakter
  • pribadi
  • sifat
  • kemuliaan.

Jadi Yesus menyatakan:

  • kasih Bapa
  • kekudusan Bapa
  • belas kasihan Bapa
  • keadilan Bapa
  • kehendak Bapa.

Karena itu Yesus berkata:

📖 Yohanes 14:9

"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."


Menariknya: ketiga agenda ini bertemu di salib

Di salib:

Ketaatan Adam terakhir mencapai puncak

"Taat sampai mati."

Kekalahan Iblis terjadi

Dakwaan terhadap manusia dijawab dan kuasa maut dipatahkan.

Karakter Bapa dinyatakan paling sempurna

Di salib terlihat sekaligus:

  • kasih Allah
  • keadilan Allah
  • kekudusan Allah
  • anugerah Allah.

Karena itu banyak teolog mengatakan:

Salib adalah tempat di mana ketaatan Anak, kasih Bapa, keselamatan manusia, dan kekalahan Iblis bertemu dalam satu peristiwa.


Kalau saya merangkum Injil Yohanes dan Paulus sekaligus, saya akan mengatakan bahwa misi utama Jesus Christ di bumi dapat dilihat dalam tiga kalimat:

  1. Menjadi manusia yang taat sempurna di hadapan Bapa (Adam terakhir).
  2. Menanggung dosa dan maut melalui ketaatan sampai mati.
  3. Menyatakan siapa Bapa yang sesungguhnya kepada dunia.

Ketiganya berjalan paralel dan mencapai puncaknya di salib serta kebangkitan.

Ketiga agenda yang Anda sebutkan memang sangat besar dan mencakup banyak isi Alkitab:

  1. Ketaatan sempurna kepada Bapa (Adam terakhir).
  2. Ketaatan sampai mati untuk mengalahkan dosa, maut, dan Iblis.
  3. Penyataan Bapa kepada manusia.

Namun jika melihat seluruh kesaksian Alkitab,  ada beberapa agenda besar lain yang juga sangat menonjol dan sulit direduksi hanya menjadi bagian dari ketiga poin itu.


4. Mendirikan Kerajaan Allah

Ini sebenarnya tema yang paling sering muncul dalam pemberitaan Yesus.

📖 Markus 1:15

"Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"

Yesus bukan hanya mengajarkan keselamatan pribadi.

Ia datang untuk:

  • menghadirkan pemerintahan Allah
  • mengalahkan kuasa dosa
  • memulihkan tatanan ciptaan.

Hampir semua perumpamaan Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah.


5. Membentuk umat perjanjian yang baru

Yesus tidak hanya menyelamatkan individu.

Ia membentuk suatu umat baru.

📖 Matius 16:18

"Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku."

📖 Lukas 22:20

"Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku."

Sebagaimana Israel lahir melalui perjanjian Sinai, gereja lahir melalui darah Kristus.


6. Memulihkan gambar Allah dalam manusia

Adam diciptakan menurut gambar Allah.

Dosa merusak gambar itu.

Tujuan Kristus bukan hanya mengampuni, tetapi memulihkan manusia agar serupa dengan-Nya.

📖 Roma 8:29

"Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya."


7. Menjadi Imam dan Pengantara yang sempurna

Tema besar dalam surat Ibrani.

📖 Ibrani 7:25

"Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah."

Yesus bukan hanya Guru dan Raja.

Ia juga Imam Besar yang membawa manusia kepada Allah.


8. Memulihkan seluruh ciptaan

Sering kali fokus kita hanya pada manusia.

Tetapi Alkitab berbicara lebih luas.

📖 Roma 8:21

"Makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan."

📖 Wahyu 21:5

"Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!"

Tujuan akhir Allah bukan hanya menyelamatkan jiwa manusia, tetapi memperbarui ciptaan.


Jika disederhanakan

Dari seluruh Alkitab, misi Kristus dapat dirangkum menjadi lima agenda besar:

1. Menyatakan Bapa

(Yohanes 1:18; Yohanes 17:6)

2. Menjadi Adam terakhir yang taat

(Roma 5:19; Filipi 2:8)

3. Menebus manusia dari dosa, maut, dan Iblis

(Ibrani 2:14; Kolose 2:14-15)

4. Membentuk umat Allah yang baru

(Matius 16:18; Lukas 22:20)

5. Memulihkan seluruh ciptaan dan menghadirkan Kerajaan Allah

(Markus 1:15; Roma 8:21; Wahyu 21:5)


Menariknya, jika kita mencari tema yang paling luas dari Kejadian sampai Wahyu, banyak ahli Alkitab berpendapat bahwa semuanya bermuara pada satu tujuan akhir:

Allah hendak tinggal bersama manusia dalam persekutuan yang sempurna.

Kejadian dimulai dengan Allah berjalan bersama manusia di taman Eden, dan Alkitab berakhir dengan:

📖 Wahyu 21:3

"Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka."

Dalam sudut pandang itu, seluruh agenda Kristus: ketaatan, salib, penyataan Bapa, kerajaan Allah, gereja, dan pemulihan ciptaan, semuanya melayani satu tujuan besar: membawa manusia kembali kepada persekutuan penuh dengan Allah.


E. KETAATAN TIDAK SELALU ADA PERBEDAAN KEHENDAK (KONFLIK)




Pertanyaan Anda menyentuh salah satu pembahasan paling dalam dalam Kristologi.

Jika kehendak Bapa dan kehendak Anak sama, apakah masih tepat mengatakan bahwa Yesus "taat"?

Jawabannya: ya, tetapi kita harus membedakan antara kehendak ilahi dan kehendak manusia Yesus.


1. Sebagai Allah, kehendak Bapa dan Anak satu

📖 Yohanes 10:30

"Aku dan Bapa adalah satu."

Dalam doktrin Kristen klasik, Bapa, Anak, dan Roh Kudus memiliki:

  • satu hakikat ilahi
  • satu kehendak ilahi
  • satu tujuan ilahi.

Karena itu tidak pernah ada situasi seperti:

❌ Bapa ingin A, Anak ingin B.

Dalam ke-Allahan, tidak ada konflik kehendak.


2. Tetapi Yesus juga manusia sejati

Ketika Firman menjadi manusia:

📖 Yohanes 1:14

"Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita."

Sebagai manusia sejati, Yesus memiliki:

  • pikiran manusia
  • kehendak manusia
  • emosi manusia.

Kalau tidak demikian, Ia bukan manusia sejati.


3. Di sinilah makna ketaatan muncul

Ketaatan bukan karena Anak ilahi berbeda tujuan dengan Bapa.

Ketaatan muncul karena:

kehendak manusia Yesus secara bebas dan sempurna tunduk kepada kehendak Bapa.

Contoh paling jelas:

📖 Lukas 22:42

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau menghendaki, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi janganlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.

Ayat ini tidak menunjukkan pemberontakan.

Ayat ini menunjukkan bahwa natur manusia Yesus secara nyata menghadapi penderitaan dan kematian, tetapi tetap memilih kehendak Bapa.


4. Adam dan Yesus

Adam mempunyai kehendak manusia.
Ketika diuji:
  • Adam memilih kehendaknya sendiri.
Yesus juga mempunyai kehendak manusia.
Ketika diuji:
  • Yesus menyerahkan kehendak manusia-Nya kepada Bapa.

Karena itu Paulus berkata:

📖 Roma 5:19

"Karena ketidaktaatan satu orang semua orang menjadi berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi benar."


5. Jika kehendaknya selalu sama, apakah masih bisa disebut taat?

Ya.
Contoh sederhana:
Seorang anak yang mengasihi ayahnya dapat berkata:

"Aku sungguh ingin melakukan apa yang ayah inginkan."

Keinginannya sudah selaras dengan ayahnya.
Namun kita tetap menyebutnya taat.
Ketaatan tidak selalu berarti ada konflik.
Ketaatan berarti:
  • mengakui otoritas
  • bertindak sesuai kehendak yang berotoritas.

6. Pandangan para teolog

Banyak teolog menyatakan:
Yesus tidak taat karena dipaksa.
Ia taat karena:
  • mengasihi Bapa
  • sejalan dengan Bapa
  • secara bebas menyerahkan diri kepada misi Bapa.

Karena itu ketaatan Yesus adalah ketaatan yang sempurna, bukan ketaatan yang terpaksa.


Kesimpulan

Jika yang dimaksud adalah kehendak ilahi, maka Bapa dan Anak tidak pernah berbeda kehendak.

Namun ketika Anak menjadi manusia, Ia memiliki kehendak manusia yang nyata, dan dalam kehidupan-Nya Ia terus-menerus menyerahkan kehendak manusia itu kepada Bapa.

Karena itu Alkitab tetap menyebut kehidupan Yesus sebagai ketaatan.

Bukan karena Anak dan Bapa mempunyai tujuan yang bertentangan, melainkan karena sebagai manusia sejati, Yesus dengan sempurna dan bebas menyelaraskan seluruh hidup-Nya dengan kehendak Bapa.

Dalam pengertian ini, ketaatan Yesus adalah ekspresi sempurna dari kasih, kepercayaan, dan penyerahan diri kepada Bapa, kebalikan dari ketidaktaatan Adam.

persekutuan penuh dengan Allah.


F. CAWAN ADALAH BAGIAN DARI MAKANAN TUHAN YESUS




Pertanyaan Anda sangat menarik karena menghubungkan dua pernyataan Yesus yang sekilas tampak berbeda.

Di satu sisi Yesus berkata:

📖 Yohanes 4:34

"Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."

Tetapi di Getsemani Yesus berdoa:

📖 Matius 26:39

"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

Lalu muncul pertanyaan:

Kalau melakukan kehendak Bapa adalah "makanan" Yesus, mengapa Yesus meminta agar cawan itu berlalu?


Tidak ada pertentangan

Kuncinya adalah memahami apa yang dimaksud dengan "makanan" dan "cawan".

Makanan

"Makanan-Ku" adalah kiasan.

Yesus tidak sedang berbicara tentang roti fisik, tetapi tentang:

  • sukacita-Nya
  • tujuan hidup-Nya
  • kepuasan-Nya

yaitu melakukan kehendak Bapa.


Cawan

Dalam Perjanjian Lama, "cawan" sering melambangkan:

  • murka Allah terhadap dosa
  • penghakiman
  • penderitaan yang harus diminum.

Jadi di Getsemani, Yesus sedang menghadapi:

  • penderitaan fisik
  • penghinaan
  • penyaliban
  • penanggungan dosa dunia.

Natur manusia Yesus yang sejati

Jika Yesus benar-benar manusia, maka wajar jika natur manusia-Nya tidak menginginkan penderitaan dan kematian.

Tidak ada manusia normal yang berkata:

"Saya ingin disiksa dan mati."

Karena itu doa Getsemani menunjukkan kemanusiaan Yesus yang nyata.

Namun yang luar biasa adalah kelanjutan doanya:

"Bukan seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

Di sinilah ketaatan-Nya bersinar.


Justru cawan itu bagian dari "makanan"

Secara paradoks, jawabannya adalah:

ya, cawan itu bagian dari makanan Yesus.

Bukan karena cawan itu menyenangkan.

Tetapi karena cawan itu adalah bagian dari kehendak Bapa yang harus diselesaikan.

Sama seperti seseorang mungkin tidak menikmati obat yang pahit, tetapi tetap meminumnya karena itu perlu untuk mencapai tujuan yang lebih besar.


Ibrani menjelaskan alasannya

📖 Ibrani 12:2

"Yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia."

Perhatikan:

  • salib bukan sumber kesenangan
  • sukacita ada di balik salib.

Yesus tidak menikmati penderitaan itu sendiri.

Tetapi Ia menerima penderitaan itu demi tujuan yang ditetapkan Bapa.


Hubungan dengan Adam

Di Eden:

Adam menghadapi buah yang menyenangkan dan memilih kehendaknya sendiri.

Di Getsemani:

Yesus menghadapi cawan yang mengerikan dan memilih kehendak Bapa.

Karena itu banyak teolog melihat:

  • Eden = kegagalan manusia pertama
  • Getsemani = kemenangan manusia sempurna.

Kesimpulan

Ketika Yesus berkata:

"Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa,"

Ia tidak berarti bahwa setiap bagian kehendak Bapa terasa menyenangkan bagi natur manusia-Nya.

Di Getsemani, "cawan" itu memang pahit dan menakutkan.

Namun justru karena Yesus tetap menerimanya demi melakukan kehendak Bapa, cawan itu menjadi bagian dari "makanan"-Nya.

Dengan kata lain:

Yesus tidak menikmati cawan itu, tetapi Ia menikmati melakukan kehendak Bapa melalui cawan itu.

Itulah sebabnya Getsemani sering dipandang sebagai puncak ketaatan Adam terakhir: ketika kehendak manusia yang secara wajar menghindari penderitaan tetap menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.


G. KENAPA KEHENDAK TUHAN YESUS BERBEDA DENGAN BAPA


• Maut bukan tujuan penciptaan manusia
• Natur manusia  sempurna MENOLAK kematian, sebab manusia diciptakan bukan untuk mati
• Kematian muncul sebagai konsekuensi dosa, bukan sebagai tujuan asli penciptaan.          (Kej 2:16-17; Rom 6:23)
• Kematian adalah musuh. (1kor 15:26)

Pergumulan Yesus Kristus di Taman Getsemani menunjukkan realitas natur manusia-Nya yang sejati. Sebagai manusia sejati, Ia menghadapi kematian sebagai sesuatu yang mengerikan dan bukan tujuan asli penciptaan manusia.

Doa Yesus di Getsemani

Matius 26:39
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

Matius 26:37-38
Dibawa-Nya Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa:

  • Yesus sungguh memiliki natur manusia.
  • Ia mengalami ketakutan, kesedihan, dan pergumulan yang nyata.
  • Kehendak manusia-Nya secara alami tidak menginginkan penderitaan dan kematian.
  • Namun kehendak manusia-Nya taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa.
  • Manusia memang tidak dirancang untuk mati.
  • Pada mulanya manusia tidak diciptakan untuk kematian.
  • Sebelum kejatuhan Adam, kematian belum menjadi bagian pengalaman manusia.
Kejadian 2:16-17
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Ayat ini menunjukkan bahwa kematian muncul sebagai konsekuensi dosa, bukan sebagai tujuan asli penciptaan.

Roma 5:12
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
  • Maut masuk melalui dosa.
  • Kematian sebagai musuh

Alkitab bahkan menyebut kematian sebagai musuh yang akan dikalahkan.

1 Korintus 15:26
Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.

Jika maut adalah "musuh", maka maut bukanlah bagian akhir yang Allah maksudkan bagi manusia sejak semula.

Mengapa Yesus menolak cawan itu?

Penting untuk dipahami bahwa Yesus bukan menolak kehendak Bapa.

Ia berkata:

Matius 26:42
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa: "Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"

Dalam teologi Dyothelitisme:

  • natur manusia Kristus secara alami menghindari maut,
  • karena hidup adalah kebaikan alami bagi manusia,
  • tetapi kehendak manusia-Nya tunduk sempurna kepada kehendak ilahi.

Karena itu doa Getsemani sering dipakai sebagai bukti bahwa Kristus memiliki kehendak manusia sejati.

Hubungan dengan Adam
Ada kontras yang menarik:
Adam pertama 

Roma 5:19
Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Adam berada di taman yang indah tetapi memilih tidak taat.

Kristus, Adam terakhir

1 Korintus 15:45
Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.

Kristus berada di Getsemani, menghadapi salib dan maut, namun tetap taat.

Jadi, banyak teolog menyimpulkan bahwa doa Yesus di Getsemani memang menunjukkan bahwa 

MANUSIA DIRANCANG BUKAN UNTUK MATI,  jadi  natur manusia secara alami menginginkan hidup dan tidak menginginkan kematian,

karena kematian adalah akibat dosa dan musuh manusia. Namun Kristus secara sukarela menerima maut demi keselamatan manusia, sehingga melalui kematian-Nya Ia mengalahkan maut itu sendiri.


diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.


G. APAKAH BAPA MENGALAMI PENGALAMAN MANUSIA YESUS 


• Maut bukan tujuan penciptaan manusia
• Natur manusia  sempurna MENOLAK kematian, sebab manusia diciptakan bukan untuk mati


Pergumulan Yesus Kristus

Pertanyaan Anda masuk ke wilayah Kristologi dan Trinitas yang sangat dalam.

Jika kita berkata:

"Bapa tidak mengalami apa yang dialami Yesus sebagai manusia,"

lalu Anda bertanya:

"Bagaimana bisa? Bukankah kepenuhan Allah ada dalam Yesus secara jasmaniah dan ada relasi perikoresis?"

Itu pertanyaan yang sangat penting.


1. Perikoresis tidak berarti Bapa menjadi manusia

Dalam teologi Trinitas, perikoresis berarti saling berdiamnya Pribadi-Pribadi ilahi:

  • Bapa di dalam Anak
  • Anak di dalam Bapa
  • Roh Kudus di dalam Bapa dan Anak.

📖 Yohanes 14:10

"Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku."

Namun perikoresis tidak menghapus perbedaan pribadi.

Karena itu:

  • Anak menjadi manusia.
  • Bapa tidak menjadi manusia.
  • Roh Kudus tidak menjadi manusia.

Hanya Sang Anak yang berinkarnasi.

📖 Yohanes 1:14

"Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita."


2. Kepenuhan Allah ada dalam Kristus

📖 Kolose 2:9

"Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan."

Ayat ini berarti bahwa dalam pribadi Kristus hadir seluruh kepenuhan natur ilahi.

Tetapi ayat ini tidak berarti:

Bapa disalibkan.

atau

Bapa menjadi manusia.

Karena yang menjadi manusia adalah Pribadi Anak.


3. Apa yang dialami Yesus?

Menurut ajaran klasik Gereja:

Pribadi Sang Anak mengalami:

  • lapar
  • haus
  • letih
  • penderitaan
  • kematian

melalui natur manusia-Nya.

Bapa tidak memiliki natur manusia.

Karena itu Bapa tidak lapar, tidak dicambuk, dan tidak mati.


4. Tetapi apakah Bapa terpisah dari penderitaan Anak?

Tidak.

Di sinilah pemikiran Anda tentang perikoresis menjadi penting.

Karena relasi Bapa dan Anak sempurna, maka penderitaan Anak bukanlah sesuatu yang tidak diketahui Bapa.

📖 Yohanes 16:32

"Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku."

Bapa tidak menjadi manusia yang disalibkan.

Tetapi Bapa juga tidak acuh terhadap apa yang dialami Anak.


5. Beberapa teolog modern menekankan hal ini

Misalnya Jürgen Moltmann berpendapat bahwa salib melibatkan penderitaan relasional di dalam kehidupan Trinitas:

  • Anak menderita sebagai yang disalibkan.
  • Bapa menderita dalam kasih sebagai Bapa yang menyerahkan Anak.

Ia tidak mengatakan Bapa disalibkan, tetapi bahwa salib menyentuh relasi Bapa-Anak.


6. Dalam kerangka yang Anda usulkan

Kalimat berikut menurut saya cukup dekat dengan keseimbangan teologi klasik:

Bapa tidak mengalami salib sebagai manusia, karena Bapa tidak berinkarnasi.

Namun karena perikoresis dan kesatuan kasih yang sempurna antara Bapa dan Anak, penderitaan Anak bukanlah peristiwa yang asing atau terpisah dari Bapa.

Jadi kita harus menghindari dua ekstrem:

Ekstrem pertama

"Bapa sama sekali tidak terlib
at."
Ini terlalu memisahkan Bapa dan Anak.

Ekstrem kedua

"Bapa juga menjadi manusia dan disalibkan."

Ini menghapus perbedaan pribadi dalam Trinitas.


Kesimpulan

Karena ada perikoresis, kita tidak boleh membayangkan Bapa sebagai penonton yang jauh dari penderitaan Kristus.

Tetapi karena hanya Sang Anak yang berinkarnasi, kita juga tidak boleh mengatakan bahwa Bapa mengalami kematian, penderitaan fisik, atau Getsemani sebagai manusia.

Dengan demikian:

Bapa dan Anak memiliki satu kehendak ilahi dan satu kasih yang sempurna. Anak mengalami Getsemani dan salib dalam natur manusia-Nya, tetapi pengalaman itu tidak terisolasi dari relasi Trinitaris yang kekal antara Bapa dan Anak. Itulah sebabnya salib dapat dipahami sekaligus sebagai ketaatan Anak dan kasih Bapa.




Jaminsen

Welcome, TO BE LIKE JESUS

Post a Comment

Previous Post Next Post